
Anna benar-benar tidak percaya mendengar perkataan Marco. Jadi Marco adalah pria yang harus dia nikahi? Dia sungguh tidak menduga, sedikitpun tidak terpikir olehnya. Dia kira ayahnya memintanya untuk menikahi salah satu pejabat yang dia kenal tapi ternyata yang harus dia nikahi adalah Marco. Sungguh lelucon yang tidak lucu.
Entah dia harus tertawa atau harus marah yang pasti Marco tidak bercanda dengan apa yang dia ucapkan. Cengkeraman tangan Marco di bahu Anna sudah mulai berkurang, dia harap Anna senang mendengar jika dialah yang mengajukan pernikahan itu tapi sayangnya, Anna terlihat kecewa.
Anna melangkah mundur, dia memandangi Marco dengan tatapan kecewa. Jadi Marco yang mengajukan pernikahan itu? Sungguh dia tidak menyangka. Seharusnya Marco tidak melakukan hal ini, seharusnya tidak.
"Apa ini hanya leluconmu, Marco?" Dia sungguh tidak mau mempercayainya dan berharap ini semacam prank yang dilontarkan oleh Marco saja.
"Tidak, Anna. Aku tidak bercanda. Aku serius dengan apa yang aku ucapkan."
"Stop, Marco!" Anna berteriak dan kembali melangkah mundur, dia benar-benar kecewa pada Marco.
"Stop membenarkan ucapanmu karena aku lebih suka mendengar jika kau memang hanya bercanda saja untuk menggoda aku!"
"Tidak, Anna. Itu memang perasaanku. Aku menyukaimu sejak lama, sebab itu aku kembali untuk menjadikan dirimu sebagai milikku. Selama ini aku berusaha agar aku pantas menjadi pendamping hidupmu."
"Jangan kau lanjutkan, Marco. Jika kau memang menyukai aku kenapa kau tidak mengatakan perasaanmu secara langsung padaku? Kenapa kau harus mengajukan pernikahan sehingga aku berada di dalam kesulitan?"
"Anna, aku tidak bermaksud begitu," Marco mendekatinya, dia sungguh tidak bermaksud membuat Anna berada di dalam kesulitan.
"Maafkan aku telah berbuat kasar padamu," Marco meraih tangannya, dia memang sudah keterlaluan menyakiti Anna. Semua itu dia lakukan karena cemburu.
"Aku cemburu karena kau pergi begitu lama dengan Harry. Aku tidak suka ada pria lain berada di sisimu, aku tidak mau kau jadi milik orang lain karena kau hanya boleh menjadi milikku seorang," ucap Marco lagi.
Anna menarik tangannya, matanya menatap ke arah Marco dengan tajam. Dia sungguh tidak menyangka jika Marco menyimpan perasaan spesial padanya padahal dia selalu menyangka Marco adalah sahabat baiknya. Seharusnya perasaan itu tidak pernah ada, persahabatan pria dan wanita benar-benar rumit.
"Terima kasih, Marco. Tapi aku hanya menganggapmu sebagai sahabat baikku saja. Dari dulu sampai sekarang, kau tidak lebih dari sahabat!" ucap Anna. Sekarang dia tahu kenapa sikap Marco begitu menyebalkan dan dia tidak menyangka jika gadis yang disukai oleh Marco adalah dirinya.
"Berikan aku kesempatan, Anna!" pinta Marco. Bagaimanapun dia tidak boleh gugur sebelum berperang. Dia bahkan belum menunjukkan bagaimana perasaannya. Anna bahkan belum melihat kesungguhannya.
"Tidak, sampai kapan pun kau tetap sahabat baikku!" Anna melangkah, melewati Marco tapi langkahnya terhenti karena tiba-tiba saja Marco memeluknya dari belakang.
"Jika begitu mulai sekarang kita bukan lagi sahabat!" ucap Marco tanpa ragu.
"Apa maksud ucapanmu?"
"Jika kau tidak mau menerima aku karena persahabatan di antara kita maka mulai sekarang kita bukan sahabat lagi. Aku ingin mengejarmu sebagai pria yang menyukaimu dan aku akan menunjukkan padamu betapa aku menyukaimu. Aku tidak akan kalah dari pria yang bernama Harry itu walau kau menyukainya!"
"Jangan gila, Marco! Apa kau ingin menghancurkan persahabatan kita hanya karena kau menyukai aku?"
"Aku tidak keberatan sama sekali yang penting aku bisa mendapatkan dirimu!"
Anna melepaskan diri dari pelukan Marco dan melangkah menjauh. Dia tidak menyangka Marco akan berbuat sejauh iniĀ dan rela memutuskan tali persahabatan yang telah terjalin begitu lama di antara mereka.
"Sebaiknya jangan melakukan hal ini, Marco. Kau tahu aku tidak akan bisa menyukaimu sekalipun kau memutuskan tali persahabatan di antara kita karena bagiku, kau tetaplah sahabatku!" pinta Anna, dia harap Marco mau berhenti mengejar dirinya.
"Walau kau berkata seperti itu tapi aku tidak akan menyerah, Anna. Seperti kau mengejar Harry dan menunjukkan rasa sukamu padanya, aku juga akan melakukan hal demikian. Aku akan menunjukkan rasa cinta yang aku miliki padamu. Kau tidak bisa menghentikan aku karena yang pantas berada di sisimu dan menjadi pendamping hidupmu adalah aku!" ucap Marco dengan percaya diri.
"Aku tidak mau mendengar apa pun lagi, aku lelah. Aku harap kau berhenti dan tidak menodai persahabatan kita karena sekalipun kau memutuskan tali persahabatan di antara kita tapi kau tidak bisa mengubah kenyataan jika kita berdua adalah sahabat baik!" setelah berkata demikian, Anna melangkah mendekati pintu apartemennya sambil mengeluarkan kunci.
Hari ini dia mendapatkan kejutan yang tidak terduga, dia sungguh tidak menduga akan terjebak dalam situasi seperti ini.
"Anna, aku tidak akan menyerah. Pria itu tidak mungkin menyukaimu sebab itu jadilah milikku!"
Anna hendak membuka pintu, tapi niatnya terhenti sejenak. Dia tahu untuk membuat Harry jatuh cinta padanya tidaklah mudah tapi dia tidak akan mau menjadi istri Marco seandainya dia gagal mendapatkan hati Harry.
"Jika Harry tidak menyukai aku, maka aku juga tidak akan menjadi istrimu!" ucap Anna dan setelah itu dia masuk ke dalam.
Marco mengumpat marah, dia tahu tidak akan mudah. Padahal dia mengira Anna hanya bermain-main saja pada pria itu tapi sepertinya kali ini Anna serius . Tidak bisa, dia tidak boleh kalah. Apa pun akan dia lakukan. Pria bernama Harry itu harus tahu diri dan harus tahu siapa dirinya. Mungkin dengan menyingkirkan pria itu, Anna akan berhenti.
Marco masuk ke dalam apartemennya, sebaiknya dia membuat sebuah rencana. Demi mendapatkan Anna, dia bisa melakukan apa saja karena dia sudah menginginkan Anna sejak lama.
Saat itu, ponsel sudah berada di tangan. Anna melemparkan tasnya dan menjatuhkan diri di atas sofa. Semua gara-gara ayahnya yang mengambil keputusan seenaknya. Ibunya juga keterlaluan karena tidak mengatakan hal ini padanya. Tidak butuh lama, suara ayahnya sudah terdengar. Tentu Anna langsung marah karena sekarang, hubungan persahabatannya dengan Marco jadi hancur berantakan.
"Kenapa Daddy tidak mengatakan padaku jika yang akan menikah denganku adalah Marco?!" tanya Anna dengan nada tinggi.
"Kau sudah tahu rupanya, bagus jika begitu!"
"Dad! Seharusnya kau tidak menerima permintaan Marco dan menolak permintaannya!" Anna semakin kesal dengan sikap sang ayah.
"Hanya dia yang pantas untukmu, Anna. Tidak ada lelaki lain yang lebih baik darinya untuk menjadi pendamping hidupmu. Aku menerima permintaannya setelah aku memikirkan hal ini begitu lama. Kau putri seorang duta besar, Marco sedang mencalonkan diri sebagai gubernur. Jika dia terpilih maka kau tidak perlu khawatir akan masa depanmu!"
"Bullshits!" Anna semakin kesal.
"Aku tidak pernah menyukai politik dan aku juga tidak menyukai politikus. Aku tidak peduli Marco mau menjadi apa tapi aku marah pada Daddy karena Daddy telah menyembunyikan hal ini padaku. Kenapa Daddy tidak mengatakan padaku sejak awal jika pria yang harus aku nikahi adalah Marco? Kenapa, Dad?" Anna bertanya dengan nada kecewa, dia sungguh kecewa dengan keputusan ayahnya yang menerima permintaan Marco tanpa bertanya padanya terlebih dahulu.
"Sudah aku katakan aku menerimannya untuk masa depanmu!"
"Masa depan? Daddy lihat sekarang, hubungan persahabatanku dengan Marco jadi hancur dan aku tidak akan pernah mau menikah dengannya karena bagiku dia adalah sahabatku dan dia tidak bisa menjadi orang spesial di dalam hatiku!"
"Apa pun yang kau katakan Anna, saat waktumu habis kau harus kembali dan menikah dengannya. Sekarang kau bisa memanfaatkan waktumu tapi ketika waktu yang aku berikan habis, aku akan menarikmu pulang dan jika tidak mau, jangan salahkan Daddy bertindak di luar batas!" ancam ayahnya.
"Apa maksud ucapan Daddy?" tanya Anna curiga.
"Jangan banyak bertanya! Sebaiknya gunakan waktumu bersama Marco dan mulailah menerimanya dan belajarlah mencintainya!"
"Daddy jangan egois!" teriak Anna marah.
"Aku melakukan hal ini untukmu, aku tidak akan mengijinkan siapa pun menghalangi Marco menunjukkan cintanya padamu bahkan pria yang kau sukai itu!" setelah berkata demikian, sang ayah mengakhiri pembicaraan mereka.
"Apa maksudmu, Dad?" Anna berusaha memanggil tapi sia-sia.
Anna mengumpat kesal, dia curiga jika ayahnya sedang melakukan sesuatu dan memang saat itu, kedua pengawal yang diutus oleh ayahnya sedang mengejar Harry untuk memberikan pelajaran pada pria itu sebagai peringatan agar Harry menjauhi Anna sesuai dengan perintah ayah Anna.