
Ainsley terlihat sibuk, itu karena agendanya bertambah. Selama ini dia tidak pernah mau memasak tapi sekarang dia akan melakukannya. Seorang guru memasak sudah didatangkan hari itu, pertama kali yang akan mereka lakukan adalah hal mudah yaitu dimulai dari menggoreng telur.
Karena dia gagal mengoreng telur jadi Ainsley meminta guru masaknya mengajari hal itu terlebih dahulu sebelum mereka membuat yang lain. Ainsley tampak ragu melakukannya, dia takut kejadian kemarin terulang kembali tapi ketika dia hendak memasukkan air ke dalam telur yang sudah berada di dalam mangkuk, guru memasaknya melarang dengan cepat. Sejak kapan goreng telur harus ditambahi air?
Ya dengan pengalaman masak yang tidak ada membuat Ainsley berpikir jika telur harus dicampurkan dengan air sebelum digoreng. Hal itu membuat Vivian menertawakannya karena saat itu dia sedang membuat susu dan tentunya, Ainsley tampak kesal dan melempar kakak iparnya menggunakan kulit telur.
Vivian benar-benar senang menggoda adik iparnya apalagi setelah ini Ainsley mau belajar menggunakan sumpit. Menggunakan benda itu terlihat mudah tapi jika sudah dicoba tidak bisa dibilang mudah. Selain menggoreng telur, Ainsley berniat membuat sushi, semua bahan sudah berada di atas meja dan Ainsley yakin jika dia akan berhasil.
Alice dan Kate mengintip dari balik dinding, sungguh kejadian yang sangat langka. Ainsley sudah terlihat begitu bersemangat sejak pagi dan lihatlah, dia semakin terlihat bersemangat apalagi dia sudah tahu letak kesalahan yang dia lakukan.
"Apa yang terjadi dengannya?" tanya Alice ingin tahu.
"Tanyakan pada Vivian, Mom. Sepertinya dia tahu kenapa Ainsley tiba-tiba jadi ingin memasak," jawab Kate.
"Apa dia sedang jatuh cinta pada pria asal Jepang?" tanya Alice lagi.
"Entahlah," Kate mengangkat bahu, dia juga tidak tahu. Tapi yang dia tahu putrinya jadi seperti itu setelah kembali dari rumah Jager Maxton.
Ainsley benar-benar berusaha, walaupun beberapa kali gagal dan bentuk sushi buatannya tidak bagus. Untuk seorang pemula sudah lumayan walaupun rasa diragukan.
Dia terlihat puas, orang pertama yang menyicipi makanannya harus Damian, tidak boleh ada yang menyicipinya terlebih dahulu bahkan dia juga tidak mencobanya apalagi dia tidak suka sushi.
"Bagaimana sushi buatanku?" tanya Ainsley pada guru memasaknya.
"Lumayan untuk pemula tapi apa Nona tidak mau mencicipinya?" tanya sang guru.
"Tidak, aku tidak suka sushi apalagi wasabi," jawab Ainsley, Tidak perlu dicoba, dia percaya sushi buatannya pasti enak.
"Lalu, untuk apa sushi ini?"
"Buat seseorang," jawab Ainsley sambil tersenyum.
"Baiklah, aku rasa tidak akan ada masalah jika Nona membuatnya sesuai dengan resep yang aku berikan tadi."
Ainsley tersenyum, tentu tidak akan ada masalah karena dia sangat ingat jika dia membuatnya sesuai dengan resep.
Sushi dimasukkan ke dalam kotak dan pada saat itu, kakaknya masuk ke dalam dapur sesuai dengan perintah ibunya dan terlihat penasaran dengan isi kotak yang ada di atas meja. Tanpa bertanya terlebih dahulu, Matthew membuka kotak itu dan melihat isinya.
"Kak, kau tidak boleh memakannya!" teriak Ainsley.
"Aku hanya ingin mencoba satu."
"Pokoknya tidak boleh!" Ainsley menghampiri meja dengan cepat tapi sayangnya Matthew mengambil sepotong sushi dari dalam sana.
"Kak, sudah aku katakan jangan mengambilnya!" teriak Ainsley. Dia terlihat cemberut tapi Matthew sudah kabur karena dia ingin mencoba masakan pertama adiknya.
Sushi dimasukkan ke dalam mulut saat Matthew sudah berada di luar, tidak dia saja ternyata yang lain juga penasaran dengan rasanya. Semua mata melihat ke arah Matthew dan tidak lama kemudian, Matthew memuntahkan sushi yang ada di dalam mulutnya.
"Oh my, dia memang tidak punya bakat memasak!" ucapnya.
"Apa rasanya?" tanya ibunya penasaran.
"Mengerikan!" jawab Matthew.
Keluarganya melihat ke dapur, mereka jadi iba dengan orang yang akan memakan sushi itu nanti dan semoga saja tidak berakhir di rumah sakit.
"Entah kenapa aku jadi teringat dengan Olivia," ucap Alice.
"Aku rasa Ainsley lebih berbakat dari dia," jawab Jacob.
"Kau benar, walau ini baru pertama kali tapi aku rasa tidak buruk."
"Setuju!" jawab mereka semua dan setelah itu mereka melihat ke dapur lagi di mana Ainsley sedang kelabakan menggunakan sumpit.
Ternyata menggunakan alat makan itu tidaklah mudah, dia bahkan berlatih selama berjam-jam hanya untuk menjepit sebuah telur gulung. Ainsley hampir putus asa, tapi ketika mengingat kejadian kemarin, dia tidak akan menyerah. Walau belum begitu mahir tapi akhirnya dia berhasil, usahanya hari ini tidak sia-sia dan dia terlihat senang.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang saat itu, gara-gara masak membuatnya tidak pergi ke kantor. Setelah guru masaknya pulang, Ainsley bergegas mandi karena dia ingin mengantar sushi buatannya untuk Damian.
Keluarganya hanya bisa menggeleng melihat kotak yang dipenuhi sushi, mereka sangat iba pada orang yang akan memakannya nanti tapi mereka tidak mau mematahkan semangat Ainsley. Dengan penuh percaya diri, Ainsley pergi ke kantor Damian sambil membawa sushi buatannya. Dia harap Damian senang karena itu masakan pertama yang dia buat.
Damian terkejut saat tahu jika Ainsley datang menemuinya, padahal selama ini Ainsley tidak pernah mendatangi jadi Damian turun secara khusus untuk menjemput Ainsley saat dia meminta gadis itu untuk menunggunya di bawah.
Ainsley terlihat senang, dia bahkan menghampiri Damian dengan tidak sabar saat Damian masuk ke dalam ruang tunggu di mana dia berada. Damian tersenyum melihatnya, dia benar-benar senang melihat Ainsley di sana.
"Dam-Dam, apa aku mengganggumu?" tanya Ainsley basa basi.
"Tidak, kenapa kau datang?"
"Aku mau memberikanmu ini," Ainsley mengangkat paper bag berisi sushi yang dia bawa.
"Apa itu?" tanya Damian penasaran.
"Ini sushi buatanku jadi kau harus menghabiskannya!" Ainsley tersenyum dengan manis. Sushi yang dia buat pasti enak.
"Kau belajar memasak?" Damian melihatnya dengan tatapan tidak percaya.
"Yeah, aku bangun lebih pagi hari ini untuk belajar membuatnya. Semoga kau suka dengan sushi buatanku."
Damian tersenyum dan setelah itu, Damian mengambil paper bag dari tangan Ainsley dan meraih tangan Ainsley bahkan menggenggam telapak tangannya dengan erat.
"Jika begitu ayo kita nikmati bersama," ajaknya.
Ainsley mengangguk sambil tersipu karena Damian menggandeng tangannya apalagi mereka menjadi pusat perhatian para karyawan Damian yang ada di sana. Damian bahkan tidak melepaskan tangannya ketika mereka berada di dalam lift. Walau mereka tidak banyak bicara karena mereka masih merasa canggung, tapi mereka terlihat semakin dekat.
Damian membawa Ainsley menuju ruangannya dan mengajak Ainsley untuk duduk bersama. Walau dia sudah makan tapi dia tidak keberatan mencicipi makanan yang dibuat oleh Ainsley dengan susah payah. Kotak sushi dibuka, Ainsley memberikan sumpit pada Damian karena dia tidak sabar Damian mencoba makanan yang dia buat dan memberikan pujian untuknya.
"Wow, kau yang membuat semua ini?" tanya Damian. Untuk pemula penampilan sushi yang dibuat oleh Ainsley tidaklah buruk.
"Yes, cepat di coba!" Ainsley semakin tidak sabar.
Damian tersenyum dan tanpa rasa curiga, Damian menjepit sepotong sushi dari dalam kotak. Mata Ainsley semakin berbinar, dia sudah menanti pujian dari Damian tapi ketika sushi hendak masuk ke dalam mulut, terdengar ketukan di depan pintu.
Damian meletakkan sushi itu kembali karena terdengar suara sekrestarisnya, sedangkan Ainsley terlihat sedikit kecewa.
"Tunggu sebentar, nanti aku akan kembali," ucap Damian sambil meletakkan kotak sushi.
"Baiklah," jawab Ainsley.
Damian berlalu pergi, sedangkan Ainsley menunggunya dan terlihat bosan. Ainsley merebahkan diri di sofa karena dia mengantuk apalagi Damian cukup lama membicarakan pekerjaan dengan sekretarisnya.
Hampir satu jam Damian berbicara dengan sang sekretaris dan setelah selesai, dia kembali menghampiri Ainsley tapi gadis itu sudah tidur karena dia lelah. Damian tersenyum dan membuka jas yang dia pakai karena jas itu akan dia gunakan untuk menutup tubuh Ainsley.
Kotak sushi diambil dan tanpa ragu, Damian memakan potongan pertama sushi buatan Ainsley tapi tidak lama kemudian, sushi itu keluar lagi dari mulutnya.
"Oh my God, Nona, kenapa rasanya begitu aneh?" tanya Damian. Jangan-jangan semua sushi yang ada di dalam kotak itu rasanya campur aduk.
Damian melihat Ainsley yang tertidur dengan pulas dan meletakkan kotak sushinya. Biarlah, yang pasti Ainsley sudah berusaha. Dia mendekati Ainsley tanpa ragu dan mencium dahi Ainsley sambil berkata, "Thanks," dan sebuah ciuman lagi mendarat di dahinya tanpa Ainlsey ketahui.
Damian mengusap wajah Ainsley sambil tersenyum, matanya memandangi Ainsley begitu lama dan setelah itu dia melihat kotak sushi. Sepertinya dia harus membawa sushi itu pulang dan memberikannya pada ayahnya, biarkan mereka sakit perut bersama-sama setelah memakannya.