
Hari itu, Ainsley tidak menyangka jika Harry akan datang menemuinya dengan kakeknya untuk meminta bantuan. Semenjak pertemuan mereka di rumah Damian, Harry memang tidak datang mengganggunya lagi.
Itu sangat bagus karena dia pikir Harry sudah menyerah dan tidak akan mengganggunya lagi. Setidaknya hari tenangnya kembali karena jujur saja, dia malas jika Harry datang. Rasanya semua yang dia katakan sia-sia di hadapan pria itu karena Harry tidak menerima penolakan darinya.
Ainsley terlihat sibuk, tapi bukan sibuk dengan pekerjaannya. Dia sibuk mencari tempat bagus karena dia dan Damian akan pergi jalan-jalan. Damian yang memintanya melakukan hal itu, dia akan menuruti ke mana Aisley akan pergi. Lagi pula dia tahu, tidak ada tempat yang belum pernah di datangi oleh Ainsley apalagi dia bisa pergi ke mana pun yang dia mau dengan mudah.
Mau yang dekat atau jauh, akan dia turuti asalkan dia bisa berdua dengan Ainsley tanpa ada yang mengganggu. Ainsley sudah melihat beberapa tempat tapi entah kenapa dia penasaran dengan sebuah tempat yang menurutnya sangat indah. Walau dia sudah sering ke sana tapi tidak ada salahnya mengajak Damian pergi ke tempat itu. Suasananya pasti berbeda karena dia akan pergi bersama dengan orang yang dia cintai.
"Oke, sudah aku putuskan!" ucap Ainsley.
Ponsel diambil karena dia ingin menghubungi Damian untuk mengatakan ke mana mereka akan pergi nanti. Damian pasti tidak akan keberatan, dia yakin Damian pasti akan senang dengan keputusannya.
Ainsley ingin menghubungi Damian tapi sayangnya saat itu terdengar suara pintu diketuk lalu rekannya masuk ke dalam ruangannya.
"Ainsley, ada yang mencarimu di bawah," ucap sang rekan seraya berjalan menghampirinya.
"Siapa?"
"Entahlah, mungkin pacarmu," jawab sang rekan.
Ainsley tersenyum, dia menebak jika Damian yang mencarinya tapi kenapa tidak menghubunginya terlebih dahulu?
"Baiklah, aku akan turun," ucap Ainsley.
"Tapi pria itu datang bersama dengan seorang pria tua," ucap sang rekan lagi.
Ainsley mengernyitkan dahi, bersama dengan pria tua? Apa Damian datang bersama dengan ayahnya? Tapi untuk apa? Karena dia pikir itu Damian, Ainsley turun dengan terburu-buru, dia tidak mau membuat Damian dan ayahnya lama menunggu.
Setelah berada di bawah, Ainsley menuju ruang tunggu. Dia sangat berharap Damian yang datang tapi senyumnya langsung hilang ketika dia melihat Harry bersama dengan seorang pria tua yang tidak dia kenal.
Harry tersenyum ketika melihatnya, sedangkan Aland melihat Ainsley dengan teliti. Apakah itu gadis yang digilai oleh Harry? Harry beranjak, menghampiri Ainsley yang saat itu berjalan menghampiri mereka.
"Harry, untuk apa kau datang?" tanya Ainsley dengan nada tidak senang.
"Aku merindukanmu, Ainlsey," jawab Harry.
Kakeknya harus melihat, siapa gadis yang dia sukai. Kakeknya juga harus tahu jika gadis yang dia sukai tidak sebanding dengan Sherly yang begitu kakeknya banggakan selama ini.
"Jika kau datang hanya untuk mengganggu aku, sebaiknya pergi saja. Aku tidak punya waktu berbasa basi denganmu," ucap Ainsley karena dia memang tidak suka berbasa basi dengan orang yang tidak dia suka.
"Jangan salah paham, Nona. Aku yang ada perlu denganmu," Aland beranjak dan mendekati mereka berdua. Sudah jelas-jelas gadis itu tidak menyukainya, kenapa Harry masih gigih juga?
"Kakek, bisakah kau menunggu sebentar?" pinta Harry dengan nada tidak senang.
"Tidak, apa kau lupa dengan tujuan kita datang ke mari?"
Ainsley diam, memandangi Aland Windstond. Jika pria tua itu adalah kakek Harry, bukankah dia kakek Damian juga? Sekarang dia jadi tahu apa tujuan mereka datang. Mereka pasti ingin meminta bantuannya agar mereka bisa bertemu dengan Damian dan tebakannya sangat benar.
"Nona, aku ingin meminta bantuanmu untuk mempertemukan kami pada adik Harry," ucap Aland.
"Damian?"
"Ya, tolong pertemukan kami dengannya Ainsley," pinta Harry.
"Jangan salah paham, Nona. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengannya, jadi tolong bawa aku menemui dirinya," pinta Aland.
"Bukankah kalian bisa pergi menemuinya tanpa bantuanku? Kau tahu rumahnya Harry, kenapa kau datang kemari?" Ainsley masih menolak karena dia merasa dia tidak punya hak dan dia juga tidak mau ikut campur.
"Please Ainsley, hanya kau yang bisa membantu. Aku dan Kakek tidak bisa ke rumahnya karena kami pasti akan diusir," ucap Harry.
"Itu karena kalian menghina dirinya! Ayahnya tidak terima dan aku juga tidak! Jika kalian hanya ingin menghina dirinya sebaiknya lupakan, aku tidak akan mempertemukan kalian dengannya!"
"Aku berjanji padamu, Nona. Aku tidak akan menghina dirinya, aku hanya ingin berbicara dengannya," ucap Aland memastikan.
Ainsley belum menjawab, jika Harry yang memohon maka dia tidak akan peduli tapi dia tidak tega dengan kakek Harry.
"Baiklah, aku harus bertanya dulu padanya," ucap Ainsley.
Gadis itu berjalan menuju sebuah kursi sambil mengambil ponsel-nya. Bagaimanapun dia harus bertanya pada Damian. Jika Damian tidak setuju maka dia tidak bisa membawa mereka pergi menemuinya, bagaimanapun dia tidak mau ikut campur.
Tidak butuh lama, sudah terdengar suara Damian. Ainsley tersenyum, ekspresi wajahnya terlihat senang tapi tidak dengan Harry. Sesungguhnya dia begitu kesal sedari tadi karena Ainsley begitu membela Damian. Apa pria itu lebih baik darinya? Dia tidak menyangka jika dia harus bersaing dengan adiknya sendiri tapi dia tidak akan menyerah karena baginya Damian bukanlah siapa-siapa.
"Dam-Dam, apa kau sibuk?" tanya Ainsley, matanya melirik ke arah Harry dan kakeknya sejenak.
"Sekarang aku ingin pergi ke tempatmu untuk mengajakmu makan siang," jawab Damian.
"Tidak, jangan!" cegah Ainsley.
"Kenapa?" tanya Damian heran.
"Sebenarnya ada yang mau bertemu denganmu, jadi aku?"
"Apa keluarga Windstond lagi?" tebak Damian.
"Ya, Harry dan Kakeknya ingin bertemu denganmu. Jika kau keberatan maka aku tidak akan membantu mereka."
Damian menghela napas, sepertinya ini yang dimaksud oleh istri ayahnya. Sepertinya Harry dan Kakeknya ingin menawarkan sesuatu padanya. Tidak ada alasan untuk menolak, dia juga malas berurusan dengan mereka terlalu lama. Tinggal menolak apa yang ingin mereka tawarkan lalu selesai, mereka tidak akan mencarinya lagi dan dia juga tidak mau banyak berbasa basi dengan mereka.
"Bawa saja mereka, aku ingin tahu apa yang mau mereka bicarakan padaku," ucap Damian.
"Kau yakin?" tanya Ainsley memastikan.
"Yes, aku tunggu di restoran biasa. Aku tidak mau terlibat terlalu lama dengan keluarga Windstond jadi aku ingin tahu apa yang ingin mereka tawarkan padaku."
"Baiklah, aku akan membawa mereka ke sana."
"Sorry merepotkanmu, Ainsley," Damian jadi tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, aku akan segera ke sana."
Ainsley mengakhiri pembicaraan mereka lalu mendekati Harry dan kakeknya. Dia mengajak mereka pergi, tentu dia menumpang di mobil Harry walau sebenarnya dia enggan.
Di luar sana Sherly terkejut melihat Ainsley. Dia tidak menyangka jika gadis itu yang ditemui oleh Harry. Entah kenapa dia semakin curiga, jangan-jangan adik Harry adalah pria waktu itu yang ada di restoran. Sepertinya tebakannya benar, jika begitu dia akan terus mengikuti mereka lalu dia akan mengikuti pria itu dan mencari tahu semua tentangnya dan setelah itu dia akan mengajaknya bekerja sama.