
Setelah kepergian Harry, Damian masuk ke dalam bersama dengan yang lain. Jager memandangi putranya dengan tatapan heran, kenapa Damian tidak terkejut sama sekali? Apa mereka berdua sudah saling mengenal? Dilihat bagaimanapun sepertinya mereka sudah saling mengenal apalagi mereka terlibat perkelahian. Jager ingin tahu, biasanya Damian selalu tenang, tidak mudah terbawa emosi tapi hari ini, dia justru berkelahi di depan rumah. Pria yang bernama Harry itu pasti sudah membuatnya begitu marah.
Mereka sudah berada di ruang keluarga, duduk bersama bahkan Mayumi juga ada di sana karena itu adalah hal baru untuknya. Dia tahu jika Damian bukan putra kandung Jager Maxton, tapi dia tidak menyangka jika Damian memiliki saudara.
Ainsley sedang mengolesi obat di lebam yang terdapat di wajah Damian. Mereka sungguh tidak menyangka Harry akan datang untuk mencari keberadaan Damian. Harry pasti terpukul, mereka bisa melihat itu. Entah apa yang terjadi dengan Harry setelah ini, yang pasti situasi akan semakin sulit.
Maxton memandangi Damian, dia ingin tahu kenapa Damian tidak terkejut sama sekali ketika tahu Harry adalah saudaranya dari lain ibu.
"Kenapa kau tidak kaget sama sekali, Damian?" tanya ayahnya.
"Apanya, Dad?"
"Ck, seharusnya kau terkejut ketika aku mengatakan pada pria itu jika kau adalah adiknya!" jawab ayahnya.
"Tidak, aku tidak terkejut karena kami sudah menebaknya sejak awal."
"Oh ya? Dari mana kau mengenalnya?" Jager menatap putranya dengan serius, sungguh dia sangat ingin tahu.
"Harry kenalanku, Uncle," jawab Ainsley.
"Wah, bagaimana kau bisa mengenalnya? Sungguh kebetulan yang luar biasa!"
"Itu kejadian tanpa sengaja, Uncle. Kami teman bisnis, lalu dia mengejarku tiada henti sampai mencampakkan tunangannya."
"Ck... Ck, sungguh tabiatnya sangat mirip dengan ayahnya. Aku tahu sekarang kenapa kau tidak terkejut sama sekali. Sekarang kau sudah tahu Damian, jika kau punya saudara dan kau mendengar sendiri jika dia ingin membawamu kembali ke rumah Windstond. Buatlah keputusan, aku tidak melarang. Jika kau mau kembali ke sana, aku tidak keberatan tapi sampai kapanpun, kau tetap akan menjadi putraku dan memiliki semua yang aku punya."
"Apa yang Daddy katakan? Apa Daddy membuangku?"
"Tidak, bukan begitu. Aku hanya ingin kau mengambil keputusan karena aku tidak akan pernah melarang jika kau memilih kembali pada ayah kandungmu tapi satu hal yang harus kau tahu, kau akan tetap menjadi putraku sampai kapanpun. Pintu rumah ini akan selalu terbuka untukmu."
"Apa yang Daddy katakan?" Damian memandangi ayahnya dengan tatapan tidak percaya. Mana mungkin dia mau kembali pada ayah yang tidak dia kenal sama sekali?
"Mau sampai kapanpun juga, aku putra Jager Maxton. Walau dalam darahku tidak mengalir darahmu tapi berkat kau, aku ada. Untuk apa ayah kandung yang tidak peduli sama sekali padaku? Dia hanya penyumbang benih dalam rahim ibuku tapi dia tidak memiliki peran sebagai ayahku karena dia tidak menginginkan aku. Dia hanya menyandang gelar sebagai ayah kandungku tapi kau adalah ayahku yang sesungguhnya sampai kapanpun juga. Walau kau bukan ayahku, tapi kau mencintai dan menyayangi aku melebihi ayah kandungku. Walau gelar itu tidak bisa diberikan padamu, tapi kau melebihi apa pun juga," ucap Damian.
"Jadi kau tidak akan kembali?" tanya ayahnya.
"Tentu saja tidak, Dad. Untuk apa aku kembali pada mereka yang tidak aku kenal sama sekali dan tidak menginginkan aku? JIka aku melakukannya berarti aku adalah orang paling bodoh jadi aku tidak akan kembali!"
"Baiklah, lalu kenapa kau dan kakakmu berkelahi?"
"Dia yang mulai duluan, Dad."
"Ck, ayah anak sama saja!"
Mayumi diam, dia benar-benar menjadi pendengar apalagi dia baru tahu akan hal ini. Apa pria itu menyimpan perasaan pada Ainsley? Dilihat bagaimanapun sepertinya demikian dan bisa dia lihat jika Ainsley tidak menyukai pria itu sama sekali.
"Baiklah, Daddy berharap kalian tidak berkelahi lagi saat bertemu karena bagaimanapun kalian adalah saudara!" ucap Jager seraya beranjak.
"Akan aku usahakan!" jawab Damian. Dia tidak janji karena dia tidak akan diam saja jika Harry ingin memukulnya.
"Ainsley, apa kau marah?"
"Menurutmu?" Ainsley melangkah masuk ke dalam kamar, sedangkan Damian mengikutinya.
"Dia yang mulai duluan, seharusnya kau tahu itu."
"Aku tahu," Ainsley menghela napas dan menghentikan langkahnya.
Ainsley memutar tubuhnya, dia dan Damian sudah saling berhadapan sekarang. Walaupun dia kesal tapi dia tidak bisa menyalahkan Damian apalagi dia tahu, Damian bukan orang yang suka mencari perkara jika tidak ada yang memulai duluan.
"Aku minta maaf, Ainsley," Damian mendekatinya, memeluk pinggangnya dan merapatkan tubuh mereka.
"Sudahlah, apa kau sudah memukulnya dengan keras?" tanya Ainsley.
"Sepertinya, seharusnya pukulan yang aku berikan cukup keras tadi."
"Tapi kau juga dipukuli dengan keras, coba lihat lebam di wajahmu ini," Ainsley mengusap lebam di wajah Damian akibat pukulan yang diberikan oleh Harry.
"Hanya lebam, tidak perlu dipikirkan."
Ainsley tersenyum, dia sedikit berjinjit untuk mengecup lebam yang ada di wajah Damian. Damian mengencangkan pelukannya, matanya bahkan terpejam untuk menikmati sentuhan bibir Ainsley di wajahnya.
"Ainsley," Damian berbisik dan menggigit daun telinga Ainsley dengan lembut.
"Hm?" Ainsley memeluk lehernya dengan erat.
"Mandi denganku?" ajak Damian.
"No!" tolak Ainsley sambil menggeleng.
"Why? Ini latihan untuk kita agar kita semakin terbiasa!"
"Nanti di sensor!"
"Ck, tidak adil!"
Bibir Damian berpindah, dari pipi Ainsley menuju bibirnya. Sebelum mencium bibir Ainsley, mereka saling pandang. Ainsley tersenyum dengan manis dan setelah itu, matanya terpejam karena Damian memberikan ciuman ke bibirnya.
Dekapan Damian semakin erat, ciuman mereka semakin dalam. Lidah mereka bahkan sudah bermain di dalam sana. Jantung Ainsley berdetak dengan cepat saat tangan Damian mengusap punggungnya dan merayap ke bawah. Erangan Ainsley terdengar karena Damian memberikan remasan lembut ke bokongnya.
Damian tidak bertanya lagi, Ainsley sudah berada di dalam gendongannya saat itu. Damian membawa Ainsley menuju kamar mandi, sambil mencium bibirnya. Ainsley tidak bisa berpikir apa-apa lagi, dia hanya menikmati ciuman dan sentuhan yang Damian berikan. Lagi pula setelah ini dia akan pulang dan mereka akan sulit bersama seperti itu lagi.
Ainsley kembali mengerang karena tangan Damian sudah berada di dalam bajunya dan menyentuh isinya. Wajahnya bahkan terlihat memerah. Damian tidak berhenti, dia bahkan membuka baju yang dipakai oleh Ainsley karena dia ingin menikmati tubuh Ainsley dengan bibir dan juga jarinya.
Mereka berada di dalam kamar mandi cukup lama, menikmati waktu mereka berdua di dalam sana. Mereka bahkan mandi berdua dan tentunya Ainsley begitu malu karena ini pertama kali baginya, begitu juga dengan Damian. Mandi berdua adalah ide buruk karena dia harus menahan diri saat melihat tubuh Ainsley yang indah.