
Marco terlihat gelisah, pria itu berjalan mondar mandir dan terlihat berpikir. Dua pria yang dia bayar untuk menghancurkan Harry belum memberinya kabar sama sekali. Dia sungguh ingin tahu mereka sudah berhasil atau tidak tapi sebaiknya dia menunggu sebentar lagi dan melihat keadaan.
Jangan sampai dia salah mengambil langkah sehingga posisinya terancam. Marco kembali berjalan mondar mandir, dari pada pusing seperti itu lebih baik dia ke tempat Anna dan melihat keadaannya. Anna tidak keluar sedari tadi dan dia khawatir terjadi sesuatu dengan gadis itu. Semenjak tinggal di samping apartemen Anna, dia jadi tahu apa saja yang dilakukan oleh gadis itu.
Sebaiknya dia membuatkan sup kesukaan Anna, walau selalu ditolak tapi usaha tidak akan mengkhianati hasil. Dia tidak akan menyerah walau Anna selalu menolaknya. Tidak saja Marco yang berinisiatif ke tempat Anna, Harry juga mendatangi apartemen gadis itu bahkan dia sudah berada di bawah.
Kedua pengawal ayah Anna begitu kesal melihatnya, sepertinya pria itu belum jera karena pukulan yang mereka berikan. Apa mereka harus memberikan pelajaran yang lebih ekstream lagi? Sepertinya bukan ide buruk, memotong salah satu jarinya mungkin bisa membuat pria itu jera.
Akan mereka lakukan nanti tapi mereka tidak tahu jika dari kejauhan ada yang mengikuti Harry dan tentunya itu anak buah yang diutus oleh Damian. Mereka bertugas melihat siapa yang Harry temui dan mereka juga bertugas untuk menemukan orang yang ingin mencelakai Harry.
Kedua pengawal ayah Anna tidak bergeming karena Harry sudah masuk ke apartemen. Harry datang ke sana tanpa mengabari Anna terlebih dahulu, dia harap Anna berada di rumah karena dia ingin mengajak Anna pergi makan siang.
Anna tampak tidak berdaya di atas ranjang, itu karena dia sedang tidak enak badan. Padahal dia sangat ingin menemui Harry tapi sayang keadaannya tidak memungkinkan. Dia bahkan enggan beranjak keluar dari selimut karena tubuhnya yang menggigil. Dia benci keadaannya yang seperti itu tapi mau bagaimana lagi, sepertinya dia jadi seperti itu karena angin malam.
Di luar sana, Harry sudah berdiri di depan pintu. Dia tampak sedikit ragu tapi dia sudah berada di sana jadi dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Pintu di ketuk, tidak ada respon sama sekali. Itu karena Anna menebak jika yang datang adalah Marco dan dia sedang tidak punya stamina untuk berdebat dengannya.
Pintu kembali diketuk tapi lagi-lagi tidak ada respon, bel pun ditekan, sepertinya Anna tidak ada di rumah. Mungkin saja gadis itu sedang pergi menemui klien, seharusnya dia menghubungi Anna terlebih dahulu.
Anna benar-benar tidak mau membuka pintu, dia yakin seratus persen itu pasti Marco. Dari pada berdebat lebih baik dia tidur. Selimut ditarik sampai menutupi tubuh, tapi keinginannya untuk tidur terganggu oleh suara ponsel yang berbunyi.
Benda itu diambil, Anna tersenyum dan terlihat bersemangat karena Harry yang menghubunginya. Terus terang saja, dia sangat ingin bertemu dengan pria itu.
"Harry, apa kau rindu denganku?" tanya Anna bas basi dan dia harap pria itu merindukan dirinya.
Harry mengernyitkan dahi, kenapa suara Anna terdengar berbeda? Anna bahkan terdengar batuk beberapa kali.
"Apa kau sedang sakit?" tanya Harry.
"Hm, ya. Padahal aku ingin ke tempatmu tapi sepertinya tidak bisa," jawab Anna.
Harry menghentikan langkahnya karena dia sudah melangkah menuju lift. Dia kembali melangkah mendekati apartemen Anna, hampir saja dia pergi tanpa tahu apa yang sedang terjadi.
"Aku berada di luar," ucap Harry.
"Apa? Jadi kau yang mengetuk pintu sedari tadi?" selimut disingkirkan dengan cepat, Anna beranjak dengan susah payah.
"Yeah, aku kira kau tidak ada di rumah."
"Tunggu, aku memang tidak mau membuka pintu karena aku kira Marco yang datang!" Walau kepalanya sakit, tapi dia tidak boleh membiarkan pujaan hatinya pergi. Ini kejutan, dia tidak menyangka Harry akan datang hari ini.
Anna keluar dari kamar sambil merapikan penampilannya yang berantakan, tapi tunggu, dia belum gosok gigi. Walau tubuhnya lemas, Anna segera menuju kamar mandi, biarkan Harry menunggu sebentar jangan sampai pria itu shock karena bau mulutnya.
Pewangi mulut bahkan dia gunakan, dia juga mencoba mencium aroma mulutnya sendiri. Jangan sampai Harry pingsan karena bau mulutnya, itu sangat memalukan jika sampai terjadi.
Harry sudah berdiri di depan pintu, dia sangat heran karena Anna begitu lama. Apa keadaan Anna begitu parah sehingga dia tidak bisa bangun dari tempat tidur? Tapi, yeah, Anna sedang mengganti bajunya dan menyemprot parfum. Sepertinya Harry akan pingsan bukan karena bau mulut atau bau badan, sepertinya dia akan pingsan karena wangi parfum yang digunakan Anna.
Setelah selesai, Anna keluar dari kamar. Sambil menggerutu karena kepalanya yang pusing, Anna membuka pintu dan tersenyum manis. Sontak Harry melangkah mundur, berapa banyak parfum yang gadis itu gunakan?
"Maaf membuatmu menunggu lama," ucap Anna sambil tersenyum. Sekarang dia sudah tidak malu karena bau mulut. Sepertinya dia sudah bisa melakukan seperti iklan pasta gigi closeup. Mungkin Harry akan terbuai dengan wangi mulutnya seperti di iklan itu.
"Kau mau pergi ke mana, Anna? Bukankah kau sedang sakit?" tanya Harry, dia masih bisa mencium bau parfum Anna yang menyengat.
"Kau benar, oh astaga!" mood menjadi artis dadakan langsung on. Anna memegangi kepalanya, dia pura-pura tumbang ke arah Harry dan tentunya pria itu langsung menangkap tubuhnya yang akan terjatuh.
"Maaf, aku lupa jika aku sedang sakit dan kepalaku sakit, Harry," Anna bergelayut di tubuh Harry, peduli amat kata orang, yang penting dia bisa mengambil kesempatan dalam kesempitan. Lagi pula tidak ada yang melihat dan hanya ada mereka berdua saja. Semoga saja Marco sedang pergi sehingga dia tidak mengacaukan kebersamaan mereka hari ini.
Harry menggeleng, Anna berteriak tapi pelan saat pria itu menggendongnya bak seorang putri.
"Sebaiknya kau istirahat," ucap Harry. Pria itu masuk ke dalam sambil menutup pintu menggunakan satu kakinya.
Anna tersenyum, kedua tangannya sudah berada di leher Harry. Dia benar-benar senang karena di gendong oleh Harry. Dia rasa Cinderela akan iri dan menggigit ujung celemek jelek yang dia pakai saat melihat keberuntungannya hari ini karena Cinderela harus menunggu pesta datang baru bisa bahagia.
"Yang mana kamarmu?" tanya Harry.
"Kamar? Apa kita akan melakukan sesuatu di sana?"
"Ck, apa yang kau pikirkan? Kau harus istirahat!"
"Ups, aku kira aku bisa meraba sesuatu!" ucap Anna seraya menunjuk ke arah kamarnya.
"Sepertinya aku harus membiarkanmu meraba bokong kuda!" ucap Harry kesal.
"Apa? Aku lebih suka meraba bokongmu!" tangan Anna sudah berada di bawah, mulai bergerak nakal.
"Hei, apa yang kau raba!"
"Ups, sorry," ucap Anna sambil tersenyum.
Harry kembali menggeleng, entah kenapa dia mulai terbiasa dengan sifat Anna yang seperti itu. Harry membawa Anna masuk ke dalam kamar, dia juga membaringkan Anna di atas ranjang dengan perlahan.
"Apa kau sudah makan?" tanya Harry, sedangkan Anna menggeleng.
"Jika begitu aku akan membuatkan sesuatu untukmu."
"Tidak perlu, Harry. Aku tidak mau merepotkan dirimu," ucap Anna.
"Tidak apa-apa, tidak baik tidak memakan apa pun. Lambungmu bisa sakit."
"Maaf aku jadi merepotkanmu," Anna jadi tidak enak hati tapi Harry tersenyum dan mengusap dahinya yang terasa hangat.
"Tidak perlu dipikirkan," Harry menunduk dan mencium dahi Anna.
Anna sangat senang, matanya bahkan sudah terpejam menikmati ciuman yang Harry berikan.
"Pipiku sakit, sepertinya kau harus menciumnya juga agar sembuh," ucapnya sambil tersenyum nakal.
Harry melotot, benar-benar gadis yang tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Harry kembali menunduk untuk memberikan sebuah ciuman di pipi tapi Anna belum selesai karena dia kembali menunjuk di tempat lain. Harry kembali menciumnya sampai jari Anna jatuh ke bibir, ck ... ck, benar-benar gadis yang tidak mau rugi.
Anna tersenyum saat Harry meninggalkannya, dia benar-benar senang. Senyumnya bahkan belum juga hilang, dia sungguh tidak menyangka Harry akan datang ke rumahnya.
Di luar sana, Harry mencari sesuatu di kulkas. Walau dia tidak terlalu bisa memasak tapi hanya membuat sup saja dia bisa. Bahan-bahan sudah dikeluarkan, Harry menggulung lengan kemejanya. Untuk seumur hidup dia belum pernah membuat makanan untuk seorang wanita bahkan untuk Sherly pun tidak.
Harry mulai sibuk, sedangkan di luar sana Marco sudah berdiri di depan pintu dengan sup di tangan. Marco mengetuk pintu, dia harap Anna membukanya dan memang tidak lama kemudian pintu terbuka tapi wajah Marco terlihat terkejut dan Harry terlihat tidak senang.
Mereka berdua saling pandang dengan tatapan tajam, Marco mengumpat dalam hati. Kenapa pria itu baik-baik saja? Apa kedua orang yang dia utus belum bergerak? Tidak, dia yakin mereka sudah bergerak tapi apa yang telah terjadi? Apa kedua orang itu gagal?