Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Kita Tidak Memerlukan Rumah Baru



Maldive island menjadi pilihan Damian dan Ainsley untuk pergi berbulan madu untuk menikmati pernikahan mereka. Mereka akan berada di sana selama satu bulan, menikmati pulau indah dan kebersamaan mereka. Walau malam pernikahan mereka kacau, tapi mereka akan menebusnya selama berada di pulau indah nan exotics itu.


Mereka belum berangkat, mereka masih berada di rumah. Jager Maxton kembali sebentar, dia akan mengambil beberapa barangnya karena setelah ini dia akan ke rumah putrinya lagi sesuai dengan permintaan Damian dan Vivian. Mereka tidak mau ayah mereka sendirian di rumah walau sesungguhnya Jager tidak mau merepotkan putrinya tapi karena putra dan putrinya memaksa jadi dia tidak punya pilihan.


Lagi pula dia bisa bermain catur dengan si tua bangka Jacob atau bermain dengan keenam cucunya yang sudah mulai aktif. Dia ingin menghabiskan masa tuanya dengan melakukan hal yang menyenangkan.


Ainsley sedang merapikan barang-barang mereka yang hendak mereka bawa, sedangkan Damian berada di dalam kamar ayahnya bersama dengan sang ayah. Damian mengambilkan barang-barang ayahnya yang hendak di bawa, dia juga mengambilkan obat yang harus Jager konsumsi setiap hari.


"Damian, aku sudah memikirkan hal ini," ucap Jager Maxton.


"Apa yang Daddy pikirkan? Jangan katakan Daddy benar-benar mau menikah lagi seperti yang diucapkan oleh Vivi," ucap Damian karena adiknya berkata ayah mereka mau menikah dengan dua gadis sekaligus.


"Aku hanya bercanda saja, mana mungkin aku akan menikah lagi!"


"Aku kira sungguhan, aku dan Vivi bahkan berencana menakuti istri Daddy nanti setiap malam!" ucap Damian bercanda.


Jager terkekeh, dia hanya bercanda dan tidak serius mengenai hal itu. Mana mungkin dia menikah lagi, dia sedang menikmati masa tuanya dan tidak mau memikirkan istri muda yang akan membuat masa tuanya semakin runyam. Apalagi dua, jangan sampai arwah Cristiana menariknya dan membawanya dengan cepat.


"Bukan itu yang aku pikirkan," ucapnya.


"Lalu?"


"Aku pikir sebaiknya kau membeli rumah baru dan tinggal dengan Ainsley di sana."


"Kenapa, Dad? Apa sekarang aku sudah tidak boleh tinggal dengan Daddy lagi?" Damian menatap ayahnya saat menanyakan hal itu.


"Bukan begitu, aku pikir kau dan Ainsley tidak leluasa jika tinggal bersama denganku. Mungkin Ainsley ingin memiliki waktu spesial berdua denganmu saja tapi karena ada aku, dia jadi tidak enak hati. Aku tidak ingin dia menjadi canggung, jangan sampai karena keberadaanku hubungan kalian menjadi canggung."


"Dad," Damian mendekati ayahnya dan duduk di sisinya.


"Aku sudah membahas hal ini dengan Ainsley, dia tidak keberatan tinggal di sini. Aku juga tidak bisa meninggalkan dirimu begitu saja, jika aku melakukannya maka aku bukanlah anak yang berbakti. Aku tidak ingin dipandang seperti orang yang tidak tahu balas budi. Aku akan selalu bersama denganmu dan tidak akan meninggalkanmu sendirian."


"Tapi aku tidak ingin menjadi penghalang kebersamaan kalian berdua."


"Apa yang Daddy katakan? Kami bisa menikmati waktu kami walau ada Daddy di rumah."


"Aku pikir kalian tidak akan leluasa tinggal di sini bersama denganku."


"Daddy tidak perlu memikirkan hal itu, aku dan Ainsley akan tinggal di sini dengan Daddy," Damian kembali beranjak, untuk mengambil barang-barang ayahnya.


"Baiklah, bagaimana dengan mereka setelah kejadian itu? Mereka tidak menghina dirimu lagi, bukan?" Jager sangat ingin tahu masalah ini karena Damian pergi ke rumah sakit beberapa kali untuk melihat keadaan keluarga barunya.


"Tentu tidak, setidaknya sikap mereka sudah jauh lebih baik."


"Jika begitu pulanglah ke rumah mereka sesekali untuk melihat keadaan mereka."


"Haruskah?" Damian memandangi ayahnya dengan serius.


"Tidak ada salahnya, tapi jika mereka tidak menyambutmu dengan baik maka kau tidak perlu kembali lagi ke rumah mereka!" ucap Jager.


"Baiklah, Dad. Aku akan mendengarkan nasehatmu. Aku sudah selesai, apa ada barang lain yang Daddy inginkan?" tanya Damian.


"Tidak, sudah cukup. Aku akan pulang dengan adikmu jika ada yang aku butuhkan."


"Pergilah, kau harus selalu membantunya dan jangan biarkan dia melakukan apa pun sendirian," ucap sang ayah.


Damian mengangguk, dia keluar dari kamar meninggalkan ayahnya yang hendak beristirahat. Damian masuk ke dalam kamar dan tersenyum ketika melihat Ainsley sedang membongkar isi koper. Dia mendekati istrinya dengan pelan dan memeluknya dari belakang.


"Apa belum selesai?" tanya Damian seraya mendaratkan sebuah ciuman di pipi istrinya.


"Sedikit lagi," Ainsley tampak bersandar, dia suka kebersamaan mereka seperti itu.


"Sisanya serahkan padamu," Damian memutar tubuh istrinya, lalu Damian menggendong Ainsley sambil mencium bibirnya.


Damian membawa Ainsley mendekati ranjang dan duduk di sisinya, sedangkan Ainsley berada di atas pangkuannya. Bibir mereka sibuk, suara kecapan lidah mereka bahkan terdengar. Tangan Damian masuk ke dalam baju Ainsley, istrinya tampak gugup karena dia takut ada ayah mertuanya di luar sana.


"Dam, ada ayahmu," ucap Ainsley, dia tidak mau ayah Damian mendengar.


"Kenapa?" Damian memandangi istrinya dengan lekat.


"Tidak ada apa-apa," Ainsley berusaha tersenyum.


Damian diam, apa ini yang dimaksud oleh ayahnya? Apa Ainsley benar-benar canggung dan tidak leluasa karena ada ayahnya di rumah?


"Ainsley, apa kau tidak nyaman karena ada ayahku di rumah?"


"Tidak, kenapa kau berkata seperti itu?"


"Dengar," Damian memegangi pipi istrinya dan memandanginya.


"Daddy baru saja meminta aku membeli rumah baru agar kita tinggal di sana karena dia tidak mau keberadaannya mengganggu kita berdua."


"Kenapa ayahmu meminta hal demikian, Dam-Dam. Jika kita membeli rumah baru dan tinggal di sana, lalu ayahmu dengan siapa?"


"Itulah yang aku katakan padanya, Sayang. Aku tidak bisa meninggalkan dirinya sendirian di rumah apalagi Ray sudah tidak ada."


"Jika begitu kita tidak memerlukan rumah baru," Ainsley memeluk leher suaminya dan kembali berkata, "Aku akan berusaha menjadi menantu yang baik untuknya."


Damian tersenyum, dia benar-benar beruntung mendapatkan wanita seperti Ainsley menjadi istrinya.


"Terima kasih, aku sangat senang memiliki dirimu," sebuah ciuman dia berikan di pipi Ainsley.


Ainsley tersenyum, kebahagiaan terpancar di wajah. Dia juga beruntung, tidak saja menyayangi dan mencintainya, Damian juga selalu memikirkan dirinya.


"I love you," ucap Damian seraya mengecup bibir istrinya dengan mesra.


"Me too," mata Ainsley terpejam saat Damian kembali mencium bibirnya. Mereka masih punya waktu sebelum berangkat. Lagi pula mereka tidak perlu terburu-buru.


Damian membaringkan tubuh istrinya dengan perlahan, mereka berdua sudah sibuk. Kali ini Ainsley tidak menolak dan tidak mengkhawatirkan keberadaan ayah mertuanya lagi. Dia tidak mau membuat suaminya berpikir jika dia tidak nyaman tinggal di sana padahal dia tidak mempermasalahkannya.


Mereka menghabiskan waktu mereka berdua di dalam kamar, menikmati kebersamaan mereka  dan setelah selesai, mereka mandi bersama dan merapikan barang-barang mereka yang mereka butuhkan nanti selama mereka berada di pulau Maldive.


Mereka akan mengantar Jager terlebih dahulu ke rumah Vivian dan setelah itu, mereka akan pergi ke bandara pribadi keluarga Smit dan berangkat ke Maldive Island untuk berbulan madu di sana.


Kisah ini belum abis kok guys, nanti aku bikin extra part untuk Harry. kasian jomblo, wkwkkw....