
Warning
Malam semakin larut, Damian dan Ainsley kembali ke rumah. Rumah tampak sepi, entah ke mana semua orang, yang pasti Jager Maxton tidak pulang karena dia ingin memberikan ruang pada putranya. Tanpa diminta pun dia sudah memutuskan akan menginap di rumah putrinya, lebih baik dia bermain dengan keenam cucunya dari pada dia mendengar des*han pengantin baru.
Ya, bagaimanapun dia sudah lama menjomblo. Semenjak istrinya tiada dia tidak pernah menjalin hubungan lagi dengan wanita mana pun. Apa ada yang mau daftar menjadi istrinya? Pembaca mungkin? Jika ada nanti autor akan tulis kisahnya seperti judul yang lagi laris, TERJERAT GAIRAH DUDA KESEPIAN 🤣🤣🤣 Just Joking. Gak nyinggung siapa pun ya. 😂
Mereka masuk ke dalam rumah, tidak mendapati siapa pun. Bahkan satu pelayan pun tidak terlihat. Apa mereka semua mengambil cuti mendadak?
"Kenapa begitu sepi?" tanya Ainsley.
"Entahlah," Damian membuka high heel yang dipakai oleh istrinya dan menyimpannya.
"Masuklah ke dalam kamar, aku akan melihat yang lain dan mengambilkan air hangat untukmu."
"Apa barang-barangku sudah dibawa?" tanya Ainsley lagi.
"Yes, semua yang kau perlukan sudah ada di dalam lemari."
"Oke," Ainsley melangkah menuju kamar, sedangkan Damian pergi ke dapur untuk mengambil air hangat. Aneh, semua pelayan tidak ada. Pasti ulah ayahnya, tapi tidak masalah, dengan begini kebersamaan mereka tidak ada yang mengganggu.
Setelah mendapatkan air hangatnya, Damian masuk ke dalam kamar di mana Ainsley sedang membuka resleting gaunnya yang ada di belakang.
"Air hangat untukmu," Damian memberikan air yang dia bawa.
"Thanks, kapan aku akan menjenguk mereka?" tanya Ainsley basa basi.
"Mungkin besok," jawab Damian.
Ainsley memberikan gelas yang sudah kosong, dia kembali membuka resleting gaun. Setelah meletakkan gelas ke atas meja, Damian menghampiri istrinya kembali,.
"Sini, aku bantu," ucapnya.
"Apa para pelayan tidak ada?" tanya Ainsley.
"Sepertinya Daddy meliburkan mereka," resleting gaun diturunkan, memperlihatkan punggung Ainsley yang putih mulus. Tangan Damian mulai meraba, dia juga menunduk untuk memberikan sebuah kecupan di sana.
"Dam-Dam, bukankah lebih baik kita mandi terlebih dahulu?"
"Hm," bibir Damian masih bermain di bahu Ainsley, sedangkan tangannya menurunkan gaun yang masih dipakai oleh istrinya dengan perlahan.
Ainsley menggigit bibir, menahan geli di bahunya. Napasnya bahkan tertahan ketika gaun yang dia gunakan sudah jatuh ke bawah. Tangan Damian mulai berpindah, dari belakang merayap ke depan, mengusap tubuh halus istrinya.
"Dam, aku ingin mandi dulu," ucap Ainsley.
"Aku tahu, aku sedang membantumu membuka baju!" jawab Damian, kini tangannya sedang menurunkan pakaian dalam bagian bawah yang digunakan oleh istrinya dengan perlahan.
"Hei, aku bisa sendiri!" Ainsley menahan tangan suaminya dengan wajah memerah.
"Biarkan aku melakukannya!"
Jantung Aisnley berdebar, sentuhan tangan dan bibir Damian membuatnya kesulitan bernapas. Pakaian bagian bawahnya sudah terlepas, kini tangan Damian sudah berpindah di pakaian bagian atasnya. Tidak berlama-lama, semua pakaian Ainsley sudah terlepas.
"Aku suka melihatmu seperti ini," ucap Damian seraya mengangkat dagu istrinya dan memberikan kecupan ringan di bibir.
"Sepertinya aku tidak perlu menggunakan baju sampai pagi."
"Memang tidak!"
Damian menggendong istrinya sambil mencium bibirnya dan membawanya menuju kamar mandi. Lidah mereka sibuk, saling membelai. Tangan Damian juga sibuk, mengusap dan memberikan remasan di tubuh Ainsley. Napas mereka sudah memburu saat Damian menurunkan Ainsley dari gendongannya.
Mereka berdua saling pandang lalu mereka kembali berciuman. Damian membuka bajunya dengan terburu-buru, dia sudah sangat tidak sabar. Kali ini tidak ada yang mengganggu, jadi tidak akan gagal. Dia akan berterima kasih pada ayahnya nanti. Mereka akan bermain sepanjang malam, untuk menebus malam pernikahan mereka yang gagal.
Semua pakaian sudah terlepas, Damian kembali menggendong Ainsley menuju shower. Mereka masih berciuman dengan penuh naf*u, tangan Damian mulai bergerak, untuk menyentuh tubuh istrinya. Mereka berdua berdiri di bawah shower, sibuk dengan kegiatan panas mereka. Sepertinya mereka akan melupakan mandi mereka.
Remasan pelan Damian berikan dibagian atas tubuh istrinya, Ainsley mengerang, napasnya bahkan terasa berat apalagi bibir Damian sedang menyelusuri lehernya. Jari jemari Damian bermain di bagian atas, bergerak lincah memainkan dua bagian yang dia suka.
Bibirnya semakin turun ke bawah. memberikan ciuman dan juga jilatan. Erangan Ainsley terdengar, bahkan dia hampir berteriak saat Damian menikmati miliknya dengan rakus seperti bayi yang kelaparan.
"Dam-Dam," Ainsley memanggil nama suaminya, tangannya sibuk meremas rambut Damian sambil menikmati sensasi nikmat yang diberikan oleh suaminya.
Pikirannya melayang, tubuhnya sudah terbakar api gairah. Dia membiarkan Damian menikmati tubuhnya, mandi yang dia inginkan pun sudah tidak terpikirkan lagi. Lebih baik dia menikmati sensasi dari setiap sentuhan yang diberikan oleh suaminya, tangannya bahkan tidak ragu memainkan milik sang suami yang sudah menantang.
Damian juga menikmati sensasi dari sentuhan tangan istrinya, mereka kembali berciuman tapi tangan mereka berdua sibuk saling memberikan sentuhan. Posisi mereka masih berdiri, Damian mendorong tubuh Ainsley hingga merapat di dinding.
Sebelum menyatukan tubuh mereka berdua, Damian mencium pipi Ainsley dan membisikkan kata cinta untuknya. Kedua tangan Ainsley sudah melingkar, Damian juga sudah mengangkat tubuhnya dan tanpa membuang waktu, mereka memulai kegiatan panas mereka ke bagian inti.
Damian berpacu dengan kekuatannya, napas mereka yang berat terdengar. Tangan Damian menopang tubuh istrinya dan setiap kali dia menghentakkan tubuhnya, hal itu membuat Ainsley melayang dengan sensasi nikmatnya. Bermain di kamar mandi memang berbeda, sepertinya mereka akan melakukan hal itu lagi nanti di kamar mandi tapi untuk saat ini, mereka akan menikmati permainan mereka yang semakin panas.
Entah sudah berapa lama mereka tidak tahu, cukup nikmati kebersamaan itu. Gerakan Damian semakin cepat, erangan Ainsley juga terus terdengar. Mereka berusaha mencapai puncak dari permainan mereka, ibarat sedang bermain game, mereka ingin akhir yang mendebarkan.
"Dam-Dam, please faster, akh ...!" pinta Ainsley memohon dan sesuai dengan permintaannya, Damian semakin bergerak cepat. Mereka berdua sudah terlihat berantakan, kekuatan dan kecepatan tidak berkurang apalagi sebentar lagi mereka akan mencapai puncaknya. Ainsley memanggil nama Damian sesekali, ciuman di pipi dan bibir dia dapatkan sesekali.
"Ainsley," Damian memanggilnya, memberikan ciuman ringan di pipi istrinya lagi dan setelah itu, dia menghentakkan tubuhnya beberapa kali dengan cepat dan memuntahkan larva panas ke dalam goa yang sedang dia huni. Anu itu ..😂
Mereka berdua terengah, dari wajah mereka terpancar kepuasan. Damian belum menurunkan istrinya, dia ingin mereka seperti itu untuk sesaat.
"Apa aku menyakitimu?" tanyanya sambil memberikan ciuman di wajah istrinya.
"Tidak," Ainsley menjawab dengan napas berat.
Mereka masih berpelukan dan setelah cukup, Damian menurunkan Ainsley dari gendongannya. Ainsley masih berusaha mengatur napasnya, senyum menghiasi wajah saat Damian memandanginya dan memberikan usapan lembut di pipinya.
"Ayo mandi," Damian menyalakan Air Shower. Dia akan membantu istrinya mandi.
"Aku ingin berendam," ucap Ainsley.
"Nanti kita akan berendam bersama," Damian membantu istrinya mencuci tubuhnya dan setelah itu, mereka berdua masuk ke dalam bathub dan berendam berdua di sana.
Malam pernikahan mereka baru saja dimulai dan mereka akan memanfaatkan waktu mereka dengan baik. Selagi tidak ada siapa pun, maka mereka akan menggoyang ranjang untuk membuat si junior.
Seadanya guys, malas nulis ulang kalau bab di tolak. Dah ya, aku nulis ini sambil ketawa karena aku mati gaya. wkwkwkw...mending nulis teka teki bang Matth ngak susah, bab ini kok rasanya susah banget. Nikmati aja tulisannya dan bayangkan sendiri, siapa tau ada yang mau coba tapi kasihan suami yang gendong, pinggangnya ntar encok apalagi yang bodynya lebih gede dari pada suami, just joking, wkwkwkw....