
Harry terbangun karena tangan Anna yang sedang meraba sana sini. Tidak ada yang Anna lewatkan, tangannya bergerak dari atas lalu turun ke bawah, naik lagi ke atas dan turun lagi ke bawah. Tapi dia tidak berani menyentuh sesuatu yang menurutnya bagaikan belut walau rasa nikmat itu dia dapatkan dari si belut.
Harry mengusap rambutnya dan menggeleng, benar yang dia katakan. Dia yang harus waspada pada Anna karena istrinya itu akan mengerayanginya tanpa henti.
"Apa masih belum puas merabanya?"
Anna terkejut, tangannya pun berhenti. Wajah Anna tersipu karena aksi raba merabanya ketahuan.
"A-Aku kira kau belum bangun," ucap Anna.
"Bagaimana keadaanmu?" Harry mengusap pinggang Anna, dia harap Anna baik-baik saja karena malam pertama mereka yang panas.
"Hm, pinggangku sedikit nyeri tapi tidak apa-apa."
"Maaf, sepertinya aku terlalu berlebihan."
"Tidak apa-apa, tidak perlu minta maaf karena aku juga menikmatinya."
Harry tersenyum, ciuman lembut dia berikan di pipi istrinya. Anna tersenyum, pagi ini terasa indah baginya karena dia terbangun bersama orang yang dia cintai. Memang masih banyak rintangan dalam hubungan mereka tapi dia yakin mereka bisa melewatinya secara bersama-sama.
"Apa yang akan kita lakukan hari ini, Anna?" Harry membelai rambut istrinya yang berbaring dengan nyaman di dalam pelukannya.
"Bercinta sepanjang hari!" jawab Anna tanpa ragu.
"Hei, apa kau gila?"
"Tidak," Anna memainkan jari di tangan suaminya dan tersenyum nakal.
"Aku belum puas, hari ini aku ingin mencoba banyak gaya untuk menyembuhkan pikiran cabulku ini!"
Harry menggeleng, jangan-jangan bukan Anna yang tidak bisa berjalan nanti tapi dia. Sepertinya inilah resiko menikahi istri yang cabul dan sepertinya Anna akan semakin liar karena dia sudah tahu bagaimana rasanya dan tentunya dia akan semakin berani.
"Baiklah, aku akan membuatkan sarapan untukmu dan pergilah membersihkan diri," ucap Harry.
"Hm, boleh aku pinjam ponsel? Aku ingin menghubungi kedua orangtuaku," pinta Anna.
"Tentu," Harry mencium dahi Anna sebelum beranjak. Mereka berdua saling pandang dengan senyum menghiasi wajah. Rasanya ingin tetap seperti itu tapi ada beberapa hal yang harus mereka lakukan.
Setelah mengenakan pakaiannya, Harry beranjak keluar. Anna masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Dia melihat wajahnya begitu lama di cermin dan tersenyum, kebahagiaan sudah dia dapatkan dan dia akan menjadi istri yang baik untuk Harry.
Setelah selesai, Anna keluar dari kamar. Dia sangat heran saat mendapati ponselnya berada di atas ranjang. Kenapa ada di sana, bukankah ponselnya terjatuh saat orang-orang Marco menangkapnya? Apa pun itu dia akan bertanya pada Harry nanti tapi untuk saat ini, dia mau menghubungi kedua orangtuanya terlebih dahulu.
Ponsel dinyalakan, Anna terkejut ketika melihat Marco menghubungi sampai puluhan kali bahkan beberapa pesan permintaan Marco untuk menghubunginya juga ada. Karena penasaran, Anna menghubungi Marco, mungkin ada hal penting yang ingin dia bicarakan.
Suara Marco sudah terdengar, pria itu tidak menyangka jika Anna masih mau menghubunginya padahal dia sudah menghancurkan hubungan mereka dan sudah banyak melakukan kesalahan pada Anna. Walau tidak bertemu dengan Anna tapi setidaknya mendengar suaranya saja sudah membuatnya senang.
"Ada apa, Marco?"
"Aku ingin berbicara denganmu, apa kau punya waktu?" tanya Marco pula.
"Tentu, aku akan mengunjungimu ke rumah sakit nanti," jawab Anna.
"Tidak perlu, Anna. Aku tidak ingin merepotkan dirimu, seperti ini saja sudah cukup."
"Baiklah, bagaimana dengan keadaanmu saat ini? Semua baik-baik saja, bukan?"
"Tentu, Anna. Terima kasih kau masih mengkhawatirkan aku padahal aku sudah menyakitimu dan berbuat salah padamu!"
Marco diam sejenak, dia tahu Anna gadis yang baik dan bukan tipe pendendam. Sebab itu dia menyukai Anna, sifat konyol dan uniknya membuatnya jatuh hati pada Anna tapi sayangnya, Anna tidak ditakdirkan untuk dirinya. Sekarang dia sadar jika apa yang dia lakukan selama ini salah, tidak seharusnya dia memaksa Anna untuk menjadi istrinya dan dia menyesali perbuatannya selama ini.
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Anna karena Marco hanya diam saja.
"Aku ingin minta maaf padamu, Anna. Maaf jika selama ini aku begitu egois sehingga aku memaksa dirimu tanpa mempedulikan bagaimana perasaanmu. Aku terlalu mencintaimu sehingga aku takut kehilangan dirimu apalagi saat aku tahu kau pergi dari rumah untuk mengejar pria yang kau sukai, aku kalap dan memutuskan untuk kembali. Aku pikir bisa mengambil hatimu jika aku dekat denganmu tapi nyatanya kau tidak tertarik padaku sama sekali dan hanya menganggap aku sebagai teman. Aku semakin gelap mata apalagi sainganku sudah di depan mata. Rasa takut tidak akan bisa memiliki dirimu memenuhi hatiku, sebab itu aku melakukan hal nekad tanpa mempedulikan perasaanmu sama sekali," ucap Marco panjang lebar.
"Sudahlah, Marco. Tidak perlu di bahas lagi!"
"Tidak, Anna. Aku ingin kau tahu jika aku benar-benar menyesali perbuatanku!"
"Apa yang telah terjadi biarlah terjadi, Marco."
"Aku tahu, Anna. Aku sangat tahu sebab itu aku ingin minta maaf padamu. Aku memang sudah salah selama ini jadi maafkan aku dan masih maukah kau berteman denganku?"
Anna tersenyum, sejak awal dia selalu menganggap Marco sebagai sahabat baiknya jadi dia akan menganggap Marco sebagai sahabat baik dan memaafkan perbuatan Marco.
"Maafkan aku, Anna. Aku benar-benar sudah salah selama ini dan sekarang aku sadar, cinta tidak harus selalu memiliki," ucap Marco lagi. Terdengar nada penyesalan dari nada bicaranya.
"Aku memaafkanmu, Marco. Aku selalu menganggapmu sebagai sahabat baikku jadi sampai kapan pun kau adalah sahabat baikku."
"Terima kasih, Anna. Aku senang mendengarnya. Sekarang aku sudah bisa pergi dengan tenang."
"Pergi?" Anna mengernyitkan dahi, ke mana Marco akan pergi?
Pada saat itu Harry masuk ke dalam membawa segelas minuman hangat, Anna tersenyum apalagi Harry mencium dahinya dan setelah itu dia pergi ke kamar mandi karena dia tidak ingin mengganggu istrinya yang tampak sedang serius.
"Kau mau pergi ke mana, Marco? Kakimu belum sembuh!" ucap Anna setelah Harry masuk ke dalam kamar mandi.
"Aku mau pulang, kedua kakiku sudah baik-baik saja. Aku akan mengurus perusahaan ayahku dan tidak terjun di dunia politik lagi. Aku akan menata hidupku dengan baik mulai sekarang dan kedua kakiku ini akan aku jadikan pelajaran paling berharga dalam hidupku. Lagi pula aku sudah intropeksi diri, aku memang pantas mendapatkan semua ini," ucap Marco. Sejak awal dia memang sudah salah, mengutus orang untuk mencelakai Harry dan ternyata semua itu berbalik padanya.
"Aku senang mendengarnya, Marco. Aku berharap kau bahagia setelah ini, menemukan cinta sejatimu yang bisa menerima semua kekurangan yang ada pada dirimu dan aku harap, kau tidak mengulangi kesalahan yang sama."
"Terima kasih, Anna. Akan aku ingat, mungkin ini terakhir kalinya aku menghubungimu, aku sudah harus berangkat," ucap Marco karena dia memang sudah harus pergi.
"Jaga dirimu baik-baik, aku akan selalu ingat jika aku memiliki sahabat seperti dirimu," tiba-tiba air mata Anna mengalir, hubungan mereka yang semula baik-baik saja tapi jadi hancur karena obsesi.
"Good bye, Anna. Aku harap kau bahagia dengan Harry dan sampaikan permintaan maafku padanya," ucap Marco sebelum mengakhiri percakapan mereka.
"Terima kasih, jaga dirimu baik-baik."
Ponsel Anna terjatuh, Anna tak kuasa menahan air matanya. Anna menangis tersedu sampai membuat Harry kaget melihat keadaannya. Harry menghampiri Anna dengan cepat dan memeluknya.
"Ada apa, kenapa kau menangis?"
Anna hanya menggeleng, dia enggan membicarakannya.
"Apa terjadi sesuatu pada ayahmu?" tanya Harry lagi karena dia khawatir melihat keadaan istrinya.
"Tidak apa-apa, Harry," Anna menghapus air matanya.
"Marco meminta maaf pada kita dan pergi," ucapnya.
"Oh, ya?"
Anna mengangguk dan memeluk suaminya dengan erat, dia harap Marco hidup lebih baik lagi dan menemukan cinta sejatinya di mana pun dia berada. Setidaknya Marco sudah sadar walau dia melakukan sebuah kesalahan dan semoga saja dia bahagia.