
Anna belum juga menjawab, hal itu membuat Harry semakin mencurigainya. Jika yang dikatakan oleh Marco adalah benar, maka dia akan mengusir Anna tanpa ragu dan tidak akan mengijinkannya lagi masuk ke dalam.
Anna tidak menjawab bukan tanpa alasan, dia sedikit shock karena dia tidak menyangka Marco akan berkata seperti itu tentang dirinya. Kecewa, sudah pasti. Dia benar-benar kecewa dengan Marco.
Dia tahu tujuan Marco mengatakan hal seperti itu. Dia pasti ingin Harry membencinya agar dia tidak punya saingan. Cara yang licik, dia akan memberi Marco pelajaran setelah dia kembali.
"Anna jika kau tidak menjawab maka aku akan mengganggap apa yang dikatakan oleh Marco adalah benar!" ucap Harry dengan rasa curiga memenuhi hati.
"Tidak, Harry," Anna semakin memeluknya erat.
"Jangan percaya ucapan Marco. Dia ingin menghasutmu agar kau benci padaku jadi jangan dengarkan perkataan Marco. Apa yang dia katakan padamu tentang aku tidak benar, dia hanya ingin menghasut dirimu saja," ucap Anna lagi.
"Untuk apa dia mengatakan hal seperti itu tentang dirimu, bukankah kalian berdua sahabat?" Harry jadi semakin penasaran dan ingin tahu.
"Dia memang sengaja agar kau benci denganku, Harry. Sebab itu jangan mempercayai apa pun yang dia ucapkan. Dia ingin kau membenci aku sehingga kau tidak mau bertemu denganku lagi."
"Untuk apa Anna, dia pasti punya alasan, bukan? Apa ayahmu yang memintanya untuk melakukan hal demikian?"
Anna menggeleng, pelukannya semakin erat. Kesempatan bisa memeluk pria yang dia sukai jadi tidak boleh dia sia-siakan.
"Marco menyukai aku, Harry. Sebab itu dia berkata demikian untuk menghasutmu!"
Harry tidak kaget sama sekali, sudah dia duga. Seringai menghiasai wajahnya, jika demikian dia akan membuat pria itu kesal. Siapa suruh memprovokasinya?
"Baiklah, aku sudah tahu sekarang kenapa dia begitu kesal saat melihatku."
"Maafkan sikap tidak menyenangkannya," ucap Anna. Gadis itu tersenyum, dia benar-benar senang.
"Tidak perlu dipikirkan!" setelah Harry berkata demikian, mereka berdua diam saja, tidak berkata apa-apa lagi tapi Anna tidak melepaskan pelukannya sama sekali. Dia benar-benar senang dengan kedekatan mereka dan rasanya ingin menghentikan waktu agar mereka salalu seperti itu.
Beberapa menit dalam posisi itu, Harry mulai merasa tidak nyaman. Apa Anna akan memeluknya sepanjang hari?
"Kau mau memeluk aku sampai kapan?" tanya Harry, dia juga berusaha mendorong tubuh Anna.
Anna melepaskan pelukannya, dia terlihat tersipu malu. Mata Harry tidak lepas darinya, entah kenapa dia sudah terbiasa dengan keberadaan si stalker aneh itu.
"Ma-Maaf," Anna menunduk, untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Mata Harry belum juga lepas, dagu Anna sudah terangkap. Anna jadi gugup, itu karena Harry menatapnya tanpa berkedip.
"A-Apa di wajahku ada sesuatu?" tanya Anna.
"Hm!" jawab Harry singkat seraya mendekatkan wajahnya. Mata Anna sudah terpejam, dia kembali memeluk Harry. Harry juga melakukan hal yang sama, kedua tangannya sudah mendekap Anna hingga tubuh mereka merapat.
Mereka kembali sibuk berciuman, jantung Anna berdegup kencang saat Harry memasukkan lidahnya ke dalam. Ciuman kali ini terasa berbeda karena ciuman mereka penuh nafsu.
Harry mencium Anna dengan liar, sepertinya dia sudah gila dan tentunya dia gila karena gadis aneh yang bernama Anna Cedric. Bukankah dia tidak tertarik dengannya? Sepertinya ada yang salah dengannya dan dia dapat merasakan hal itu.
Mereka berdua terengah, setelah menghentikan ciuman panas mereka. Dada Anna turun naik, wajahnya masih memerah karena dia tidak menyangka akan mendapat ciuman luar biasa dari Harry.
Harry tersenyum, tangannya mengusap wajah Anna dengan perlahan.
"Apa kau ingin duduk di atas pangkuanku sepanjang hari? Atau kau ingin kita lanjutkan dan melakukan hal menyenangkan yang lebih dari ciuman?" Harry berkata demikian untuk menggoda Anna saja.
"Ma-Maksudmu?"
"Hm," Harry meraih rambut Anna dan menciumnya.
"Aku tidak keberatan jika kau mau, kita bisa melakukannya di dalam ruangan pribadiku," ucapnya lagi.
Anna diam, pikirannya berkelana. Matanya jatuh pada dada Harry, dia mulai membayangkan bentuknya saat pakaian Harry terbuka. Tangannya terasa gatal ingin menyentuhnya, bentuk dadanya, bentuk otot perut dan? Hm, otak cabul berkelana dengan fantasi liarnya sampai tanpa Anna sadari, sesuatu mengalir dari hidung mancungnya.
"Anna!" Harry sedikit berteriak, Anna terkejut dan menyadari jika ada sesuatu yang mengalir dari hidung.
"Oh my God!" Anna menutup hidungnya dengan terburu-buru.
Harry menggeleng, wajah Anna memerah karena malu. Gadis itu segera beranjak dari atas pangkuan Harry dan melangkah menuju tasnya sambil menggerutu dalam hati.
"Oh, Anna. Dasar kau memalukan!" tangan masih memencet hidung agar darah tidak mengalir keluar.
"Dasar kau gadis mesum yang tidak pernah di sentuh, ini benar-benar memalukan. Oh my God!" Anna membuka tasnya dengan cepat untuk mengambil sesuatu dari sana. Matanya melirik ke arah Harry yang sedang beranjak untuk mengambil sesuatu.
Anna benar-benar malu, tidak seharusnya dia mimisan hanya karena membayangkan bentuk tubuh Harry.
Harry melangkah mendekati Anna. Entah apa yang gadis itu bayangkan hingga membuatnya mimisan. Anna tampak canggung saat Harry menghampirinya dan duduk di sampingnya.
"Apa darahnya sudah berhenti?"
Anna meliriknya sejenak dan mengangguk, sepertinya dia harus pergi bertapa di bawah air terjun untuk membersihkan otaknya yang cabul.
"Minun ini!" Harry memberikan minuman yang dia bawa pada Anna.
"Thanks," ucap Anna canggung. Semua gara-gara si otak cabul.
"Aku harus kembali bekerja," ucap Harry.
Anna mengangguk, sebelum Harry melangkah pergi, Harry menepuk kepala Anna beberapa kali. Pria itu melangkah pergi dengan perasaan aneh, sedangkan Anna melihat kepergiannya sambil memegangi kepalanya. Apa Harry sudah memiliki perasaan untuknya?
Harry mengusap tengkuk, sepertinya dia benar-benar sudah terjerat oleh Anna Cedric. Tapi biarlah, dia juga tidak punya pacar. Memulai hubungan baru setelah berpisah dengan Sherly bukan ide buruk tapi jika Anna seperti Sherly jangan harap dia mau.
Harry kembali bekerja, begitu juga dengan Anna. Gadis itu sibuk dengan sketsanya tapi ada sesuatu yang hampir dia lupakan. Anna mengambil ponselnya, dia ingin mengajak Marco bertemu nanti malam karena dia tidak terima Marco menghasut Harry. Dia tahu tujuan Marco, dia pasti ingin Harry membencinya. Sungguh licik sebab itu dia tidak terima.
"Marco, apa kau punya waktu nanti malam?" ini pesan yang dikirimkan oleh Anna untuk Marco.
Tentu Marco sangat senang mendapat pesan dari Anna. Dia pun menjawa pesan Anna dengan cepat.
"Tentu saja ada, Anna. Waktuku selalu ada untukmu!"
Anna tersenyum sinis membaca pesan dari Marco, dia tidak menyangka Marco begitu licik demi tujuannya. Jangan katakan dia akan berlaku licik nanti agar bisa terpilih menjadi gubernur.
"Bagus, ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu!" Anna kembali mengirim pesan.
"Aku senang mendengarnya, aku tunggu nanti malam," Marco benar-benar senang. Semoga Anna berubah pikiran dan mau menerima cintanya.
Setelah selesai berkirim pesan dengan Marco, Anna meletakkan ponselnya. Awas saja pria itu nanti malam, dia akan melemparkan sesuatu ke wajah Marco. Pria yang sangat dia kenal dulu kini berubah, dia benar-benar tidak mengenal Marco lagi.
Jika Harry tidak bertanya, maka dia tidak akan tahu. Mungkin Marco akan mengatakan hal lain lagi pada Harry agar pria itu membencinya sebab itu dia tidak akan membiarkan Marco berbicara sesuka hati mengenai dirinya dan akan memberinya peringatan.
Harry kembali beranjak, mendekati Anna. Sudah siang, sebaiknya dia mengajak Anna pergi makan siang.
"Anna, bagaimana jika kita pergi makan siang," ajak Harry.
"Boleh juga, kebetulan ada sesuatu yang ingin aku beli. Kau mau mengantar aku, bukan?"
"Tentu saja!"
Anna tersenyum, awas saja. Harry melangkah pergi, sedangkan Anna menyambar tasnya dan berlari untuk mengejar Harry. Sketsa gambar di tinggalkan begitu saja, setelah makam siang dia akan kembali bekerja.
Anna menggandeng tangan Harry seperti biasa, Harry juga tidak melarang seperti biasa. Anna terlihat senang, apalagi Harry bersedia mengantarnya membeli sesuatu yang akan dia gunakan untuk melempar wajah Marco nanti malam.