
Pesawat yang membawa mereka sudah merendah, siap mendarat di bandara pribadi keluarga Smith. Liburan singkat yang mereka lakukan terasa begitu berkesan. Walau singkat tapi menyenangkan apalagi setelah ini mereka berencana untuk menikah.
Mereka akan membahas hal ini dengan keluarga mereka secepatnya. Damian juga tidak mau Ainsley menganggapnya menunda jika terlalu lama apalagi mereka tidak memiliki alasan untuk menunda pernikahan mereka.
Mereka sedang duduk bersama saat itu, karena pesawat akan segera mendarat. Ainsley bersandar di lengan Damian dan terlihat senang. Dia tidak menyesal telah menyerahkan diri pada Damian karena dia tahu Damian pria yang bertanggung jawab. Lagi pula jika Damian berani mengkhianatinya maka akan dia gantung di atas kolam buaya selama dua bulan tanpa busana biarkan tubuhnya menciut.
"Dam-Dam, aku baru memikirkan hal ini," ucap Ainsley.
"Memikirkan apa?"
"Saat kita menikah nanti, apakah kau akan mengabari ayah kandungmu? Apa kau akan mengundang mereka?" tanya Ainsley.
Damian diam, belum menjawab. Dia tidak memikirkan hal ini sebelumnya dan sepertinya dia sudah harus memikirkannya.
"Apakah perlu mengundang mereka?" Damian balik bertanya.
"Hei, kenapa kau jadi bertanya padaku?" Ainsley mengangkat wajah untuk memandangi Damian.
"Entahlah, sesungguhnya aku malu jika keluargamu bertemu dengan mereka. Yah, kau tahu, bukan? Keluargamu kaya raya tapi bisa menerima siapa saja sedangkan mereka?" Damian menggeleng, dia bahkan enggan membayangkan bagaimana reaksi keluar ayahnya bertemu dengan keluarga Ainsley nanti.
"Kenapa? Keluargaku tidak akan mengusir mereka," ucap Ainsley.
"Bukan seperti itu, Sayang. Sejauh yang aku lihat mereka semua penggila harta. Mereka takut aku mengambil apa yang sudah menjadi milik mereka padahal aku tidak menginginkan apa pun dari mereka. Aku sungguh tidak mau keluargamu bertemu dengan mereka apalagi bagiku mereka keluarga bermasalah."
"Hei, kenapa kau berkata seperti itu terhadap keluarga ayahmu sendiri?"
"Entahlah, mungkin karena aku tidak suka dengan mereka," jawab Damian.
"Tapi mau bagaimanapun, mereka tetap keluargamu, Damian," Ucap Ainsley. Gadis itu kembali bersandar, sedangkan Damian merangkulnya dan memberikan usapan lembut.
"Aku tahu, akan aku pikirkan masalah ini nanti."
Ainsley tersenyum, sesungguhnya dia berharap hubungan Damian dan Harry membaik. Bagaimanapun mereka adalah saudara walaupun mereka beda ibu. Dia juga berharap, Harry berhenti mengejarnya setelah mendengar jika dia akan menikah.
"Setelah ini apa yang akan kita lakukan?" tanya Ainsley.
"Membicarakan pernikahan kita, bukan? Aku akan membicarakan hal itu pada ayah dan adikku tapi Ainsley," Damian meraih tangan Ainsley dan memberikan kecupan ringan di atas telapak tangannya.
"Setelah menikah, apa kau tidak keberatan tinggal bersama denganku di rumah Daddy? Kau tahu aku tidak bisa meninggalkannya sendirian karena Daddy sudah tua apalagi dia memiliki penyakit. Aku tidak bisa meninggalkannya sendirian jadi aku harap kau tidak keberatan."
Ainsley tersenyum, matanya sedang memandangi Damian saat itu. Tentu dia tidak akan keberatan, walau sesungguhnya mereka bisa membangun rumah mereka sendiri nantinya.
"Aku tidak keberatan, Dam-Dam," ucapnya seraya mengusap wajah Damian dengan lembut.
"Aku akan tinggal di mana pun kau berada tapi ingat, aku tidak mau mengikutimu jika kau tinggal di rumah ayahmu karena aku tidak mau satu atap dengan Harry!" ucapnya lagi.
"Bodoh, aku mana mungkin tinggal di sana!" Damian memeluk Ainsley, demi apa pun dia tidak akan meninggalkan ayahnya sendirian di rumah.
"Sekalipun mereka menawarkan semua harta milik mereka, aku tidak akan tinggal di sana dan meninggalkan ayahku sendirian. Dibandingkan apa pun, Daddy lebih berharga," ucapnya lagi.
Pesawat sudah berhenti saat itu, mereka bahkan tidak menyadari jika pesawat sudah mendarat. Sebuah mobil sudah menanti yang akan membawa mereka kembali.
"Hari ini istirahat di rumah, jangan pergi ke mana-mana. Besok aku akan menjemputmu untuk makan siang," ucap Damian.
"Tentu, aku lelah dan mau tidur begitu tiba karena kau tidak membiarkan aku tidur selama di perjalanan!"
Damian terkekeh, kesempatan tidak boleh dilewatkan. Lagi pula perjalanan panjang hanya dihabiskan dengan tidur saja membuatnya bosan.
Mereka keluar dari pesawat bersama-sama, barang bawaan tidak perlu mereka pikirkan karena ada yang akan membawa itu ke rumah. Damian menyapa keluarga Ainsley sebentar ketika mereka sudah tiba. Dia tidak lama karena dia sudah sangat ingin pulang dan melihat keadaan ayahnya.
Di rumah, Mayumi sudah tidak sabar menunggu Damian kembali. Dia sudah sangat ingin tahu hasil pencarian anak buah yang diutus Damian untuk mencari kekasihnya. Dia harap dia mendapat kabar baik karena dia sangat berharap kekasihnya masih hidup.
Mayumi bahkan menunggu di depan jendela, dia benar-benar sudah tidak sabar. Karena dia sangat ingin tahu, dia kembali dari kantor lebih cepat agar dia bisa segera bertemu dengan Damian. Mayumi terlihat senang saat sebuah mobil masuk ke dalam pekarangan, itu pasti Damian.
Dia keluar dari rumah, semoga Damian membawa kabar baik untuknya. Tidak sabar, itu terlihat dari tingkah lakunya bahkan ketika Damian turun dari mobil, Mayumi menghampirinya dengan cepat.
"Bagaimana Damian, apa kau sudah mendapat petunjuk?" tanya Mayumi.
"Kenapa kau terlihat tidak sabar, Mayumi?"
"Please Dam, aku sudah sangat ingin tahu," jawab Mayumi dengan nada memelas.
Damian menghela napas, dia harap Mayumi bersabar karena anak buahnya belum menemkukan keberadaan kekasihnya.
"Dengar, mereka sudah berusaha mencari tapi mereka tidak menemukan keberadaan kekasihmu."
"A-Apa?" Mayumi terlihat sedih, dia bahkan menunduk dan menangis. Jadi anak buah Damian tidak menemukan petunjuk sama sekali?
"Apa Akira dan katsuo sudah membunuhnya?" tanya Mayumi dengan lirih.
"Entahlah, apa pun bisa terjadi jika sudah berada di tangan mereka."
"Apa anak buahmu benar-benar tidak menemukan apa pun?" tanya Mayumi memastikan. Dia seperti itu karena merasa depresi. Perasaannya tidak menentu akhir-akhir ini apalagi setelah mendengar Damian akan segera menikah dengan Ainsley.
"Mereka sudah berusaha Mayumi. Bukankah sudah aku katakan mereka belum menemukan apa pun? Walau mereka belum menemukan keberadaan kekasihmu tapi mereka menemukan sebuah tempat ketika mereka mengikuti Akira dan Katsuo."
"Benarkah?" Mayumi menghapus air matanya dengan cepat, sepertinya ada harapan.
"Ya, tapi kita tidak tahu kekasihmu ada di sana atau tidak. Aku masih meminta mereka untuk memantau keadaan. Jika kekasihmu ada di sana maka aku akan pergi ke sana untuk menyelamatkannya."
"Thanks Damian, aku harap kau bisa menemukannya."
"Semoga," jawab Damian seraya melangkah masuk ke dalam melewati Mayumi.
Mayumi menghapus air matanya yang tersisa, semoga saja keberadaan kekasihnya segera diketahui agar Damian bisa membebaskannya tapi sayangnya tanpa sepengetahuan mereka, beberapa utusan Akira juga sudah tiba di California.
Mereka berada di sana untuk menjalankan perintah, mencari gadis yang ada di foto lalu menangkap gadis itu dan membawanya kepada bos mereka karena gadis itu akan menjadi pengganti Mayumi. Sebentar lagi, masalah akan menghampiri mereka ketika anak buah Akira sudah menemukan keberadaan gadis yang dia cari dan pada saat itu tiba, persahabatan di antara mereka akan diuji karena Mayumi harus membuat pilihan.