
Anna sedang bersiap-siap, hari pertempurannya akan segera dimulai. Waktu yang dia punya tersisa dua puluh sembilan hari lagi. Dia harus memanfaatkan waktu yang terus berjalan dengan baik. Kesan buruk yang telah dia tinggalkan pada Harry pasti semakin membuatnya kesulitan tapi jika tidak punya akal licik bukan Anna namanya.
Sekantong obat sudah berada di samping tas, cafe bukan menjadi tempat tujuannya lagi karena di sana tidak aman. Dia akan mencari Harry di kantornya dan hari ini dia akan mengikuti pria itu secara diam-diam agar dia tahu di mana pria itu tinggal.
Sebelum waktunya habis, dia yakin jika dia sudah bisa membuat Harry Windstond jatuhi hati padanya. Jangan meremehkan kekuatan cinta, maksudnya jangan meremehkan wanita yang sudah jatuh cinta dan sedang di ujung tanduk.
Seandainya kedua orangtuanya tidak mendesak, mungkin dia akan menggunakan cara baik-baik untuk mendekati pria itu, atau mungkin saja dia masih menjadi pengagum rahasianya saja. Tapi apa pun itu, akhirnya dia berani bertindak untuk mendapatkan sang pujaan hati.
Pintu kamar terbuka, sahabatnya masuk ke dalam. Dia ingin tahu apa yang akan Anna lakukan hari ini karena dia penasaran bagaimana Anna berjuang untuk mendapatkan cintanya.
"Apa kau mau pergi lagi?" sang sahabat duduk di samping tas Anna bahkan melihat obat yang ada di kantung plastik berwarna putih bening.
"Seperti biasa," jawab Anna dengan cuek.
"Kau benar-benar tidak menyerah, jika aku jadi kau, lebih baik aku pulang dan menikah dengan pria yang kedua orangtuamu pilihkan apalagi pria yang mereka pilih pasti bukan orang biasa!" ucap sahabatnya.
"Aku tidak perduli, walau pria itu pangeran Arab paling kaya dan tampan sekalipun aku tidak akan pernah mau menikah dengan pria yang tidak aku cintai!" jawab Anna.
"Hei, bagaimana jika ternyata benar-benar seorang pangeran yang akan dijodohkan padamu?"
"Ck, pangeran mana yang mau di jodohkan? Jangan membual!"
Sahabatnya terkekeh, matanya melihat obat dengan serius. Dia tampak tidak percaya setelah melihat obat-obat yang ada di dalam plastik, untuk apa Anna membeli obat-obat itu?
"Anna, apa yang kau lakukan sampai kau membeli obat-obat ini?" sahabatnya tampak ingin tahu.
"Jangan sentuh itu!" Anna mendekati sahabatnya dan menyambar obat yang sudah dia siapkan. Dia mendapatkan obat itu dengan susah payah tentunya sang dokter sampai geleng kepala saat dia meminta resep obat itu, yeah, itu bukan obat biasa dan dia membelinya sebagai rasa tanggung jawab atas apa yang telah dia lakukan pada Harry.
Anna sudah selesai, harinya akan segera dimulai. Dia berpamitan pergi menuju kantor Harry. Semoga dia tidak terlambat, dia bahkan sudah mengingat jam berapa pria itu datang ke kantor.
Perasaan Harry sedikit buruk, entah kenapa dia merasa jika gadis yang mengganggunya tidak akan berhenti. Sebagai mantan stalker, tentu dia tahu bagaimana rasanya ingin dekat dengan orang yang disukai. Semoga saja gadis itu tidak mengganggu harinya.
Harry sudah di perjalanan saat itu, dia tampak sibuk mencari cafe yang nyaman untuk menghabiskan waktu karena dia tidak mau pergi ke cafe yang biasa dia kunjungi. Gadis itu pasti akan ada di sana lagi, dia yakin seratus persen.
Awas saja jika gadis itu masih pura-pura buta dan menabraknya lagi, kali ini tidak akan dia biarkan. Mobilnya berhenti karena dia sudah tiba di kantor, sebelum turun Harry melihat sekeliling, mencari keberadaan Anna. Setelah tidak mendapati keberadaan gadis itu, Harry segera bergegas tapi sayangnya si stalker sedang bersembunyi dan ketika melihatnya, Anna keluar dari persembunyiannya.
Harry berjalan memasuki kantor. Oke, harinya aman. Dia kira demikian tapi suara Anna yang memanggilnya dari belakang menghentikan langkah Harry. Sial, dia punya firasat buruk apalagi dia merasa gadis itu sedang mendekatinya.
"Harry, tunggu sebentar!" pinta Anna.
Harry memutar langkah, matanya melotot dan wajahnya terlihat tidak senang saat melihat gadis yang menghampirinya sambil tersenyum dengan manis.
"Mau apa kau datang ke sini?" tanya Harry dengan dingin.
"Mencarimu, apa lagi?" Anna santai saja dan cuek.
"Pergi, kita tidak saling mengenal jadi jangan sok akrab denganku!"
"Ayolah, tidak perlu marah-marah. Aku datang ke sini karena aku ingin minta maaf dan bertanggung jawab atas perbuatan yang telah aku lakukan padamu semalam!"
"Kau yakin?" Anna semakin mendekatinya, tangannya bahkan sudah membuka tas karena dia ingin mengambil obat yang sudah dia siapkan.
"Pergilah, aku tidak mau berbuat kasar pada wanita jadi jangan datang lagi mengganggu aku dan jangan perlihatkan wajahmu lagi di depan mataku. Aku sudah katakan tidak tertarik pada gadis aneh sepertimu apalagi kita tidak saling mengenal jadi pergilah!"
"Jika begitu bagaimana jika kita saling mengenal?" ucap Anna tanpa mempedulikan ucapan Harry.
"Hei, apa kau tidak mendengar apa yang aku ucapkan?" Harry mulai kesal.
Anna mendekatinya sambil tersenyum, gadis itu juga mengulurkan tangan ke arahnya.
"Anna, Anna Cedric," Anna mengucapkan namanya.
Harry diam, tidak menyambut uluran tangan Anna. Anna Cedric, sedikit tidak asing bahkan beberapa karyawan yang mendengar nama Anna tampak berbisik, sepertinya dia bukan putri orang biasa.
"Aku tidak peduli siapa kau, pergi!" Harry memutar langkah tapi sebelum pergi dia kembali berkata, "Jangan datang lagi dan menggangguku karena aku tidak suka!" setelah berkata demikian Harry melangkah pergi.
Anna tersenyum, tas kembali dibuka dan obat yang dia bawa dikeluarkan.
"Harry, aku benar-benar minta maaf atas perbuatan yang aku lakukan padamu dan sebagai tanda permintaan maafku, aku membawakan obat yang harus kau gunakan agar kau tidak mengalami impoten!" ucap Anna sedikit berteriak.
Sontak saja perkataan Anna membuat Harry terkejut dan langkahnya terhenti. Kedua tangan Harry sudah mengepal, para karyawan yang mendengar menahan tawa mereka sedangkan Anna santai saja.
"Ini obat untukmu," ucap Anna.
Harry menghampiri gadis itu dengan terburu-buru, dia rasa gadis itu akan berbicara semakin jauh dan memalukan.
"Aku mendapatkan obat ini dengan susah payah. Ini cream oles yang bisa kau gunakan, ada juga minyak agar kau bisa memijit, hm...," Anna tampak ragu melanjutkan ucapannya.
Langkah Harry semakin cepat, dia bahkan mulai belari. Benar-Benar gadis gila.
"Aku tidak mau kau imp?" ucapan Anna terhenti karena Harry membungkam mulutnya menggunakan telapak tangannya dengan terburu-buru.
"Sialan, apa kau sudah gila?" maki Harry kesal tapi pelan. Matanya melihat para karyawan yang mencuri pandang ke arah mereka dan para karyawannya tampak berusaha menahan tawa mereka.
"Jika kau mengusir maka aku akan berkata yang lebih memalukan lagi," ucap Anna dengan pelan pula.
"Jangan coba-coba!"
"Mau coba?" tantang Anna.
Harry mengumpat dalam hati, benar-benar gadis gila yang baru pertama kali dia temui.
"Ck, ikut aku!" ucapnya seraya menarik Anna pergi dan membawanya ke arah lift pribadinya. Sepertinya dia harus berbicara dengan Anna agar gadis itu tidak mengganggu harinya.
Anna terlihat senang, satu langkah maju ke depan berkat obat yang dia bawa. Jangan meremehkan dirinya karena dia tidak kehabisan akal.