Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Awas Jika Kau Berani!



Sketsa gambar berantakan di atas meja, Anna tertidur karena dia lelah melarikan diri dari kejaran kedua pengawal ayahnya. Beruntungnya Harry tidak mengusir, lagi pula pria itu sedang pergi rapat. Dia membiarkan Anna di dalam ruangannya, dia sudah mencoba mengusir tapi Anna tidak mau pergi.


Nekad seorang stalker tidak boleh diremehkan, dia tahu itu karena dia mantan penguntit yang selalu mengikuti Ainsley dulu. Sebab itu dia tidak mau banyak berdebat, dia tahu semakin dilarang, Anna tidak akan berhenti.


Memberikan gadis itu kesempatan adalah pilihan terbaik, lagi pula dia tidak memiliki pacar sehingga tidak akan ada yang sakit hati saat melihat Anna berusaha mendekatinya. Biarkan Anna berusaha dan ketika dia sudah lelah, dia pasti akan menyerah mengejarnya.


Harry sudah selesai dengan rapatnya, pria itu melangkah menuju ruangannya dengan terburu-buru. Dia harap Anna sudah pergi saat dia meninggalkannya. Pintu ruangan terbuka, suasana  tampak hening. Harry terlihat lega, sepertinya Anna memang sudah pergi dan akhirnya hari tenangnya kembali.


Dasi dilonggarkan, Harry melangkah menuju meja. Selera makannya jadi hilang gara-gara Anna, dia bahkan tidak merasa lapar sedikitpun. Harry hendak kembali bekerja, tapi suara Anna menghentikan niatnya.


"Dad, aku tidak mau menikah!"


Harry beranjak, melangkah menuju sofa.


"Aku akan membawanya pulang jadi jangan paksa aku!" gumam Anna lagi.


Harry menggeleng, dia sangka gadis itu sudah pergi tapi ternyata dia tampak tertidur dengan nyaman. Mata Harry jatuh pada sketsa gambar yang Anna buat. Harry menghampiri sketsa yang berantakan dan mengambilnya. Ternyata gadis itu memang memiliki bakat. Dia jadi ingin tahu di mana gadis itu bekerja.


Selembar demi selembar sketsa yang berantakan diambil, Harry melihat setiap gambar itu dan memuji dalam hati. Dia bahkan duduk di samping Anna tanpa sadar, selama ini yang dia kenal hanya putri pengusaha saja. Sepertinya gadis yang ada di sampingnya itu sedikit berbeda.


Harry masih melihat sketsa yang dibuat Anna dengan serius, tapi tiba-tiba saja dia terkejut karena Anna memeluknya.


"Tertangkap kau!" ucap Anna.


"Hei, apa yang kau lakukan?" tanya Harry kesal sambil menyingkirkan Anna tapi ternyata gadis itu masih tidur.


Sial, dia merasa sedang dipermainkan oleh gadis itu. Harry berusaha mendorong tubuh Anna tapi gadis itu memeluknya dengan erat. Apa Anna tidur? Ya jelas tidak. Dia sudah terbangun ketika Harry mendekatinya tapi dia masih pura-pura tidur. Jika tidak memanfaatkan situasi itu maka dia bodoh.


"Hei, lepaskan aku!" Harry masih berusaha mendorong. Jangan sampai ada yang melihat mereka seperti itu.


"Ngh, Harry. Aku hanya membutuhkan sebuah ciuman darimu!" Anna mengangkat wajahnya, bibirnya sudah maju ke depan siap mendapatkan sebuah ciuman.


"Dasar gadis gila! Segera bangun dan jangan bercanda!" Harry semakin kesal tapi Anna semakin mendekatkan wajahnya.


Harry berusaha menghindar bahkan tangannya sedang mendorong wajah Anna saat ini. Gadis itu tidak menyerah, tangan Harry yang berada di wajah di singkirkan, kini dia semakin memajukan bibirnya.


"Hei, apa kau gila!" teriak Harry karena tubuhnya terdorong oleh Anna. Teriakan mereka terdengar karena saat itu mereka berdua jatuh di bawah sofa. Harry benar-benar kesal, tapi Anna terlihat senang apalagi saat itu dia berada di atas tubuh Harry.


"So-Sorry, aku hanya bercanda!" ucap Anna dengan senyum menghiasi wajah.


"Minggir!" pinta Harry kesal.


"Tidak bisa, kakiku kram," dusta Anna. Kesempatan tidak boleh dilewatkan begitu cepat.


"Minggir, jangan sampai ada yang melihat dan salah paham!"


"Aku akan menyingkir jika kau menciumku."


"Sebaiknya tidak menguji kesabaranku!" Harry hendak menyingkirkan tubuh Anna tapi sayangnya pada saat itu, terdengar suara pintu terbuka dan terdengar pula suara langkah kaki masuk ke dalam ruangan.


"Harry?"


"Wow, apa itu ibumu?"


Harry terkejut karena saat itu Anna sedang mengintip untuk melihat siapa yang datang.


"Sttss, apa kau tidak bisa diam?"


Anna tersenyum, dia tampak santai berada di atas tubuh Harry. Kedua tangannya bahkan sedang bertumpu di dada pria itu. sepertinya Harry tidak mau ibunya tahu keberadaannya dan ini menjadi kesempatan emas untuk menggoda pria itu.


"Harry?" ibunya kembali memanggil.


"Apa aku boleh mengenal ibumu?" tanya Anna.


"Tidak, awas jika kau berani!" ancam Harry.


"Wah, aku semakin ingin mengenalnya!"


"Apa?" Harry kembali terkejut saat Anna hendak beranjak dari atas tubuhnya. Secara Refleks Harry meraih pinggang gadis itu, dan menekan tengkuknya.


Anna melotot, karena saat itu Harry sedang mencium bibirnya. Itu dia lakukan agar Anna tidak memanggil ibunya, dia bahkan memeluk Anna dengan erat agar gadis itu tidak keluar sehingga ibunya melihat.


Renata tampak heran mendapati ruangan putranya yang sepi. Ponsel diambil, Renata menghubungi putranya tapi sayangnya saat itu ponsel Harry sedang dalam mood silent. Dia masih menunggu tanpa tahu jika putranya sibuk berciuman di bawah sofa karena mereka sudah terbawa suasana.


Ibunya tidak juga pergi karena Harry belum menjawab panggilannya, hal itu membuat ciuman mereka semakin lama dan dalam. Anna mulai kewalahan, sial. Dia tidak tahu jika pria itu begitu buas. Bibirnya bahkan sudah terasa kebas, Anna juga berusaha mendorong tubuh Harry agar ciuman mereka berakhir.


Karena tidak ada jawaban, Renata keluar dari ruangan, mungkin Harry masih rapat. Anna mulai memukul dada Harry saat pintu terdengar tertutup, bibir mereka terlepas dan mereka terlihat terengah.


Anna menyingkir dari atas tubuh Harry dengan terburu-buru, dia bahkan duduk menjauh. Dia hanya bercanda saja tapi dia tidak menyangka Harry menciumnya dengan sungguh-sungguh. Anna pura-pura merapikan kertas sketsanya, dia tidak berani memandangi Harry karena dia malu. Wajahnya bahkan memerah saat itu.


"Ke-Kenapa kau menciumku?" tanya Anna gugup padahal dia senang.


"Bukankah kau yang meminta aku untuk menciummu?" ucap Harry, matanya tidak lepas dari punggung Anna karena wanita itu sedang duduk membelakanginya.


"Hm, ya," Anna berpaling sambil tersenyum.


"Jadi bagaimana? Ciumanku tidak buruk, bukan? Aku harap kau terus mengingatnya sehingga kau selalu terbayang akan diriku dan mulai jatuh cinta padaku," ucapnya lagi.


"Jangan bermimpi, itu hanya sebuah ciuman!" Harry beranjak, dan berlalu pergi. Dia keluar dari ruangan untuk menghubungi ibunya.


Anna tersenyum sambil memegangi dadanya di mana jantungnya berdebar dengan cepat. Sesungguhnya itu ciuman pertamanya. Senyumnya semakin mekar ketika mengingat ciuman yang baru saja mereka lakukan. Kini jarinya sudah berada di bibir, dia tidak akan melupakannya, tidak akan.


Anna kembali merapikan barang-barangnya dan setelah selesai dia segera pergi. Jangan sampai ibu Harry melihatnya, dia tahu Harry tidak akan suka. Dia tidak ingin membuat pria itu marah karena dia akan kesulitan mendekati pria itu jika sampai terjadi.


Walau dia dikejar oleh pengawal ayahnya tapi ini hari keberuntungannya karena satu langkah sudah lebih maju karena dia sudah mendapat sebuah ciuman dari Harry. Tapi tunggu dulu, dia lupa meraba tubuh pria itu. Ck, lain kali dia tidak boleh lupa karena tangannya tidak boleh diam.