Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Kabar Gembira



Jager terlihat kesal, itu karena dia ditinggal tidur oleh putranya. Dia menunggu Damian memberinya kabar sampai dia tertidur di sofa hingga pagi. Awas saja saat putranya keluar dari kamar, akan dia pukul nanti.


Damian masih belum keluar dari kamar karena dia sedang menemani Ainsley di kamar mandi. Ini gawat, dia lupa dengan ayahnya dan tertidur. Ayahnya pasti marah, padahal dia ingin memeluk Ainsley saja agar istrinya merasa hangat tapi dia tidak menyangka jika dia akan terlelap dan melupakan sang ayah.


Semoga ayahnya tidak marah, dan semoga dugaan ayahnya benar. Dia juga mengharapkan hal yang sama, dia bahkan sudah tidak sabar mengetahui hasilnya karena saat itu Ainsley sedang menggunakan test pack yang suaminya berikan.


Ainsley terkejut saat Damian memberikan alat itu, walau dia tidak yakin tapi tidak ada salahnya mencoba. Test pack sudah dikeluarkan, Ainsley mulai menggunakannya dengan jantung berdebar. Damian juga terlihat tidak sabar, semoga saja apa yang dikatakan oleh ayahnya adalah benar.


"Dam-Dam," Ainsley memanggil, Damian masuk ke dalam kamar mandi dengan cepat.


"Bagaimana?" tanya Damian tidak sabar.


"Lihat, sepertinya dugaan Daddy benar," Ainsley memberikan test pack pada sang suami.


"Benarkah?" Damian sudah terlihat senang, rasanya ingin segera meraih tubuhnya istrinya tapi dia ingin melihat test pack itu terlebih dahulu.


Dua garis merah dia dapatkan, itu bertanda jika istrinya positif hamil. Damian memandangi test pack itu lalu dia memandangi istrinya.


"Jadi kita?"


"Yes," Ainsley mengangguk sambil tersenyum.


"Oh my God, aku benar-benar senang!" tanpa membuang waktu, Ainsley sudah berada di dalam gendongannya. Damian bahkan memutar Ainsley beberapa kali, itu dia lakukan karena kebahagiaan yang meluap di hati.


"Stop, Dam-Dam. Kau membuat aku semakin mual!" pinta Ainsley, rasanya ingin muntah.


"Ups, sorry. Aku terlalu senang," Damian menurunkan istrinya, sedangkan Ainsley kembali muntah karena ini sudah kesekian kali begitu dia bangun tidur.


"Oh, keadaanku semakin buruk," ucap Ainsley. Dia benar-benar lelah tidak bertenaga.


"Beristirahatlah kembali, aku akan memanggil dokter dan memastikan keadaanmu lebih jauh."


"Sepertinya aku akan merepotkanmu," ucap Ainsley yang sudah berada di dalam gendongan sauminya saat itu.


"kenapa kau berkata seperti itu? Kau tanggung jawabku, keadaanmu seperti ini juga karena kau sedang hamil jadi aku akan menjagamu dengan baik."


Ainsley tersenyum, ini benar-benar kejutan. Dia tidak menyangka jika dia sedang hamil. Keadaannya memang masih kurang baik, itu karena dia duduk begitu lama di lantai kamar mandi yang dingin sehingga dia demam.


Damian membaringkan istrinya dengan perlahan, selimut ditarik untuk menutupi tubuhnya. Pendingin ruangan bahkan dimatikan, jendela sedikit dibuka agar udara bisa masuk ke dalam kamar. Pusing, mual, tubuh menggigil, itu yang sedang Ainsley rasakan. Dengan keadaannya yang seperti itu, dia tidak bisa mengkonsumsi obat sembarangan.


"Apa kau mau makan sesuatu?" tanya Damian.


"Aku tidak ingin makan, tapi bisakah membuatkan aku teh hangat?"


"Tentu saja," Damian mencium dahi istrinya. Walau dia sangat senang tapi dia juga mengkhawatirkan keadaan istrinya.


Damian keluar dari kamar, dia kembali melupakan sang ayah karena senang dan khawatir yang dia rasakan. Jager benar-benar sudah kesal setengah mati, dia sudah tidak sabar ingin tahu apakah menantunya sedang hamil atau tidak.


Pintu kamar dibuka, Damian terkejut saat sang ayah menjepit lehernya dan menekan kepalanya dengan kepalan tinju.


"Bagus, aku menunggu sampai pagi tapi kau tidur dengan nyenyak di dalam sana!" ucap Jager kesal.


"Sorry, Dad. Aku lupa!" Damian berusaha menahan tangan ayahnya.


"Lupa kau bilang? Sini kepalamu, akan aku pukul sampai benjol!"


"Ampun, Dad!" Pinta Damian karena ayahnya sudah menariknya menjauh dari kamar.


"Tidak, kali ini aku harus memberimu pelajaran!" Jager benar-benar ingin memberi pelajaran pada putranya tapi sebuah benda berwarna putih Damian keluarkan.


"Ini untuk Daddy," ucap Damian seraya menunjukkan test pack pada ayahnya karena dia tahu, ayahnya tidak akan marah lagi setelah melihat hasil test pack itu.


"Aku akan segera jadi ayah, Dad," ucap Damian dengan ekspresi senang.


"Yes, aku akan punya cucu lagi!" Jager begitu senang dan memeluk putranya, dia bahkan berusaha mengangkat tubuh Damian dengan kekuatan yang dia punya tapi ya, mana mungkin dia bisa.


"Dad, pinggangmu!"


"Oh, sial. Aku lupa!" Damian diturunkan, kini Jager mengeluh sakit pinggang.


"Aku harus menghubungi adikmu, aku harus menghubungi yang lain untuk memberitahu kabar gembira ini," Jager melangkah pergi sambil memegangi pinggangnya yang nyeri, dia juga terlihat sedikit membungkuk.


Damian menggeleng, tapi dia selamat dari hukuman ayahnya.  Lebih baik dia membuat teh hangat yang Ainlsey inginkan dan setelah itu dia harus memanggil dokter.


Selama Damian membuat teh, Jager terdengar heboh. Dia menghubungi semua orang untuk mengatakan kabar gembira itu. Inilah yang dia tunggu selama ini, dia tidak menyangka putranya yang tidak peka lumayan cepat menghasilkan bibit unggul.


Damian kembali menggeleng, mendengar kehebohan ayahnya. Sepertinya dia tidak perlu menghubungi siapa pun lagi karena ayahnya sudah melakukannya. Damian kembali kedalam kamar, di mana Ainsley sedang berusaha mengambil ponsel karena dia ingin menghubungi ibunya.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa tidak berbaring?" Damian menghampiri istrinya dengan terburu-buru.


"Aku ingin menghubungi Mommy."


"Tidak perlu, Daddy pasti sudah menghubungi keluargamu."


"Benarkah?"


"Apa kau tidak mendengar suara heboh di luar? Dia bahkan lebih heboh dari pada aku."


Ainsley tertawa, pantas saja di luar sana terdengar berisik. Dia mengurungkan niatnya, sedangkan Damian duduk di sisinya.


"Minum tehnya selagi hangat, aku akan memanggil dokter."


"Thanks," teh sudah berpindah tangan, setelah meminumnya, Ainsley kembali berbaring.


Damian membantu istrinya, dia bahkan menemani Ainsley untuk tidur. Padahal hari ini dia ada janji untuk bertemu dengan Harry saat makan siang, sepertinya harus dia batalkan dan dia harap Harry tidak keberatan.


Setelah Ainsley tertidur, Damian beranjak untuk memanggil dokter. Tidak butuh lama, di luar sudah terdengar ramai karena Kate dan Alice sudah datang begitu juga dengan Jacob dan Albert. Ini kabar gembira yang tidak terduga, mereka segera bergegas setelah mengetahui kabar ini dari Jager Maxton.


Kate dan Alice masuk ke dalam kamar untuk melihat keadaan Ainsley, sedangkan Jacob bersama dengan Jager saat itu. Seperti biasa, kedua pria tua itu mulai taruhan.


"Aku bertaruh cucuku laki-laki," ucap Jager.


"Aku juga bertaruh demikian" ucap Jacob tidak mau kalah.


"Hei, aku duluan!" Jager juga tidak mau kalah.


"Ck, bisakah kalian tidak memulai?" ucap Albert yang ada bersama dengan mereka.


"Ayolah, kau perempuan, aku laki-laki!" ucap Jacob tanpa mempedulikan putranya.


"Tidak, aku yang laki-laki!" Jager tetap dengan pendiriannya.


Albert memijit pelipis, apalagi mereka tidak juga berhenti berdebat. Sebaiknya dia jadi penengah, jika tidak kedua orangtua itu tidak akan berhenti.


"Stop! Aku ikut bertaruh. Aku yang menebak laki-laki dan kalian yang perempuan!" ucapnya.


"Hei, kau dilarang ikut!" protes ayahnya.


"Kau tidak boleh membantah, Dad. Ingat, jika aku menang kalian harus melakukan apa pun yang aku minta!" ucap Albert, sebaiknya dia pergi jika tidak kedua orangtua itu tidak akan selesai. Jacob dan Jager menggerutu karena kesenangan mereka di rusak tapi Albert cuek saja, apalagi kedau pria tua itu sudah tidak berisik.


Dokter yang dipanggil Damian sudah datang, dia segera memeriksa keadaan Ainsley dan tentunya, itu menjadi kabar gembira bagi mereka karena Ainsley benar-benar sedang hamil.