
Sepuluh menit telah berlalu, Marco mulai kesal karena dia merasa Anna sengaja mengulur waktu. Dia sudah tidak bisa menunggu lagi, setelah mereka menikah dia akan membawa Anna keluar negeri dan mempertemukan Anna kepada kedua orangtuanya.
Seharusnya pernikahan mereka sudah terjadi dan mereka sudah menjadi suami istri tapi alasan diare yang Anna berikan membuat semuanya berjalan lambat. Marco sudah tidak bisa bersabar lagi, dia masuk ke dalam kamar Anna dia mana Anna terlihat sedang gelisah dan kecurigaannya jika Anna sedang mengulur waktu semakin kuat.
"Bagaimana diaremu?" tanya Marco pura-pura.
"Perutku masih mulas," jawab Anna seraya mengusap perutnya.
"Jika begitu ayo ikut aku, setelah selesai mengucap janji aku akan membawamu ke rumah sakit!"
"Tidak, Marco! Aku tidak mau ke rumah sakit!" tolak Anna.
"Jangan banyak alasan, Anna. Kau sengaja mengulur waktu, bukan? Jangan membuang waktuku lebih dari pada ini dan jangan menguji kesabaranku jika tidak aku tidak akan segan mengutus seseorang menembak kepala ibu Harry!"
Anna ketakutan mendengarnya, tidak bisa terus berpura-pura karena dia tahu Marco tidak bercanda dengan ucapannya. Dia tidak bisa mengulur waktu lebih dari pada ini lagi. Semoga saja Harry segera datang, awas saja jika Harry tidak bergegas dan terlambat. Dia akan mengganggu pria itu sampai dia tidak bisa menikah dengan siapa pun.
"Baiklah, kita bisa mulai tapi kau harus berjanji padaku jika kau tidak boleh mengganggu mereka!" pinta Anna.
"Sudah aku katakan, semua itu tergantung sikapmu!"
Setelah berkata demikian, Marco melangkah mendekati Anna. Seharusnya dia melakukan hal ini sedari tadi apalagi dia sudah tahu kelemahan Anna. Tangan Anna diraih, Anna diam saja. Setelah dia pergi dari sini, dia akan mencuci tangannya dengan sebotol sabun.
"Ayo keluar, aku sudah tidak sabar menjadikanmu sebagai milikku!" ucapnya.
"Tapi aku tidak, baj*ngan!" ingin rasanya berteriak demikian tapi Anna berusaha tersenyum.
Marco membawa Anna keluar, acara pernikahan akan segera dimulai. Dia tidak menyadari jika di luar sana kediamannya sedang diintai oleh sekelompok orang.
Damian dan anak buahnya sudah tiba, mereka tancap gas setelah Harry mendapat telepon dari Anna. Mereka sedang melihat situasi menggunakan teropong. Pengawal Marco berjaga begitu ketat di luar sana, mereka bahkan berada di segala sisi. Setelah melihat keadaan, Damian memecah anak buahnya menjadi tiga kelompok.
Satu kelompok menyerang dari sisi kanan, satu kelompok dari sisi kiri dan dia akan menyergap dari arah depan bersama dengan anak buah yang lain dan Harry. Karena sang kakak amatiran yang tidak pernah terlihat dengan hal seperti itu, dia meminta Harry untuk bersama dengannya. Jangan sampai dia bisa menyelamatkan Anna tapi justru kehilangan Harry.
"Kau sudah bisa menggunakan benda ini, bukan?" tanya Damian seraya memberikan dua pistol pada Harry.
"Kurang lebih," ucap Harry.
"Bidik yang benar dan tembak tanpa ragu! Ini pelurunya, aku akan mengajarimu cara mengisinya!" Damian mengajari Harry cara mengisi peluru. Harry memperhatikannya dengan serius, tidak begitu sulit. Dia rasa dia bisa menggunakan benda itu.
"Berhati-hatilah, Harry. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi jadi jangan berjauhan dariku karena aku tidak mau kehilangan dirimu!"
"Aku tahu apa yang harus aku lakukan, Damian!" Harry menyimpan peluru pistolnya dan setelah itu dua senjata api sudah berada di tangan.
"Yes, Sir!" jawab para anak buahnya.
"Jika begitu, Go!"
Mereka bergerak setelah mendapat aba-aba, mereka berpencar seperti yang sudah direncanakan. Satu kelompok ke sayap kiri, satu kelompok ke sayap kanan. Harry berjalan di samping adiknya, jantungnya berdegup kencang tapi dia akan menganggap jika dia sedang bermain game menghadapi situasi menegangkan itu.
Kelompok yang ada di sayap kiri dan sayap kanan mengendap perlahan karena mereka akan menyerang secara diam-diam tapi kelompok yang ada bersama Damian akan langsung menerobos masuk dan menghabisi musuh yang berjaga di depan rumah Marco. Di dalam sana seorang pendeta sedang membacakan janji suci pernikahan, Anna benar-benar sudah tidak bisa menghindar apalagi Marco sedang mengucapkan sumpahnya. Sepertinya dia benar-benar akan menikah dengan Marco, awas saja Harry nanti dia benar-benar akan mengganggu Harry sampai Harry tidak bisa menikah.
Setelah Marco selesai mengucapkan janjinya, kini giliran Anna. Anna enggan mengucapkan janji suci itu bahkan dia sengaja berbicara bagaikan orang gagu. Marco sangat kesal, dia sudah tidak sabar dan ingin memaksa Anna tapi pada saat itu, terdengar suara dentuman keras dari luar. Mereka saling pandang, apa yang terjadi di luar sana?
Saat itu Damian memerintahkan anak buahnya mendobrak pagar dengan sebuah mobil dan setelah pintu pagar terbuka, Damian dan Harry beserta anak buahnya masuk ke dalam. Para pengawal yang berjaga terkejut, mereka mengambil senjata api mereka tapi Damian dan Harry melangkah masuk dengan dua senjata api di tangan dan menembak mereka.
Kedua orangtua Anna panik bukan kepalang, begitu juga dengan Anna. Jangan katakan itu Harry karena dia tidak akan percaya. Marco mengumpat marah, upacara pernikahannya hancur karena di serang secara tiba-tiba. Siapa pun itu dia tidak akan memaafkan.
Baku tembak tidak terhindarkan di luar sana, para pengawal Marco kelabakan karena mereka mendapat serangan mendadak dari segala sisi. Mereka mencari tempat bersembunyi agar tidak tertembak. Mereka juga menyerang dari persembunyian mereka.
Damian terus melangkah maju bersama dengan anak buahnya, mereka tidak takut sedikit pun tapi mereka tetap waspada. Harry tampak melihat sana sini, sial. Ternyata dia tidak bisa menganggap jika dia sedang bermain game karena situasi yang dia hadapi begitu nyata.
Marco mengambil sebuah senjata api laras panjang dari dalam lemari, dia akan menghabisi para pengganggu yang ada di luar. Dia mengajak para pengawal yang ada di dalam untuk ke luar tentunya mereka membawa senjata api. Marco meminta kedua orangtua Anna bersembunyi bersama dengan Anna, semua itu benar-benar di luar rencana.
Marco mengintip dari jendela, kemarahan memenuhi hati saat melihat Harry berada di luar sana. Pria itu benar-benar harus dia lenyapkan tapi kenapa Harry bisa ada di sana dan siapa yang sedang membantu Harry saat ini? Siapa pun itu akan dia lenyapkan dan kecurigaannya jatuh pada Anna, pasti dia yang telah memanggil Harry datang. Akan dia buat perhitungan nanti pada Anna karena sekarang, dia akan membunuh Harry terlebih dahulu dan melemparkan mayatnya di hadapan Anna agar Anna tahu jika dia tidak boleh bermain-main dengannya.
"Kau," Marco memanggil seorang anak buahnya.
"Aku ingin kau bersembunyi dan membunuh pria itu, lubangi kepalanya dan jika kau berhasil aku akan memberimu hadiah!" ucap Marco.
Sang anak buah mengangguk, dia mencari posisi untuk menghabisi Harry dengan senapan laras panjangnya. Marco sudah bersiap, dia akan keluar bersama yang lain untuk melumpuhkan Harry bersama orang-orang yang bersama dengannya.
Harry dan Damian masih sibuk menembaki musuh dan tanpa mereka sadari, mereka mendapat serangan mendadak dari Marco dan anak buahnya. Sebuah peluru melesat dengan cepat melewati wajah Harry, menebus kepala anak buah Damian yang ada di belakang.
Mereka berdua terkejut dan lagi-lagi sebuah peluru di tembakan oleh Marco ke arah Harry karena targetnya memang pria itu.
"Awas!" Damian berteriak dan mendorong tubuh Harry.
Harry terjatuh, sedangkan Marco tampak kesal karena peluru yang dia tembakan meleset dari target. Marco mengokang senjata api laras panjang dan kembali menembaki siapa saja yang dia lihat begitu juga anak buah yang bersama dengannya. Demi menghindari tembakan yang Marco berikan Damian meminta Harry untuk bersembunyi. Jangan sampai mereka mati sia-sia akibat tembakan amarah yang diberikan oleh Marco.
Marco terus melangkah maju, dia sangat ingin membunuh Harry. Tidak akan dia biarkan pria itu hidup. Damian mengintip dari persembunyian, Marco hanya menargetkan Harry saja. Itu terlihat dari arah tembakannya. Dua pistol di simpan, senjata api yang ada di belakang di ambil.
Harry mendapat serangan bertubi-tubi dari Marco tapi dia berusaha untuk tenang di tempat persembunyiaannya karena dia tahu Damian pasti memiliki rencana. Damian memberikan aba-aba pada para anak buah yang tidak jauh darinya, dia juga memberikan aba-aba pada Harry dengan isyarat jari karena sebentar lagi dia dan anak buahnya akan keluar untuk menyerang Marco tapi sayangnya tanpa mereka tahu, anak buah yang ditugaskan oleh Marco untuk menembak Harry sudah berada di posisi dan dia sedang berusaha membidik kepala Harry menggunakan senjata api laras panjangnya.