
Karena hari sudah malam, Harry memutuskan membawa Anna pulang ke rumah pribadinya. Dia tidak jadi membawa Anna pulang ke rumah keluarganya karena mereka pasti sudah tidur. Dia juga tidak mau mengganggu keluarganya dan memutuskan untuk mengajak Anna pulang esok hari untuk membahas pernikahan mendadak mereka. Lagi pula dia tidak mau keluarganya shock melihat keadaan Anna yang masih berlumuran darah anak buah Marco yang mati di sampingnya.
Anna terlihat sangat gugup karena saat itu dia berada di kamar Harry. Gaun pernikahan yang dia kenakan kotor, sebagian di penuhi darah begitu juga wajahnya. Mereka benar-benar gila, mereka menikah dalam keadaan seperti itu. Sepertinya pernikahan para psikopat gunung pun kalah dengan pernikahan yang telah mereka jalani malam ini. Tapi walau begitu, dia tidak menyesal sama sekali.
Harry sedang mengambil handuk bersih saat itu, Anna berada di kamar mandi mencuci darah yang menempel di wajah. Setelah semua yang terjadi akhirnya dia bisa menikah dengan orang yang dia cintai, inilah yang sangat dia inginkan dan dia benar-benar bahagia.
Anna tampak gugup saat Harry masuk ke dalam kamar mandi dengan sebuah handuk di tangannya. Anna berusaha tersenyum, wajahnya bahkan terlihat memerah.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Harry seraya mendekatinya.
"Aku baik-baik saja."
"Jika begitu pergilah mandi, aku akan mengambil barang-barangmu dan membawanya ke sini dan membawakan semangkok sup hangat untukmu," ucap Harry seraya memberikan handuk untuk istrinya.
"A-Apa kau tidak mau mandi denganku?" tanya Anna tanpa pikir panjang.
Harry tersenyum, begitu juga Anna. Harry pasti tidak akan menolak apalagi mereka sudah menjadi suami istri.
"Kau terlihat tidak sabar," ucap Harry.
"Tentu saja," Anna tersenyum manis tapi sayangnya sebuah sentilan dahi yang dia dapatkan. Anna berteriak dan memegangi dahinya dengan cepat, sepertinya tidak lama lagi dahinya akan tumbuh sebuah benjolan.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak! Segera bersihkan dirimu. Lagi pula apa kau yakin tidak akan pingsan saat melihat tubuhku?
Anna tidak menjawab, matanya tidak lepas dari Harry. Dia memandangi wajah suaminya terlebih dahulu lalu pandangannya semakin ke bawa dan ke bawah sampai tanpa dia sadari darah mengalir dari hidungnya lagi.
"Ck, lihatlah! Masih terlalu cepat untukmu mandi denganku, Nona!" Harry menarik selembar tisu untung mengelap darah yang mengalir dari hidung Anna.
"Tidak mungkin!" Anna terlihat tidak percaya, padahal dia hanya membayangkan bentuk tubuh Harry saja. Sepertinya dia benar-benar akan pingsan saat melihat Harry telanjang di depan matanya.
"Maaf, sepertinya aku akan mengecewakan dirimu malam ini," ucap Anna dengan nada bersalah.
"Sudahlah, aku tidak mempermasalahkan hal itu."
"Benarkah? Apa kau tidak ingin kita?" Anna menggigit bibir dan tersenyum nakal.
"Kita latihan pelan-pelan nanti tapi sekarang, lepas gaun pengantinmu dan pergilah mandi."
"Bisakah kau membantu aku melepaskannya?"
Harry sedikit ragu tapi pada akhirnya dia menyetujui permintaan Anna. Anna sudah berdiri membelakanginya, Harry mulai menarik resleting yang terdapat di belakang gaun. Dia tampak menelan ludah saat melihat punggung halus Anna. Sial, bagaimanapun dia sudah lama tidak menjamah wanita.
Tidak mau berlama-lama, Harry menarik semua resleting dan setelah itu dia berpaling dan berdiri membelakangi Anna.
"Sudah selesai, pergilah mandi!" ucapnya.
"Oke, aku akan mandi yang bersih dan wangi!" ucap Anna penuh semangat.
Harry tersenyum dan keluar dari kamar mandi, tiba-tiba sudah memiliki seorang istri dan hal ini tidak terduga sama sekali. Tapi dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada apalagi kesempatan sudah di depan mata. Harry melihat jam, waktu sudah menunjukkan pukul satu pagi. Jika tidak mengantar kedua orangtua Anna ke rumah sakit mereka bisa pulang lebih awal tapi keselamatan ayah Anna lebih penting.
Besok keluarganya pasti akan shock terutama ibunya tapi dia yakin, mereka akan senang karena dia sudah menikah sesuai dengan permintaan mereka.
Di dalam kamar mandi, terdengar suara nyanyian Anna. Tragedi penculikan yang Marco lakukan justru mempersatukannya dengan Harry, tapi bukan berarti dia akan memaafkan perbuatan Marco. Besok setelah menjenguk ayahnya dia akan menemui Marco dan berbicara dengannya. Dia juga sangat inginĀ memberikan sebuah pukulan di wajah Marco.
Anna masih bernyanyi, itu karena dia bahagia. Dia benar-benar tidak menyangka sudah menjadi istri Harry. Semoga saja ini bukan mimpi, dia jadi takut saat dia tersadar ternyata dia menjadi istri Marco, bukan Harry.
"Nona, kau ingin mandi sampai kapan?" terdengar suara Harry di depan pintu.
"Sebentar!" teriak Anna. Sepertinya dia terlalu bersemangat membersihkan diri.
Keran dimatikan, Anna mengambil handuk dan segera keluar dari kamar mandi.
"Maaf, aku terlalu bersemangat," ucap Anna sambil tersenyum.
"Bajumu ada di atas ranjang, segera kenakan dan makan supnya selagi hangat."
Harry melihatnya sambil menggeleng, jangan katakan ada yang direncanakan oleh si cabul itu. Tapi biarlah, mereka juga sudah jadi suami istri jadi biarkan saja. Harry masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Anna menggunakan pakaiannya dengan cepat, menghabiskan supnya dan naik ke atas ranjang.
Dia tidak mengantuk sama sekali karena dia sedang menunggu pelatihan yang hendak Harry berikan. Harry bahkan menatapnya dengan tatapan heran, sedangkan Anna menepuk ranjang sambil tersenyum.
"Apa yang sedang kau rencanakan?" tanya Harry curiga.
"Tidak ada," jawab Anna tapi senyumnya tidak juga hilang.
"Lalu kenapa sikapmu begitu mencurigakan?"
"Aku menunggu pelatihan yang ingin kau berikan," ucapnya tanpa ragu.
"Ck, kau benar-benar tidak sabar! Apa tidak bisa besok?"
"Aku mau sekarang, kemarilah suamiku!" Anna kembali menepuk ranjang sambil tersenyum nakal.
"Awas jika kau pingsan!" Harry naik ke atas ranjang, sedangkan Anna mendekatinya dengan cepat.
"Tentu tidak," Anna berbaring di samping Harry dan memeluknya. Mereka berdua diam sesaat, Anna memejamkan mata menikmati belaian tangan yang Harry berikan.
"Terima kasih kau mau datang menolongku, Harry," ucap Anna. Matanya kini kembali terbuka, sedangkan jari jemarinya bermain di atas dada Harry.
"Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan, Anna."
Anna tersenyum dan memandanginya sejenak dan setelah itu dia kembali berkata, "Maaf aku selalu melibatkanmu dalam masalah."
"Ck, jangan berkata seperti itu. Aku tidak keberatan sama sekali."
"Aku benar-benar bahagia akhirnya kau jatuh cinta padaku, terima kasih Harry."
"Anna," Harry memiringkan tubuhnya sehingga mereka saling berhadapan dan saling pandang satu sama lain.
"Walau aku menikahimu dalam situasi seperti itu tapi aku serius denganmu. Aku ingin kau menjadi milikku dan aku tidak mau kehilangan kesempatan untuk memiliki dirimu. Maaf aku tidak melamarmu di tempat yang baik dan romantis tapi aku berjanji, setelah keadaan ayahmu sudah membaik maka aku akan membawa keluargaku menemui kedua orangtuamu lalu kita adakan pesta sebagai acara pernikahan kita."
"Benarkah?" Anna terlihat senang.
"Tentu, aku akan memberikan pesta pernikahan yang megah untukmu."
"Terima kasih, Harry," Anna memberikan sebuah kecupan di bibir Harry.
Mereka berdua saling pandang dengan senyum di wajah. Tadinya Harry ingin menyatakan perasaannya pada Anna di tempat romantis tapi dia sudah menggagalkan rencananya sendiri.
"I love you, Anna," ucapnya dan setelah itu Harry mencium bibir istrinya dengan mesra.
Anna memeluknya erat, mereka tidak memikirkan masalah itu karena Harry tahu Anna belum siap. Lagi pula mereka harus beristirahat karena sudah melewatkan malam yang melelahkan.
"Tidurlah, besok aku akan membawamu pulang."
"Apa? Apa kita tidak jadi berlatih?"
"Besok kita mulai berlatih dan malam ini tidur!"
"Ck, padahal aku sangat mengharapkannya!" ucap Anna.
Harry tersenyum, dia jadi ingin menggoda Anna. Harry mendekati Anna dan berbisik di telinganya.
"Besok aku milikmu dan kau?" Harry mengatakannya dengan pelan.
Mata Anna melotot, Harry memandanginya sambil tersenyum setelah mengatakan apa yang boleh Anna lakukan. Jantung Anna berdebar, dengan cepat Anna memencet hidungnya agar tidak mimisan. Sial, dia jadi tidak sabar untuk besok dan sepertinya dia butuh sebuah penjepit pakaian yang bisa dia gunakan untuk menjepit hidungnya besok.
"Tidurlah, besok kita akan begadang jika kau tidak pingsan," ucap Harry seraya mencium dahi Anna.
Si cabul hanya mengangguk dengan fantasi liarnya. Besok dia harus mulai dari mana? Dari atas atau langsung dari bawah? Astaga dia sungguh sudah tidak sabar.