
Mata Marline fokus ke tangan Vivian yang sedang memberikan sebuah kode. Marline mengernyitkan dahi, dia berpikir dengan keras mengenai kode yang diberikan oleh Vivian. Karena dia tidak bisa melihat Mayumi dengan jelas, jadi dia tidak bisa melihat bom yang menempel pada tubuh Mayumi, hal itu membuatnya tidak tahu jika ada sebuah bom di dalam ruangan itu.
"Apa kau seorang diri?" tanya katsuo sambil berteriak.
"Ya, rekanku sedang menuju ke mari!" dusta Vivian sambil memberikan kode pada Marline.
"Tangkap dia! Kita tunggu rekannya dan setelah itu kalian semua akan mati!" Katsuo memerintahkan anak buahnya untuk menangkap Vivian.
"Mich, sepertinya ada bom," Marline memberi tahu Michael setelah dia tahu arti kode yang diberikan oleh Vivian.
Vivian tampak lega, dia diam saja ketika anak buah Katsuo mendekatinya dengan hati-hati. Mereka bahkan melangkahi kabel perangkap dan hal itu membuat Marline dan Vivian jadi tahu di mana kabel itu terpasang.
"Vivi bilang kau harus ke sini karena bom itu rumit," ucap Marline lagi setelah mengartikan kode terakhir yang diberikan oleh Vivian.
"Aku akan segera ke sana, kalian harus berhati-hati!" Michael meminta helikopter di turunkan karena dia akan membantu istri dan juga kakak iparnya.
Anak buah yang diperintahkan oleh Katsuo mendekati Vivian dengan begitu hati-hati, mereka baru saja melewati kabel pertama dan yang baru saja mereka lewati adalah kabel penghubung perangkap kawat. Hal itu tidak di sia-siakan oleh Marline dan Vivian, mata mereka mengawasi dengan tajam, memperhatikan anak buah Katsuo yang mendekati Vivian dengan napas tertahan.
Semua menjadi tegang, Mayumi ketakutan. Jika kabel yang terhubung dengan kursinya tersentuh, maka dia akan langsung meledak.
Marline melihat perangkap kawat dan mempelajarinya, jika kabel tadi tersentuh maka kawat akan tertarik lalu memotong tubuh sandera menjadi dua. Tapi bagaimana jika sanderanya tidak ada di sana? Sepertinya mereka harus membuat anak buah Katsuo mundur, jangan sampai mereka semakin mendekati kabel lain karena gerak gerik yang ditunjukkan oleh para musuh semakin waspada dan bisa mereka tebak, jebakan kedua lebih berbahaya dari pada jebakan kawat itu.
"Saatnya beraksi, Guys," ucap Marline.
James langsung bersiap, begitu juga dengan Vivian. Dia tahu Marline pasti punya rencana bagus. Walau mereka kesulitan berkomunikasi tapi saat ini, mereka harus bekerja sama dan saling mempercayai satu sama lain.
"Aku akan menembak tali yang mengikat pria itu dan begitu tubuhnya terjatuh ke lantai, kita langsung menyerang! Aku akan menembaki mereka dari persembunyian dan kau harus membuat musuh mundur agar tidak ada yang menyentuh perangkap ke dua!" jelas Marline.
"Tapi Nona, bagaimana dengan pemicu bomnya?" tanya James.
"Jangan khawatir, aku akan mengawasi ketuanya!"
"Roger!" James sudah mengangkat pistolnya.
Marline sedang berusaha membidik tali yang mengikat tangan Ken saat itu. Anak buah Katsuo sudah semakin mendekati Vivian bahkan mereka sudah mengeluarkan borgol untuk menahan Vivian nanti tapi mereka semakin waspada karena mereka semakin mendekati kabel perangkap.
"Tree," Marline fokus melihat targetnya, sedangkan tangan Vivian yang terangkat mulai sedikit menurun karena dia akan mengambil pistolnya begitu Marline menembak.
"One!" ucap Marline dan pada saat itu, sebuah peluru melesat keluar dari senjata api Barret M82a1 kesayangannya.
Tidak ada suara, letusan kecil pun tidak terdengar. Peluru melesat dengan cepat mengarah ke tali yang mengikat tangan Ken. Marline harap pria itu tidak bergerak agar tembakannya tidak meleset karena dia hanya punya satu kesempatan saja. Mata Vivian bahkan mengarah ke arah Ken, dia bahkan melihat sebuah peluru melesat dengan kecepatan tinggi.
BRRUKKKK!!
Tubuh Ken yang jatuh mengagetkan mereka. Tidak hanya itu saja, mereka juga terkejut saat James mendobrak masuk ke dalam ruangan bersama dengan beberapa anak buah yang sudah berkumpul. Mereka menembaki musuh tanpa ragu begitu juga dengan Vivian yang sudah mengambil pistolnya. Baku tembak terjadi, beberapa anak buah yang hendak menangkap Vivian berlari mundur tapi tanpa mereka sadari, kaki mereka tersandung kabel perangkap.
Suara kawat yang tertarik terdengar. Gulungan kawat tertarik dengan cepat dan dalam hitungan detik saja, sebuah kawat sudah tertarik dan berada di tengah ruangan. Jika saja tubuh Ken masih berada di sana, maka sudah dipastikan, tubuhnya akan terbelah menjadi dua.
Katsuo dan anak buahnya bersembunyi, pria itu tampak mengumpat marah. Seharusnya dia menembak wanita itu tanpa ragu, dia benar-benar sudah meragukan musuh karena dia seorang wanita.
Vivian dan James, juga anak buah yang lain juga bersembunyi. Tidak ada yang maju karena mereka tahu, perangkap kedua tidak jauh dari pintu. Jika mereka salah melangkah, maka mereka akan mati secara sia-sia.
Marline masih membidikkan senjata Barret M82a1 miliknya ke arah di mana Katsuo sedang bersembunyi, dia tidak perlu keluar terlebih dahulu karena mereka belum mendapatkan pemicu bomnya. Katsuo mengumpat marah, siapa yang telah menembak tali yang mengikat tangan Ken?
Matanya melihat sekeliling ruangan dari persembunyian, dia mulai curiga. Melihat itu, Marline menarik senjata apinya dan memundurkan tubuhnya di dalam lorong yang sempit dengan cepat, semoga pria Jepang itu tidak melihatnya.
Marline bahkan menahan napas dengan jantung berdebar karena mata katsuo fokus ke arahnya. Pria itu melihat lubang ventilasi yang sedikit terbuka begitu lama. Apa penutup lubang itu memang seperti itu?"
Katsuo mengambil pemicu bomnya dan melangkah keluar. Sepertinya ada penembak jitu yang bersembunyi di tempat itu.
"Keluar, jika tidak aku akan menekan pemicu bom ini!" teriak katsuo seraya mengangkat pemicu bomnya tinggi-tinggi.
Vivian mengintip sejenak dan setelah itu dia berkata, "Pemicu itu ada di tangannya!"
"Tetap diam di sana, sepertinya dia sudah mencurigai keberadaanku," ucap Marline sambil membidikkan senjata apinya.
"Keluar!" teriak Katsuo lagi. Pria itu melangkah mendekati Mayumi. Katsuo sangat marah, dia bahkan memberikan sebuah tembakan di bahu Mayumi.
Teriakan Mayumi tertahan akibat rasa sakit yang dia rasakan. Dia hanya bisa menangis, berharap semua itu berakhir. Ken bahkan tidak bergerak di atas lantai, darah masih mengalir dari kakinya yang tertembak. Katsuo kembali berteriak dan tanpa dia sadari, jika Marline bisa melihatnya dengan jelas saat dia berdiri di samping Mayumi.
"Jika bom ini meledak, maka kita semua akan mati!" teriak Katsuo, dia memberikan kode pada anak buahnya untuk melihat seluruh ruangan. Dia juga memerintahkan anak buahnya untuk melihat lubang ventilasi.
Seorang anak buah Katsuo mendekati lubang ventilasi sambil mengarahkan senjata apinya ke arah lubang. Dia terus melangkah mendekat, Marline sungguh tidak punya banyak waktu. Jarak antara anak buah Katsuo dengan lubang ventilasi kurang lebih satu meter saja, ketika pria itu sudah semakin mendekat, tiba-tiba saja sesuatu melesat dengan cepat melewati pipinya.
Pria itu terkejut dan tidak lama kemudian, terdengar suara teriakan Katsuo karena timah panas yang ditembakan oleh Marline melubangi telapak tangannya. Pemicu bom terjatuh, bahkan tanpa sengaja tertendang oleh Katsuo.
Suara teriakan dari Katsuo adalah tanda untuk Vivian dan James, mereka keluar dari persembunyian dan menembaki anak buah Katsuo. Mereka tetap berada di posisi, mengingat perangkap kedua yang berbahaya. Suara tembakan kembali terdengar, Marline melompat turun dari lubang ventilasi dan menembak anak buah Katsuo dari belakang.
Baku tembak tidak bisa terhindarkan, anak buah Katsuo mendapat serangan dari arah depan dan belakang, sedangkan pria itu bersembunyi di belakang kursi Mayumi dan berusaha mencari pemicu yang terpental akibat tertendang. Dia akan meledakkan bom itu sehingga mereka semua mati bersama-sama.