Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Nikmati Waktu Kalian!



Ainsley tersenyum canggung saat melihat Jager Maxton. Dia bahkan melihat ke arah Damian dengan tatapan penuh tanda tanya, sedangkan Damian hanya mengangkat bahu. Damian berniat mengajak Ainsley pergi ke Golden Gate Park di mana mereka bisa menikmati kebun bunga, taman bermain, danau, monumen, dan jalan setapak untuk bersantai menikmati pemandangan.


Setelah dari Golden Gate Park, Mereka akan pergi ke Oakland Bay Bridge yang merupakan jembatan penting yang menghubungkan San Fransisco ke Oakland.  Para pengunjung dapat menikmati lampu LED indah pada kabel jembatan. Para wisatawan juga dapat menikmati pemandangan jembatan itu dengan berjalan kaki, bersepeda dan mengendarai mobil.


Damian berencana mengajak Ainsley naik sepeda untuk menikmati pemandangan di Oakland Bay Bridge tapi sepertinya dia harus berpikir ulang karena ada ayahnya. Dia tidak tahu ayahnya bisa naik sepeda atau tidak. Tidak mungkin bukan dia meninggalkan ayahnya sendirian di mobil?


"Kita mau pergi ke mana, Damian?" tanya ayahnya.


"Golden Gate Park dan Oakland Bay Bridge," jawab Damian seraya melirik ke arah ayahnya melalui kaca spion mobil.


Dia harap ayahnya tahu maksudnya tapi ayahnya hanya mendehem, pura-pura tidak mengerti padahal dia punya rencana sendiri. Jika dia tidak punya rencana, maka sia-sia dia mengikuti putranya. Hari ini dia akan membuat kencan putranya berhasil.


Damian membawa mobilnya menuju Golden Gate Park, mereka akan menikmati waktu mereka di sana dan ketika matahari sudah hendak terbenam, mereka akan pergi ke Oakland Bay Bridge. Ainsley diam saja, dia jadi canggung karena ada ayah Damian apalagi tragedi kepergok waktu itu membuatnya tidak enak hati. Semoga saja rasa canggung itu cepat berlalu karena dia merasa tidak nyaman.


Mereka sudah tiba di Golden Gate Park, Ainsely mendekati Mayumi dan meraih tangannya. Dia akan mengajak Mayumi berjalan bersama karena dia masih merasa canggung.


"Ayo, Mayumi," ajaknya.


"Tapi, Ainsley?" Mayumi menoleh ke belakang saat Ainsley sudah menarik tangannya.


Damian berjalan di belakang mereka bersama dengan ayahnya, mereka hanya memandangi Ainsley dan Mayumi yang sudah berjalan jauh di depan mereka.


"Dad, kenapa kau ikut?" tanya Damian.


"Menemanimu, kau lihat? Kau diabaikan!"


"Aku sedang menemani Daddy, bukan diabaikan!"


"Baiklah, apa pun alasanmu tapi kau pasti akan diabaikan oleh mereka tapi kau tidak perlu khawatir, Daddy akan membantumu!" ucap ayahnya.


"Daddy punya rencana?" Damian melirik ke arah sang ayah, sedangkan ayahnya tersenyum.


"Tentu, kencan kalian pasti berjalan dengan lancar jadi serahkan padaku."


Damian tersenyum, baiklah, sepertinya ayahnya tahu apa yang ingin dia lakukan berdua dengan Ainsley jadi dia akan mengikuti permainan ayahnya nanti.


"Dam-Dam, ayo cepat!" Ainsley memanggilnya sambil melambaikan tangan.


"Sana pergi, serahkan Mayumi padaku!" ucap ayahnya.


"Baiklah, Dad."


Damian melangkah dengan cepat menghampiri Ainsley yang saat itu sedang menikmati pemandangan bunga yang terhampar indah bersama dengan Mayumi.


Jager berjalan di belakang dengan pelan, sebentar lagi dia akan memisahkan si gadis Jepang itu dari mereka.


"Dam-Dam, kenapa kau begitu lama?" tanya Ainsley.


"Maaf, aku harus menemani ayahku."


"Jika begitu kita pelan-pelan saja," Ainsley menghampiri Jager Maxton dan merangkul tangannya.


"Uncle, maaf meninggalkanmu," ucapnya.


"Tidak apa-apa, aku memang lambat jadi tinggalkan saja!"


"Apa yang Uncle katakan, ayo kita jalan bersama!"


Jager mengangguk, dia sudah lama tidak melakukan hal seperti itu. Mereka berjalan bersama menikmati pemandangan yang ada di Golden Gate Park. Saat lelah, mereka duduk di depan danau yang ada di taman itu dan menikmati pemandangan danau yang sejuk.


Damian memanggil Ainsley karena ada yang ingin dia tunjukkan, sedangkan Mayumi dan Jager melihat mereka dari kejauhan. Sebuah bunga yang dipetik oleh Damian diselipkan di belakang telinga Ainsley dan setelah itu, Damian memberikan sebuah ciuman di dahi.


Jager Maxton sangat senang melihatnya, tapi tidak dengan Mayumi. Dia melihat mereka dengan tatapan iri, seandainya dia bersama dengan kekasihnya di tempat itu, mereka pasti juga akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Damian dan Ainsley tapi sekarang, dia tidak tahu kekasihnya masih hidup atau tidak.


Jager melirik ke arah Mayumi, ini gawat, gadis itu menatap mereka dengan tatapan aneh. Sepertinya sudah waktunya memisahkan mereka, jangan sampai iri hati tumbuh di hati Mayumi apalagi dia sedang dilema karena kekasihnya yang hilang dan harus dia waspadai. Takutnya dia gelap mata, merasa tidak ada siapa pun lagi yang perduli dengannya sehingga dia memiliki keinginan untuk mendapatkan Damian karena hanya Damian yang peduli dengannya.


Dia tidak mau putranya mengalami apa yang dia alami dulu, di mana sahabat baik yang sangat dia percaya justru mengkhianatinya dan memisahkan dirinya dengan orang yang dia cintai. Jangan sampai Mayumi melakukan hal seperti itu dan mengkhianati putranya.


"Hm, Mayumi. Bagaimana jika kau ikut denganku pergi ke rumah putriku," ajak Jager Maxton.


"Tapi, Uncle?" Mayumi terlihat berat hati.


"Sudah, dari pada kau di sini melihat mereka pacaran, lebih baik kau di sana dan bermain dengan keenam cucuku yang lucu!"


"Baiklah," jawab Mayumi dengan berat hati.


Jager mengajak Mayumi pergi secara diam-diam karena dia tidak mau mengganggu Damian dan Ainsley yang saat itu sedang duduk berdua menikmati pemandangan danau yang tenang. Ainsley bersandar di bahu Damian, mereka diam saja, menikmati pemandangan alam tanpa menyadari jika Jager sudah pergi bersama dengan Mayumi.


"Dam-Dam, setelah ini bagaimana jika jalan di sana," ajak Ainsley seraya menunjuk jalan setapak yang tidak jauh dari mereka.


"Aku lebih suka duduk di belakang!" jawab Ainsley.


"Bilang saja jika kau tidak bisa naik sepeda!"


Ainsley tertawa, dia memang tidak bisa. Ainsley mengangkat wajahnya untuk mencium pipi Damian dan setelah itu dia kembali bersandar di bahu Damian. Mereka berdua tersenyum dan terlihat senang. Mereka kembali memandangi Danau yang tenang dan menikmati semilir angin yang berhembus. Daun-daun yang sudah menguning, berguguran dari pohon oak yang tumbuh tidak jauh dari mereka.


"Siap menikmati pemandangan lainnya?" tanya Damian.


"Tentu," Ainsley tersenyum saat Damian membantunya. Damian bahkan membersihkan rumput kering yang menempel pada baju Ainsley. Damian melihat sana sini, dan setelah itu Damian mengecup bibir Ainsley dengan lembut.


"Mumpung tidak ada Daddy," ucapnya.


"Memangnya kau tidak berani menciumku jika ada ayahmu!"


"Tidak juga, aku hanya merasa canggung."


"Baiklah, ngomong-ngomong, mana ayahmu dan Mayumi?" tanya Ainsley.


Damian kembali melihat sana sini. Benar juga, mana ayahnya dan Mayumi? Apa ayahnya sedang menjalankan rencananya agar dia bisa berduaan dengan Ainsley?


"Tunggu sebentar, aku akan menghubungi mereka," Damian mengambil ponsel untuk menghubungi ayahnya. Tidak butuh waktu lama, Jager sudah menjawab panggilan dari putranya.


"Dad, kalian di mana?" tanya Damian.


"Aku dan Mayumi akan pergi ke rumah adikmu."


"What? Kenapa tidak bilang padaku?!"


"Sudah, nikmati waktu kalian berdua. Jangan mengkhawatirkan kami."


"Aku akan menjemput kalian nanti," ucap Damian.


"Tidak perlu! Adikmu punya banyak supir, salah satu dari mereka akan mengantar kami. Aku ingin kalian menikmati kebersamaan kalian tanpa ada gangguan jadi nikmatilah."


"Dad, Mayumi belum menikmati pemandangannya."


"Ck, lain kali aku yang akan mengajaknya!" ucap ayahnya. Sepertinya dia harus menasehati putranya untuk tidak terlalu memanjakan Mayumi. Berbaik hati boleh, tapi tidak perlu sampai berlebihan karena dia khawatir gadis itu bisa menjadi duri dalam daging nantinya. Tapi semoga hal itu tidak terjadi, semoga saja Mayumi tahu diri dan tidak membalas kebaikan putranya dengan perbuatan jahat.


"Baiklah," jawab Damian. Ternyata itu tujuan ayahnya mengikuti mereka.


"Di mana ayahmu dan Mayumi?" tanya Ainsley setelah Damian selesai berbicara dengan ayahnya.


"Daddy mengajak Mayumi pergi ke rumah adikku."


"Kenapa?" tanya Ainsley lagi.


"Daddy bilang tiba-tiba dia rindu dengan six baby."


"Baiklah, aku kira gara-gara kita."


"Tidak, bukan begitu. Ayo kita nikmati waktu kita berdua," Damian meraih tangan Ainsley dan mengajaknya menyelusuri jalanan setapak di mana sisi kiri dan sisi kanannya ditumbuhi pohon oak yang menjulang tinggi.


Mereka berjalan sambil berbincang, mereka juga menikmati pemandangan alam yang terdapat di Golden Gate Park dan ketika matahari hendak terbenam, Damian mengajak Ainsley pergi ke Oakland Bay Bridge. Mereka berdua berdiri di sisi jembatan, memandangi indahnya matahari terbenam dari atas jembatan yang memiliki ketinggian ribuan kaki dari atas permukaan laut.


Damian memeluk Ainsley dari belakang karena udara yang berhembus cukup dingin, Ainsley bersandar di dada Damian, dia benar-benar bahagia bisa menikmati waktu mereka berdua tanpa ada gangguan. Dia benar-benar ingin menikmati masa pacaran mereka sampai Damian melamarnya nanti.


Setelah menikmati matahari terbenam, Damian mengajak Ainsley naik sepeda untuk menyelusuri jembatan. Sebuah sepeda sudah siap, Ainsley duduk di belakang dan memeluk pinggang Damian. Damian membawa sepedanya dengan pelan karena dia ingin menikmati kebersamaan mereka lebih lama.


Tidak saja membonceng Ainsley tapi Damian juga mengajari Ainsley naik sepeda. Ainsley terlihat canggung dan beberapa kali hampir jatuh tapi Damian menahan sepeda dengan cekatan.


Mereka melakukan hal itu cukup lama dan berhenti saat Ainsley merasa lelah. Ainsley bersandar pada besi yang menjadi pembatas jembatan sambil mengatur napasnya, sedangkan Damian meminggirkan sepeda lalu mendekatinya.


"Bagaimana, tidak sulit bukan??" tanyanya.


"Lumayan," Ainsley melingkarkan kedua tangannya ke leher Damian saat Damian memeluknya.


"Mau mencobanya lagi?"


"Nanti!"


Ainsley memejamkan mata ketika Damian mendekatkan bibir mereka berdua. Pelukan mereka semakin erat, ciuman mereka pun semakin dalam.


Ainsley tampak gugup dan jantungnya berdebar saat Damian memasukkan lidahnya. Dengan keberanian yang ada, Ainsley membalas permainan lidah Damian. Mereka berciuman tanpa menyadari jika Jager Maxton melihat mereka yang tidak jauh dari mereka.


Jager terlihat senang, ternyata hubungan mereka sudah sejauh itu. Sekarang dia tidak akan penasaran lagi karena dia sudah tahu.


Jager meminta sang supir untuk pergi tanpa menyadari jika gadis yang ada di sampingnya tampak tidak senang.