
Sebuah meja sudah berada di dalam ruangan dengan empat buah kursi. Katsuo dan Akira saling pandang, mereka berdua terlihat menebak-nebak game apa yang akan mereka mainkan nanti. Bisa jadi catur, kartu atau permainan lainnya yang menggunakan otak.
Sherly lebih tidak mengerti lagi, apa mereka akan berjudi? Jika hanya judi saja dia tidak akan kalah tapi dia rasa tidak sesederhana yang dipikirkan oleh mereka.
Setelah meletakkan empat kursi yang akan mereka gunakan, Matthew memerintahkan ketiga tawanan itu didudukkan di sana. Tiga kursi yang akan mereka gunakan bukan kursi biasa, mereka bahkan punya firasat buruk mengenai kursi yang akan mereka gunakan. Sebab itu Sherly memberontak ketika dia ditarik dan akan didudukkan di kursi itu.
"Lepaskan, aku tidak mau bermain game!" teriak Sherly.
Tidak hanya dia yang memberontak, Akira dan Katsuo juga memberontak. Mereka memiliki firasat yang sangat buruk mengenai permainan yang akan mereka mainkan nanti. Mereka didudukkan dengan paksa, kedua tangan mereka dimasukkan ke dalam sebuah kotak yang ada di meja, lalu dikunci agar tidak mudah lepas.
Rantai yang membelenggu kedua tangan dan kaki mereka sudah dilepaskan, entah untuk tujuan apa kedua tangan mereka berada di dalam kotak tapi yang pasti mereka tidak bisa melakukan apa pun dan hanya bisa pasrah. Sherly menangis, memohon tapi tidak ada yang peduli.
"Aku tidak mau bermain, aku tidak mau!" teriak Sherly.
"Hei, game apa yang ingin kau mainkan?" teriak Akira.
"Nikmati saja, sebaiknya bermain dengan baik jika kalian ingin bebas dari sini!" ucap Matthew.
"Jangan bercanda, apa kau menyekap kami agar kau punya teman untuk bermain game?" teriak katsuo.
"Ayolah, Guys. Apa kalian tidak mau pergi dari sini? Jika kalian bisa memenangkan game ini nanti maka aku akan membebaskan kalian tapi jika kalian kalah, maka kalian harus menerima hukuman yang harus kalian dapatkan nanti."
"A-Apa maksudmu?" tanya Sherly tidak mengerti.
"Dengar, aku akan melempar satu pertanyaan untuk kalian nantinya. Kalian tidak perlu khawatir, pertanyaannya mudah saja. Pertanyaan anak-anak. Jika kalian tidak bisa menjawab pertanyaan yang aku berikan maka kalian harus menjalani hukuman tapi jika kalian bisa menjawab maka kalian bisa bebas bahkan aku akan memberikan hadiah untuk kalian!" jelas Matthew.
"Bagaimana jika kami tidak bisa menjawab pertanyaan yang kau berikan?" tanya Akira.
"Kita akan kembali bermain setelah kalian menjalani hukuman dan jika pertanyaan kedua tidak bisa kalian jawab juga?" ucapan Matthew terhenti karena Katsuo sudah menyela ucapannya.
"Apa yang terjadi? Apa kau akan langsung membunuh kami?" tanya Katsuo.
"Jika kalian tidak bisa juga maka kesempatan kalian habis. Kalian akan menjalani dua penyiksaan lalu kalian akan berduel dengan binatang peliharaanku tapi jika kalian bisa mengalahkan atau melukainya maka aku akan membebaskan kalian!"
"Bi-Binatang apa?" tanya Sherly ingin tahu.
"Yeah, binatang biasa. Kalian tahu binatang apa yang suka makan daging, bukan?" jawab Matthew sambil menyeringai.
Sherly ketakutan, lalu dia berteriak, "Tidak, aku tidak mau!" teriaknya ketakutan.
"Sialan, permainan macam apa ini?" teriak Akira dan Katsuo pula.
Apa pria itu sudah gila? Permainan macam apa yang dia berikan? Alat penyiksaan? Mata mereka melihat seluruh ruangan. Beberapa meja yang entah berguna untuk apa terlihat, cambuk mengerikan tergantung di dinding dan berbagai macam alat penyiksaan yang lain tidak luput dari pandangan mereka.
"Kalian tidak bisa menolak, aku hanya memberi kesempatan. Seharusnya sebelum kalian menculik adikku, kalian berpikir ulang dan cari tahu siapa yang kalian tantang!"
"Hei, inilah kesempatan kalian jadi gunakan kesempatan ini dengan baik! Aku akan memberikan waktu lima belas menit untuk kalian berpikir, aku sangat baik, bukan?"
James hampir tertawa mendengar ucapan bosnya. Lima belas menit untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan yang menjebak? Dia rasa satu jam pun tidak akan cukup. Tapi dengan waktu yang sedikit itu, mereka akan panik dan inilah tontonan yang tidak boleh dia lewatkan. Semakin waktu yang mereka punya semakin sedikit, semakin membuat suasana mencekam dan menegangkan.
"Lalu kenapa tangan kami dimasukkan ke dalam kotak ini?" tanya Katsuo ingin tahu.
"Oh, pertanyaan bagus. Aku hampir lupa," ucap Matthew.
"Jangan basa basi, katakan secara langsung!" teriak Akira.
"Ini adalah kotak penyiksaan. Di dalam kotak tersimpan alat penyiksaan yang tersembunyi. Aku memberi kalian waktu lima belas menit dan di saat waktu kalian tinggal sedikit tapi kalian tidak juga menjawab maka alat yang ada di dalam kotak akan bekerja secara otomatis. Di dalam sana ada sebuah tombol tersembunyi yang harus kalian cari lalu kalian harus menekannya jika kalian sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang aku berikan. Tapi jangan terburu-buru, karena jika jawaban kalian salah, alat akan bekerja dan berhenti saat ketiga pemain sudah menjawab atau salah satu dari kalian menjawab dengan benar. Jadi siapa duluan yang menjawab dengan tepat maka dialah pemenangnya dan dia boleh pergi dari tempat ini dengan hadiah yang aku berikan jadi manfaatkan waktu kalian dengan baik," jelas Matthew panjang lebar.
"Apa? Kau gila, kau gila!" teriak Sherly sambil menangis histeris.
"Ya, inilah aku, Matthew Smith! Anggap ini sebagai perkenalan kita supaya kau tahu, siapa yang sedang kalian lawan dan hari ini kalian akan melihat, apa yang terjadi pada orang-orang yang sudah mengusik keluargaku!"
"Lepaskan aku, please," pinta Sherly memohon.
"Oke, Guys. Let's start the game!" Matthew duduk di hadapan mereka dengan seringai lebar.
Akira dan Katsuo menelan ludah, sedangkan Sherly masih berusaha menolak. Jika ada pilihan lain maka mereka tidak mau mengikuti permainan gila itu tapi mereka tidak punya pilihan apalagi permainan ini adalah kesempatan mereka satu-satunya untuk pergi dari sana.
Anggap mereka sedang bertaruh di meja judi, tapi bedanya jika mereka kalah di meja judi mereka akan rugi besar, sedangkan jika mereka kalah dalam permainan ini maka mereka akan mendapat siksaan yang tidak terbayangkan bahkan berujung kematian.
Semoga saja Dewi Fortuna berpihak kepada mereka tapi sayangnya Dewi Fortuna tidak mau berada di tempat itu. Lebih baik Dewi Fortuna ke tempat lain yang lebih menyenangkan dari pada berada di tempat seperti itu.
"Apa kalian siap?" tanya Mattew.
Mereka diam, siap tidak siap sudah harus siap menghadapi game gila yang akan mereka mainkan.
"Dengar pertanyaanku baik-baik, pertanyaan yang aku berikan sangat mudah tapi jawabannya tidak terduga karena ini pertanyaan menjebak!"
"Langsung saja," ucap Katsuo. Semoga dia bisa menjawab.
"Baiklah, untuk pemanasan aku akan berikan teka teki yang mudah jadi dengarkan teka tekinya baik-baik," Matthew tersenyum, sedang James mulai menikmati popcornnya. Dia sudah tidak sabar melihat ketegangan mereka.
"Marry memiliki sebuah boneka kesayangan yang berbentuk domba, dia bermain dengan boneka itu sepanjang hari tapi pada suatu hari bonekanya hilang. Marry mengumpulkan semua yang ada di rumah untuk diintrogasi. Dia meminta monyet, gajah, beruang dan juga kambing untuk berkumpul dan mulai bertanya kepada mereka di mana boneka kesayangannya karena dia yakin salah satu dari mereka yang telah mencuri boneka itu. Pertanyaannya adalah, di antara keempat binatang itu, siapa yang mengambil boneka milik Marry?"
Katsuo tercengang, begitu juga Akira, sedangkan Sherly tertawa terbahak-bahak. Apa pertanyaan ini terinspirasi dari lagu anak-anak?
"Mudah, bukan? Simak baik-baik pertanyaannya dan berikan aku jawaban yang tepat dan juga alasan dari jawaban kalian!" ucap Matthew sambil tersenyum lebar.
Tawa Sherly tidak juga berhenti, ternyata dia yang sudah terlalu berlebihan tapi sayangnya dia lupa jika itu adalah teka teki menjebak. Di antara ke empat binatang itu, siapa yang mengambil boneka Marry?