Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Jangan Mengganggu Keluargaku



Carl dan Renata berada di dalam sebuah ruangan saat itu. karena tidak mau membuat keributan sehingga Damian memutuskan membawa mereka ke dalam. Dia bahkan meminta karyawannya untuk memperlakukan mereka dengan baik. Walaupun dia tidak menyukai ayah kandungnya bahkan tidak peduli dengan mereka tapi dia harus memperlakukan mereka dengan baik.


Jangan sampai ada yang mengatakan jika Jager Maxton gagal mendidik dirinya, dia tidak akan pernah mempermalukan orang yang sudah dia anggap sebagai ayahnya itu.


Renata dan Carl saling pandang saat seorang wanita meletakkan minuman di atas meja dan mempersilahkan mereka untuk minum. Setelah memberikan minuman itu, si wanita pergi, sedangkan Damian masuk ke dalam ruangan.


Mata Carl melihatnya dengan tajam, begitu juga Renata. Wajah Damian yang sedikit mirip dengan Harry membuatnya berpikir jika pria itulah anak haram yang dikandung oleh jal*ng yang sudah tidur dengan suaminya.


Damian duduk di depan mereka, matanya menatap Carl dengan tajam. Dia sungguh tidak menduga akan bertemu dengan ayahnya secepat itu. Dia benar-benar tidak mengharapkan bertemu dengan ayah kandungnya, tidak setelah dia tahu semua yang telah terjadi dari ibunya.


Waktu itu dia berusia lima tahun, kejadian itu ketika dia memukul sahabat baiknya sehingga dia harus terlibat dengan polisi. Saat itulah Jager harus kehilangan istri dan putrinya karena dia harus ke Jepang membantu Damian dan ibunya.


Damian tahu kebenarannya dari sang ibu jika Jager bukan ayah kandungnya dan dia tidak diinginkan oleh sang ayah. Waktu itu dia begitu terpukul dan marah, dia bahkan mengurung diri tidak ingin bertemu dengan siapa pun. Ternyata apa yang dikatakan oleh sahabatnya benar, dia hanya anak yang tidak diinginkan tapi Jager berbicara berdua dengannya, meyakinkan dirinya. Sekalipun dia tidak diinginkan oleh ayah kandungnya, tapi Jager menyayanginya dan menganggap dirinya sebagai putra kandung dan sekarang? Setelah bertemu dengan ayah kandungnya, tidak ada perasaan apa pun yang dia rasakan.


"Apa kau putra si jal*ng itu?" tanya Renata tanpa basa basi.


"Jaga bicaramu baik-baik Nyonya, ibuku bukan jal*ng!" ucap Damian kesal, dia paling benci ada yang menghina ibunya.


"Bagiku sama saja!"


"Jika kedatangan kalian hanya untuk menghina ibuku, sebaiknya kalian pergi dari sini!"


"Bukan begitu, maafkan istriku. Kami datang untuk berbicara denganmu," ucap Carl. Matanya tidak berpaling memandangi Damian. Benarkan anak itu yang dilahirkan oleh Sayuri? Pembawaannya tenang, tidak emosional seperti Harry bahkan dia terlihat begitu sopan.


"Sepertinya tidak ada yang perlu kita bicarakan," ucap Damian.


"Tidak perlu basa basi, katakan saja apa tujuan kita datang ke sini!" ucap Renata.


"Diam kau!" bentak Carl seraya menatap istrinya dengan tajam.


"Benar yang dia katakan, katakan saja apa tujuan kalian datang kemari jadi tidak perlu berbasa basi," ucap Damian.


"Bukan begitu Nak, ini pertemuan kita sebagai ayan dan anak jadi aku?"


"Ayah dan anak?" sela Damian seraya menatap Carl dengan tajam.


"Aku tidak merasa punya ayah seperti dirimu," ucapnya lagi.


"Aku tahu aku salah, sekarang katakan padaku siapa namamu?"


"Maxton," jawab Damian tanpa mau menyebut nama depannya.


"Maxton?" Carl tampak sedikit terkejut, apa Maxton yang merawat anak itu selama ini?


"Kenapa? Kau kenal, bukan?"


"Apa Maxton mengadopsimu sebagai anaknya?" tanya Carl ingin tahu.


"Menurutmu, Tuan Windstond? Apa dia tidak boleh menjadi ayahku?"


"Tidak, bukan begitu!" Carl terlihat canggung apalagi Damian memanggilnya seperti itu.


"Kami datang ke sini untuk memintamu tidak menjadi penghalang Harry!" jawab Renata tanpa ragu karena dia sudah menunggu hal ini sejak tadi.


"Apa maksudmu, Nyonya?" Damian memandangi Renata dengan tatapan tidak mengerti.


"Selama ini keluargaku sangat damai sebelum si tau bangka sialan itu mengetahui keberadaanmu. Kau benar-benar mengancam posisi Harry jadi aku minta padamu, enyahlah dan jangan mengganggu keluargaku!" ucap Renata dengan sinis.


Carl hanya diam, karena memang itulah tujuan mereka datang. Meminta anak itu untuk tidak menjadi penghalang Harry dan menolak apa yang akan kakek Harry tawarkan padanya nanti.


"Sungguh lucu, jadi kalian mencariku hanya untuk ini?"


"Jika bukan karena hal ini aku tidak sudi melihat anak haram suamiku!" jawab Renata tanpa perasaan.


"Jika begitu pergilah, kedatangan kalian sia-sia karena sejak awal aku tidak menginginkan apa yang kalian miliki. Apa kalian pikir aku akan kekurangan harta benda? Aku sudah memiliki semuanya tanpa perlu mengambil milik kalian! Sudah aku katakan, bukan? Selama ini aku tidak ingin tahu siapa ayah kandungku, aku juga tidak ingin bertemu denganmu. Apa aku pernah mencarimu? Apa aku pernah meminta sesuatu padamu? Aku bahkan tidak melakukan apa pun. Aku diam tapi kalian yang datang mencariku lalu meminta aku untuk tidak menjadi penghalang Harry. Apa ini sebuah lelucon?"


"Bukan begitu, aku hanya tidak mau posisi Harry terancam," ucap Carl.


"Kenapa? Apa karena kau menganggap dia sebagai putramu sedangkan aku tidak?" tanya Damian. Matanya menatap ayahnya dengan tajam. Rasanya ingin memukul wajah pria itu untuk membalas perbuatan yang dia lakukan pada ayahnya waktu itu.


Lagi-lagi Carl diam, tidak bisa menjawab karena itu memang kenyataannya. Mereka datang ke sana memang untuk meminta anak itu agar tidak menjadi penghalang Harry, putra mereka.


Damian tersenyum sinis, sepertinya mereka keluarga yang konyol. Dia bahkan tidak mencari mereka, apalagi meminta sesuatu kepada mereka tapi kenapa mereka begitu takut dia menjadi penghalang posisi Harry? Mau diberi apa pun, mau diiming dengan apa pun, dia tidak akan pernah mengambil milik keluarga Windstond bahkan satu sen milik mereka pun dia tidak menginginkannya.


"Pergilah, aku tidak tidak tertarik apa pun yang akan kalian tawarkan. Aku sudah punya semuanya dari ayahku yang hebat jadi kalian tidak perlu khawatir, aku tidak akan menjadi penghalang langkah Harry sekalipun aku ditawari seisi dunia ini karena aku tidak membutuhkannya dan apa yang aku butuhkan sudah aku dapatkan!" ucap Damian.


Renata dan Carl saling pandang, apa benar anak itu tidak akan tertarik dengan apa yang akan ditawarkan oleh Aland nanti?


"Apa kau berani bersumpah akan hal itu?" tanya Renata memastikan karena dia takut Damian tergoda.


"Aku tidak akan bersumpah, Nyonya. Lagi pula kalian bukan siapa-siapa bagiku. Aku tidak pernah ingin bertemu dengan kalian dan ingin tahu apa yang sedang menjadi masalah kalian jadi pergilah, jangan libatkan aku!" ucap Damian.


"Tidak, aku akan mempercayainya jika kau bersumpah!" teriak Renata.


"Pergilah, jika tidak aku tidak akan sungkan memanggil orang untuk menarik kalian keluar!" ucap Damian.


"Kau berani?" Teriak Renata lagi.


"Jangan sampai aku melakukannya dan mempermalukan kalian, Tuan dan Nyonya Windstond!" ucap Damian seraya memandangi Carl yang sedari tadi diam saja.


"Renata, ayo kita pergi," ajak Carl.


"Apa? Apa kita akan pergi begitu saja?" Renata masih tanpak tidak terima.


"Ayolah, dia sudah bilang bukan jika dia tidak akan menjadi penghalang Harry."


"Tapi aku tidak percaya!" teriak Renata.


Damian menggeleng dan melangkah pergi, apa mereka pikir dia menginginkan harta mereka?  Di luar sana Damian meminta seseorang untuk mengantar mereka keluar tanpa membuat keributan.


Renata begitu kesal. sepertinya dia harus kembali lagi ke tempat itu seorang diri dan berbicara dengan anak haram itu. Akan dia lakukan nanti setelah kakek Harry bertemu dengan anak si jal*ng itu. Apa pun caranya, dia tidak ingin anak itu menjadi penghalang terbesar Harry.