
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh siang, Harry terlihat lega karena Anna tidak datang dan mengganggunya. Itu karena Anna sedang fokus membuat rancangan gaun yang ibu Harry inginkan. Dia tidak mau mengecewakan calon ibu mertua dan akan memberikan yang terbaik.
Siang ini Harry ada janji untuk bertemu dengan Damian di cafe karena mereka akan membahas pekerjaan. Mumpung gadis aneh itu tidak terlihat, sebaiknya dia pergi agar Damian tidak tahu jika seorang gadis aneh sedang mengejarnya.
Menunggu Damian sebentar tidak jadi soal, yang penting dia tidak bertemu dengan Anna. Gadis itu sangat mudah menghancurkan harinya tapi ciuman yang mereka lakukan secara spontan kembali teringat. Ck, mungkin itu karena dia sudah lama tidak punya pacar. Semenjak memutuskan hubungannya dengan Sherly, dia tidak dekat dengan siapa pun lagi selain mengejar Ainsley tiada henti.
Entah kenapa dia jadi penasaran dan ingin tahu bagaimana keadaan Sherly sejak malam itu. Sepertinya dia harus bertanya pada Damian karena dia ingin tahu. Walau sesungguhnya dia benci dengan Sherly karena hampir membunuhnya dan keluarganya tapi tidak ada salahnya mencari tahu mengingat hubungan mereka dulu.
Harry sudah berada di cafe, dia datang lebih cepat. Segelas kopi sudah dipesan, laptop juga sudah dinyalakan. Sambil menunggu Damian dia bisa mengerjakan pekerjaannya. Lagi pula dia malas kembali ke kantor karena bisa saja Anna sudah berada di sana saat dia kembali.
Tidak perlu lama menunggu, Damian sudah datang. Pria itu terlihat kusut dan tidak bersemangat, entah apa yang terjadi dengannya. Harry bahkan melihat adiknya dengan tatapan heran, apa telah terjadi sesuatu dengan hubungannya dan Ainsley?
"Ada apa denganmu? Apa kau sakit?" Harry bertanya, matanya tidak lepas dari sang adik.
"Tidak, aku baik-baik saja," jawab Damian.
Dia seperti itu bukan tanpa alasan. Semua itu gara-gara permintaan istrinya sebelum dia pergi ke kantor. Entah apa yang terjadi, tapi Ainsley terbangun dengan wajah berseri. Damian tidak curiga sama sekali, dia kira istrinya bermimpi indah atau puas dengan service yang dia berikan semalam.
Itu yang dia sangka tapi melihat sikap Ainsley yang terkadang tersenyum sendiri membuatnya curiga, seharusnya dia tidak bertanya, seharusnya dia langsung pergi ke kantor. Benar yang orang katakan, rasa penasaran bisa membunuh dan jika tidak akan menjerumuskan dan sekarang? Karena rasa penasaran membuatnya terjerumus dan tidak bisa menolak permintaan istrinya.
Saat itu, Ainsley sedang membuat sarapan. Dia terlihat tersenyum sesekali, entah apa yang dia bayangkan tapi hal itu membuat Damian dan ayahnya jadi ingin tahu. Ainsley tidak pernah bersikap seperti itu sebelumnya. Kedua ayah dan anak itu sangat penasaran, benar-benar penasaran.
"Damian, apa yang telah terjadi dengan istrimu?" tanya ayahnya dengan pelan, mata mereka berdua tidak lepas dari Ainsley yang sedang menyiapkan sarapan dan tersenyum.
"Entahlah, Dad. Aku tidak tahu!" jawab Damian karena dia benar-benar tidak tahu.
"Apa? Kenapa kau bisa tidak tahu?"
"Aku tidak tahu, sungguh!"
"Jika begitu segera cari tahu!" perintah sang ayah.
"Nanti aku akan mencari tahu," ucap Damian.
"Sekarang, Damian!" perintah ayahnya karena dia penasaran.
Karena tidak bisa menolak permintaan sang ayah apalagi dia juga penasaran, Damian beranjak dan mendekati istrinya yang sedang membakar roti untuk mereka.
"Ainsley."
"Hm?" Ainsley berpaling, melihat ke arah suaminya sejenak.
"Ada apa denganmu? Kenapa kau terlihat begitu senang?" tanya Damian, dia mengambil roti untuk membantu.
"Apakah aneh?" Ainsley balik bertanya.
"Tidak, tapi kau tidak seperti biasanya. Apa telah terjadi sesuatu?"
Ainsley tersenyum dan kemudian dia menjawab, "Aku hanya bermimpi, Dam-Dam."
"Oh, ya? Mimpi apa yang telah membuatmu begitu senang?"
"Apa kau ingin tahu?" Tanya Ainsley seraya meletakkan roti bakar yang sudah jadi.
"Jadi kau tidak mau memberitahu suamimu ini?"
Ainsley kembali tersenyum, roti bakar diambil dan setelah itu dia melangkah mendekati meja, sedangkan Damian mengikutinya.
"Aku hanya bermimpi, Dam-Dam," ucapnya seraya meletakkan roti ke atas meja.
"Mimpi? Mimpi apa yang bisa membuatmu sebahagia ini?" tanya Jager karena dia juga ingin tahu.
"Tentu saja mimpi yang lucu, Dad."
"Katakan pada Daddy, mimpi apa?" Jager semakin tidak sabar.
"Sebaiknya kalian tidak tahu," jawab Ainsley karena sesungguhnya dia bermimpi melihat suami dan ayah mertuanya melakukan hal konyol.
"Kenapa?" tanya Damian.
Ainsley memandangi suaminya dan setelah itu dia berkata, "Oh, aku jadi ingin melihat kalian melakukan apa yang aku lihat di mimpiku itu," ucapnya.
Tiba-Tiba saja Damian dan ayahnya punya firasat buruk, mereka berdua bahkan saling pandang apalagi Ainsley terlihat bersemangat sambil memandangi mereka.
"Dam-Dam, kau mau bukan melakukan apa yang ada di mimpiku? Daddy juga, Daddy mau bukan?" tanya Ainsley dengan ekspresi wajah penuh harap.
"Katakan apa yang kau impikan? Jika aneh maka aku tidak mau!" tolak Damian.
"Please, aku sangat ingin melihatnya," Ainsley mulai memohon.
"Katakan, permintaan orang hamil tidak boleh ditolak," Jager masih terlihat santai bahkan sedang meneguk minumannya tapi ketika Ainsley mengatakan apa yang dia inginkan, teh yang ada di mulut tersembur keluar, sedangkan Damian terbatuk dan tersedak roti bakar. Apa Ainsely tidak bercanda?
"Kalian mau melakukannya, bukan?" Ainsley memandangi mereka dengan tatapan mata berbinar.
"Jangan bercanda, Sayang. Kau bisa meminta hal lain," ucap Damian setelah meneguk air dengan cepat.
"Aku tidak mau hal lain, aku hanya mau itu."
"Dad?" Damian memandangi ayahnya.
"Oh, tiba-tiba saja aku sakit pinggang!" Jager pura-pura sambil memegangi pinggangnya.
"Jangan pura-pura, Dad!"
"Ayolah, please," Ainsley memohon.
"Minta yang lain saja, oke?" pinta Damian. Bagaimanapun dia tidak mau melakukan apa yang diminta oleh istrinya.
"Baiklah, aku mau pulang saja. Kakek pasti mau mengabulkan permintaanku," Ainsley menunduk, pura-pura sedih.
"Jangan, akan kami lakukan," ucap Jager dengan cepat. Jangan sampai keluarga Ainsley mengira mereka tidak menyayangi Ainsley sehingga permintaannya di saat dia sedang hamil saja tidak mau mereka turuti.
"Thanks, Dad. Aku jadi tidak sabar."
Damian melotot, wajah Ainsley terlihat berseri. Dia bahkan sudah terlihat tidak sabar untuk melihat apa yang ada di mimpinya. Damian dan Jager tidak bisa mengelak, seharusnya mereka tidak bertanya. Lebih baik tidak tahu tapi rasa penasaran membuat mereka mau tidak mau harus mengabulkan permintaan Ainsley.
Damian menghela napas saat mengingat permintaan istrinya kembali. Harry semakin heran dibuatnya tapi dia rasa Damian tidak akan menjawab jika dia bertanya.
"Damian, bagaimana keadaan Sherly setelah kejadian itu?" Harry mengalihkan pembicaraan, dia hanya ingin tahu keadaan mantan tunangannya itu.
"Apa kau mengkhawatirkannya?" Damian balik bertanya.
"Tidak, jangan salah paham. Aku ingin tahu kau mengirimnya ke penjara mana dan berapa tahun dia akan mendekam di penjara."
"Sebenarnya," Damian menghentikan ucapannya sejenak, "Dia sudah mati!" ucapnya lagi.
"Benarkah? Apa dia terbunuh karena kejadian itu?" tanya Harry.
"Anggap saja demikian. Yang pasti dia tidak akan mengganggu kalian lagi."
"Baiklah, itu lebih baik dari pada dia di penjara. Setelah bebas dia pasti bisa jadi ancaman kembali!"
Damian tersenyum, dia lupa mencari tahu Sherly di makan olah binatang apa tapi yang pasti tidak ada yang berakhir baik. Setelah bertanya tentang Sherly, mereka membicarakan pekerjaan karena itulah tujuan mereka.
Mereka berada di cafe itu cukup lama sampai akhirnya mereka memutuskan untuk kembali tapi mereka akan kembali bertemu untuk membahas kerja sama mereka lebih lanjut. Mereka berpisah di cafe, Harry kembali ke kantor, sedangkan Damian kembali ke rumah karena dia harus mengabulkan permintaan istrinya.