Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Rasa Iri Mayumi



Mayumi membawa beberapa berkas yang harus dia berikan pada Damian saat itu. Dia sudah terbiasa semenjak bekerja di tempat itu. Tentu Damian meminta seseorang mengajari Mayumi, dia tidak ingin terlalu dekat dengan sahabat baiknya agar tidak ada yang salah paham dengan hubungan mereka berdua.


Pintu di ketuk dengan perlahan, suara Damian terdengar dari dalam sana. Mayumi tersenyum dan mendorong pintu tapi senyumnya langsung hilang ketika melihat Ainsley berada di dalam sana. Kapan gadis itu datang?


Padahal dia mau mengajak Damian makan siang berdua tapi sepertinya Damian akan menolak karena akan pergi dengan Ainsley.


"Hai," Ainsley menyapa sambil melambaikan tangan, bahkan gadis itu tersenyum dengan manis.


"Kapan kau datang?" tanya Mayumi.


"Baru saja, aku mau mengajak Damian makan siang, apa kau mau ikut?"


"Hm!" Damian berdehem, Kenapa Ainsley mengajak Mayumi?


Ainsley dan Mayumi melihat ke arahnya, dan setelah itu Mayumi mendekati meja Damian untuk memberikan berkas yang dia bawa.


"Aku tidak ikut, aku sudah ada janji akan makan bersama dengan karyawan lain," ucap Mayumi.


"Wah, sayang sekali. Mungkin lain kali kita bisa makan siang bersama," Ainsley kembali tersenyum, dia mengajak Mayumi karena gadis itu adalah sahabat Damian.


"Ya, tapi tidak hari ini. Aku tinggal dulu, banyak pekerjaan," ucap Mayumi seraya beranjak pergi.


"Baiklah, selamat bekerja," Ainsley tersenyum dan setelah Mayumi pergi, Ainsley kembali memainkan ponsel-nya karena sedari tadi dia memang sedang mengirim pesan pada kliennya.


Damian beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu, Ainsley hanya melihatnya sekilas dan setelah itu dia kembali melihat layar ponsel-nya. Suara pintu yang dikunci membuat Ainsley kembali melihat ke arah Damian, sedangkan pria itu berjalan menghampirinya.


"Kenapa kau kunci?" tanya Ainsley.


"Agar tidak ada yang masuk dan mengganggu kita," jawab Damian dengan santai.


"Why?" tanya Ainsley tidak mengerti.


Damian kembali tersenyum, pria itu duduk di samping Ainsley. Tentu dia tidak ingin ada yang menggangggu kebersamaan mereka karena mereka jarang bisa bedua.


Jika di rumah, dia tidak leluasa karena ada ayahnya yang selalu ingin tahu dan jika di rumah Ainsley tidak mungkin karena ada keluarganya. Dia tidak boleh menyia-menyiakan kesemapatan yang ada untuk menghabiskan waktu bersama dengan kekasihnya yang manis.


"Aku ingin menghabiskan waktu berdua denganmu, Ainsley," Damian memeluk pinggang Ainsley dan mencium pipinya.


"Sebab itu kau tidak mau Mayumi mengikuti kita makan siang?" tanya Ainsley seraya mengusap kepalanya.


"Yes, aku hanya ingin berdua denganmu!"


Senyum Ainsley mekar, matanya juga terpejam karena Damian sedang mendaratkan ciuman-ciuman lembut di wajahnya.


Damian mencium dahinya, pipi lalu kecupan lembut mendarat di bibir Ainsley. Mereka bedua saling pandang lalu mereka kembali berciuman.


TEST TEST, GAK NAIK LANGSUNG CABUT!


Kedua tangan Ainsley sudah melingkar di tubuh Damian, sedangkan tangan Damian mengusap punggungnya dengan lembut.


Ciuman ringan mereka menjadi serius, jantung Ainsley berdegup kencang karena Damian sedang membuka kancing kemeja yang dia pakai.


Ciuman mereka terlepas, untuk mengambil napas tapi tangan Damian masih sibuk membuka kancing kemejanya.


"Dam-Dam, ini di kantor," ucap Ainsley dengan napas berat dan wajah memerah.


"Apa kau keberatan?" tangan Damian berhenti, matanya menatap Ainsley dengan lekat. Jika Ainsley keberatan maka dia akan berhenti.


"Bukan begitu, setelah makan aku harus kembali ke kantor."


"Sebentar saja. Boleh, bukan?"


Ainsley menggigit bibir tapi kemudian dia mengangguk tanda dia setuju. Damian tersenyum, dia kembali mencium pipi Ainsley dan kembali melepaskan kancing kemeja Ainsley.


"Ainsley," Damian berbisik di telinganya, bra yang dia pakai sudah jatuh di atas lantai.


Wajah Ainsley semakin memerah apalagi saat Damian membaringkannya di atas sofa.


Damian tersenyum dan memandanginya begitu lama, tidak saja memandangi wajahnya yang cantik tapi Damian juga memandangi tubuhnya yang indah.


"Dam...,"


"Sssttt!" Damian menunduk dan mencium bibirnya. Kedua tangan Ainsley sudah memeluk leher Damian, dia tidak mau memikirkan apa pun karena dia ingin menikmati kebersaam mereka.


******* Ainsley terdengar saat tangan Damian bermain di sana dan memberikan remasan lembut. Bahkan jarinya juga sibuk.


Ainsley bergerak gelisah, bahkan kedua kakinya juga bergerak gelisah. Bibir Damian bergerak ke bawah, menjelajahi setiap jengkal tubuhnya.


Napas Ainsley memburu, desahannya terdengar. Kedua tangannya sibuk meremas rambut Damian dan menekan kepala Damian karena saat itu Damian bagaikan bayi besar yang kelaparan.


"Dam-Dam," Ainsley memanggilnya dengan suara berat.


Damian mengumpat dalam hati. Sial! Dia sungguh tidak ingin berhenti, rasanya ingin melakukan lebih dari pada itu tapi mereka sedang berada di kantor. Sepertinya dia harus mengajak Ainsley jalan-jalan agar tidak ada yang mengganggu mereka berdua.


Damian menghentikan kegiatannya, mereka berdua terengah-engah karena gairah yang membakar tubuh mereka tapi sayangnya mereka tidak bisa melakukan lebih dari itu.


Mereka berdua saling pandang dengan senyum mengembang di wajah mereka. Damian mengusap wajah Ainsley dan mendaratkan ciuman di pipinya.


"Bagaimana jika kita pergi jalan-jalan berdua?" tanyanya sambil berbisik


"Berdua saja?" tanya Ainsley.


"Hm, mau bukan?"


"Tentu, tapi pergi ke mana?"


"Kita pikirkan nanti," Damian menarik tangan Ainsley hingga gadis itu duduk di atas sofa. Mereka duduk saling berhadapan karena saat itu Damian akan memakaikan baju Ainsley kembali.


Bra adalah benda pertama yang dia pakaikan, Ainsley diam saja apalagi saat Damian kesulitan memakaikannya. Biarkan saja pria itu berusaha, jangan hanya bisa melepas tapi tidak bisa memakaikannya kembali.


Cukup lama Damian berusaha, akhirnya dia berhasil. Sepertinya dia harus banyak berlatih akan hal ini.


Setelah memakaikan bra Ainsley, Damian memakaikan kemeja Ainsley. Itu bukan hal sulit, Ainsley sudah terlihat rapi.


Mereka berdua kembali tersenyum, sebelum mengajak Ainsley untuk pergi makan, Damian kembali mendekatinya dan memberikan ciuman di pipi.


"Ayo kita pergi makan," ajaknya.


"Hm, aku harus kembali ke kantor untuk menemui klien setelahnya," jawab Ainsley.


"Jika begitu jangan menunda," Damian beranjak begitu juga Ainsley.


Sebelum pergi Ainsley pergi ke kamar mandi terlebih dahulu untuk melihat penampilannya. Jangan sampai ada tanda di tubuhnya dan dilihat oleh orang lain karena dia akan malu. Dia tampak lega karena tidak ada, itu karena Damian membuatnya di tempat tersembunyi.


Ainsley keluar setelah selesai, dia menghampiri Damian dan sudah menunggu.


"Sudah selesai?" tanya Damian seraya menghampirinya.


"Hm," Ainsley mengangguk dan mengambil tasnya.


"Ayo kita pergi," Damian merangkul pingggangnya.


Mereka berdua keluar dari ruangan dan melangkah menuju lift. Mayumi melihat mereka dari jauh dengan tatapan iri, itu karena dia sangat merindukan kekasihnya yang belum ada kabar.


Mata Mayumi tidak lepas dari Damian dan Ainsley yang terlihat mesra sampai mereka masuk ke dalam lift. Kapan dia bisa seperti itu? Jujur saja, dia sangat ingin seperti mereka tapi keberadaan kekasihnya, tidak ada yangg tahu. Apa dia sudah mati, atau masih hidup.