Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Damian Dan Keluarga Barunya



Hari ini, Damian dan Ainsley berencana pergi mengunjungi keluarga baru Damian. Mereka sudah kembali dari bulan madu, mereka juga akan membawa buah tangan yang mereka beli saat di Paris. Setelah dari Maldive Island, Ainsley mengajak suaminya pergi ke Paris untuk belanja. Mereka berada di sana hanya dua hari dan setelah itu mereka pulang.


Pekerjaan yang Damian tinggalkan selama sebulan lebih menjadi menumpuk. Tentunya dia langsung menyibukkan diri di kantor. Ainsley juga demikian, walau dia bekerja di perusahaan keluarganya tapi dia tetap mengikuti aturan. Lagi pula Damian tidak keberatan istrinya bekerja, Ainsley juga tidak melakukan apa pun di rumah. Jadi tidak ada salahnya Ainsley bekerja selama mereka belum memiliki seorang bayi.


Sesuai rencana, siang ini Damian akan menjemput istrinya dan setelah itu mereka akan pergi ke rumah keluarga Windstond. Damian tidak mengatakan pada keluarga barunya jika dia akan datang, dia memang sengaja karena dia ingin melihat reaksi mereka saat melihat kedatangannya.


Walau sibuk, tapi mereka tetap meluangkan waktu. Sebelum pergi ke rumah keluarga Windstond, mereka akan pergi makan siang berdua.


Ainsley sudah menunggu saat itu, beberapa pekerjaan sudah dia selesaikan. Dia sudah meminta ijin untuk pergi selama beberapa jam dan akan kembali saat jam tiga sore nanti. Tentunya dia meminta ijin pada atasannya yang mulai mengetahui siapa dia sebenarnya.


Dia sudah menunggu di luar, senyum mengembang di wajah ketika melihat mobil suaminya berhenti tidak jauh darinya. Ainsley melangkah dengan terburu-buru, dia tidak berhenti tersenyum sampai dia masuk ke dalam mobil.


"Apa kau sudah lama menunggu?"


"Tidak," jawab Ainsley seraya memberikan kecupan ringan di bibir suaminya.


"Jika begitu kita pergi makan terlebih dahulu."


Ainsley mengangguk, memang mereka harus pergi makan terlebih dahulu. Dia tidak mau seperti orang kelaparan nanti di rumah keluarga Harry. Entah bagaimana  keadaan pria itu saat ini, semoga saja mereka diterima dengan baik nanti jika tidak, maka dia tidak akan mengijinkan Damian pergi ke rumah mereka lagi.


Setelah selesai makan, mereka pergi ke rumah keluarga Windstond. Sesungguhnya Damian enggan karena dia canggung tapi ayahnya berkata, dia harus mencoba mengunjungi mereka walau sesungguhnya tidaklah penting. Bagaimanapun Jager ingin Damian dekat dengan keluarga ayahnya.


Mereka sudah berdiri di depan pintu, mereka berdua terlihat ragu tapi pada akhirnya, bel ditekan karena mereka tidak bisa lama dan harus segera kembali ke kantor.


PIntu terbuka, seorang wanita cantik keluar dari pintu. Wanita itu menatap mereka dengan tatapan heran, Ainsley tersenyum dan melambaikan tangan, wajah yang asing dan mereka tidak kenal.


"Hai," sapa Ainsley.


"Apa kau kakakku?" wanita itu bertanya pada Damian.


"Apa kau adik Harry?" tanya Ainsley pula.


"Yes," wanita itu tampak tersenyum.


"Jadi benar dia kakakku yang lain?"


Ainsley mengangguk, wanita itu terlihat senang dan tanpa mereka duga, wanita itu memeluk Damian dengan ekspresi senang.


"Wah, aku tidak menyangka akan bertemu denganmu secepat ini, Kakak," ucapnya. Baiklah, ternyata dia adik Harry yang sudah menikah dan dia terlihat tidak seperti yang lainnya.


"Hm, jadi kau adikku?" tanya Damian, canggung. Rasanya sangat berbeda saat dengan Vivian, mungkin dia belum terlalu mengenal mereka.


"Yes, aku Isabel. Aku benar-benar tidak menyangka dapat bertemu denganmu secepat ini," ucap Isabel.


"Bella, siapa yang datang?" terdengar suara ibunya dari dalam sana.


"Mom, kakak sudah datang!" teriak Isabel.


Renata mengernyitkan dahi, kakak? Apa yang ada di luar sana adalah Damian? Rasanya tidak mungkin, bukankah anak itu tidak menyukai mereka?


Renata keluar dan tampak tidak percaya, melihat putra suaminya berada di luar bersama dengan istrinya. Dia tampak canggung, mungkin dulu dia akan langsung mengusir tapi sekarang dia harus bersikap baik apalagi selama ini merekalah yang terlalu takut dan yang selalu mencari gara-gara.


"Ayo masuk, kenapa berdiri di luar saja?" tanya Renata.


"Maaf Aunty jika kami mengganggu," ucap Ainsley.


"Tidak, masuklah," jawab Renata.


"Jadi kau kakak iparku?" Isabel menggandeng tangan Ainsley, dia benar-benar jauh berbeda dengan yang lain.


"Ya, aku tidak tahu jika Harry punya adik perempuan."


"Ck, Kak Harry memang menyebalkan. Dia tidak pernah mau mengenalkan aku!" gerutu Isabel.


Harry menghampiri mereka, dia juga memanggil Damian. Tidak saja Harry, Aland Windstond terlihat senang karena cucunya mau datang ke rumah mereka setelah perlakuan buruk yang telah mereka lakukan. Walaupun awalnya canggung, tapi Damian mulai terbiasa dengan mereka, itu karena mereka memperlakukan dirinya dengan baik.


Dia bahkan terlihat berbincang dengan ayahnya, setidaknya ini awal yang bagus bagi mereka. Perlakuan dan kata-kata tidak menyenangkan juga tidak mereka ucapkan lagi.


"Bagaimana dengan keadaanmu, Harry?" tanya Damian, dia ingin tahu bagaimana dengan operasi yang dijalani oleh kakaknya itu.


"Aku baik-baik saja,  terima kasih. Berkat kau kami bisa selamat dari kegilaan Sherly."


"Tidak perlu dipikirkan, memang sudah kewajibanku menyelamatkan kalian."


"Hng, kau terlalu baik padahal kami telah melakukan hal yang tidak menyenangkan padamu."


"Lupakan saja, sekarang kalian begitu baik padaku."


"Karena kau putra Daddy, maka perusahaan itu juga perusahaanmu. Kau bisa?" ucapaan Harry terhenti.


"Tidak! Aku tidak menginginkan apa pun!" sela Damian.


"Apa yang sudah menjadi milikmu akan tetap menjadi milikmu, kau tidak perlu membaginya denganku karena aku sudah memiliki semuanya dari ayahku."


"Kau serius tidak menginginkan apa pun?" Harry memandanginya dengan lekat.


"Tidak, sejak awal aku memang tidak menginginkan apa pun."


"Baiklah, sering-seringlah pulang dengan Ainsley dan menginap. Mulai sekarang kita menjadi keluarga," mata Harry berpindah ke Ainsley yang saat itu terlihat akrab dengan adik dan juga ibunya.


Ainsley memberikan buah tangan yang dia bawa, dia tidak tahu jika Harry memiliki seorang adik perempuan dan dia juga tidak tahu jika mereka akan bertemu dengan Isabel. Dia hanya membawakan makan yang mereka beli di Paris, dia juga membawakan sebuah tas mahal yang dia beli untuk ibu Harry.


Karena dia tidak mau mengecewakan Isabel apalagi dia tidak sama dengan yang lain, Ainsley memberikan gelang yang dia beli di Paris. Harganya tidak perlu di tanya, tapi dia tidak mempermasalahkan hal itu.


"Kau beruntung bisa mendapatkan dirinya," ucap Harry, semoga dia bisa seberuntung Damian.


"Ayolah, masih banyak wanita di luar sana. Kau pasti akan mendapatkan yang terbaik."


"Kau benar, lagi pula aku yang terlalu terobsesi dengannya."


Mereka masih berbincang, Aland bahkan menanyakan bagaimana kehidupan Damian selama ini. Tentu Damian sangat membanggakan ayahnya, Jager Maxton. Ucapan maaf kembali terlontar dari Carl, dia benar-benar merasa bersalah pada Damian dan juga pada keluarganya. Dia ingin meminta maaf pada Sayuri tapi sayangnya, Damian berkata ibunya sudah meninggal.


Mereka berbincang cukup lama, Ainsley dan Damian menolak saat mereka ditawari makan. Mereka berpamitan pergi karena mereka harus kembali ke kantor. Setidaknya mereka diterima dengan baik di rumah itu. Aland bahkan meminta mereka untuk datang lagi dan mengundang mereka untuk makan malam.


"Tolong ajak ayahmu untuk datang dan makan malam bersama kami," pinta Aland. Bagaimanapun mereka juga mereka harus meminta maaf pada Jager Maxton.


"Aku tidak yakin Daddy mau, tapi aku akan berusaha membujuknya," ucap Damian.


"Aku sangat berharap dia mau datang karena kami ingin meminta maaf padanya."


"Akan aku usahakan, Kakek."


Aland tersenyum, mereka melepas kepergian Damian dan Ainsley dengan senyuman. Hubungan seperti ini memang jauh lebih baik. Mereka memang sudah salah sejak awal, tanpa mempedulikan perasaan Damian, mereka berbuat sesuka hati dan ternyata, Damian tidak membenci dan memiliki dendam bahkan dia sudah tidak membenci ayahnya padahal dulu sangat membenci ayahnya.


Harry melangkah masuk, sedangkan Isabel mengikutinya. Dia sudah banyak tahu dari ibunya, sebab itu dia kembali untuk melihat keadaan mereka.


"Kak, apa mau aku kenalkan dengan sahabat suamiku?" goda Isabel.


"Tidak sudi! Apa kau kira aku tidak bisa cari pacar?"


"Ayolah, aku akan membawakan yang cantik untuk kakak."


"Ck, urus dirimu baik-baik!" gerutu Harry. Dia masuk ke dalam kamarnya. Mencari pacar? Sepertinya sudah harus dia lakukan.


Bab bulan madu di tolak. Vulgar guys, wkwkwkwkwkw.... Ya sudahlah, Toh bentar lagi Tamat. Gw akan merem setiap kali ditolak. 😁