
Damian masuk ke dalam restoran bersama Mayumi, matanya mencari sosok gadis yang ingin dia temui siang ini. Ainsley mengangkat tangan dan melambaikannya agar Damian melihat keberadaannya. Damian tersenyum saat melihatnya, jujur dia masih memikirkan panggilan sayang yang diucapkan oleh Ainsley tadi.
Damian melangkah mendekati meja di mana Ainsley berada begitu juga dengan Mayumi yang mengikutinya dari belakang. Wanita itukah yang bernama Ainsley? Mata Mayumi tidak lepas dari Ainsley begitu juga dengan Ainsley. Mereka saling memandang dan dalam hati mereka muncul satu pertanyaan, siapa gadis itu?
"Ainsley, apa kau sudah lama menunggu?" tanya Damian.
"Tidak, aku baru saja tiba," jawab Ainsley sambil tersenyum.
"Ini titipan dari Daddy, tolong berikan pada adikku," Damian meletakkan barang yang dia bawa ke atas meja dan mendorong benda itu mendekati Ainsley.
"Akan aku berikan tapi apa kau tidak mau duduk dulu dan mengenalkan gadis itu padaku?" tanya Ainsley sengaja.
"Oh, tentu saja," Damian menarik sebuah kursi dan duduk di sana, begitu juga dengan Mayumi.
"Jadi, siapa gadis ini?" Ainsley melihat ke arah Mayumi dengan ekspresi ingin tahu.
"Aku Mayumi Ichimura," jawab Mayumi memperkenalkan dirinya.
"Hai, aku Ainsley, Ainsley Smith," Ainsley mengulurkan tangannya dan tentunya di jabat dengan hangat oleh Mayumi.
"Hai," sapa Mayumi sambil tersenyum.
"Apa kau pacarnya?" tanya Mayumi karena dia sangat ingin tahu apalagi ayah Damian berkata jika Ainsley adalah calon menantunya.
"Hei, itu pertanyaanku! Apa kau pacarnya?" tanya Ainsley pula.
"Tidak, kami hanya teman," jawab Mayumi.
"Jika begitu kita sama," Ainsley tersenyum saat mengatakan hal itu.
Damian diam saja tapi matanya tidak lepas dari kedua gadis itu. Jadi dia hanya teman? Oke baiklah, sedangkan Mayumi melihat Ainsley dengan penuh selidik, jika gadis itu bukan pacar Damian lalu siapa pacar yang selalu disebutkan oleh Damian?
"Ainsley, Mayumi baru di sini, maukah kau berteman dengannya?" pinta Damian.
"Tentu saja, aku tidak keberatan," jawab Ainsley.
"Thanks, aku tidak akan lama di sini. Aku sangat senang bisa berteman denganmu," ucap Mayumi.
"Sudahlah, tidak perlu sungkan. Karena kau teman Damian jadi kau temanku juga."
"Hm, kau berkata seperti ini seolah-olah kau adalah pacarnya," ucap Mayumi sengaja karena dia ingin melihat reaksi mereka. Sepertinya wanita itu yang disukai Damian. Jangan-jangan Damian tidak punya pacar tapi menyukai gadis itu secara diam-diam.
"Jangan salah paham!" ucap Damian dan Ainsley secara bersama-sama.
"Mayumi, Ainsley adalah adik iparnya adikku. Jadi jangan asal bicara. Kami sudah seperti keluarga," ucap Damian.
"Sorry," ucap Mayumi. Hubungan yang sedikit rumit. Apa karena hubungan rumit itu yang membuat Damian hanya bisa menyukai Ainsley secara diam-diam? Ini hanya perkiraannya saja karena dia curiga demikian.
"Ainsley, apa pria itu mengganggumu lagi?" tanya Damian ingin tahu.
"Hm, ya. Aku sudah terbiasa diganggu oleh Harry. Maaf soal panggilan tadi," Ainsley merapikan rambutnya dan tersipu malu.
Harry? Jadi pria itu bernama Harry. Dia jadi ingin tahu, kenapa Ainsley menolaknya?
"kenapa dia mengganggumu?" tanya Damian.
"Cinta ditolak, kau tahu? Karena aku membatalkan kencan yang telah kami buat secara sepihak membuat Harry tidak terima dan terus mengejarku sampai membuat aku muak. Aku tidak suka dikejar secara berlebihan jadi aku tidak suka dengannya!"
"Apa perlu aku membantumu untuk menyingkirkannya?"
Ainsley memandangi Damian dengan serius dan setelah itu dia bertanya, "Apa kau mau pura-pura jadi pacarku?"
"Jika kau tidak keberatan," jawab Damian seraya mengangkat bahu.
"Oh Dam-Dam, aku tahu kau bisa aku andalkan. Jika dia bertemu denganmu, mungkin dengan begitu dia tidak akan mengejar aku lagi," Ainsley tersenyum dengan manis, semoga saja Harry menyerah setelah bertemu dengan Damian tapi sayangnya, akan terjadi masalah baru untuk Damian nanti yang tidak akan bisa dia hindari dan harus dia hadapi cepat atau lambat.
Mereka berbincang dan memesan makanan. Ainsley dan Mayumi akrab dengan cepat. Ainsley gadis yang mudah berteman dengan siapa saja tapi kalau dia sudah tidak suka, jangan harap dia akan basa basi dengan orang itu.
Selama makan, Damian teringat dengan pesan ayahnya. Rasanya tidak enak hati karena akan merepotkan Ainsley tapi dia harus menyampaikan pesan itu pada Ainsley.
"Kenapa?"
"Daddy memintamu datang ke rumah dan ingin mengajakmu main catur."
Ainsley mengernyitkan dahi, aneh. Tumben ayah Damian mengajaknya main catur? Jujur saja mereka belum pernah melakukannya.
"Apa kau bisa?" tanya Damian.
"Oh, tentu saja. Besok akhir pekan, aku akan ke rumahmu," jawab Ainsley.
"Aku akan menjemputmu."
"Tidak perlu, aku akan ke sana sendiri," tolak Ainsley.
"Ainsley, biarkan aku menjemputmu!" Damian menekan ucapannya.
"Jangan menolak, Ainsley. Aku tidak akan ikut," ucap Mayumi.
"Oke, baiklah," jawab Ainsley mengiyakan.
Damian tersenyum, sepertinya ayahnya akan senang saat dia tahu jika Ainsley akan datang besok. Tapi apakah ayahnya saja yang akan senang? Lalu bagaimana dengan dirinya?
Mereka kembali berbincang seperti biasa, membahas pekerjaan dan setelah selesai, mereka berpisah di restoran. Damian ingin mengantar Ainsley kembali tapi gadis itu menolak karena dia harus pergi menemui klien. Ainsley tidak mau merepotkan Damian apalagi supir pribadinya sudah menunggu.
Setelah mereka berpisah, Damian menghubungi ayahnya dan mengatakan jika Ainsley akan datang ke rumah mereka besok. Tentu kabar itu membuat Jager senang, dan dia akan membuat suatu rencana untuk mendekatkan putranya dengan Ainsley.
Ponsel diambil dan tentunya yang dia hubungi adalah Vivian. Dia ingin putrinya tahu akan hal itu dan memberinya ide.
"Ada apa, Dad?" tanya Vivian.
"Vivi, apa kau masih di rumah mertuamu?" tanya ayahnya.
"Yes, ada apa?" tanya Vivian.
"Dengar, kakakmu baru saja mengajak gadis jepang itu untuk bertemu dengan Ainsley."
"Lalu?" tanya Vivian tidak mengerti.
"Ck, aku tidak percaya mereka tidak penasaran setelah mereka bertemu!"
"Jadi, Daddy ingin aku memanasinya?" tanya Vivian.
"Yes, kau bilang ada yang mendekati Ainsley, bukan?" tanya ayahnya pula.
"Yeah, aku pernah dengar dia menyebut nama Harry saat sedang berbicara dengan seseorang."
"Good, sungguh waktu yang tepat. Gadis Jepang itu datang dan pria bernama Harry itu muncul. Kau tahu apa yang harus kau lakukan, bukan?"
"Sepertinya aku mencium ide licik di sini!" ucap Vivian sambil terkekeh.
"Jika menunggu kakakmu yang payah dan tidak punya pengalaman dengan wanita itu, sampai dia tua juga tidak akan menikah!"
"Tapi kenapa harus Ainsley, Dad? Jika Kak Damian suka dengan gadis Jepang itu maka biarkan saja."
"No, menantuku harus Ainsley Smith, tidak boleh yang lain!" jawab ayahnya, sedangkan Vivian kembali terkekeh.
"Baiklah, jadi kita yang harus mendekatkan mereka?"
"Yes, kau mau membantu Daddy, bukan?" tanya ayahnya.
"Serahkan padaku, demi menantu idaman Daddy aku akan membantu!"
"Oh, good girl. Daddy bangga memilikimu."
Mereka berdua membuat rencana tapi tidak mereka saja yang punya rencana, di tempat lain Harry juga punya rencana untuk mendapatkan Ainsley. Dia tidak boleh diam saja apalagi Ainsley sudah punya pacar. Ini sebuah ancaman baginya, dia harus bertemu dengan pacar Ainsley dan mencari tahu tentangnya tapi ketika dia sudah tahu nanti, apakah dia akan menyerah? Saat itu tidak lama lagi akan tiba di mana dia dan Damian akan saling bertatap muka.