Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
It's Show Time



Aland Windston terlihat tidak berdaya. Dia sungguh tidak menyangka cucu sahabat yang dia bela dan dia sayangi selama ini memperlakukan mereka dengan begitu keji hanya karena Harry mengakhiri hubungan mereka. Mereka semua sudah tidak berdaya tapi yang paling banyak mendapat luka adalah Harry.


Carl mendapat dua tusukan di perut, sedangkan Renata satu tusukan di dada. Penampilannya sudah terlihat kacau, rambutnya dipotong oleh Sherly sehingga berantakan. Aland tak luput dari keberingasan Sherly, pria itu juga mendapat sebuah tusukan.


Sherly pergi setelah melakukan hal itu, dia sengaja memberikan tusukan pada mereka agar mereka mati kehabisan darah dan agar mereka saling pandang saat mereka akan merenggang nyawa.


Darah mereka menggenangi lantai, mereka benar-benar dalam keadaan kristis. Renata memandangi putranya yang sudah tidak bergerak dengan tatapan sayu, dia juga memandangi suaminya yang tampak menunduk. Apa mereka akan mati di sana?


Entah kenapa dia jadi merindukan putrinya saat itu. Semoga ada yang menemukan mayat mereka sehingga putrinya tidak perlu mencari keberadaan mereka. Rasanya malaikat maut sudah berdiri dihadapan mereka dengan sabit panjangnya. Sabit tinggal diayunkan maka mereka akan mati tapi dia masih mengharapkan sebuah keajaiban, dia berharap ada yang datang menolong mereka.


Di luar sana, helikopter yang membawa Damian dan Ainsley sudah mendekati pabrik tua yang sudah tidak terpakai. Agar tidak ketahuan, mereka akan turun dari atas helikopter dengan jarak yang lumayan jauh dari pabrik lalu mereka akan menyergap pabrik itu secara diam-diam.


Damian dan Ainsley sudah bersiap, tentu anak buahnya sudah turun terlebih dahulu. Mereka akan menyelusuri hutan untuk mendekati pabrik, lalu menyergap musuh yang ada di sana.


Ainsley sudah bertukar pakaian, dia terlihat begitu bersemangat karena ini aksi pertamanya bersama dengan sang suami. Dia tidak menyangka akan mempunyai kesempatan seperti ini, dia juga akan memperlihatkan pada Harry jika dia bukan gadis lemah lembut seperti yang dia tunjukkan selama ini.


Damian sedang mengaitkan sebuah pengait ke tubuh istrinya, mereka akan turun secara bersama-sama nantinya. Dia harap mereka dapat menyelesaikan semua ini dengan cepat.


"Jangan jauh-jauh dariku," ucap Damian sambil memasang pengait tali yang belum terpasang.


"Tentu, ini pertama kalinya kita akan beraksi dan aku sudah tidak sabar," Ainsley benar-benar bersemangat.


"Hei, sisi lemah lembutmu jadi hilang."


"Inilah aku, Dam-Dam. Kau tidak keberatan, bukan?"


Damian tersenyum, setelah pengait terpasang, Damian merapat tubuh mereka berdua dan mengusap wajah istrinya dengan lembut.


"Tentu tidak! Aku suka dirimu yang seperti ini, aku juga suka sisi lemah lembutmu. Terkadang kau memberikan aku masukan yang bijak, aku suka semua yang ada padamu sebab itu aku jatuh cinta padamu," ucapnya.


"Thanks," Ainsley melingkarkan kedua tangannya di leher Damian.


Usapan lembut di pipi kembali diberikan dan setelah itu, Damian mencium bibir istrinya degan mesra. Rasanya ingin cepat pulang tapi mereka harus menyelamatkan keluarga ayahnya terlebih dahulu.


"Sudah waktunya!" ucap Damian.


Ainsley mengangguk dan setelah itu mereka berdua turun dari atas helikopter secara bersama-sama. Hutan yang gelap tidak menjadi penghalang, mereka bergerak maju setelah helikopter pergi.


Senter yang ada di senjata api mereka menjadi penerang, mereka bergerak waspada menuju lokasi. Anak buah Damian bergerak terlebih dahulu, mereka bergerak menyelinap dari satu pohon ke pohon lain karena mereka harus waspada terhadap musuh.


Jarak mereka semakin dekat, mereka pun semakin waspada. Pabrik yang ditinggalkan tidak begitu besar, hal itu bisa mempermudah mereka menemukan keluarga Windstond.


Mereka kembali bersembunyi di balik pohon saat jarak mereka dengan pabrik tinggal beberapa meter lagi. Mereka sudah menyusun strategi sebelum datang. Mereka akan berpencar dan mengepung pabrik itu, mereka akan menyergap musuh dari segala sisi agar musuh tidak berkutik.


Seorang anak buah Damian sedang mengintip dari balik pohon, dia bertugas melihat situasi di depan bangunan itu. Tiga anak buah Akira sedang berjaga dan tampak mabuk, mereka tidak tahu jika musuh sedang mengintai mereka saat itu.


Damian juga melihat situasi menggunakan sebuah teropong, musuh terlihat lengah karena mereka pikir tidak akan ada yang datang. Mereka hanya bertugas membantu Sherly dan akan pergi besok pagi.


Damian memberikan kode kepada anak buahnya sebagai tanda jika mereka sudah boleh berpencar. Anak buahnya segera bergerak, menyelinap dari pepohonan besar yang ada di sekitar bangunan. Anak buah yang sedang mengintai ditugaskan untuk menembak ketiga orang yang sedang mabuk di depan sana.


Sebuah senjata api laras panjang sudah siap. target pertama juga sudah terbidik. Ketiga anak buah Akira yang mabuk masih belum menyadari keberadaan musuh. Mereka masih tertawa tanpa menyadari sebuah peluru sudah melesat dengan cepat dan menembus salah satu kepala dari mereka.


Salah satu dari mereka tumbang, sedangkan yang lain terkejut. Mereka belum mengerti dengan situasi tapi lagi-lagi sebuah peluru sudah melubangi kepala yang lainnya.


"Kita diserang!" anak buah yang tersisa berteriak. Sontak teriakannya membuat yang lain waspada, begitu juga dengan Sherly.


"Apa maksudnya?" tanya Sherly dengan cepat.


"Tidak mungkin!" Sherly tampak tidak percaya. Siapa yang mau datang menolong kerluarga itu?


Dia bergegas, apa lagi suara tembakan sudah terdengar di luar sana. Apa ada yang melaporkan perbuatannya pada polisi sehingga para polisi menyergap tempat itu?


"Let's go, it's show time!" ucap Damian seraya mengangkat dua senjata apinya.


Ainsley juga melakukan hal yang sama, mereka melangkah maju bersama-sama, tentu anak buah mereka berjalan di depan. Anak buah Akira yang berjaga di tempat itu keluar dan mulai menembaki mereka, begitu juga dengan para penjahat jalanan yang Sherly bayar.


Adu tembak mulai terjadi, Damian dan Ainsley melangkah maju sambil menembak. Damian menebak yang bagian kiri, sedangkan Ainsley yang bagian kanan. Mereka tidak takut sedikitpun, mereka terus melangkah maju sambil menembaki musuh.


Di dalam sana, Sherly panik luar biasa. Bagaimanapun ini di luar rencana, sebaiknya dia menyelinap pergi.


"A-Ada apa itu?" tanya Renata dengan suara lemah. Matanya melihat keluar pintu, apa ada yang datang menolong mereka?


Suara tembakan masih terdengar, Sherly kelabakan karena tempat itu sudah terkepung. Anak buah Akira dan para penjahat yang dia bayar sedang menembaki anak buah Damian sambil bersembunyi. Mereka harus membuat pertahanan agar musuh tidak bisa masuk ke dalam.


Damian dan Ainsley berdiri sambil membelakangi, mereka menembak musuh yang ingin menembaki mereka dari tempat persembunyian mereka secara bergiliran.


"Bagaimana ini, Dam? Mereka bersembunyi seperti ayam!" ucap Ainsley seraya mengisi peluru pistolnya.


Damian terkekeh, tapi pada saat itu, "Awas!" Damian berteriak dan menembak musuh yang hendak menembaki istrinya.


"Apa kau punya rencana, Sweetheart?"


"Tentu," Ainsley mengambil beberapa bola dari tas kecil yang ada di pinggangnya dan memperlihatkan benda yang dia ambil pada suaminya.


"Siap bersenang-senang?" tanya Ainsley sambil tersenyum.


"Yes!" jawab Damian.


Ainsley memberikan sebagian bola itu pada Damian, mereka kembali melangkah maju tanpa ragu. Para anak buah Akira mengintip dari balik persembunyian mereka tapi pada saat itu, mereka dikejutkan oleh sebuah benda seperti bola yang jatuh tidak jauh dari mereka.


Mereka tidak mengerti tapi tidak lama kemudian terjadi ledakan. Mereka berteriak, tubuh mereka terpental keluar dan pada saat itu, Ainsley dan Damian menyambut mereka dengan timah panas. Mereka kembali melakukan hal yang sama, melempar bom ke arah persembunyian lawan dan ketika lawan terpental keluar mereka segera menembak mereka.


Menyenangkan, mereka melakukan hal itu berkali-kali sampai musuh tidak ada yang berani bersembunyi dan keluar untuk menembaki mereka.


Anak buah Damian terus melangkah maju mengikuti Damian. Mereka juga menembaki musuh yang terlihat, tidak ada satu pun dari musuh yang bisa lolos dari tempat itu. Mereka terus maju, sedangkan Sherly sudah berada di ujung tanduk.


Sebuah bom yang dimiliki anak buah Akira diambil dan setelah itu Sherly menghampiri keluarga Windston. Dia akan meledakkan bom itu dan mati bersama dengan mereka jika terdesak. Bom diletakkan di atas pangkuan Harry, sedangkan Sherly berdiri di belakang Harry dengan pemicu di tangan. Siapa pun di luar sana, mereka akan menjadi saksi kematian keluarga Windston dan kematiannya hari ini jika dia tidak punya pilihan.


Carl sudah tidak berdaya, tapi dia masih bisa melihat walaupun samar. Damian dan Ainsley masuk ke dalam, begitu juga anak buahnya karena mereka sudah menguasai arena. Mereka mengepung Sherly dan menodongkan senjata api mereka.


Sherly terkejut, melihat Ainsley dan juga Damian. Kenapa gadis itu ada di sana? Bukankah Akira sudah membawanya ke Jepang?


Tidak saja Sherly yang terkejut, Carl dan Renata juga tidak percaya melihat siapa yang datang untuk menyelamatkan mereka. Apa mereka tidak salah lihat?


"Sebaiknya menyerah dan lepaskan mereka!" ucap Damian.


"Jangan mendekat, jika tidak aku akan menekan pemicu bom ini!" ucap Sherly seraya mengangkat pemicu bom tinggi-tinggi.


Harry berusaha melihat di balik kesadarannya yang sudah habis, dia melihat saudara beda ibunya itu dan juga Ainsley. Untuk apa dia datang menolong mereka?


Antara percaya dan tidak, tapi anak yang selama ini tidak mereka inginkan, anak yang selama ini mereka hina sebagai anak jal*ng, berdiri di sana dengan istri dan para anak buahnya sambil menodongkan senjata api ke arah Sherly.