Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Bantuan Yang Tiba-Tiba Datang



Sebelum  Anna di sandera, si penembak jitu tampak panik saat melihat anak buah Damian masuk ke dalam untuk menghabisi dirinya. Senjata api ditinggalkan tapi sebuah pistol dikeluarkan, dia berusaha mencari tempat untuk bersembunyi sampai akhirnya dia mendengar suara orang berbicara di dalam ruangan dan tentunya itu suara Anna yang sedang berdebat dengan ayahnya.


Anak buah Marco sudah terdesak, dia tidak mau mati sia-sia di tempat itu. Tanpa membuang waktu, anak buah Marco menendang pintu hingga terbuka. Anna dan kedua orangtuanya terkejut, mereka tampak ketakutan karena sebuah pistol mengarah ke arah mereka.


Anak buah Marco mendekati Anna, dia bisa pergi dari sana jika dia menyandera Anna. Orang-Orang di luar sana pasti datang untuk menyelamatkan Anna, jadi dia bisa menggunakan gadis itu untuk melarikan diri.


"Apa maksudnya ini?" tanya Anna.


"Maafkan aku, Nona. Aku terpaksa melakukan hal ini karena aku tidak mau mati!"


Pistol sudah berada di pelipis Anna, pria itu juga sudah berada di belakang Anna dengan satu lengan yang mencekik leher Anna


"Lepaskan putriku!" teriak Briant Cedric.


"Sebaiknya Tuan tidak asal bergerak jika tidak aku akan menembak!"


"Jangan sembarangan, lepaskan putriku!" Briant ingin menyelamatkan putrinya tapi tanpa dia duga, sebuah peluru melesat dan melubangi pahanya.


Anna berteriak, begitu juga dengan ibunya. Ibu Anna berlari ke arah suaminya yang jatuh di atas lantai dan meringis sambil memegangi pahanya yang terus mengeluarkan darah.


"Sebaiknya tidak ada yang bergerak karena aku tidak akan ragu!"


Mereka ketakutan karena itu bukan gertakan biasa. Anna dibawa keluar dari ruangan dan ketika bertemu dengan  anak buah Damian yang sedang menggeledah seluruh ruangan untuk mencari si penembak jitu, pistol kembali menempel di dahi Anna.


Si penembak itu mengancam akan meledakkan kepala Anna jika ada yang berani melangkah maju dan menembaknya. Itu sebabnya anak buah Damian melangkah mundur sampai mereka keluar dari rumah, sedangkan si penembak itu masih mengancam Anna.


Anna semakin ketakutan apalagi saat melewati mayat yang bergelimpangan tapi rasa takut itu berkurang ketika  melihat Harry.


"Harry, tolong aku!" Anna berteriak.


"Jangan ada yang bergerak jika tidak mau dia mati!" teriak anak buah Marco. Lengannya mencekik leher Anna dengan kuat sampai membuat Anna kesakitan.


"Bunuh dia!" teriak Marco.


"Marco, kau benar-benar gila!" Anna berusaha berteriak, dia sangat kesal dengan Marco tapi ketika melihat keadaannya, Anna tampak terkejut.


"Bagaimanapun aku sudah gagal, Anna. Mari kita mati bersama sehingga tidak ada yang bisa memiliki dirimu baik dia mau pun aku," ucap Marco.


"Jika kau mau mati, mati saja sendiri!" teriak Anna penuh emosi.


"Tembak dia!" Marco kembali berteriak memerintah anak buahnya.


"Maaf, Tuan. Aku hanya ingin keluar dari sini secara hidup-hidup!" ucap anak buahnya.


"Sebaiknya kau lepaskan dia!" Harry sudah mengambil satu pistolnya yang tersisa dan mengarahkan senjata api itu ke arah anak buah Marco. Tidak saja Harry, Damian dan anak buahnya yang tersisa juga mengarahkan senjata api mereka.


"Jika ada yang berani bergerak dan menembak, maka kepalanya akan berlubang!"


Ibu Anna keluar bersama dengan suaminya yang berjalan dengan susah payah akibat luka di kaki. Mereka terkejut melihat banyaknya orang bersenjata di luar sana. Mereka tidak berani bergerak lebih jauh karena bisa saja mereka menjadi sasaran empuk senjata api orang-orang itu.


"Tembak, aku bilang tembak!" teriak Marco tapi sayangnya, anak buahnya yang tersisa itu tidak peduli karena dia punya rencana sendiri.


Dia melangkah mundur dan tampak waspada, dia harus menemukan mobil dan pergi dari sana sambil membawa Anna sebagai sandera. Harry dan Damian mengikuti langkah orang itu, begitu juga dengan anak buahnya yang lain.


"Sebaiknya jangan mencoba mengikuti!" teriak anak buah Marco.


Damian sedang berpikir, mencoba mencari cara untuk menyelamatkan Anna. Mereka tidak bisa sembarangan bertindak jika tidak kepala gadis itu berlubang. Dia tahu pria itu akan melarikan diri dan menjadikan Anna sebagai sandera, dia harus mencegah agar hal itu tidak terjadi.


"Turunkan senjata kalian dan biarkan aku pergi!" teriak pria itu karena tiba-tiba saja anak buah Damian mengepungnya membentuk lingkaran.


"Lepaskan dia, aku pasti akan membiarkanmu pergi!" ucap Damian.


"Tidak, aku tidak percaya padamu!"


"Penawaranku hanya satu kali, lepaskan jika tidak kepalamu yang akan berlubang!"


"Jika kau tidak memerintahkan anak buahmu untuk menyingkir maka aku akan melubangi kepalanya!"


"Ayolah, selagi aku bermurah hati! Kau hanya perlu melepaskannya dan setelah itu kau bisa pergi. Kami tidak akan mengejar, menembak pun tidak!"


"Diam dan segera tarik pasukan! Aku hitung sampai tiga jika tidak kau lakukan aku akan membunuhnya tanpa ragu."


"One," dia mulai menghitung.


Damian mengangkat tangannya sebagai isyarat untuk anak buahnya, sepertinya dia harus membiarkan pria itu pergi dan mengejarnya nanti untuk menyelamatkan Anna.


"Baiklah, kau bisa pergi," ucap Damian.


"Damian," Harry menatap adiknya dengan heran.


"Harry, tolong aku!" teriak Anna.


Harry tidak tega melihatnya, tapi dia tidak bisa melakukan apa pun. Jika dia menembak maka Anna akan mati, sepertinya pria itu lebih berbahaya dari pada Marco.


"Silahkan pergi!" ucap Damian seraya menyimpan senjata apinya.


"Aku sudah memberi penawaran dan kau sia-siakan. Kau mau lari ke mana pun aku pasti akan menemukanmu dan begitu kau pergi membawanya aku akan mengejarmu dan melubangi kepalamu. Hanya masalah waktu saja jadi pergilah!" ucap Damian sambil bersedekap dada. Dia bahkan menatap pria itu dengan tatapan mengejek.


Pria itu menelan ludah, apa dia sudah menyia-nyiakan kesempatan emas? Damian bahkan meminta anak buahnya untuk menurunkan senjata api mereka dan melangkah menjauh. Sungguh aneh, apa yang sedang pria itu rencanakan?


Pria itu kembali melangkah mundur. Anna menangis, sedangkan Harry tidak mengerti dengan apa yang adiknya lakukan. Dia melihat ke arah Damian, sedangkan Damian tampak tersenyum. Rasanya ingin bertanya, apa yang sedang Damian rencanakan?


"Bunuh dia, bunuh!" Marco masih berteriak dengan tenaganya yang tersisa.


"Harry!" Anna kembali berteriak begitu juga dengan kedua orangtua Anna yang tidak tega melihat putrinya hendak dibawa pergi.


Anak buah Marco sudah hendak mencapai mobil, tinggal sedikit lagi maka dia akan berhasil melarikan diri. Setelah mencapai pintu maka dia akan menembak Anna dan langsung melarikan diri agar dia bisa melarikan diri dengan mudah.


Tinggal beberapa langkah lagi dia akan berhasil, mobil juga sudah dekat. Dia sangat yakin akan berhasil tapi tiba-tiba saja sebuah helikopter terbang rendah dengan kecepatan tinggi di atas mereka. Semua melihat ke atas, begitu juga dengan pria yang menyandera Anna.


Helikopter berputar dengan cepat, bagaikan sebuah helikopter penyelamat di medan perang tapi sayangnya itu bukan sebuah helikopter penyelamat karena seorang penembak jitu sudah siap dengan sebuah senjata api kesayangannya.


Ketika helikopter sudah berputar sempurna, sebuah peluru melesat dengan kecepatan tinggi ke arah pria yang menyandera Anna. Pria itu terkejut tapi sudah terlambat. Peluru dengan kecepatan tinggi itu sudah menebus kepalanya dan tidak hanya satu, dua peluru lain juga melubangi kepalanya.


Anna berteriak apalagi darah pria itu membasahi wajahnya, dia bahkan gemetar dan melihat tubuh anak buah Marco sudah tumbang di sisinya. Harry tercengang, siapa yang melakukan hal itu? Dia merasa sniper yang ada di atas sana lebih hebat dari pada anak buah Marco.


Helikopter mendarat, seorang wanita melompat turun terlebih dahulu dan dia adalah Marline. Setelah Marline, Michael turun dari atas Helikopter dan setelah itu di susul oleh Ainsley.


"Dam-Dam," Ainsley menghampiri suaminya dan tampak lega melihatnya baik-baik saja.


"Kenapa kau datang ke sini, Nyonya?"


"Dia datang ke rumah, merengek agar kami membawanya datang ke sini untuk membantumu," ucap Michael.


"Ck, sepertinya kau benar-benar tidak bisa ditinggal di rumah!"


"Aku mengkhawatirkanmu, Dam-Dam. Apa kau baik-baik saja?" Ainsley melihatnya dengan teliti dan mendapati luka di lengan suaminya.


"Luka apa ini, siapa yang melakukannya?"


"Sudahlah, hanya luka gores!" ucap Damian.


Ainsley memeluknya. Karena sudah tidak tahan menunggu dalam kecemasan akhirnya dia mendatangi kakaknya dan membujuk kakaknya untuk membawanya ke sana.


Sebenarnya sikap Damian yang begitu santai dan meminta anak buah Marco untuk pergi karena dia sudah melihat helikopter itu dari jauh yang memberikan semacam sinyal beberapa kali. Dia tebak pasti itu istrinya dan benar saja, dia bahkan tidak datang sendiri.


"Aku tidak salah menembak, bukan?" tanya Marline sambil meletakkan senjata apinya di atas bahu.


"Tidak," jawab Damian.


"Apa masih ada lagi?" Marline terlihat sudah sangat ingin menembak sesuatu.


"Tidak ada, kami sudah selesai."


"Sial, aku terlambat!" ucapnya.


Dari jauh, wajah ayah Anna tampak pucat. Dia bahkan menyebut sebuah nama dengan susah payah.


"Mi-Michael Smith," ucapnya. Seperti yang putrinya katakan, dia benar-benar dalam masalah apalagi putri Smith ada di sana dan sialnya dia tidak menyadari sedari tadi jika yang sedang melawan Marco adalah menantu Smith. Sepertinya karirnya benar-benar sedang terancam.