Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Aku Akan Menang



Ainsley sudah selesai membereskan barang-barangnya, dia juga sudah siap berangkat tapi saat itu dia masih berada di kamar bersama dengan Marline dan berbincang. Lagi pula mereka tidak perlu terburu-buru mengejar pesawat. Mereka bisa pergi kapan pun yang mereka mau.


"Kakak ipar, apa kau mau menitip sesuatu?" tanya Ainsley.


"Tidak mau, barang di sana pasti mahal," tolak Marline.


"Ck, tidak! Kakak ipar tidak perlu khawatir karena aku akan belikan sebagai oleh-oleh," ucap Ainsley.


"Serius?" Marline terlihat bersemangat.


"Iya," Ainsley memutar bola mata. Kenapa kakak iparnya yang satu ini begitu perhitungan?


"Tunggu!" Marline mengeluarkan ponsel, kebetulan ada beberapa barang yang dia inginkan. Mumpung gratis, tidak boleh dia lewatkan.


"Jangan banyak-banyak," Ainsley mengingatkan.


"Tidak, hanya beberapa saja," Marline masih sibuk mencari dan tidak lama kemudian dia sudah mendapatkan apa yang dia mau.


"Aku mau ini, ini dan ini!" Marline menunjukkan barang-barang yang dia mau.


"Ck, kenapa jadi banyak?"


"Oleh-oleh, ingat harus gratis!" ucap Marline sambil tersenyum lebar.


"Iya, gratis!" jawab Ainsley.


"Bagus, aku suka yang gratis dan tahan lama."


"Tapi kak, itu semua barang mahal. Jika rusak, aku rasa kakak ipar akan menangisinya selama satu bulan," Ainsley sengaja agar kakak iparnya tidak jadi membelinya.


"Tidak apa-apa, karena barang gratis maka aku tidak akan menangisinya begitu lama."


"What the hell! Bukankah kakak ipar menangisi tas yang rusak saat itu begitu lama?"


"Tentu saja, tas itu aku beli dengan uangku jadi rasanya beda."


Ainsley melotot, menyebalkan. Tidak saja pelit tapi perhitungan. Seharusnya dia tidak bertanya tadi. Saat itu Vivian masuk ke dalam, dia ingin tahu Ainsley sudah selesai atau tidak karena kakaknya sudah menunggu.


"Ainsley, apa kau belum selesai?" tanya Vivian.


"Sudah, aku sudah siap."


"Bagus, kakak sudah menunggu."


"Vivi, apa kau tidak mau menitip barang pada Ainsley?" tanya Marline.


"Barang?" Vivian tampak tidak mengerti.


"Ya, dia bilang oleh-oleh dan gratis!"


"Oh, tidak! Kak Vivi jangan ikutan, aku tidak mau bawa banyak barang!"


"Hei, pilih kasih! Aku juga mau," Vivian berjalan menghampiri mereka.


"Marline, kau yakin gratis?" tanya Vivian memastikan.


"Yes, jika tidak maka aku tidak mau!" jawab Marline.


"Bagus, aku juga suka barang gratis."


"Oh tidak, kalian menyebalkan!" teriak Ainsley, sedangkan Marline dan Vivian tertawa.


Mereka bertiga masih berada di dalam kamar begitu lama, setelah melihat apa yang kedua kakak iparnya inginkan sebagai oleh-oleh, Ainsley mengambil barang-barangnya dan keluar dari kamar. Nanti dia akan membuat tagihan dan mengirimkannya kepada kedua kakaknya tapi kakak iparnya yang satu itu tidak boleh tahu, dia harus tetap percaya jika barang yang dia dapatkan gratis.


Ainsley menghampiri Damian yang sedang berbincang dengan ayah dan ibunya saat itu. Damian sudah begitu akrab dengan keluarganya seharusnya mereka tidak akan menolak jika mereka memutuskan untuk menikah nantinya.


"Aku sudah siap," ucapnya.


"Baiklah, aku kira kau tidak mau keluar sampai malam," goda Damian.


"Sorry," Ainsley menggigit bibir dan pura-pura merasa bersalah.


"Jika kau sudah siap, ayo kita pergi."


Ainsley mengangguk, memang sudah saatnya mereka pergi. Mereka berpamitan pada yang lain, Ainsley memeluk ibunya sebentar sebelum mereka berangkat.


"Hati-Hati di sana, Sayang," ucapnya ibunya.


"Pasti, aku akan mengabari Mommy jika aku sudah tiba di sana."


"Nikmati liburan kalian," ucap ibunya lagi.


"Dad, tolong awasi Mayumi," pintanya.


"Kenapa?" Jager memandangi putranya dengan heran.


"Aku takut dia nekad kembali ke Jepang untuk mencari kekasihnya."


"Kau tidak perlu khawatir, aku akan mengawasinya dan aku akan menggantikanmu di kantor selama kau pergi."


"Thanks Dad, aku harap Daddy tidak banyak berbicara dengan keluarga Windston jika salah satu dari mereka datang mencari. Aku tidak mau penyakit Daddy kambuh hanya karena emosi menghadapi mereka."


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal ini Damian, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Jika mereka datang mencari hanya untuk menghinamu maka aku akan mendatangi mereka dan menghancurkan rumah mereka agar mereka tahu, siapa yang lebih hebat!"


"Aku tahu Daddy akan melakukannya tapi jangan!"


"kenapa?"


"Vivi, awasi Daddy!" pinta Damian pada adiknya yang saat itu bersama dengan mereka.


"Serahkan padaku Kak, tapi aku akan mendukung Daddy jika ada yang menghinamu."


"Hei, aku tidak berani membayangkan jika kau dan Daddy juga suamimu pergi menyerang mereka."


Vivian terkekeh, dia jadi semakin ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dan siapa Windstond yang dimaksud oleh kakaknya sedari tadi.


"Sudah ... sudah! Tidak perlu mengkhawatirkan aku, nikmati liburanmu dan jadikan Ainsley sebagai milikmu. Jika kau tidak tahu caranya, maka aku akan mengirimkan tutorialnya padamu."


"Dad!" Damian melotot, sedangkan Vivian tertawa. Apa kakaknya benar-benar tidak tahu caranya?


"Baiklah, aku pergi dulu," ucap Damian karena Ainsley sudah selesai.


"Jangan lupa apa yang aku katakan pada kalian!" ucap Vivian sambil sedikit berteriak.


"Kakak ipar berisik!" jawab Ainsley.


"Memangnya apa yang kau katakan pada mereka?" tanya Jager ingin tahu.


"Aku mengatakan pada mereka untuk memikirkan pernikahan," jawab Vivian.


"Serius?"


"Kita lihat hasilnya setelah mereka pulang, Dad," jawab Vivian sambil melambaikan tangan yang sudah mau berangkat.


"Aha, kemenanganku sudah di depan mata," Jager terlihat senang, pria itu melangkah masuk ke dalam, sedangkan Vivian memandanginya dengan tatapan heran.


"Hei, Jacob Smith, bersiaplah aku akan menang," ucapnya sambil menghampiri Jacob.


"Apa maksudmu?" tanya Jacob tidak mengerti karena dia lupa akan taruhan yang telah mereka buat waktu itu.


"Jangan pura-pura lupa dasar kau tua bangka!"


"Aku memang sudah tua tentu aku sudah lupa!" Jacob tampak tidak terima, dia bahkan berusaha mengingat taruhan yang telah mereka buat.


"Ck, awas saat pernikahan Ainsley dan Damian kau tidak menari. Kau harus menggantinya dengan sebuah helikopter!" ucap Jager asal.


Jacob mengusap wajah, sial, dia lupa! Matanya memandangi Albert, dan begitu tahu maksud ayahnya Albert langsung angkat tangan.


"Aku tidak ikutan, Dad."


"Ayolah, temani Daddy," pintanya.


"Tidak, Uncle Edward sedang menganggur jadi Daddy bisa mengajaknya nanti."


"Ah, ide bagus!" Jacob tersenyum, akhirnya ada teman. Louis juga bisa dia ajak nanti, yang penting dia tidak sendirian dan jika William datang, dia harus ikut. Kapan lagi karena sebentar lagi mereka akan pindah apk, ups 🙊 (Udah tuir, udah pada pensiun 🙈)


"Dasar curang!" ucap Jager.


"Kenapa, kau juga mau bergabung?"


"Enak saja, apa gunanya aku menang jika begitu?" jawabnya tapi sialnya, dia akan mengikuti kegilaan mereka nanti.


Sementara itu, Damian dan Ainsley sudah berada di dalam pesawat, siap terbang. Ainsley bersemangat karena ini adalah jalan-jalan pertama mereka, sedangkan Damian memikirkan banyak hal. Sial, dia jadi memikirkan perkataan Harry.


"Ada apa denganmu?" Ainsley memandanginya dengan heran.


"Tidak," Damian memegangi tangan Ainsley.


Sebaiknya dia lupakan tapi melihat gadis yang hampir sempurna seperti Aisnley membuatnya harus berpikir yang tidak pernah dia pikirkan selama ini. Sebaiknya dia tidak terlalu memikirkannya karena dia tidak mau Ainsley kecewa.