Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Amatir VS Profesional



Harry membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi, seharusnya dia tidak meminta supirnya pulang tadi. Dia sungguh tidak menyangka dia akan diikuti dan dia tahu itu adalah mobil yang mengikutinya tadi siang. Sepertinya dia sudah terlibat dengan permasalahan Anna. Sepertinya yang Anna katakan benar, dia sudah jadi buronan.


Hal ini tidak bisa dibiarkan, dia harus belajar dari pengalaman yang pernah ada. Jangan sampai dia diikuti sampai ke rumah lalu keluarganya ikut terlibat dan kejadian yang pernah terjadi pada mereka kembali terulang. Cukup satu kali keluarganya disekap, jika terjadi lagi dia yakin mereka tidak akan selamat.


Pengawal ayah Anna masih mengejar, mereka tidak akan melepaskan Harry, tidak untuk malam ini. Semakin cepat mereka menghajar Harry, semakin baik. Dengan begitu Harry akan membenci Anna sehingga tidak ada yang menghalangi Marco untuk mendekati Anna dan membuat Anna jatuh cinta padanya sehingga pernikahan yang telah terencana bisa berjalan dengan lancar.


Harry mengumpat, sial. Tidak bisa seperti ini terus karena pengejaran itu tidak akan berakhir. Aksi kejar mengejar yang mereka lakukan tidak akan selesai sampai salah satu dari mereka berhenti. Harry memutar stir mobilnya ke kanan untuk menghindari mobil lain sambil berpikir.


Walau dia belum pernah berkelahi tapi dia bukan pengecut. Semakin ditantang semakin dia penasaran. Seharusnya dia bertanya kepada Anna, kenapa ayahnya sampai menyiapkan pengawal untuk menangkapnya? Entah kenapa dia curiga, jangan-jangan Anna melarikan diri dari rumah.


Dia akan mencari tahu besok saat bertemu Anna tapi untuk saat ini dia harus menghindari kejaran mobil yang terus mengejar. Sepertinya malam ini dia akan mendapat beberapa pukulan. Apa dia harus bergabung dengan organisasi adiknya agar dia memiliki pengalaman? Sepertinya itu bukan ide buruk walau sesungguhnya dia bukan tipe orang yang menyukai kekerasan.


Harry membelokkan mobilnya ke jalan yang sepi, mobil di belakang juga mengikuti. Sudah tidak mau lari lagi, Harry menghentikan mobilnya di sisi jalan. Jika memang harus berkelahi maka akan dia ladeni. Mobil yang mengejar juga berhenti, kedua pengawal itu keluar saat melihat Harry keluar dari mobilnya.


Harry membuka pintu belakang untuk mengambil sesuatu. Setidaknya dia harus memiliki senjata dan tidak menghampiri lawan dengan tangan kosong. Sebuah stik untuk bermain golf dia dapatkan, untungnya benda itu tidak dia turunkan karena dia memang suka bermain golf dengan sahabatnya jika ada waktu luang.


Harry menghampiri dua pengawal yang memiliki tubuh lebih besar darinya itu tanpa rasa takut, kedua pengawal itu juga menghampirinya dengan sebuah tongkat di tangan.


"Apa mau kalian? Kenapa kalian mengikutiku?" tanya Harry sambil berteriak.


"Kami harus memberimu pelajaran agar kau tidak mendekati Nona Anna!" jawab salah satu dari pengawal itu.


"Anna yang mendekatiku, bukan aku yang mendekatinya!"


"Apa pun alasanmu, kami harus memberimu pelajaran agar kau menjauhi Nona Anna dan jangan mengganggu Nona Anna lagi."


"Hng, semakin dilarang aku semakin ingin dia mengejarku!" tantang Harry.


"Sepertinya kau memang harus di pukul!" dua pengawal itu mulai mengapung Harry dan tongkat sudah terangkat.


"Aku tidak takut dengan ancaman kalian" Harry juga mengangkat stik golfnya.


Walau jalanan sedikit gelap yang hanya diterangi oleh lampu jalan saja tidak menghentikan niat mereka untuk baku hantam. Kedua pengawal itu mulai menyerang Harry menggunakan tongkat. Harry menahan tongkat itu menggunakan stik golfnya tapi tidak adanya pengalaman dalam berkelahi membuat Harry harus mendapat satu tendangan keras di bagian perutnya.


pengawal yang dia lawan adalah pengawal yang terlatih tapi dia tidak peduli. Harry mengayunkan stik golfnya ke arah salah satu dari mereka, walau kena tapi dia juga mendapat pukulan dari pengawal yang lain. Apa ini rasanya baku hantam untuk seorang wanita? Walau dia tidak memiliki perasaan untuk Anna tapi semangatnya berkobar, dia memang membutuhkan hal ini agar semangatnya tertantang.


"Sekalipun kalian menghajar aku sampai babak belur tapi aku akan membuat Anna semakin mengejarku!" teriak Harry, dia berlari ke arah dua pengawal yang belum mendapat pukulan berarti dan mengayunkan tongkatnya lagi.


Sayangnya nasib naas yang harus dia alami, bagaimanapun dua lawan satu adalah pertarungan sulit apalagi amatiran melawan profesional. Harry mendapat pukulan di wajah, perutnya di tendang. Stik golf yang ada di tanganĀ  sudah terpental entah ke mana dan dia terkapar di atas aspal dengan darah mengalir dari hidung dan bibirnya.


Tidak juga selesai, dua pengawal itu mendekati Harry. Salah satu dari mereka memegangi kedua angan Harry sedangkan yang satunya lagi sudah berdiri di hadapan Harry.


Wajah Harry kembali di pukul tanpa belas kasihan. Darah kembali mengalir dari hidungnya. Tidak hanya itu, perut dan dadanya tidak luput dari pukulan. kedua pengawal itu benar-benar melakukan tugasnya dengan baik, mereka memukul Harry sampai Harry tidak berdaya. Pria itu kembali terkapar di atas aspal dan tidak bergerak.


"Ini peringatan dari kami, sebaiknya kau mulai menjauhi Nona Anna dan jika kau masih berani mendekatinya, kami akan memukulmu lebih dari ini!' ucap salah satu pengawal itu, mereka terlihat puas melihat Harry yang sudah tidak berdaya.


Harry meringkuk, memegangi perutnya. Walau seluruh tubuhnya terasa sakit karena mendapat pukulan sana sini tapi Harry tertawa terbahak-bahak.


"Katakan pada orang yang memerintahkan kalian, aku semakin tertantang dan aku tidak takut hanya karena pukulan ini!" ucap Harry, ringisannya terdengar karena rasa perih di mulut. Sepertinya bibirnya robek akibat pukulan.


"Jangan cari gara-gara jika tidak mau berakhir tragis!" setelah berkata demikian, kedua pengawal itu melangkah menuju mobilnya.


"Sebaiknya peringati bos kalian untuk waspada," ucap Harry sambil memandangi mereka tapi mereka sudah berjalan menjauh tanpa mempedulikannya.


Mobil kedua pengawal itu berjalan pergi melewati Harry, sudah cukup pelajaran yang mereka berikan untuk pria itu. Harry berbaring di atas aspal, matanya melihat langit malam yang ditaburi bintang. Sial, untuk seumur hidup baru kali ini dia hajar karena dikejar oleh seorang wanita bahkan Ainsley yang memiliki segudang anak buah tidak melakukan hal itu.


"Sial, kau benar-benar membuat aku dalam masalah, Anna!" ucap Harry, matanya masih menatap ke atas langit.


Harry menyentuh bibirnya dan meringis, perut dan dadanya juga begitu sakit. Tapi entah kenapa dia tidak marah atau membenci Anna. Dia tahu semua ini di luar kehendak Anna. Besok dia harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, dia rasa Anna memang melarikan diri dari rumah.


Harry duduk dengan perlahan, benar-benar sial. Tapi dia akan menganggap apa yang telah dia alami sebagai pengalaman. Jarang-Jarang dia dihajar karena wanita dan lucunya dia dihajar karena dikejar bukan karena mengejar.


Sambil menahan rasa sakit, Harry beranjak dan melangkah menuju mobilnya. Dia bahkan berjalan dengan sempoyongan, semoga saja wajahnya tidak membengkak karena besok dia harus menghadiri rapat penting. Mobil dinyalakan, Harry pulang ke rumah. Setidaknya dua pengawal itu tidak mengikutinya lagi karena dia tidak mau keluarganya dalam masalah.


Begitu dia tiba, ibunya yang sudah menunggu sedari tadi terkejut melihat putranya pulang dalam keadaan babak belur. Baju Harry bahkan terlihat kotor dan terdapat beberapa bercak darah.


"Harry, apa yang terjadi denganmu?" sang ibu menghampirinya dan melihat keadaannya. Ibunya terlihat begitu khawatir karena dia tidak pernah melihat putranya kembali dalam keadaan babak belur.


"Tidak apa-apa, aku hanya dihajar oleh sekelompok perampok," dusta Harry.


"Apa? Kenapa mereka mengincarmu?"


"Entahlah, Mom. Tolong siapkan kompres untukku," pinta Harry seraya berlalu pergi karena dia enggan membahas hal itu lebih jauh. Jangan sampai keluarganya tahu jika dia mendapat pukulan itu karena Anna.


Harry masuk ke dalam kamar, dia melihat wajahnya di depan cermin. Untungnya hanya lebam saja dan tidak mendapat luka serius. Harry membuka bajunya untuk melihat lebam yang terdapat di tubunyah akibat pukulan. Setidaknya kedua pengawal itu tidak menggunakan senjata tajam, sehingga dia tidak mendapat luka yang berarti.


Ibunya masuk ke dalam kamar dengan kompres yang Harry minta. Dia kembali terkejut melihat keadaan Harry yang dipenuhi lebam. Renata kembali bertanya tapi lagi-lagi jawaban sama yang dia dapat. Dia bahkan bertanya apa yang diinginkan oleh perampok itu dan Harry menjawab tidak tahu.


Renata menjadi curiga, dia bahkan terlihat tidak percaya. Apa benar Harry dihajar oleh perampok? Yang semakin membuatnya tidak percaya adalah ketika dia ingin melaporkan kejadian itu pada polisi tapi Harry mencegah. Sepertinya ada yang Harry sembunyikan dan jangan katakan Harry jadi babak belur seperti itu karena memperebutkan seorang wanita.