
Mobil mereka mengeluarkan asap karena ditabrak. Dua mobil yang mengejar mereka berada di hadapan mereka karena posisi mereka sudah berbalik saat ini. Kedua mobil itu sudah siap untuk menabrak mobil mereka kembali, mereka tidak peduli dengan orang yang ada di dalam yang penting target mereka mati.
"Seberapa bagus kemampuanmu mengemudi, Harry?" tanya Damian.
"Tidak begitu bagus tapi untuk menghindari mereka aku masih bisa," jawab Harry. Satu tangan sudah berada di stir mobil dan satu tangan sudah di persneling karena dia sudah siap untuk tancap gas.
Damian menarik dua pistolnya, dia yang akan melumpuhkan mereka.
"Apa kau punya rencana?" tanya Harry seraya melirik ke arah adiknya sejenak.
"Tentu, kau bawa mobilnya dan aku yang melumpuhkan mereka!" ucap Damian.
"Baiklah, aku akan mendengarkan komando darimu," ucap Harry. Sepertinya kehidupan adiknya menyenangkan.
"Jika begitu, jalan!" perintah Damian.
Tanpa membuang waktu, Harry menjalankan mobilnya dan berputar arah agar mereka berada di alur yang benar. Kedua mobil itu kembali mengejar, mereka tidak boleh membiarkan target pergi dan harus membunuhnya hari ini juga.
Damian masih meminta Harry membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi, mereka harus terlihat bagaikan buronan yang melarikan diri, biarkan mereka beranggapan demikian karena mereka akan di sambut dengan meriah nanti. Tujuan mereka tetap ke arah markas, Damian meminta anak buahnya bersiap di sana untuk menyambut kedatangan mereka.
Para penjahat semakin mempercepat laju mobil mereka, bahkan penjahat yang ada di salah satu dari mobil itu mulai menembaki mobil mereka dengan timah panas.
"Mereka mulai beraksi, Damian," ucap Harry.
"Tenang saja," mata Damian tidak lepas dari kedua mobil itu karena dia sedang mencari kesempatan yang bagus untuk menyerang mereka.
Timah panas kembali menghujani mobil mereka, Harry berusaha tenang karena jika dia panik maka dia akan mengacaukan rencana adiknya. Suara kaca pecah terdengar karena kaca bagian mobil mereka hancur terkena peluru yang terus menghujani mereka.
"Sekarang, turunkan kecepatan dan banting stir ke kanan!" perintah Damian.
Harry melakukan apa yang adiknya perintahkan, laju mobil dikurangi, stir juga di putar ke kanan secara tiba-tiba. Mobil yang berada di sisi kanan otomatis melambat sedangkan yang ada di sisi kiri semakin cepat dan terus menghujani mobil mereka dengan timah panas.
Badan mobil sisi kiri menjadi sasaran empuk, tawa dan teriakan para penjahat itu bahkan terdengar. Mereka pikir sudah pasti menang karena target begitu lemah. Si penembak yang sedari tadi berada di samping pengemudi dengan posisi berdiri karena dia harus menembak mulai membidik, dia berencana menembak Harry dengan sekali tembakan.
Dengan senjata sniper yang dia punya, cukup sekali tembak maka target sudah mati tapi sayangnya, dia juga tidak menyadari nyawanya juga sedang diincar. Kaca mobil sudah turun, Damian sudah siap. Tinggal menunggu mobil mereka sejajar maka dia akan menghabisi si penembak yang ada.
Damian bersembunyi, dengan cara menurunkan kursi mobil. Dia berbaring agar tidak terlihat oleh musuh. Kedua pistol sudah terangkat, tinggal menunggu aba-aba dari Harry. Mereka harus bekerja sama dengan baik jika ingin berhasil. Mobil sudah hampir sejajar, Harry memberi tanda dan membanting stir ke kiri.
Penjahat yang sedang mengemudi terkejut, sang penembak sulit membidik target dengan senjata laras panjangnya karena jarak yang begitu dekat. Penjahat yang sedang mengemudi hendak mengambil pistol tapi sayangnya, dua pistol yang ada di tangan Damian sudah mengarah ke arah mereka.
Letusan pistol terdengar, Damian menembakkan pistolnya beberapa kali ke arah musuh. Musuh yang sedang memegangi kemudi tidak bisa menghindar, kepalanya berlubang akibat peluru dari senjata api Damian. Penjahat yang satunya terluka di bagian lengan, dia bisa selamat karena dia berlindung di tubuh rekannya yang sudah tertembak tapi sayangnya, mobil mereka sudah berjalan tidak beraturan.
Damian masih menembaki mobil itu, sekarang tubuhnya sudah berada di luar sebagian dan dia seperti tersangkut di pintu mobil. Penjahat yang ada di satu mobil lagi mengumpat, mereka berusaha menghindari tembakan yang diberikan oleh Damian. Tidak saja harus menghindari timah panas yang di tembakan oleh Damian tapi mereka juga berusaha menghindari mobil rekan mereka yang semakin kehilangan kendali.
"Sial!" sang penjahat yang masih ada di mobil berteriak, dengan terpaksa dia melompat keluar karena mobilnya sudah akan terperosok. Mobil penjahat itu berguling di atas aspal begitu juga dengan tubuh si penjahat yang berada di atas aspal jalan.
Damian masih menyaksikan, pistol belum juga di turunkan. Mobil yang satu berhenti untuk menyelamatkan rekannya dan setelah itu mereka kembali mengejar dengan kemarahan di hati karena satu rekannya mati. Damian kembali masuk ke mobil dan menegakkan tempat duduk, ronde kedua akan segera di mulai.
"Satu masalah selesai," ucap Damian seraya memeriksa selongsong pistolnya.
"Hidupmu benar-benar menyenangkan, Brother!" Harry membawa mobil dengan kecepatan tinggi, semoga saja pihak asuransi mau mengganti mobilnya yang sudah hancur sebagian di hujam timah panas.
"Seperti ini lebih menyenangkan, agar hidup lebih berwarna."
Harry menggeleng, karena mereka dibesarkan oleh ayah yang berbeda jadi jalan hidup mereka juga berbeda. Walau jalan hidup Damian menantang nyawa tapi sepertinya sangat menyenangkan.
"Jadi apa yang akan kita lakukan pada mobil yang satunya lagi?" tanya Harry ingin tahu.
"Terus saja jalan, kita pancing mereka ke markas karena anak buahku sudah menunggu di sana!"
Harry mengangguk, mobil dibawa dengan kecepatan tinggi layaknya seorang pembalap. Para penjahat itu mengumpat marah, mereka tidak menyangka jika ada dua orang di dalam mobil itu dan mereka juga tidak menyangka target mereka memiliki senjata api.
Tanpa tahu jika mereka sedang digiring menuju markas, mereka terus mengejar mobil Harry. Mereka juga berusaha menembak mobil itu untuk melumpuhkannya bahkan sebuah senjata peledak sudah berada di tangan salah satu penjahat yang berdiri di belakang.
"Damian," Harry memanggil sang adik saat melihat mobil mereka sedang di bidik menggunakan sebuah bazoka.
"Santai saja, Harry. Bawa saja mobilnya dengan benar," ucap Damian.
"Yes, we are gonna die," Damian melihat ke arah belakang di mana bazoka sudah siap di tembakan, "Bur not today!" ucapnya lagi.
Peluru bazoka sudah melesat ke arah mereka. Harry tegang sendiri, ini pengalaman pertamanya yang paling gila dan menegangkan.
"Damian!" Harry berteriak.
Peluru sudah semakin mendekat, hendak menghancurkan mobil mereka dan pada saat itu, Damian mengambil kemudi dan memutarnya ke arah kanan. Peluru melesat melewati mobil mereka dan meledakkan sebuah pohon yang tumbuh di sisi jalan. Wajah Harry pucat, sial. Dia kira mereka akan mati meledak malam itu.
Para penjahat itu kembali menembakkan bazoka mereka, Damian berteriak karena Harry tidak menjalankan mobil akibat terkejut.
"Harry, jalankan mobilnya!"
Harry tersadar dari lamunan, sial. Sungguh berbahaya dan dia tidak mau mati sia-sia. Mobil kembali berjalan, tapi kini Harry sudah tahu apa yang harus dia lakukan atas perintah Damian. Sebuah peluru kembali melewati mereka dan meledak menghantam pohon yang lain.
Sejauh ini mereka masih bisa selamat dan menghindari peluru tapi sialnya, saat penjahat membidik mobil mereka kembali, mereka dalam situasi sulit karena sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi dari arah yang berlawanan. Sebagai seorang amatir, Harry mulai panik. Mereka akan kesulitan menghindari peluru itu karena saat mereka menghindar, mobil mereka akan tertabrak mobil truk yang ada ada di arah yang berlawanan.
Melihat itu adalah kesempatan emas, senjata bazoka sudah siap. Kali ini mereka yakin jika target mereka akan mati. Mereka tidak percaya jika mereka akan gagal apalagi yang mereka hadapi hanya seorang amatir.
"Damian, kali ini kita tidak bisa menghindar seperti tadi," ucap Harry.
Damian sedang mencari celah, mereka tidak bisa sembarangan menghindar jika tidak si pengemudi truk yang akan menjadi korban dari peluru bazoka itu. Markas sudah hampir tiba, sepertinya mereka harus keluar dari jalur.
"Hei, mereka sudah membidik. Apa kau punya ide?" tanya Harry.
"Putar stirmu ke kiri, Harry!" perintah Damian.
"Apa? Apa kita harus keluar jalur?"
"Lakukan!"
Walau tidak mengerti, Harry membanting stir mobilnya ke kiri. Sekarang mereka sudah tidak berada di jalan raya lagi dan mereka berada di sisi jalan yang berbatu. Para penjahat tidak menyerah, mereka bahkan menganggap tindakan yang dilakukan oleh Harry adalah tindakan bodoh untuk bunuh diri tapi tindakan itu dilakukan agar peluru bazoka tidak mengenai mobil truk.
Mereka kembali menembakkan bazoka mereka, tapi kini Harry bisa menghindarinya dengan mudah walau jalan yang mereka lewati di penuhi banyak batu.
"Sampai kapan kita akan bermain dengan mereka?" tanya Harry.
"Markas sudah ada di depan, kita cukup memancing mereka ke sana dan setelah itu anak buahku yang akan membereskan mereka!"
Harry mengangguk, para penjahat begitu emosi dan marah karena tidak ada satu pun tembakan mereka yang mengenai sasaran. Sesuai perintah Damian, Harry membawa mobilnya kembali ke jalan raya. Para penjahat itu masih mengikuti tapi mereka tidak tahu jika mereka sedang menuju maut mereka.
Anak buah Damian sudah menunggu di depan, Damian memerintahkan Harry untuk semakin cepat dan setelah itu, stir mobil di putar sehingga mobil mereka berputar di jalanan dan kini posisi mobil mereka sudah menghadap mobil penjahat yang sedang melaju ke arah mereka.
"Mati kalian!" teriak salah satu penjahat itu, sedangkan yang lain sudah siap dengan bazokanya.
Damian mengajak Harry untuk turun dari mobil, tentu Harry sangat heran apalagi mereka berdiri di depan mobil mereka seperti menentang maut.
"Hei, kau tidak gila, bukan?" tanya Harry.
"Tidak!" jawab Damian sambil tersenyum.
Mobil penjahat semakin dekat, peluru bazoka sudah siap ditembak setelah target terkunci.
"Now!" perintah Damian pada anak buahnya yang sedang menunggu perintah sedari tadi.
Para penjahat itu mengira mereka akan menang tapi tiba-tiba saja mobil mereka diterangi oleh sinar lampu puluhan mobil yang ada di sisi jalan dan setelah itu, mobil mereka di hujani oleh puluhan timah panas yang di tembakan oleh anak buah Damian. Mereka terkejut dan panik, entah yang mana yang harus mereka tembak karena puluhan mobil berada di sisi kanan dan sisi kiri.
Harry tercengang, wow. Dia tidak menyangka adiknya sudah menyiapkan hal itu untuk menyambut para penjahat itu.
Para penjahat itu tidak berkutik mendapat serangan bertubi-tubi dan akhirnya mobil mereka terpental di sisi jalan dan tidak ada satu pun dari mereka yang selamat.
"Bagaimana, Brother. Apa kau siap menghadapi pertarungan sesungguhnya untuk menyelamatkan pacarmu?" Damian bersandar di mobil dan terlihat santai.
Harry belum menjawab, sepertinya malam ini dia harus banyak belajar dari adiknya dan tentunya mau tidak mau dia harus siap untuk menyelamatkan Anna. Damian memerintahkan anak buahnya untuk membereskan mayat para musuh dan tentunya untuk menghilangkan jejak para mayat itu akan menjadi makanan pembuka bagi para binatang besok pagi.