
Ainsley terbangun dari tidurnya saat mendengar suara orang sedang berbicara, kedua tangan diangkat ke atas untuk merenggangkan otot tangannya dan setelah itu mata Ainsley melihat sana sini. Ruangan yang tampak asing dan percakapan dua orang menggunakan bahasa Jepang membuat Ainsley mengernyitkan dahi.
Ainsley bangun dengan terburu-buru dan melihat ke arah datangnya suara di mana Mayumi dan Damian sedang berbicara. Wajah Ainsley memerah, oh my, kenapa dia ketiduran?
Hancur sudah image yang selama ini dia jaga, tidak saja image gadis lemah lembutnya sudah hancur, Damian pasti akan menganggapnya sebagai gadis pemalas sekarang.
Mayumi dan Damian melihat ke arahnya dan setelah itu mereka kembali berbicara beberapa patah kata. Mayumi berjalan keluar, sedangkan Damian menghampiri Ainsley sambil tersenyum.
"Apa tidurmu nyenyak, Nona?" tanya Damian basa basi.
"Oh my God, i'm sorry," Ainsley menunduk karena dia malu.
"I's oke, minum ini," Damian memberikan sebotol air mineral untuknya.
"Thanks," Ainsley tersipu malu saat mengambil minuman yang diberikan oleh Damian.
"Dam-Dam, aku?"
"Tidak apa-apa, Ainsley," sela Damian dengan cepat.
Ainsley meneguk air yang diberikan oleh Damian, sedangkan Damian duduk tidak jauh darinya. Matanya tidak lepas dari Ainsley sampai membuat Ainsley terlihat canggung. Apa rambutnya berantakan? Atau ada sesuatu di wajahnya?
Mata Ainsley melihat sana sini, dia sedang mencari bahan yang bisa dia bahas untuk mengalihkan perhatian agar Damian tidak melihatnya seperti itu.
"Apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Ainsley.
"Tidak, aku hanya ingin memandangi wajahmu saja, apa tidak boleh?" tanya Damian.
Ainsley diam sejenak tapi tidak lama kemudian, gadis itu menutupi wajahnya yang memerah. Ada apa dengan Damian? Jangan-jangan dia seperti itu gara-gara sushi yang dia buat.
"Ja-Jangan menggodaku! Apa kau jadi seperti ini gara-gara sushi?" ucap Ainsley.
"Anggap saja seperti itu," jawab Damian sambil terkekeh.
"Oh iya, bagaimana dengan sushinya? Apa kau sudah menghabiskan semuanya?" Ainsley menyingkirkan tangannya dan memandangi Damian dengan ekspresi ingin tahu.
"Tidak, sushinya masih ada."
"Apa rasanya tidak enak?" tanya Ainsley ingin tahu.
Damian terlihat berpikir, dia harus memberikan jawaban yang bagus agar Ainsley tidak patah semangat untuk belajar memasak. Sedikit dorongan untuk Ainsley mungkin bagus agar dia semakin memperbaiki masakannya.
"Kenapa kau tidak menjawab, apa sushi buatanku benar-benar tidak enak?" tanya Ainsley lagi.
"Bukan begitu, untuk pemula tidak buruk tapi aku rasa kau harus mempelajari jenis bumbu terlebih dahulu. Itu lebih baik agar kau tidak salah memasukkan bumbu ke dalam masakanmu nanti."
"Kau benar!" ucap Ainsley sambil mengadukan kepalan tinju ke atas telapak tangannya.
"Sampai sekarang aku tidak tahu yang mana merica," ucapnya lagi.
Damian tersenyum, pantas saja. Tidak heran jika sushi yang dibuat oleh Ainsley terasa aneh, ternyata merica saja dia tidak tahu.
"Lalu, bagaimana dengan sushinya, apa kau sudah menghabiskannya?" mata Ainsley terlihat berbinar, berharap Damian suka dengan makanan yang dia buat untuk pertama kali.
"Tidak, aku menyisakan untuk ayahku juga. Dia pasti ingin mencoba makanan yang kau buat."
"Wah, semoga Uncle suka."
Ainsley terlihat senang, masakan pertamanya sukses. Besok dia mau belajar memasak lagi dan meminta Marline datang ke rumah karena kakak iparnya yang satu itu suka makan, dia pasti akan menghabiskan makanan yang dia buat. Rasanya sudah tidak sabar apalagi beberapa menu makanan sudah berada di kepalanya.
Damian kembali tersenyum tapi dalam hati dia berkata, "Tunggu aku pulang Dad, semoga kau suka dengan sushi yang aku bawa dan semoga Daddy tidak sakit perut," ucapnya.
Ainsley melihat jam yang melingkar di lengannya, sudah sore sebaiknya dia pulang saja apalagi dia mau membeli bahan makanan ke supermarket untuk eksperimen-nya besok.
"Baiklah, aku mau pulang," ucapnya seraya mengambil tasnya.
"Biar aku antar," ucap Damian.
"Tidak perlu, aku datang bersama supir pribadiku."
Ainsley beranjak dari sofa dan berjalan menuju pintu, sedangkan Damian mengikuti langkahnya.
"Ainsley," panggilan Damian menghentikan langkah Ainsley sejenak.
"Terima kasih sushi-nya. Teruslah belajar memasak, aku yakin kau pasti bisa."
"Terima kasih atas nasehatnya, terima kasih juga kau sudah mau memakan sushi buatanku."
"Aku tunggu masakanmu yang lain," ucap Damian sambil tersenyum.
"Oke, aku semakin bersemangat. Bye, aku pulang dulu!" Ainsley melambaikan tangannya dan setelah itu dia keluar dari ruangan itu, sedangkan Damian melihat paper bag yang ada di atas meja. Dia jadi tidak sabar untuk pulang dan memberikan sushi itu untuk ayahnya.
Dia bahkan tidak melihat Mayumi dan melewatinya begitu saja karena dia benar-benar senang. Mayumi melihatnya dengan heran, padahal tadi Ainsley masih tidur dan lihatlah, gadis itu terlihat senang dan sangat bersemangat. Dia jadi ingin tahu, apa yang telah terjadi di antara Ainsley dan Damian setelah dia keluar?
Mayumi melangkah menuju ruangan Damian karena mereka akan pulang, Damian sudah siap dan tidak lupa, dia membawa sushi buatan Ainsley serta.
"Apa yang kau bawa?" tanya Mayumi ingin tahu ketika melihat Damian membawa sebuah paper bag.
"Barang spesial!" jawab Damian.
Mayumi mengernyitkan dahi, barang spesial? Apa itu barang yang diberikan oleh Ainsley? Walau dia sangat ingin tahu tapi dia tidak bertanya karena dia tahu Damian tidak akan menjawab.
Damian membawa sushi itu baik-baik dan begitu tiba di rumah, Damian langsung mencari ayahnya karena dia mau memberikan sushi itu untuk ayahnya.
Seperti biasa, Jager menikmati segelas teh sambil membaca sebuah majalah. Damian menghampiri ayahnya dan meletakkan paper bag yang dia bawa ke atas meja.
"Dad, apa kau sudah makan?" tanya Damian.
"Belum, tumben kau pulang terlambat?" Jager melihat paper bag yang diletakkan oleh Damian dari balik majalah yang dia baca.
"Ainsley datang ke kantor tadi."
"Wah, benarkah?" Jager terlihat senang. Sungguh di luar dugaan dan itu perkembangan yang sangat bagus di luar perkiraannya.
"Yeah dan dia membawa ini!" Damian mendorong paper bag mendekat ke arah ayahnya.
"Apa itu?" majalah diturunkan dan Jager terlihat penasaran.
"Sushi, dia bilang hari ini dia belajar memasak jadi dia datang ke kantor dan menitipkan sushi ini untuk Daddy," Damian tersenyum saat mengatakan hal itu.
"Wah, benarkah? Oh Tuhan, betapa senangnya aku."
Jager begitu senang dan mengambil paper bag yang ada di atas meja. Da juga mengambil kotak sushi dari dalam sana.
"Masakan pertama menantu idamanku, pasti enak," ucapnya.
"Nikmati pelan-pelan Dad, aku mau mandi," ucap Damian.
"Sana pergi, jangan mengganggu acara makanku!" usir Jager.
"Selamat makan, Dad," ucap Damian dan setelah itu dia beranjak pergi.
Jager benar-benar senang bahkan terharu. Sumpit sudah diambil dan sepotong sushi telur sudah dijepit, pasti makanan buatan calon menantunya enak tapi ketika sushi sudah berada di mulut dan dikunyah, air muka Jager berubah.
Selembar tisu di ambil dengan terburu-buru, dan setelah itu sushi dimuntahkah keluar. Jager meneguk tehnya dengan cepat untuk menghilangkan rasa sushi yang terasa aneh di lidahnya.
"Damian!" teriaknya, sedangkan Damian tertawa di dalam kamarnya.
"Awas kau ya! Tidak enak kau bawa pulang jika enak kau habiskan!" teriak Jager lagi.
"Nikmati pelan-pelan, Dad!" teriak Damian dari balik daun pintu yang dia buka.
"Kau, kemari kau! Aku akan menyumpal mulutmu dengan semua sushi ini!" Jager meraih kotak sushinya.
"Dad, jangan kau buang karena Ainsley berkata kau harus menghabiskannya!"
"Apa?" Jager melihat sushi yang ada di dalam kotak, sedangkan Damian tertawa. Ternyata menyenangkan menggoda ayahnya.
"Oh astaga, siapa yang mau menghabiskannya?" Jager terlihat berpikir dan tidak lama kemudian dia berjalan keluar.
"Oh aku rindu denganmu, Ray!" gerutunya sambil berjalan menuju pintu.
Jager memanggil beberapa anak buahnya dan memberikan kotak sushi yang dia bawa kepada mereka.
"Ini untuk kalian, tidak perlu berebut karena kalian akan menyesal dan jika tidak sanggup kubur saja!" ucapnya.
Sang anak buah terlihat bingung tapi mereka membawa sushi itu untuk dinikmati saat Jager sudah masuk ke dalam. Mereka terlihat bersemangat, pasti enak tapi lagi-lagi kejadian yang sama terjadi saat sushi sudah berada di dalam mulut, mereka juga memuntahkannya.
"Ku-Kubur... segera kubur!" ucap salah satu anak buah Jager dan yang lain sudah menggali tanah. Itu cara paling ampuh untuk menghilangkan jejak. Semoga para cacing tanah yang memakannya tidak mati.
Jager kembali menikmati tehnya dan ketika Damian sudah mandi, dia menghampiri ayahnya dan terlihat heran karena kotak sushi sudah tidak ada di atas meja.
"Dad, mana sushinya?" tanya Damian.
"Sudah aku habiskan!" jawab Jager sambil menyeruput tehnya.
"Serius?" tanya Damian tidak percaya.
"Hm," jawab Jager singkat.
Damian melihat sana sini bahkan dia masuk ke dalam dapur tapi dia tidak menemukan sushi itu. Jager hanya melihat putranya sambil menikmati tehnya, mau dicari ke mana pun Damian tidak akan menemukan sushi itu.