
Suara rantai yang ditarik berbunyi, itu karena Sherly berusaha menarik rantai yang membelenggu tangan dan kakinya. Tidak saja Sherly yang melakukan hal itu, Akira dan Katsuo juga melakukan hal yang sama. Sudah dua hari mereka mencoba, tapi usaha mereka sia-sia.
Tidak ada yang mencegah mereka melakukan hal itu, orang-orang yang berjaga di sana hanya melihat mereka berusaha. Entah sudah berapa kali mereka mencoba, tapi rantai-rantai itu tidak bergeming sama sekali. Mereka bahkan tampak putus asa, teriakan Sherly memenuhi ruangan karena emosi.
"Sialan!" teriak Sherly seraya melempar rantai yang ada di tangan.
"Dua hari kita mencoba tapi rantai-rantai ini tidak bisa kita lepaskan!" teriaknya frustasi.
Selama dua hari mereka berusaha melepaskan rantai itu karena mereka harus lari dari tempat itu tapi tidak berhasil dan usaha mereka sia-sia. Mereka bahkan menyembunyikan garpu yang digunakan untuk makan dan menggunakan garpu itu untuk membuka gembok tapi lagi-lagi sia-sia karena gembok yang mengunci rantai harus dibuka dengan sebuah kode.
Entah sudah berapa kali mereka mencoba memasukkan kode yang asal mereka tebak tapi hasilnya, nihil. Segala upaya sudah mereka lakukan tapi hasil sama yang mereka dapatkan. Itu wajar, mereka tidak akan bisa lepas dari tempat itu. Hanya sebuah keajaiban yang bisa melepaskan mereka dari sana tapi sayangnya keajaiban itu tidak akan pernah terjadi di tempat itu apalagi Malaikat maut yang akan mencabut nyawa mereka sedang dalam perjalanan menuju tempat itu.
"Sial, apa yang sebenarnya akan terjadi pada kita?" Sherly terlihat frustasi. Berada di tempat seperti itu benar-benar tidak menyenangkan.
"Entahlah, sepertinya kita tidak akan bisa keluar dari sini secara hidup-hidup!' ucap Katsuo. Pria itu bersandar di dinding, matanya menerawang jauh. Mereka benar-benar sudah membuat sebuah kesalahan besar, menantang orang yang seharusnya tidak boleh mereka tantang.
"Apa maksud ucapanmu?" teriak Sherly.
"Tidak perlu aku jelaskan, bukan? Kau bisa lihat jika kita tidak berdaya di tempat ini. Tidak akan ada yang tahu keberadaan kita, tidak akan ada yang peduli dengan kita. Kita sudah bagaikan hilang, menunggu kematian datang!"
"Jangan menakuti aku, Katsuo!" Sherly mengusap lengannya, takut memikirkan apa yang akan terjadi dengan mereka di sana.
"Aku menakutimu atau tidak, kau akan segera tahu nanti!"
"Sh*i*t! Seharusnya aku tidak bekerja sama dengan kalian!" teriak Sherly ketakutan.
Seharusnya dia tidak bekerja sama dengan dua yakuza itu, seharusnya dia tidak mudah tergiur dan memanfaatkan situasi. Sekarang dia menyesal, menyesal atas apa yang dia lakukan. Jika dia tahu akan berakhir seperti ini, lebih baik dia menyewa pembunuh bayaran untuk melenyapkan mereka satu persatu.
"Kau yang menawarkan diri jadi jangan bertingkah seolah-oleh kami yang memaksamu untuk bekerja sama dengan kami!" ucap Akira dengan nada bicara tidak senang, matanya juga menatap Sherly dengan tajam.
"Sialan! Ini karena kebodohanmu, tidak memeriksa siapa gadis yang kau inginkan!" Sherly masih tidak terima.
"Hei, kau yang tinggal di sini saja tidak tahu tentang dirinya lalu bagaimana dengan kami?" ucap Katsuo.
Sherly mendengus kesal, mana dia tahu siapa gadis yang disukai oleh Harry itu? Lagi pula tidak akan ada yang tahu, gadis biasa itu adalah orang yang tidak boleh diganggu sama sekali.
"Sudahlah Akira, setidaknya kita akan mati di temani olehnya. Kita akan menghadapi apa yang terjadi bersama dengannya. Bukankah kau ingin wanita cantik? Kita sudah mendapatkannya dan dia yang akan menemani kita melewati apa yang akan terjadi di sini dan menemani kita dalam kematian kita nanti!" ucap Katsuo.
"Kau benar, kita bertiga akan melewati sungai kematian secara bersama-sama!"
"Jangan bercanda kalian berdua, aku tidak mau mati!" teriak Sherly dengan rasa takut yang memenuhi hati.
"Percuma saja, kita tidak akan bisa lari!" ucap Katsuo dan Akira dan memang mereka tidak akan bisa pergi ke mana pun apalagi Matthew dan James sudah tiba di luar sana.
Mobil yang dibawa oleh James sudah berhenti, seorang anak buah membukakan pintu mobil untuk Matthew. Michael tidak bisa ikut karena dia sedang menjaga Marline yang sedang sakit. James terlihat sibuk dengan popcorn dan cola yang dia bawa secara diam-diam. Karena hari ini dia akan menjadi penonton maka dia akan menikmati pertunjukannya.
James mengikuti langkah Matthew, sedangkan Matthew melihatnya dengan heran karena barang yang dia bawa.
"Apa yang kau bawa?"
"Popcorn dan cola, aku tidak boleh melewati tontonan menarik," jawab James dengan santai.
Pintu ruangan yang terbuka, mengalihkan perhatian Akira, Katsuo dan Sherly. Mata mereka melihat ke arah pintu di mana dua orang pria masuk ke dalam ruangan ditemani beberapa orang yang berjaga di tempat itu. Mereka tampak menelan ludah, firasat buruk memenuhi hati.
Matthew menghampiri mereka, sedangkan James meletakkan cola dan popcorn yang dia bawa ke atas meja. Mereka melihat Matthew dengan lekat, perasaan tidak nyaman mereka rasakan ketika melihat tatapan tajam pria itu.
"Well ... Well, apa kalian betah berada di tempat ini?" tanya Matthew basa basi.
"Jangan banyak bicara, siapa kau dan kenapa kau menyekap kami seperti ini?!" teriak Sherly.
"Siapa aku? Seharusnya kalian sudah tahu!" jawab Matthew dengan santai.
"Lepaskan aku, ini negara hukum! Kau tidak bisa memperlakukan aku seperti ini! Aku ingin menuntut keadilan atas perlakuan yang tidak menyenangkan ini!" teriak Sherly lagi.
"Keadilan? Jadi kau ingin sebuah keadilan?"
"Ya, lepaskan aku maka aku akan melaporkan hal ini pada polisi!" Sherly menatap Matthew dengan tajam tapi pria itu tertawa mendengar ucapannya.
"Apa kau tahu?" Matthew menatap mereka bertiga dengan seringai lebar.
"Di tempat ini akulah hukum dan akulah keadilannya!" ucapnya lagi.
"Jangan bercanda kau!" teriak Sherly tidak terima.
"Aku tidak bercanda! Di tempat ini akulah yang akan menghukum kalian dengan adil. Sebab itu akulah hukum dan keadilan itu!"
"Aku tidak peduli. Lepaskan aku, lepaskan!" Sherly berusaha menarik rantai yang membelenggu tangannya sambil berteriak.
Katsuo dan Akira melihat Matthew dengan lekat, tidak salah lagi. Pria itu pasti Matthew Smith.
"Tuan Smith, bisakah kita bernegosiasi?' tanya Katsuo.
"Negosiasi? Orang yang sudah berani menangkap adikku dan hendak membawanya pergi, apa aku harus bernegosiasi dengannya?"
"Aku tahu aku salah, itu karena aku tidak mencari tahu terlebih dahulu siapa gadis yang aku inginkan. Kami tetap akan menebus kesalahan kami tapi berikan kami kesempatan untuk bernegosiasi," ucap Akira. Dia harap pria itu menyetujui, mungkin mereka masih punya kesempatan untuk kembali walau harus kehilangan satu anggota tubuh seperti yang dialami oleh Hideaki.
"Harus kalian ketahui, aku bukan orang yang suka bernegosiasi!" Matthew melangkah menuju sebuah kursi yang sudah disiapkan oleh James dan duduk di sana. Matanya tidak lepas dari ketiga tawanan itu. Dia ingin lihat apa yang mereka inginkan darinya.
"Tolong beri kami kesempatan!" pinta Katsuo.
Matthew memainkan jari di dagu, pura-pura berpikir. Semua musuh yang sudah berada di sana pasti mengharapkan kesempatan agar mereka bisa dilepaskan dan memang inilah yang dia harapkan karena dia akan mengajak mereka bermain.
"Apa kalian ingin aku bebaskan dari sini?" tanya Matthew dengan seringai lebar.
"Tentu saja, lepaskan aku!" teriak Sherly cepat.
"Wow, sabar. Jika kalian ingin keluar dari sini hidup-hidup maka kalian harus bermain game denganku!" senyum Matthew semakin lebar.
Katsuo dan Akira saling pandang, begitu juga Sherly. Mereka bertiga melihat Matthew dengan tatapan tidak mengerti, apa maksud pria itu? Apa dia akan mengajak mereka bermain poker? Tapi sayangnya, tebakan mereka salah karena Matthew akan mengajak mereka memainkan game yang dia sukai.