Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Saling Menyindir



Suasana hening, Anna melihat ke mana mata Marco tertuju. Wajah pria itu bahkan terlihat tidak senang. Anna berpaling, kini pandangannya mengarah ke arah Harry. Wajah Harry juga terlihat tidak senang. Dia bisa memaklumkan kenapa ekspresi wajah Harry seperti itu, bisa saja pria itu cemburu dan dia sangat berharap demikian.


Tapi melihat ekspresi wajah Marco yang tidak jauh berbeda dengan ekspresi wajah Harry, membuatnya sedikit bingung. Jangan katakan Marco juga cemburu. Apa pun itu, yang pasti dia bisa memanfaatkan situasi ini untuk melihat reaksi Harry jika dia berdekatan dengan seorang pria. Siapa tahu Harry akan cemburu dan mulai memiliki rasa untuknya.


Otak licik Anna mulai bekerja, walau kedua pria itu bagaikan musuh tapi Anna tersenyum dengan manisnya.


"Marco, kebetulan kau datang. Ini pria yang aku ceritakan," ucap Anna.


Marco tidak bergeming, jadi pria itu yang sedang dikejar oleh Anna?


"Harry, Marco sahabat lamaku. Kenalkan," ucap Anna pula.


Harry melangkah maju dan mengulurkan tangan, "Harry," Harry mengucapkan namanya.


Marco juga maju ke depan, menjabat uluran tangan Harry. Dia juga menyebutkan namanya. Mata mereka masih saling menatap, genggaman tangan mereka juga semakin erat. Rasanya Harry ingin mengatakan jika dia pria yang sedang di sukai oleh Anna dan Marco juga merasa ingin berkata, jika dia pria yang menyukai Anna.


Tangan mereka masih belum lepas, bahkan mereka mulai adu tenaga dengan saling memberikan genggaman erat. Wajah mereka sampai menegang dan kekuatan mereka tidak berkurang. Mata mereka semakin memancarkan api permusuhan, sedangkan Anna terlihat senang-senang saja.


"Hm, kalian mau saling menggenggam sampai kapan? Jangan katakan jika kalian berdua tidak normal!" ucap Anna bercanda.


Harry dan Marco melepaskan genggaman tangan mereka yang mulai terasa sakit dengan terburu-buru. Mereka masih saling menatap satu sama lain dengan perasaan jijik karena ucapan Anna.


Anna menghampiri Marco dan menggandeng tangannya, hal itu membuat Marco senang tapi tidak dengan Harry. Dia merasa sangat kesal melihatnya.


"Kebetulan kau datang, bagaimana jika kita makan bersama?" ajak Anna. Walau sesungguhnya dia sangat ingin makan berdua dengan Harry tapi dia sangat ingin memanfaatkan situasi ini untuk melihat reaksi Harry. Melakukan hal berbeda memang harus dia lakukan apalagi dia sudah tidak punya banyak waktu.


"Dengan senang hati, Anna. Kau memang tidak boleh berduaan dengan seorang pria karena itu tidak baik untukmu!" ucap Marco seraya melirik ke arah Harry.


"Harry tidak seperti itu, jangan asal bicara!" Anna melepaskan tangan Marco, dia terlihat kesal karena Marco menyinggung pria yang dia sukai. Anna melepaskan tangan Marco dan menghampiri Harry.


"Anna, aku hanya ingin kau berhati-hati. Belum tentu pria yang kau kenal semuanya baik!"


"Maafkan ucapannya, Harry. Aku tahu kau tidak seperti itu," ucap Anna tanpa menghiraukan perkataan Marco.


"Tidak apa-apa, biasanya orang yang memiliki pikiran buruk terhadap orang lain ternyata dia sendirilah yang harus diwaspadai!" ucap Harry, matanya masih menatap Marco dan kini tatapan seperti mengejek.


"Kau benar, tapi Marco tidak seperti itu," ucap Anna.


"Bagaimana, apa kita tidak jadi pergi ke rumah keluarga Ainsley?"


"Tentu saja jadi, tapi kita makan terlebih dahulu!" jawab Anna. Gadis itu berlalu pergi, meninggalkan kedua pria yang sedang berseteru di dalam batin masing-masing.


Mereka kembali saling menatap dengan api permusuhan, Marco menghampiri Harry dan berdiri di hadapannya sambil bersedekap dada dan menatap pria itu dengan angkuh.


"Kau harus tahu, aku sudah menyukainya sejak lama!" ucap Marco tanpa basa basi.


"Lalu?" entah kenapa Harry mulai merasa tersaingi.


Harry tidak menjawab, apakah benar Anna Cedric seperti itu?


"Sebaiknya kau pergi dan tidak berada di antara kami. Kau juga harus tahu, kau tidak sebanding dan tidak pantas untuk Anna!" ucap Marco lagi dan perkataannya itu bagaikan tamparan keras untuk Harry karena dia juga pernah berkata demikian pada Damian dulu.


Ternyata seperti ini rasanya, apa Damian juga merasakan apa yang dia alami saat ini? Sepertinya dia harus mencari adiknya itu untuk berkonsultasi.


"Aku bukan tipe yang suka berpikir jauh," ucap Harry, dia mulai melangkah dan menghentikan langkahnya saat dia sudah berada di samping Marco, "Yang aku tahu Anna sedang menyukaiku saat ini, dia mau bosan atau tidak itu tergantung nanti dan mungkin saja pria-pria yang pernah dia kejar dulu memang membosankan dan tidak bisa menyenangkan Anna. Sebab itu dia meninggalkan para pria itu dengan mudah dan aku bukan pria membosankan jadi aku yakin Anna tidak akan meninggalkan aku dan kau? Jangan harap kau bisa mengusirku dengan mudah. Aku pantas atau tidak, Anna yang menentukan, bukan dirimu!" setelah berkata demikian, Harry melangkah pergi, meninggalkan Marco yang terlihat begitu kesal.


Harry sengaja berkata demikian agar Marco tidak menganggapnya menyedihkan. Dia tidak mau dipermalukan pria itu dan sebaiknya dia pergi setelah mendengar ucapannya yang tidak berdasar.


Kedua tangan Marco mengepal dengan erat, sepertinya saingannya tidak bisa diusir dengan mudah. Tapi dia tidak akan menyerah, dia yakin dia bisa mendapatkan Anna.


Harry mencari Anna yang ada di dapur, Anna sedang memanaskan makanan saat itu. Gadis itu melihat kedatangannya sambil tersenyum, tapi mata Harry menatapnya tajam. Apakah yang diucapkan oleh Marco tentang Anna Cedric adalah benar?


"Apa perlu aku bantu?" tanya Harry basa basi.


"Tidak perlu, Harry. Sudah hampir selesai, kau duduk saja," jawab Anna.


"Tidak apa-apa, aku akan membantu!" ucap Harry, pria itu menghampiri Anna. Jangan sampai dia menjadi penonton apalagi Marco sudah berada di antara mereka.


"Tidak perlu, sungguh!" tolak Anna.


Harry tidak menghiraukan penolakan Anna, lengan baju sudah digulung dan setelah itu Harry mencuci tangannya. Hanya memanaskan makanan saja bukan hal sulit, setidaknya dia harus membuat pria yang ada di belakang sana kesal walau dia tidak memiliki perasaan pada Anna Cedric. Tidak, untuk saat ini. Siapa suruh pria itu memprovokasinya?


Mereka berdua sibuk, Marco melihat mereka dengan perasaan kesal. Tapi dia tidak bisa pergi karena dia tidak akan membiarkan Anna berduaan dengan laki-laki itu.


Makanan yang sudah mereka panaskan dihidangkan di atas meja, Anna terlihat begitu senang tapi tidak dengan dua pria yang duduk bersama dengannya.


"Marco, kau belum mengatakan padaku kenapa kau kembali?" tanya Anna.


"Aku kembali untuk mencalonkan diri sebagai gubernur agar aku pantas untuk gadis yang aku sukai!" ucap Marco, matanya menatap Harry dengan tajam saat dia mengatakan hal itu. Harry harus tahu jika dia tidak pantas dan tidak sebanding untuk putri duta besar seperti Anna.


"Apa harus menjadi gubernur terlebih dahulu baru bisa mendapatkan gadis yang kau sukai?" sindir Harry.


"Kau!" Marco benar-benar kesal.


"Jangan begitu, Harry. Marco hanya ingin terlihat pantas untuk gadis yang dia sukai," ucap Anna tanpa tahu jika kedua pria itu saling sindir karena dirinya.


"Kau benar, tapi tidak baik terlalu meninggikan diri padahal dia sendiri tidak tahu bagaimana perasaan gadis yang dia sukai terhadapnya!" sindir Harry lagi.


"Yang kau katakan memang benar Harry, tapi setidaknya aku tidak menjadi pelarian untuk menuntaskan rasa penasaran!" sindir Marco pula.


Anna menatap Marco dengan tatapan heran, lalu dia melihat ke arah Harry. Apa maksud dari perkataan Marco? Kenapa dia berkata jika Harry hanya menjadi tempat pelarian untuk menuntaskan rasa penasaran?


Harry diam saja, matanya tertuju pada Anna. Apakah yang dikatakan oleh Marco tentang Anna adalah benar? Lagi-Lagi pertanyaan ini muncul di hati karena selama ini dia memang tidak begitu mengenal Anna Cedric.