
Saat ibu Harry menghubunginya, Damian berada di rumah bersama dengan Ainsley. Hari ini mereka berencana pergi piknik, menikmati waktu mereka berdua. Ayahnya sedang pergi ke Inggris bersama dengan Vivian, sebab itu dia mengajak Ainsley untuk menghabiskan waktu mereka berdua di alam terbuka.
Ainsley sedang membuat susi untuk mereka nikmati nanti. Damian juga membantu tapi sayangnya dia harus meninggalkan istrinya sejenak untuk menjawab telepon.
"Ada apa, Aunty?" tanya Damian.
"Aku hanya ingin bertanya saja," jawab Renata, dia harap Damian tahu apa yang telah terjadi dengan Harry.
"Ada apa?"
"Aku hanya ingin tahu, apa telah terjadi sesuatu saat Harry mengantar Anna pergi ke rumah keluarga Ainsley?"
"Tidak, apa telah terjadi sesuatu?" Damian jadi penasaran.
"Ya, semalam dia pulang dalam keadaan babak belur."
"Wow, apa yang telah terjadi?"
"Sebab itu aku ingin tahu, mungkin kau tahu sesuatu. Kami sudah bertanya tapi dia bilang dia di keroyok oleh sekelompok perampok dan kami tidak percaya akan hal itu," ucap Renata.
"Apa dia punya musuh?" Damian semakin ingin tahu.
"Sepertinya tidak, dia bukan orang yang suka dengan kekerasan."
"Baiklah, aku akan mencari tahu dan bertanya padanya nanti tapi tidak hari ini karena aku dan istriku akan pergi piknik," ucap Damian.
"Tidak apa-apa, mungkin dia akan memberitahumu siapa yang memukulnya. Maaf mengganggu waktumu.'
"Tidak masalah, Aunty. Aku akan pergi menemuinya setelah ada waktu."
"Terima kasih, Damian," ucap Renata.
Pembicaraan mereka selesai, Damian kembali menghampiri istrinya yang masih sibuk di dapur. Dia bahkan tampak berpikir, siapa yang telah menghajar Harry?
"Dari siapa?" tanya Ainsley saat melihat suaminya sudah kembali.
"Aunty Renata."
"Ada apa? Apa dia meminta kita pergi ke sana?"
"Tidak, dia bilang Harry pulang dalam keadaan babak belur dan ingin tahu siapa yang memukulnya sebab itu dia menghubungi aku."
"Wow, ada yang memukul Harry?" Ainsley terlihat tidak percaya.
"Yeah, Aunty bilang seperti itu."
"Mungkin yang melakukan hal itu rekan bisnis yang kalah saing dengannya, Dam-Dam."
"Mungkin saja, kemarilah!" Damian menggendong istrinya dan mendudukkannya di kursi.
"Jangan berdiri terlalu lama, nanti kakimu sakit," ucapnya. Damian sudah berjongkok di bawah kaki Ainsley dan memberikan pijatan ringan.
Ainsley tersenyum, padahal tidak apa-apa tapi dia tidak menolak perhatian yang diberikan oleh suaminya.
"Jadi, apa yang Aunty Renata inginkan darimu?"
"Dia meminta aku berbicara dengan Harry mengenai masalah itu dan mencari tahu siapa yang memukul Harry."
"Aku rasa kita tidak perlu ikut campur, Dam-dam."
"Kau rasa begitu?" Damian memandangi istrinya, jika Ainsley berkata tidak maka dia tidak akan ikut campur.
"Aku rasa Harry bisa menyelesaikan permasalahannya sendiri tanpa perlu kau bantu. Dia juga pasti tidak akan mau, aku takut dia tersinggung dan marah. Tapi jika kau mau membantu jangan terburu-buru dan tidak ada salahnya kau mencari tahu terlebih dahulu. Jika yang sedang dia hadapi sangat berbahaya barulah kau membantunya. Kita juga tidak boleh diam saja jika yang dia hadapi adalah orang berbahaya."
"Baiklah, apa yang kau katakan sangat benar, aku akan pura-pura memancingnya nanti," ucap Damian. Apa yang dikatakan oleh istrinya sangat benar, jangan sampai Harry tersinggung dan marah. Sebaiknya dia mencari tahu tapi tidak secara terang-terangan agar Harry tidak marah dan tersinggung.
"Jadi bagaimana piknik kita?"
"Tunggu aku selesai memijat kakimu, Sayang."
"Aku belum menyelesaikan susinya."
"Jika begitu kau duduk saja, aku yang akan menyelesaikannya," Damian menyudahi pijatannya, sebelum beranjak untuk menyelesaikan susi yang dibuat oleh Ainsley, sebuah ciuman dia berikan.
"Tunggu di sini baik-baik," ucapnya lagi.
Ainsley mengangguk dan tersenyum, dia tidak keberatan Damian membantu kakaknya tapi dia takut Harry tersinggung. Jangan sampai hubungan mereka yang sudah terjalin dengan baik kembali berseteru. Setidaknya mereka harus memikirkan posisi Harry dan dia rasa Harry bisa menyelesaikan permasalahannya sendiri tapi jika yang dihadapi oleh Harry adalah orang berbahaya apalagi sampai mengancam nyawa, barulah Damian boleh ikut campur.
Anjing berbulu coklat itu sudah menunggu sambil mengibaskan ekor, dia terlihat sudah tidak sabar. Damian meminta istrinya untuk duduk saat semua yang dibutuhkan untuk piknik dinaikkan ke mobil. Mereka akan piknik di pinggir danau, menikmati pemandangan indah di sana.
Setelah semua yang diperlukan sudah berada di dalam mobil, Damian menghampiri istrinya yang sudah menunggunya sejak tadi.
"Sudah selesai, ayo kita berangkat,:" ucapnya sambil mengulurkan tangan.
"Kau tidak melupakan apa pun, bukan?" tanya Ainsley memastikan.
"Tidak, semua sudah berada di mobil."
Suara gonggongan Rocky terdengar, anjing itu sudah menunggu di luar.
"Ada yang tidak sabar rupanya," ucap Ainsley.
"Hari ini dia akan bermain sampai puas."
Setelah membantu Ainsley naik ke atas mobil, Damian menggendong anjingnya yang memiliki tubuh lumayan besar dan memasukkannya ke dalam mobil. Piknik bertiga bukan ide buruk, lagi pula Rocky bisa menjaga Ainsley karena insting binatang itu lebih tajam.
Mobil di jalankan, mereka berangkat menuju danau. Sudah lama mereka tidak melakukan piknik, jika tidak salah ingat waktu Mayumi masih tinggal bersama dengan Damian.
Mereka sudah tiba karena jarak yang tidak terlalu jauh. Aisnley membawa keranjang makanan sedangkan Damian membawa yang lain. Sebuah sisi danau yang sejuk karena beberapa pohon tumbuh menjulang menjadi pilihan, angin sejuk berhembus dan terasa menyegarkan.
Tikar digelar, keranjang makanan pun diletakkan. Rocky bermain sendiri di sekitar danau sedangkan Damian dan Ainsley duduk berdua sambil memandangi danau yang indah dan tenang. Cukup seperti sudah membuat mereka senang.
"Damian, apa kabar Mayumi?" tanya Ainsley seraya bersandar di bahu suaminya.
"Baik, dia menghubungiku beberapa hari yang lalu dan mengatakan jika dia dan Ken akan segera menikah."
"Benarkah?" Ainsley melihat suaminya sejenak lalu dia kembali melihat danau.
"Yeah, setelah semua yang terjadi. Dia juga berterima kasih padamu dan juga minta maaf," dia lupa akan hal ini, jika Ainsley tidak bertanya maka dia tidak akan ingat.
"Sudahlah, tidak perlu diingat. Aku senang sekarang dia sudah bahagia."
Damian melirik istrinya sejenak, senyum terukir di bibir. Dia benar-benar menikahi wanita yang luar biasa, Ainsley tidak menyimpan dendam sedikit pun pada Mayumi padahal dia tidak pernah mengampuni orang yang telah berani melawannya terutama keluarganya.
"Kemarilah," Damian berbaring terlebih dahulu dan setelah itu Ainsley berbaring di sisinya.
"Aku sangat berterima kasih kau mau memaafkan Mayumi setelah apa yang telah dia lakukan padamu," ucapnya seraya mencium dahi istrinya.
"Jangan berkata seperti ini, Dam-Dam. Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan dan aku juga pernah."
"Kau benar," Damian memiringkan tubuhnya dan menopang kepalanya dengan satu tangan. Matanya tidak lepas dari wajah cantik istrinya, tangannya bahkan mengusap wajah Ainsley dengan lembut. Mereka berdua saling pandang dengan senyum menghiasi wajah mereka.
"Terima kasih sudah memilih aku," ucapnya.
"Ck, kau sudah mengatakan hal ini berapa kali?"
"Aku akan mengatakannya sampai seumur hidupku walaupun kau bosan."
Ainsley tersenyum, dia benar-benar bahagia.
"I love you," ucap Damian lagi.
"Me too," Ainsley memejamkan mata, menikmati ciuman lembut yang suaminya berikan.
Damian kembali berbaring, Ainsley berada di atasnya. Mereka berciuman dengan mesra dan setelah itu, mereka berbaring sambil berpelukan.
"Mengenai masalah Harry, aku jadi ingin tahu kenapa dia dipukul," ucap Ainsley, dia tampak berbaring dengan nyaman di dalam pelukan suaminya.
"Kau bilang tidak perlu ikut campur."
"Aku penasaran dan aku menebak hal itu ada hubungannya dengan Anna."
"Oh, ya? Apa karena gadis itu mengikutinya?"
"Bisa jadi, mungkin ada yang tidak suka akan hal itu sehingga orang itu melampiaskan kemarahannya pada Harry."
"Baiklah, kau benar," Damian mengusap lengan Ainsley dan mencium dahinya sebelum kembali berkata, "Aku akan mencoba mencari tahu tanpa menyinggung perasaannya dan jika orang itu sudah keterlaluan, maka aku akan membantunya secara diam-diam tanpa sepengetahuannya agar dia tidak tersinggung."
"Ya, itu lebih baik," ucap Aisnley.
Mereka tidak berkata apa-apa lagi, mata mereka terpejam. Mereka menikmati semilir angin yang berhembus dan kicauan burung yang terdengar merdu. Mereka menikmati waktu mereka tanpa ada yang mengganggu dan Rocky bermain tidak jauh dari mereka.