Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Apa kau Menyukaiku?



Jager terlihat penasaran karena tiba-tiba saja putranya pulang bersama dengan Ainsley. Yang membuatnya semakin penasaran adalah, Damian membawa Ainsley masuk ke dalam kamarnya. Ainsley hanya menyapanya sebentar dan setelah itu, Damian membawanya masuk ke dalam kamar.


Sungguh dia sangat ingin tahu, rasa penasarannya semakin tinggi dan matanya tidak henti-hentinya melihat ke arah kamar Damian. Apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang sedang mereka lakukan? Seandainya dia adalah cicak, mungkin dia sudah menempel di dinding untuk mengintip apa yang mereka lakukan.


Dari pada penasaran, lebih baik dia bertanya pada putrinya saja. Mungkin saja dia tahu sesuatu, sepertinya dia ketinggalan sedikit berita.


Di dalam kamar, Damian sedang mencari handuk bersih yang ingin dia berikan kepada Ainsley. Gadis itu sudah berada di kamar mandi saat ini dan sedang melihat rambutnya di depan cermin. Bau telur masih tercium bahkan rambutnya sudah menempel akibat lendir telur.


Damian mengetuk pintu setelah menemukan sebuah handuk dan kimono yang bisa Ainsley gunakan nanti. Dia juga harus mencari baju adiknya, semoga saja ada yang cocok untuk Ainsley kenakan nanti.


"Ainsley, ini handuk untukmu," ucapnya.


Ainsley melangkah mendekati pintu dan membukanya, dia tampak tersenyum tapi bisa dilihat, Ainsley terlihat canggung karena ini pertama kalinya dia mandi di rumah laki-laki.


"Thanks," Ainsley mengambil handuk dan kimono yang diberikan oleh Damian.


"Aku akan mencarikan baju adikku untukmu."


"Maaf merepotkanmu, Dam-Dam," Ainsley menunduk dan terlihat tidak enak hati.


"Tidak apa-apa, segeralah mandi agar rambutmu tidak semakin lengket atau kau mau aku yang memandikanmu?" goda Damian.


"A-Apa?" wajah Aisnley memerah.


"Apa aku boleh bergabung?" goda Damian lagi.


"Jangan asal bicara!" Ainsley menutup pintu kamar mandi dengan cepat, sedangkan Damian terkekeh dan melangkah keluar dari kamar untuk mengambil baju adiknya.


Ainsley berdiri di balik pintu sambil memegangi dadanya yang berdebar. Kenapa Damian bertingkah aneh hari ini?


Tidak saja mengaku sebagai pacarnya tapi dia juga berani menggodanya. Apa Damian seperti itu karena perkataannya waktu itu?


Diam-diam Ansley tersenyum, lebih baik dia segera mandi dan menanyakan hal itu secara langsung pada Damian karena dia tidak suka menebak-nebak.


Baju dilepas, Ainsley berjalan menuju shower dan melihat alat mandi yang ada di sana dan semuanya untuk laki-laki. Apa dia harus menggunakannya? Lebih baik dia gunakan dari pada rambutnya bau telur busuk.


Di kamar lain, Damian sedang mengacak isi lemari adiknya untuk mencari pakaian yang bisa Ainsley gunakan.


Entah kenapa dia juga jadi canggung apalagi ini kali pertama ada seorang wanita yang mandi di kamarnya. Seharusnya dia membawa Ainsley ke kamar adiknya tapi kenapa tidak dia lakukan?


Setelah mendapatkan pakaian, Damian mengambil shampo milik adiknya. Sebaiknya dia tidak menunjukkan rasa canggungnya apalagi dia sudah bertekad untuk mendapatkan Ainsley.


Damian keluar dari kamar adiknya dan melangkah dengan terburu-buru menuju kamarnya. Air kamar mandi berbunyi saat dia masuk ke dalam kamar.


Damian menghampiri kamar mandi dan mengetuk pintu kamar mandi dengan perlahan.


"Ainsley, aku membawakan shampo untukmu," ucapnya.


Ainsley mematikan shower, ketika mendengar panggilannya. Dia sudah hampir selesai membersihkan rambutnya dari lendir telur bahkan rambutnya sudah wangi.


"Ainsley?" Damian kembali mengetuk pintu dan memanggilnya.


"Aku sudah mau selesai!" jawab Ainsley sambil sedikit berteriak.


Damian tersenyum dan berjalan menuju ranjang, dia akan menunggu Ainsley di sana. Mata Damian tidak lepas dari pintu kamar mandi dan tidak lama kemudian, pintu terbuka dan Ainsley melangkah keluar.


Ainsley tersipu melihat Damian sedang memperhatikannya, sedangkan Damian berusaha tenang agar terlihat biasa padahal dia sangat ingin berjalan mendekati Ainsley dan meraih tubuhnya.


Jika mengikuti egonya sudah dia gendong Ainsley dan sudah dia lemparkan ke atas ranjangnya tapi sebaiknya dia tidak terburu-buru.


"Maaf, aku menggunakan alat mandi milikmu," ucap Ainsley seraya duduk di samping Damian.


"Tidak apa-apa, berikan handuknya. Aku akan membantumu mengeringkan rambutmu."


Ainsley mengangguk dan memberikan handuk kepada Damian, mereka diam saja ketika Damian sedang mengeringkan rambut Ainlsey.


"Apa rambutku sudah wangi?" tanya Ainsley ingn tahu.


Damian menyingkirkan handuk dan mengendus rambut Ainsley, "Rambutmu sudah wangi," ucapnya.


"Thanks."


Damian kembali mengeringkan rambut Ainsley, dan mereka berdua kembali diam. Entah kenapa mereka bedua menjadi canggung, tapi Ainsley sangat penasaran dan ingin tahu apa maksud dengan ucapan Damian tadi.


"Da... Dam-Dam," Ainsley memutar tubuhnya dan memandangi Damian dengan serius.


"Ada apa?"


"Yang mana?" tanya Damian pura-pura.


"Jangan pura-pura tidak tahu!" Ainsley memukul bahu Damian dengan pelan dan memalingkan wajahnya yang tersipu.


Damian terkekeh, seharusnya Ainsley tahu tanpa perlu bertanya tapi dia akan menjawab pertanyaan Ainsley agar gadis itu tidak menganggap jika ucapan yang dia katakan hanya akting belaka.


"Bagaimana menurutmu, Ainsley? Apa aku sedang berakting saat aku mengatakan hal itu?" Damian balik bertanya.


"Hei, kenapa kau jadi bertanya padaku?"


"Jika itu bukan akting, apa kau tidak keberatan, Ainsley?" Damian mengangkat dagu Ainsley dan menatap matanya dengan lekat.


"Ja-Jadi kau serius?" tanya Ainsley memastikan.


"Yeah, aku tidak suka ada pria lain mendekatimu. Aku juga tidak suka ada pria lain yang menyentuhmu, apa kau keberatan dengan perkataanku tadi?"


"Tentu tidak!" Ainsley tersenyum. Tangannya sudah terangkat untuk mengusap wajah Damian.


"Apa kau menyukaiku, Dam-Dam?" tanyanya.


"Seharusnya itu pertanyaanku, apa kau menyukai aku yang seperti ini?" Damian memegangi telapak tangan Ainsley dan menciumnya.


"Apa maksud pertanyaanmu? Jika kau serius denganku maka aku tidak keberatan sama sekali."


"Benarkah?" Damian memandanginya dengan serius.


Ainsley mengangguk sambil tersenyum, sepertinya mereka memiliki perasaan yang sama selama ini.


"Aku ingin kau tahu, aku tidak punya pengalaman dengan wanita sama sekali karena aku tidak pernah pacaran jadi mungkin aku akan membosankan seperti yang kau katakan!"


Ainsley tertawa mendengarnya, jadi Damian menganggap perkataannya serius? Padahal dia hanya bercanda saja tapi dia tidak menyangka Damian menganggap serius ucapannya.


"Aku hanya bercanda saja, jadi tidak perlu kau pikirkan!" ucap Ainsley.


"Hei, karena perkataanmu itu aku jadi berpikir dengan keras!"


"Oke, baiklah. Maafkan aku."


"Jadi?" Damian mengangkat kedua tangan Ainsley dan mengecup punggung tangannya.


"Aku juga tidak berpengalaman karena aku juga belum pernah pacaran. Bagaimana jika kita pelan-pelan sambil belajar agar kita tidak menjadi pasangan membosankan?"


"Ide bagus!" jawab Damian dengan cepat.


Ainsley tersenyum, begitu juga dengan Damian. Mereka saling pandang dan diam saja. Jantung Ainsley berdebar ketika Damian mengusap wajahnya.


Jari Damian bermain di wajahnya bahkan menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Jantung Ainsley semakin berdebar bahkan napasnya tertahan karena Damian mendekatkan wajah mereka dan mendaratkan sebuah ciuman di dahinya.


"Ainlsey," Damian memanggilnya dan kembali mencium dahinya.


Mata Ainsley terpejam, menikmati ciuman ringan yang Damian berikan di wajahnya. Damian tidak saja mencium dahinya, tapi bibirnya turun ke bawah, mencium hidung dan juga pipinya.


Mereka saling pandang saat Damian mengangkat dagu Ainsley. Mata Ainsley kembali terpejam, siap mendapat ciuman di bibir.


Damian mendekatkan wajah mereka, kesempatan tidak boleh di sia-siakan. Jantung Ainsley kembali berdebar saat napas Damian membelai wajahnya.


Bibir mereka sudah dekat, mereka akan melakukan ciuman pertama mereka saat itu tapi sayang, tiba-tiba saja pintu kamar terbuka dan terdengar suara Jager Maxton.


"Ainsley, ayahmu?" ucapan Jager terhenti dan dia tampak terkejut melihat mereka berdua. Tidak saja Jager yang terkejut, Damian dan Ainsley juga terkejut melihat Jager yang memandangi mereka tanpa berkedip.


"Astaga, apa yang mau aku ucapkan tadi? Kenapa kamar ini begitu gelap? Oh tidak, sepertinya rabun mataku semakin parah!" oceh Jager tidak jelas seraya menutup pintu kembali.


"Oh my God!" Ainsley menutupi wajahnya yang memerah. Dia tidak menyangka ayah Damian akan melihat mereka. Bagaimana dia menunjukkan wajahnya nanti?


"Dad!" teriak Damian dari dalam kamar.


"Apa? Aku tidak lihat apa pun! Abaikan aku dan lanjutkan!" teriak ayahnya dan setelah itu Jager bersorak girang.


Saatnya memberi laporan pada putrinya, dia tidak menyangka hubungan mereka sudah sejauh itu tapi ini kabar bagus karena menantu idaman sudah di depan mata.


Di dalam kamar, Ainsley sudah menyambar baju yang ada di atas ranjang dan berlari masuk ke dalam kamar mandi. Dia benar-benar malu, sedangkan Damian menggerutu, seharusnya dia mengunci pintu kamarnya tadi.


Tap.i walau ciuman pertama mereka gagal tapi hubungan mereka satu langkah lebih maju.