
Beberapa saat yang lalu, saat keluarga Windston sudah dibawa ke pabrik yang terbengkalai. Mereka sungguh tidak mengerti kenapa mereka ditangkap. Mereka bahkan tidak tahu dimana mereka berada saat ini. Tubuh mereka di dorong masuk ke dalam sebuah ruangan, mereka bahkan diikat di sebuah kursi.
Renata ketakutan setengah mati, untuk seumur hidup dia tidak pernah mengalami hal seperti ini. Entah siapa yang memperlakukan mereka seperti itu, dia benar-benar tidak terima.
Mereka diikat di dalam satu ruangan dengan posisi saling berharapan. Itu dilakukan agar mereka bisa saling melihat satu sama lain. Sherly ingin mereka saling menyaksikan saat dia mulai melakukan aksi balas dendamnya. Selama ini dia sangat menyayangi keluarga itu, tapi sekarang dia terbuang hanya karena satu kesalahan yang dia lakukan tanpa sengaja.
Orang yang sangat ingin dia siksa adalah Harry, mereka semua harus menyaksikan bagaimana dia melampiaskan rasa sakit hatinya pada pria itu. Cinta yang ada di hatinya untuk pria itu sudah tidak ada lagi, sekarang cinta yang ada sudah menjadi sebuah kebencian.
Dia tahu dia tidak akan pernah mendapatkan Harry lagi karena pria itu tidak mencintainya lagi. Oleh sebab itu, dia akan membunuh Harry menggunakan tangannya agar tidak ada yang memiliki pria itu. Siapa suruh Harry mencampakkan dirinya?
Mereka sudah terikat di kursi, posisi mereka saling mengelilingi sehingga mereka akan saling menatap satu sama lain nantinya. Setelah mereka terikat, penutup kepala mereka terbuka. Mereka tampak terkejut saat melihat yang lain mengalami hal yang sama.
Mereka tampak heran karena berada di ruangan yang asing, mereka bahkan melihat anak buah Akira dengan tatapan heran. Tidak ada satu dari orang-orang itu yang mereka kenal, mereka bahkan tidak pernah terlibat dengan orang Jepang mana pun.
Penutup mulut mereka mulai dibuka satu persatu, tentu Renata langsung berteriak karena dia ingin tahu kenapa orang-orang itu menangkap mereka.
"Apa maksudnya ini?" teriak Renata lantang tapi tidak ada yang mempedulikan dirinya.
"Aku bertanya pada kalian, apa kalian tuli?!" Renata kembali berteriak.
"Hentikan, Renata. Kau hanya buang-buang tenaga!" ucap Carl.
"Aku tidak terima diperlakukan seperti ini! Kenapa mereka menangkap kita? Siapa mereka dan kesalahan apa yang telah kita lakukan pada mereka?"
"Jangan tanya padaku, aku juga tidak tahu!" teriak Carl kesal.
"Apa kalian tidak bisa diam?!" tanya Harry. Di situasi yang seperti ini, kenapa kedua orangtuanya masih juga bertengkar?
"Apa kau membuat sesuatu di luar sana, Carl?" tanya Aland Windstond. Dia curiga jika semua ini ulah putranya.
"Jangan sembarangan, Dad. Aku tidak melakukan apa pun dan aku tidak mengenal orang-orang Jepang ini!"
"Tunggu dulu!" sela Renata. Entah kenapa dia curiga dengan seseorang dan dia rasa memang orang itulah pelakunya.
"Apa ini bukan perbuatan anak harammu, Carl?" tanya Renata.
"Apa maksudmu?" tanya Carl tidak mengerti.
"Kau lihat orang-orang Jepang itu? Bukankah anak itu dilahirkan oleh jal*ng dari Jepang? Apa dia melakukan hal ini untuk membalas perbuatanmu yang membuang dirinya?!"
"Mom, sebaiknya kau tidak menuduhnya sembarangan!" ucap Harry.
"Menuduh? Aku tidak akan menuduh sembarangan! Hanya itu yang aku pikirkan. Kita tidak pernah menyinggung orang Jepang mana pun tapi lihat mereka? Jika bukan perbuatan anak haram itu, lalu siapa lagi?"
"Jaga ucapanmu, Renata! Walau anak itu dilahirkan oleh wanita Jepang, bukan berarti dia yang melakukan hal seperti ini!" ucap Aland Windstond.
"Kenapa Daddy jadi membelanya? Tidak ada lagi orang yang patut dicurigai selain dirinya! Dia tiak terima karena kita membencinya, dia juga tidak terima kita selalu menghina ibunya sebab itu dia melakukan hal ini untuk membalas perbuatan kita!"
"Apa Mommy tidak bisa berhenti?" tanya Harry kesal. Walau dia tidak suka dengan saudara beda ibunya itu, tapi dia yakin bukan dia yang melakukannya apalagi sejak awal, dia tidak pernah menginginkan mereka sebagai keluarga.
Terlebih lagi ini malam pernikahannya dengan Ainsley, maka mungkin Damian melakukan perbuatan keji seperti itu? Entah kenapa dia lebih mencurigai seseorang dan benar saja, seorang wanita yang sedang menggunakan sebuah topi besar dan hampir menutupi wajahnya masuk ke dalam ruangan itu.
Mereka melihat ke arah wanita itu dan kemudian mereka saling pandang, kenapa rasanya tidak asing?
Wanita itu menghampiri mereka dan melepas topi yang dia gunakan. Begitu melihat wanita itu, mereka semua terkejut.
"Apa ada yang rindu denganku?" tanya Sherly dengan seringai lebar.
"Sherly," Renata menganga, tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Bukankah anak haram itu pelakunya? Tapi kenapa?
"Terkejut? Kalian tidak akan percaya, bukan?" Sherly menghampiri mereka, dia akan menyiksa mereka satu persatu sampai mati.
"Tanyakan pada Harry kenapa aku melakukan hal ini!!" jawab Sherly sinis, matanya menatap Harry dengan tatapan tajam dan penuh kebencian.
"Apa maksud ucapanmu, Sherly?" Mata Harry menatap wanita yang pernah dia cintai dulu dengan tajam.
"Sherly, lepaskan kami dan jangan perlakukan kami seperti ini!" teriak Renata.
"Ha ... Ha ... Ha!" Sherly tertawa terbahak. Melepaskan mereka? Inilah yang dia tunggu sejak lama dan dia tidak akan melepaskan mereka.
Hari ini dia akan memperlihatkan pada mereka, bagaimana pembalasan seorang wanita yang dicampakkan dan sakit hati.
"Ketahuilah Aunty, aku akan membunuh kalian satu persatu dan aku ingin kalian menyaksikan anggota keluarga kalian merengang nyawa nantinya. Sebab itu aku mengumpulkan kalian seperti ini karena aku ingin kalian saling menatap sebelum kalian mati!"
"Hentikan Sherly, jangan melakukan hal seperti ini!" ucap Aland.
"Sorry Kakek, karena kau sahabat baik kakekku maka kau yang akan mati terakhir kali!"
Sherly mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan melangkah menghampiri mereka. Sebuah pisau sudah berada di tangan, seringai licik menghiasi wajah.
"Jangan lakukan hal ini Sherly, lepaskan kami!!" teriak Renata memohon.
"Berteriaklah sekuat tenaga kalian, tidak akan ada yang datang untuk membantu kalian! Malam ini aku akan bersenang-senang dengan kalian dan aku akan memberikan rasa sakit tiada tara sebelum kalian mati!"
"Hentikan Sherly, tidak ada gunanya kau melakukan hal ini!" ucap Aland.
"Tentu saja ada, aku begitu mencintai Harry tapi dia mencampakkan aku dengan mudah dan sekarang, dia harus menerima akibatnya karena dia telah mencampakkan aku!"
"Sebaiknya kau berhenti dan jangan sentuh putraku!" teriak Carl marah.
Sherly kembali tertawa, apa mereka tidak bisa membaca situasi? Dia yang memegang kendali saat ini, mereka pasti akan mati perlahan karena tidak akan ada yang datang menolong mereka.
"Kalian tidak bisa mencegahku, dan aku akan mulai dari kau Harry!" kini dia mendekati Harry karena dia akan memulai dari pria itu.
"Untuk apa kau melakukan hal ini?" Mata Harry masih menatapnya tajam bahkan kebencian tersirat dari tatapannya.
"Ini akibat cinta butaku padamu!! Jika aku tidak bisa memiliki dirimu maka tidak ada yang boleh memiliki dirimu!"
"Kau benar-benar gila, Sherly!" teriak Harry marah.
"Aku memang gila dan aku gila karena kau!!" teriak Sherly pula dan tanpa membuang waktu, Sherly menyabet dada Harry dengan pisau yang dia bawa.
Tidak hanya satu kali, Sherly menancapkan pisaunya berkali-kali ke dada Harry sebagai pelampiasan rasa kesal dan sakit hatinya pada pria itu.
"Mati kau, mati!!" teriak Sherly sambil menancapkan pisaunya dengan membabi buta.
Teriakan Harry terdengar, dia tidak bisa melawan karena dia diikat. Tidak saja teriakan Harry, teriakan Renata juga terdengar begitu juga teriakan Aland Windstond dan Carl.
Sherly benar-benar melampiaskan amarahnya, tidak saja menikam dada Harry tapi dia juga menggoreskan pisau ke wajah pria itu dan merusak wajah tampannya.
"Hentikan Sherly, hentikan!" mohon Renata sambil berderai air mata.
Sherly terengah dengan ekspresi puas. Seringai kembali menghiasai wajah saat melihat Harry yang sudah tidak berdaya.
Rasanya begitu puas karena dia telah bisa melakukan hal itu. Tidak sia-sia dia bekerja sama dengan Akira.
Sherly memandangi pisaunya yang berlumuran darah, dia melihat ketiga orang yang tersisa dengan seringai lebar.
"Siapa giliran selanjutnya?" tanyanya. Dia akan menunjukkan pada mereka jika wanita yang sakit hati bisa bersikap brutal.