
Aland memandangi rumah berlantai tiga yang ada di sampingnya sebelum turun dari mobil. Saat itu dia sudah berada di rumah Jager Maxton sesuai dengan alamat yang dia dapatkan. Dia harap bisa bertemu dengan Jager Maxton atau putranya agar kedatangannya tidak sia-sia.
Beberapa anak buah Maxton mendekati pagar sambil memegangi gagang pistol yang ada di pinggang, mereka harus waspada karena bisa saja yang ada di dalam mobil itu adalah musuh. Tidak saja pistol, beberapa dari mereka membawa besi panjang di tangan.
"Tuan, sepertinya situasi tidak baik," ucap supir pribadi Aland.
"Tidak perlu khawatir, aku akan turun!" ucap Aland.
Pria tua itu turun dari mobil dan berjalan menghampiri pagar di mana anak buah Jager Maxton sudah berkumpul dan memandang ke arahnya dengan tatapan tajam.
"Apa yang kau cari, pria tua?" tanya salah satu dari mereka.
"Aku mencari Damian Maxton, apa aku bisa bertemu dengannya?" tanya Aland, matanya melihat ke rumah megah berlantai 3 yang ada di depannya.
"Kau sudah membuat janji?"
"Tidak, karena ini mendadak," jawab Aland.
"Bos tidak ada di rumah, datanglah lain kali!"
Anak buah Jager hendak bubar tapi Aland menahan mereka karena dia harus bertemu dengan salah satu dari mereka dan dia harap dia bisa bertemu dengan Jager Maxton secara langsung.
"Aku ingin bertemu dengan Jager Maxton, apa dia ada?" tanya Aland sambil sedikit berteriak.
"Bos tidak menerima tamu!" jawab salah satu dari mereka.
"Tolong pertemukan aku dengannya, ini penting!"
Anak buah Jager melihat pria tua itu, tangan Aland gemetar saat memegangi tongkatnya begitu juga kakinya karena dia tidak begitu kuat berdiri terlalu lama lagi.
"Kembalilah lain kali, bos tidak menerima tamu!" sang anak buah masih menolak.
"Tolong sampaikan padanya, Aland Windstond ingin bertemu dan membicarakan hal penting. Jika dia menolak dan tidak mau bertemu denganku maka aku akan pergi," Aland masih berusaha, dia harus menemukan anak itu terlebih dahulu dari pada putranya.
Anak buah Jager saling pandang, sepertinya mereka harus menyampaikan hal itu pada bos mereka. Mungkin saja memang ada hal penting yang hendak di sampaikan oleh pria tua itu pada bos mereka.
"Tunggu di sini, aku akan coba sampaikan!" salah satu dari mereka berkata demikian dan setelah itu dia melangkah pergi untuk mencari bosnya.
Aland mengangguk dan kembali ke dalam mobil karena kakinya yang sudah tidak kuat berdiri. Seharusnya dia memakai kursi roda tadi tapi dia datang dengan terburu-buru hingga tidak membawa kursi rodanya.
Anak buah Jager Maxton menghampiri bosnya yang pada saat itu sedang membaca majalah. Jager memandangi anak buahnya yang menghampirinya dengan terburu-buru dengan heran.
"Ada apa? Kenapa kau begitu terburu-buru?" tanya Jager seraya meletakkan majalahnya.
"Bos, di luar ada pria tua yang ingin bertemu denganmu."
Jager mengernyitkan dahi, pria tua?
"Siapa?" tanyanya.
"Aland Windston."
Jager terkejut, matanya menatap sang anak buah dengan tatapan tajam. Windstond? Dia tidak akan pernah lupa dengan nama ini tapi untuk apa Aland Windstond datang menemuinya?
"Untuk apa dia mencariku?"
"Dia berkata ingin bertemu denganmu untuk membicarakan hal penting."
Jager diam saja, Aland Winstond? Dia tidak kenal tapi tidak salah lagi pria itu pasti salah anggota keluarga dari baj*ngan itu. Untuk apa pria itu mencarinya? Apa mereka sudah mengetahui keberadaan Damian dan ingin mengambil Damian? Jika itu yang mereka inginkan, jangan harap mereka bisa mendapatkannya.
"Bos, apa kau ingin bertemu dengannya? Jika tidak maka aku akan mengusirnya pergi," ucap sang anak buah.
"Biarkan dia masuk, aku ingin tahu apa yang ingin dia bicarakan!" perintah Jager.
Sang anak buah mengangguk dan melangkah keluar, sedangkan Jager mengambil majalahnya kembali. Apa mereka yang mencarinya di pasar gelap akhir-akhir ini? Sudah puluhan tahun berlalu, tidak sekalipun ada yang datang untuk mencari dan bertanya tentang keberadaan Damian tapi sekarang, kenapa mereka mencari Damian? Dia rasa mereka memiliki tujuan dan maksud tertentu sehingga mereka mencari anak yang tidak mereka inginkan.
Aland dibawa masuk ke dalam oleh sang anak buah, Jager tidak mau melihatnya sama sekali ketika Alan dibawa mendekat ke arahnya. Tebakannya tidak mungkin salah, pria tua itu pasti ingin mencari keberadaan Damian.
"Aland Windstond, untuk apa kau mencariku?" tanya Jager tanpa basa basi. Jujur mendengar nama Windstond saja sudah membuatnya sangat kesal.
"Kau, Jager Maxton?" Aland memandanginya dengan teliti.
"Langsung saja, untuk apa kau mencariku?" Jager meletakkan majalahnya dan menatap Alan dengan tatapan tajam.
"Oh, ternyata kau ayah dari si baj*ngan itu!"
"Benar, jadi katakan padaku di mana jal*ng yang menjadi selingkuhannya?"
"Kejadian itu sudah puluhan tahun berlalu, untuk apa kau mencarinya? Putramu bahkan tidak peduli dengannya lalu untuk apa kau mencarinya?"
Aland diam saja, sepertinya Jager Maxton tidak akan mengatakan kepadanya di mana keberadaan ******* itu dan sepertinya pria itu juga tidak akan mengatakan keberadaan anak itu.
"Bisakah kau memberikan pria tua ini tempat duduk?" tanya Aland karena kakinya mulai sakit.
"Berikan tempat duduk untuknya!" perintah Jager pada anak buahnya.
Sebuah kursi diletakkan di dekat Aland, mata Jager masih memandanginya dnegan tatapan tajam. Apa Carl Windstond yang meminta pria tua itu datang untuk menemuinya?
"Jadi, untuk apa kau mencari keberadaan Sayuri?" tanya Jager.
"Tolong katakan padaku di mana jal*ng itu berada, aku ingin tahu apa dia melahirkan anak haram yang dia kandung atau tidak karena aku ingin bertemu dengan anak haram itu dan memintanya kembali ke keluarga Windstond."
"Setelah sekian lama, baru sekarang kau mencarinya? Apa sebenarnya tujuanmu?" Jager memandangi Aland dengan penuh selidik.
"Aku tidak tahu anak itu ada, aku baru mengetahuinya belakangan ini. Itu sebabnya aku mencari keberadaan anak itu karena aku ingin memberikan semua yang aku punya padanya!" jawab Aland tanpa ragu karena memang itu tujuannya mencari anak itu dan pastinya dengan sebuah syarat nantinya.
"Hng, iming-iming harta!" cibir Jager. Apa mereka pikir Damian akan tertarik dengan harta mereka? Tanpa harta dari keluarga Windstond sekalipun, Damian sudah memiliki semua itu darinya.
"Bagaimana jika anak itu tidak ada?" tanya Jager lagi.
"Tidak mungkin, aku merasa anak haram itu pasti ada dan Jal*ng itu?"
BRAAAKKKK!
Jager menggebrak meja dan menatap Aland dengan kemarahan di hati.
"Sekali lagi aku mendengar kau memanggil Sayuri dengan sebutan Jal*ng dan anak itu sebagai anak haram maka aku tidak akan ragu meminta mereka melemparmu keluar sekalipun kau orang tua!"
"Apa yang salah dengan ucapanku, memang itu yang terjadi, bukan? Wanita bernama Sayuri itu merayu putraku, lalu melahirkan anak haram itu. Sekalipun aku tidak tahu kenapa jal*ng itu melakukannya tapi sekarang, katakan padaku di mana dia berada dan di mana anak itu berada?"
"Pergi kau dari sini!" Jager benar-benar marah karena dia tidak terima, Sayuri disebut ******* dan yang lebih membuatnya tidak terima adalah, Aland Windstond menganggap Damian sebagai anak haram.
"Katakan padaku, di mana mereka?!" teriak Aland.
"Sayuri sudah tiada dan jika kau ingin tahu di mana anak itu, pergilah cari dia di alam sana!" jawab Jager sambil menahan emosinya.
"Jager Maxton, aku hanya ingin tahu keberadaan anak itu!"
"Kalian keluarga Windstond, tidak ada satu dari kalian pun yang pantas mengetahui keberadaannya! Sebaiknya kau pergi sebelum anak buahku menarikmu keluar!"
"Beri tahu aku di mana anak itu?" tanya Aland sambil berteriak.
"Sudah aku katakan, tanyakan pada Sayuri di alam sana. Sebaiknya anak itu tidak mengenal kalian karena kau hanya menganggapnya sebagai anak haram!" Jager benar-benar marah karena Damian dianggap anak haram oleh kakeknya sendiri. Lebih baik Damian tidak mengenal mereka dari pada hanya penghinaan yang dia dapatkan!
"Dia cucuku, tidak seharusnya kau menyembunyikannya!" Aland tampak tidak terima.
"Cucumu? Apa anak yang kau sebut anak haram itu cucumu? Jangan sampai suatu hari anak itu mempermalukan keluarga besar Windstondmu," sindir Jager dengan sinis.
Aland mencengkeram tongkatnya dengan erat, sepertinya dia sudah salah bicara. Jager Maxton pasti tahu keberadaan anak itu, seharusnya dia bertanya baik-baik tapi memang anak itu hanya anak haram yang dilahirkan oleh seorang ******* baginya.
"Baik, aku yang salah. Tolong katakan padaku, di mana anak itu?"
Jager memandangi Aland dengan penuh selidik, sekian lama mereka baru mencari Damian, pasti ada tujuannya. Dia tidak rela Damian dijadikan alat atau kambing hitam untuk tujuan mereka karena Damian, sudah hidup dengan baik bersama dengannya.
"Aku tidak tahu, seharusnya kau tanyakan pada putramu yang baji*ngan itu!" jawab Jager.
"Kau sahabat Sayuri, bagaimana kau bisa tidak tahu?!" teriak Aland.
"Aku sahabatnya, bukan pria yang menidurinya jadi kau tanyakan pada pria yang menghamilinya karena aku rasa dia lebih tahu dari pada aku!"
Aland kembali mencengkeram tongkatnya, sial! Sepertinya Jager Maxton tidak akan mengatakan padanya keberadaan anak itu. Tapi dia jadi tahu, jika anak itu memang ada.
Aland berpamitan pergi karena Jager kembali mengusir. Damian tidak membutuhkan keluarga yang tidak menginginkannya jadi lebih baik Damian tidak mengetahui siapa keluarga kandungnya tapi hal itu, tidak bisa dia sembunyikan dari Damian karena cepat atau lambat, Damian pasti akan mengetahui siapa ayah kandungnya.
Sepertinya dia harus mengatakan hal ini pada Damian sebelum Damian bertemu dengan mereka karena dia rasa, Aland Windstond tidak akan berhenti mencari keberadaannya.