
Senyum Anna mengembang saat bangun dari tidurnya karena Harry sedang tidur di sampingnya. Entah bagaimana, tapi mereka tidur bersama di sebuah sofa panjang yang ada di sebuah ruangan.
Beberapa kaleng minuman kosong berada di atas meja, dua stik game juga berada di samping kaleng-kaleng kosong itu.
Anna masih berbaring dengan nyaman, dia ingat apa yang telah mereka lakukan semalam. Untuk mengisi malam, mereka berdua bermain game sambil taruhan. Yang kalah harus meneguk satu minuman sampai habis. Itu sebabnya mereka berdua bisa tidur bersama karena mereka berdua tumbang setelah mabuk berat.
Senyum Anna semakin mekar, tangannya tidak tinggal diam. Dada Harry menjadi sasaran empuk tangannya yang nakal. Mumpung orangnya masih tidur jadi dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan.
Setiap lekukan otot dada Harry tidak dia lewatkan, kini dia semakin semangat. Anna memasukkan tangannya ke dalam baju, tangannya bergerak liar di dalam. Mata Anna terpejam, menikmati lekukan otot tubuh Harry. Dari dada lalu ke bawah, kini jari-jarinya sedang menggelitik otot perut Harry.
Mata Harry terbuka, dia tampak menghela napas. Ternyata benar, dia yang harus waspada karena gadis itu berbahaya. Tangan Anna masih bergerak semakin kebawah, Harry memijit pelipis, bukannya tidak senang tapi dia khawatir tidak bisa menahan diri karena sentuhan gadis itu. Dia tidak tanggung akibatnya jika sampai dia kelepasan jadi sebaiknya Anna berhenti sebelum si cacing Alaska mulai bereaksi karena sentuhan tangan nakalnya.
"Kau ingin menyentuh tubuhku sampai kapan?" tanya Harry, matanya memandangi Anna yang sangat menikmati kegiatan tangan nakalnya.
"Oh, ternyata kau sudah bangun," Wajah Anna memerah, dengan cepat tangannya di tarik keluar dari baju Harry.
"Jangan lakukan hal ini, Anna. Aku tidak tanggung akibatnya jika aku kelepasan! Tindakan yang kau lakukan ini sangat berbahaya untukmu dan sebaiknya jangan melakukan hal ini sekalipun pada pria yang kau sukai. Bagaimana jika aku baj*ingan? Aku pasti sudah menerkammu dan tidak akan melepaskan dirimu!!"
"Ma-Maaf, tapi aku hanya melakukan hal ini padamu saja. Aku memang cabul, sebab itu aku takut menjalin hubungan dengan siapa pun. Mereka pasti akan mengira aku maniak dan mungkin aku maniak. Hanya kau yang tahu aku seperti ini bahkan Marco pun tidak walau kami sudah berteman lama," ucap Anna, dia jadi malu.
"Benarkah? Jadi baj*ngan itu tidak tahu?" tanya Harry meyakinkan.
"Hm," Anna menganguk. Tentu saja Marco tidak tahu, bahkan kedua orang tuanya pun tidak tahu.
"Oh, sepertinya aku harus pergi ke psikiater," ucap Anna sambil menghela napas.
"Ide bagus, kau memang harus mengurangi fantasi liarmu agar kau tidak selalu mimisan!"
"kau benar. Kau tidak membenci aku yang seperti ini, bukan?" Anna memandangi Harry saat dia bertanya demikian. Dia harap Harry tidak membenci dirinya karena otak cabulnya.
"Entahlah, aku tidak tahu tapi entah kenapa aku tidak bisa membenci dirimu!"
Anna tersenyum, dia senang mendengarnya. Itu memang kekurangan yang ada pada dirinya yang sulit dia hilangkan.
"Jika begitu bolehkah aku menganggap jika kau sudah menyukai aku?"
Harry diam saja, dia tidak keberatan sama sekali. Mungkin benar, dia sudah menyukai gadis itu.
"Hari ini apa yang akan kau lakukan?" Harry mengalihkan pembicaraan.
"Aku harus pergi menemui klien di dua tempat, jika sudah selesai aku akan pergi ke tempatmu."
"Baiklah, kita pergi bersama setelah ini!"
Anna mengangguk, mereka masih berbaring. Harry diam saja saat tangan Anna kebali masuk ke dalam bajunya dan meraba tubuhnya. Sepertinya dia juga harus membiasakan diri untuk hal ini karena dia tahu, Anna suka meraba. Sepertinya bulu tubuhnya akan rontok jika Anna selalu merabanya. Bagus, jadi tidak perlu pergi waxing dan mengeluarkan banyak uang.
Mereka masih menikmati waktu mereka berdua yang seperti itu dan ketika waktu sudah menunjukkan pukul delapan, mereka segera bersiap-siap untuk pergi.
Sarapan adalah hal pertama yang mereka lakukan, mereka berdua sudah seperti pasangan pada umumnya dan semua itu terjadi karena faktor kebiasaan. Keberadaan Anna benar-benar sudah bisa diterima oleh Harry, harinya bahkan terasa menyenangkan setelah ada gadis aneh itu. Walau cabul tapi dia yakin Anna pasti tidak bisa memperkosanya karena gadis itu akan mimisan.
Setelah selesai sarapan, mereka pergi. Harry mengantar Anna pergi menemui klien terlebih dahulu sebelum pergi ke kantor. Nanti siang dia akan pergi menemui Damian untuk memberikan berkas kerja sama mereka. Damian juga berkata akan memberikan peluru untuk pistolnya, setidaknya dia sudah bisa menggunakan benda itu karena begitu dia mendapatkannya, Harry mulai berlatih.
Walau belum begitu mahir setidaknya dia sudah bisa. Jangan sampai dia tidak tahu cara menggunakan benda itu saat keadaan sedang gawat karena itu memalukan dan berbahaya.
Mereka sudah tiba di rumah klien Anna, gadis itu sangat senang karena Harry mau mengantarnya.
"Terima kasih, Harry. Aku jadi merepotkan dirimu," ucapnya basa basi.
"Tidak apa-apa, aku senang melakukannya!"
"Jika begitu aku turun dulu," ucap Anna setelah mengambil sketsa gambarnya.
"Berhati-hatilah, setelah selesai datang ke kantor!" ucap Harry, entah kenapa dia merasa akan terjadi sesuatu.
"Tentu," Anna tersenyum manis, tapi senyumnya hilang saat Harry mendekatkan wajah mereka dan mencium bibirnya.
Mata Anna terpejam, sketsa yang dia pegang jatuh di atas pangkuan karena kedua tangannya sudah melingkar di leher Harry.
Mereka berciuman cukup lama, rasanya enggan berpisah dan ingin selalu seperti itu tapi mereka harus melakukan pekerjaan mereka.
Anna tampak terengah saat Harry melepaskan bibirnya, jari Harry sudah berada di bibir Anna dan memberikan usapan lembut.
"Sepertinya kau harus banyak latihan kontak fisik agar tidak mimisan," ucapnya.
"Benarkah, jadi aku tidak perlu pergi ke psikiater?" Anna terlihat bersemangat.
"Kenapa kau begitu bersemangat?" Harry tampak heran.
"Aku lebih suka terapi secara langsung dari pada ke psikiater!" ucap Anna sambil tersenyum.
"Cabul!" Harry menyentil dahi Anna. Gadis itu berteriak pelan sambil memegangi dahinya, sepertinya Harry mulai suka menyentil dahinya.
"Sepertinya kau begitu bersemangat," ucap Harry lagi.
"Tentu saja, kapan kita akan mulai? Besok malam atau nanti malam? Aku harap nanti malam, lebih cepat lebih baik!" ucap Anna dengan mata berbinar.
Harry menggeleng, Anna benar-bear luar biasa. Luar biasa cabul.
"Tapi jika kau pingsan maka terapi batal!"
"Aku tidak akan pingsan!" jawab Anna dengan cepat.
"Ck, kau benar-benar senang. Aku hanya bercanda saja. Segeralah turun, aku sudah harus pergi," Harry memberikan kecupan ringan di bibir Anna.
Anna tampak cemberut, dia kira Harry serius dengan ucapannya tapi dia harap pria itu serius karena dia membutuhkannya. Dia tidak mau pingsan saat malam pertama mereka.
"Baiklah, aku tunggu terapinya nanti malam," sebelum turun Anna memberikan ciuman di bibir Harry. Dia keluar dari mobil dengan wajah berseri, Anna bahkan melambaikan tangan dan masih berdiri di depan rumah kliennya sampai mobill Harry pergi.
Anna memutar langkah, sekarang waktunya bekerja. Dia tidak sadar jika ada sekelompok orang yang sedang mengincar dirinya. Anna melenggang dengan santai masuk ke dalam rumah kliennya, dia berada di sana cukup lama.
Sekelompok orang itu menunggu Anna di sana, mereka bahkan menyusun rencana untuk mendapatkan gadis itu.
Tanpa tahu jika dia sudah diincar, Anna keluar dari rumah kliennya dengan santai. Sekelompok orang itu langsung waspada, Anna masih belum menyadari keberadaan mereka.
Anna berdiri di sisi jalan untuk menunggu taksi karena dia harus pergi ke rumah klien yang berikutnya.
Dua orang yang mencurigakan mendekatinya, Anna mulai curiga. Anna melihat sekitar yang sepi, sebuah mobil van berjalan perlahan di belakang kedua orang yang semakin mendekatinya.
Anna mulai melangkah pergi, sial. Dia punya firasat buruk. Langkah Anna semakin cepat, begitu juga dengan langkah kedua orang itu. Kini Anna mulai berlari, dia yakin mereka punya niat jahat.
Anna lari secepat mungkin, dia tidak peduli apa pun lagi. Situasi yang sepi membuatnya semakin ketakutan. Anna berusaha mengambil ponsel yang ada di dalam tas, dia akan menghubungi 911 untuk meminta bantuan.
Sebuah mobil melaju dari arah depan saat Anna sedang berusaha menghubungi 911, dia pikir akan menghentikan mobil itu untuk mendapat bantuan. Tapi ternyata mobil itu berhenti dengan sendirinya, Anna menghampiri mobil itu untuk meminta bantuan tapi sialnya, seseorang membuka pintu mobil dan menarik tangannnya hingga Anna masuk ke dalam mobil.
Anna berteriak, ponselnya jatuh ke sisi jalan. Sial, sepertinya dia sedang dalam masalah besar.