
Senjata otomatis berhenti menembak karena pelurunya sudah habis, anak buah Akira sudah terkapar di atas lantai. Sebagian dengan kondisi yang mengenaskan. Selain mendapat tembakan dari senapan otomatis, tubuh anak buah yang lain putus menjadi dua bagian akibat tebasan kawat.
Sebagian yang selamat panik, mereka sungguh tidak menyangka jebakan yang mereka buat justru menghabisi rekan-rekan mereka. Akira mengumpat marah, siapa pun yang ada di luar sana, dia menginginkan kepalanya. Jas dibuka, pistol pun disimpan. Sebilah pedang panjang dikeluarkan, dia harus mendapatkan kepala pria tadi.
Anak buahnya masih panik akibat kejadian yang tak terduga, selagi mereka sedang lengah Matthew sudah masuk ke dalam ruangan bersama dengan Ainsley dan juga Damian. Mereka menembaki yang tersisa, sontak saja mereka kembali panik karena mendapat serangan tiba-tiba. Mereka bertiga terus melangkah maju, menembaki anak buah Akira.
Suara tembakan kembali terdengar di kapal itu, mereka bertiga bahkan melangkah melewati potongan tubuh yang ada di atas lantai tanpa ada rasa takut sedikitpun. Matthew menembak bagian depan, Ainsley bagian kanan, sedangkan Damian menembak yang ada di sisi kiri. Kerja sama yang mereka lakukan membuat musuh tidak berdaya, para musuh bahkan tidak memiliki kesempatan untuk menembaki mereka.
Anak buah Akira berguguran tapi pria Jepang itu terlihat santai dan tidak menunjukkan rasa takut sedikitpun. Dia bahkan melihat mata pedangnya yang tajam, dia akan mengajak salah satu dari mereka untuk bermain pedang. Pedang adalah hal tabu untuk orang Amerika, mereka lebih jago dengan senjata api dan dia tebak tidak ada satu pun dari mereka yang bisa bermain pedang.
Walaupun dia akan kalah dan mati di sana, tapi dia harus mati dengan cara terhormat dan tentunya sebelum mati, dia harus mengetahui siapa musuh yang sedang dia hadapi saat ini.
Suara tembakan sudah berhenti, karena anak buahnya yang tersisa sudah bersimbah darah. Akira mengangkat pedangnya dan mengarahkan benda tajam itu ke arah ketiga musuh yang sedang menodongkan senjata api ke arahnya.
"Aku menantang salah satu dari kalian untuk duel!" ucap Akira.
"Siapa yang kau tantang?" tanya Matthew sambil menyimpan pistolnya.
"Kau, atau Damian Maxton. Yang mana saja boleh atau gadis itu? Dia juga boleh!" Akira mengarahkan mata pedangnya ke arah Ainsley.
"Sangat tidak gentle menantang seorang wanita, Akira!" ucap Damian.
"Kau benar. Jadi antara kau berdua, siapa yang akan maju terlebih dahulu?" tanya Akira.
"Aku, aku yang akan melawanmu!" jawab Damian.
"Hei, ini bagian kesukaanku jadi biarkan aku yang melawannya!" protes Matthew. Padahal dia sudah sangat menunggu pertarungan seperti ini, tangannya bahkan sudah gatal tapi perannya harus diambil oleh Damian.
"Kita berdua yang akan melawannya, tapi sekarang ijinkan aku yang melawannya terlebih dahulu!"
"Jangan banyak membual!" Akira mengambil sebuah pedang dan melemparkan benda itu di dekat mereka.
"Siapa pun yang mau menjadi lawanku, cepat maju!" ucap Akira.
Damian melangkah maju sambil menyimpan pistolnya, dia membungkuk untuk mengambil pedang tapi tanpa membuang waktu dan tanpa aba-aba Akira berteriak dan berlari kearahnya.
"Dam-Dam, awas!" Ainsley berteriak, karena musuh begitu curang.
Damian meraih gagang pedang dengan cepat dan setelah itu, TRAAANGGGGG!!! Suara benturan kedua pedang terdengar. Damian terjatuh ke atas lantai karena serangan mendadak yang Akira berikan dan pria itu mendorongnya dengan kuat.
Kedua mata pedang masih saling menggesek, Akira berada di atas dan menekan pedangnya dengan kuat sampai membuat kedua pedang itu menekan dada Damian.
"Cara yang curang, Akira!" ucap Damian sambil berusaha menahan pedang dengan sekuat tenaga.
"Curang atau tidak, yang penting menang!" jawab Akira.
"Ya, yang penting menang!" Damian mengangkat satu kakinya dan menendang perut Akira hingga pria itu terpental.
Akira mengumpat, pedang kembali di angkat. Damian sudah bangkit berdiri, dia tidak menyangka Akira akan menyerang secara tiba-tiba tapi kali ini dia akan serius.
Tidak jauh dari mereka, Matthew terlihat tidak sabar menunggu giliran. Permainan yang dia suka, jangan sampai dia tidak mendapat jatah.
"Ayo maju!" ucap Damian seraya mengangkat pedangnya.
"Hari ini kau harus mati, Damian Maxton!" teriak Akira seraya berlari ke arah Damian.
TRAANGGG!! Benturan pedang kembali terdengar dan setelah itu, kedua pedang kembali membentur bahkan suara gesekan kedua mata pedang yang membuat merinding juga terdengar karena Akira dan Damian terus menyabetkan mata pedang mereka ke arah lawan.
Suara benturan dan gesekan kedua benda tajam itu memenuhi ruangan. Akira terus menyabetkan pedangnya ke kanan dan setelah itu ke kiri, tentu Damian menangkisnya bahkan Damian hanya menyerang sesekali. Dia menangkis setiap serangan Akira sampai membuat Akira kesal.
Ainsley berteriak, dia sangat ingin membantu suaminya tapi Matthew menahan adiknya.
"Jangan terburu-buru, luka akibat pertarungan adalah hal kecil. Lagi pula tidak dalam, kau tidak perlu khawatir. Biarkan musuh senang terlebih dahulu!" ucap Matthew.
"Kau menginginkan tangannya bukan, Ainsley?" tanya Damian.
"Ya, aku menginginkan tangan kanannya yang telah menyentuhku!" jawab Ainsley.
"Jika begitu aku akan mengambilkannya untukmu dan kakak ipar, Sorry kau tidak dapat bagian."
"Apa, hei?!" Matthew tidak terima karena dia sudah menunggu.
"Berhenti membual! Sekarang kepalamu, Damian Maxton!" ucap Akira.
"Ambil jika kau bisa!" jawab Damian sambil mengangkat mata pedangnya.
Mereka berdua kembali berlari dan mengadukan pedang mereka. Suara benturan kedua benda itu kembali terdengar, kali ini Damian melawan. Jangan remehkan dirinya karena dulu dia adalah juara satu dalam permainan Kendo di sekolah.
Damian menebaskan pedangnya dengan cepat sampai membuat Akira kewalahan. Dia bahkan kesulitan menangkis sehingga dia mendapatkan beberapa luka di bagian lengan dan anggota tubuh lainnya.
"Sialan kau!" teriak Akira marah.
Pedang kembali di ayun, Tranggg!! Mata pedangnya di tangkis oleh Damian dengan sekuat tenaga sampai pedang yang dia pegang terlepas dari tangan dan terpental. Itu kesempatannya jadi Matthew berlari ke arah pedang Akira dan menangkap gagang pedang itu dengan tatapan mata tajam karena dia sudah sangat tidak sabar.
Dia segera berlari ke arah Akira dan Damian, sedangkan Damian tidak menyia-nyiakan kesempatan dan, Craasshhhhh!! Mata pedangnya menebas tangan kanan Akira dengan cepat.
Pria itu berteriak tapi tanpa dia duga, Matthew menebaskan pedangnya ke dada sambil memutar langkahnya. Teriakan Akira kembali terdengar, pria itu jatuh berlutut di atas lantai dengan lengan yang sudah tidak ada dan luka menganga di dada.
Matthew terlihat puas, setidaknya dia mendapat bagian dan yang pasti, pria itu tidak mati.
"Sekarang giliranku!" ucap Ainsley seraya mengeluarkan pisau yang selalu dia bawa.
"Apa yang mau kau lakukan?" tanya Damian.
"Mengambil matanya!" jawab Ainsley.
"Wow, tunggu!" Damian ingin mencegah tapi Ainsley sudah berdiri di hadapan Akira yang sudah tidak berdaya. Tangan Ainsley berada di kepala Akira agar dia bisa mengangkat wajah pria itu dan bisa mengeluarkan bola mata pria itu dengan mudah.
"Ainsey, Jangan!" teriak Damian tapi sayangnya, mata pisau Ainsley sudah masuk ke dalam mata Akira dan mengorek bola mata pria itu keluar.
Damian tercengang, tidak bersuara saat melihat istrinya mengeluarkan bola mata Akira. Wow, sepertinya dia harus mengacungkan jempol untuk aksi Ainsley.
Teriakan Akira memenuhi ruangan. Dengan satu tangannya, Akira memegangi matanya di mana bola matanya sudah tidak ada lagi. Ainsley melangkah mundur dan tampak puas.
"Itu akibatnya karena kau sudah berani menatapku dengan tatapan mesum!" ucap Ainsley seraya membuang pisau di mana bola mata Akira berada di ujungnya.
Ainsley begitu puas, sedangkan Damian masih terpaku melihat apa yang baru saja dilakukan oleh istrinya. Gila, dia benar-benar sudah menikahi wanita yang luar biasa.
"Dam-Dam, apa kau tidak apa-apa?" Ainsley mendekati suaminya dan melihat luka yang ada di lengan suaminya.
"Tidak, aku tidak apa-apa."
Para anak buah yang selesai menyimpan bom masuk ke dalam ruangan. Mereka mendapat perintah menangkap Akira dan membawanya pergi.
Matthew sedang mencoba berkomunikasi dengan istrinya saat itu. Dia sangat ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi tapi tiba-tiba saja, terdengar sebuah ledakan dari kapal di mana istrinya dan yang lain berada. Matthew mengumpat, apalagi dia tidak bisa menghubungi Vivian dan yang lainnya. Apa yang sebenarnya terjadi di sana?