Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Im promise



Ainsley keluar dari kamar Mayumi pada saat itu. Meski kesal tapi Mayumi mengizinkan Ainsley masuk juga. Dia tidak ingin Ainsley tahu apa yang dia rasakan saat ini.Mereka berbicara seperti biasa, Mayumi tahu Ainsley adalah gadis yang baik apalagi Ainsley selalu mengatakan dia akan membantunya.


Kebencian seharusnya tidak tumbuh di hati tetapi kebencian itu datang dengan sendirinya karena takut kehilangan lagi.Mayumi sangat berharap, dia tidak tenggelam dalam kebencian yang dia rasakan karena dia tidak ingin menghancurkan hubungannya dengan Damian apalagi dia dan Damian sudah berteman baik sejak lama.


Semoga kebencian itu cepat berlalu, dia seperti itu pasti karena kekasihnya yang tidak ada kabar. Semoga saja kekasihnya segera ditemukan agar rasa benci dan cemburu yang ada di hati segera hilang.


Setelah keluar dari kamar, Ainsley mencari keberadaan Damian tapi dia tidak menemukannya. Sepertinya Damian sedang bersama dengan ayahnya jadi sebaiknya dia menunggu di dalam kamar karena mereka akan melihat rekaman cctv dan melihat bagaimana rupa ayah juga kakek Damian.


Memang saat itu, Damian berada di kamar ayahnya. Dia membawa ayahnya beristirahat ketika Ainsley berbicara dengan Mayumi. Damian juga memberikan obat yang harus diminum oleh ayahnya, dia tidak mau ayahnya sakit akibat perkelahian yang dia lakukan.


"Damian, kau tidak boleh mengatakan pada adikmu apa yang telah terjadi," ucap ayahnya.


"Kenapa? Aku baru ingin mengatakan padanya jika Daddy berkelahi agar Daddy diceramahi olehnya."


"Hei, tidak boleh!" cegah ayahnya.


"Kenapa?" Damian memandangi ayahnya sejenak dan setelah itu dia kembali mengambil obat.


"Adikmu kadang pendiam, tapi jika dia suka mengoceh, dia bagaikan ibunya. Cerewet tiada henti!"


Damian terkekeh, ayahnya sudah seperti anak kecil yang takut ketahuan. Dia juga tidak mau ayahnya berkelahi lagi apalagi dengan ayahnya yang bajingan itu!


"Berjanjilah, Dad. Lain kali kau tidak akan berkelahi lagi," Damian memberikan obat yang dia ambil pada ayahnya.


"Jika saja mereka tidak menghinamu dan ibumu dan datang mencari gara-gara, maka aku tidak akan memukul ayahmu!" ucap Jager seraya mengambil obat yang diberikan oleh Damian.


"Terima kasih Daddy telah membela aku dan Mommy tapi lebih dari apa pun, kesehatan Daddy lebih penting. Jika dia datang lagi untuk mencari gara-gara, hubungi aku. Aku akan segera pulang dan mulai sekarang, mau siapa pun yang bernama Windstond datang, tidak ada yang boleh masuk ke dalam."


"Baiklah, sekarang pergilah temani Ainsley. Mungkin dia sudah selesai berbincang dengan Mayumi dan sedang menunggumu."


"Oke, Daddy segeralah beristirahat!"


"Tenang saja, Daddy akan cepat tidur dan tidak akan mengintip!" goda ayahnya.


Damian hanya menggeleng, apa sih maksud ayahnya? Dia dan Ainsley tidak mungkin melakukan hal itu, tidak karena masih terlalu cepat. Damian keluar dari kamar, dia mencoba mendekati kamar Mayumi tapi dia rasa Ainsley sudah tidak ada di sana. Damian memutar langkahnya dan berjalan menuju kamar adiknya, semoga saja Aisley menunggunya di dalam sana dan benar saja, Ainsley sedang berbaring di atas ranjang sambil memainkan ponsel-nya saat dia membuka pintu.


"Hei, apa sudah lama menunggu?" tanyanya basa basi seraya menutup pintu.


"Tidak, baru saja. Bagaimana keadaan ayahmu?" Ainsley meletakkan ponsel-nya dan duduk di atas ranjang.


"Daddy baik-baik saja, tidak perlu khawatir," Damian duduk di sisi ranjang, entah kenapa tiba-tiba mereka jadi canggung.


"Hm, kau bilang ingin melihat wajah ayah dan kakekmu?" Ainsley terlihat tersipu, apa mereka akan tidur bersama malam ini?


"Aku jadi malas melihat wajah mereka," Damian berbaring, matanya melirik ke arah Ainsley, sedangkan gadis itu terlihat semakin gugup.


"Ainsley, kemarilah!" Damian menepuk ranjang yang ada di sisinya.


"Dam-Dam, lebih baik lihat dulu cctv-nya. Bukankah kau bilang ingin menghajar ayahmu jika kau bertemu dengannya di jalan? Dan, jangan-jangan kau dan Harry benar-benar bersaudara."


Damian menghela napas, jika mereka adalah saudara, Harry pasti akan semakin membencinya. Dia yakin hal itu pasti terjadi, selain merebut wanita yang dia inginkan, ternyata mereka saudara beda ibu.


"Baiklah, ayo kita lihat rekaman cctv-nya."


Damian beranjak, dia ingin mengambil laptop. Damian keluar dari kamar tapi tidak lama kemudian, dia kembali sambil membawa laptopnya. Damian duduk di atas ranjang, begitu juga dengan Ainsley. Mereka duduk bersama sambil melihat rekaman cctv yang terpasang di rumah.


Mereka melihat ketika Aland Windstond datang dan selang beberapa jam, Carl datang dan perkelahian pun terjadi antara ayahnya dengan ayah kandungnya.


"Aku semakin yakin jika kau dan Harry adalah saudara," ucap Ainsley.


"Entahlah, aku harap tidak!"


"Kenapa begitu?" Ainsley memadangi Damian, sedangkan Damian tersenyum dan menutup laptopnya karena dia sudah melihat rupa kakek dan ayahnya.


"Dam-Dam," Ainsley bersandar di lengan Damian.


"Jika Harry adalah kakakmu, apa yang akan kau lakukan?"


Damian diam sejenak, dan setelah itu dia berkata, "Entahlah, aku juga tidak tahu. Ini sangat mendadak, Ainsley. Aku tidak pernah membayangkan hal ini sebelumnya, aku tidak tahu harus bagaimana tapi yang pasti, dia akan semakin membenci aku!"


"Oh ya?"


"Hm, aku berani bertaruh. Dia pasti akan semakin membenci aku karena aku merebut wanita yang dia inginkan lalu tiba-tiba kami menjadi saudara. Pasti akan terasa aneh!"


"Kau tidak perlu khawatir, aku akan selalu bersama denganmu walaupun keluargamu membenci dan menolakmu," ucap Ainsley.


"Thanks, aku sudah punya kalian jadi aku tidak butuh mereka yang tidak menganggap aku ada dan yang hanya bisa menghina aku dan ibuku!"


Ainsley tersenyum, pasti akan sulit bagi Damian nanti saat Harry tahu jika mereka adalah saudara beda ibu. Harry pria yang baik, tapi dia pria yang cukup keras. Pasti tidak akan mudah menerima Damian dan dia harap, mereka akur sebagai saudara.


"Aku juga begitu!"


Damian mengangkat dagu Ainsley dan mencium bibirnya. Ciuman ringan dia berikan dan setelah itu mereka saling pandang. Ainsley memejamkan mata saat Damian kembali mendekatkan bibir mereka berdua. Mereka kembali berciuman, tangan Ainsley sudah melingkar di leher Damian, sedangkan Damian membaringkan Ainsley dengan perlahan.


Ciuman mereka semakin dalam, lidah mereka saling bermain di dalam mulut mereka. Jantung Ainsley berdebar, jika dilanjutkan dia tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi dengan mereka berdua.


"Dam-Dam, kau tidak akan tidur di sini, bukan?" tanya Ainsley dengan wajah memerah.


"Apa tidak boleh?" Damian berbaring di sampingnya dan memberikan ciuman ringan di wajahnya.


"Kasurnya sempit, bagaimana aku bisa berguling?"


Damian terkekeh, alasan konyol ayahnya digunakan juga oleh Ainsley. Ini memang pertama kali mereka tidur bersama, dia tahu Ainsley pasti akan gugup.


"Tenang saja, aku akan memelukmu dengan erat agar kau tidak bisa berguling!"


Ainsley tersenyum sambil menggigit bibir, sesungguhnya dia sangat gugup. Degupan jantungnya bahkan semakin terdengar. Ainsley memutar tubuhnya, membelakangi Damian. Dia melakukan hal itu karena dia malu dan tidak sanggup memandangi Damian terlalu lama.


Ainsley terkejut saat Damian memeluknya dari belakang dan mencium tengkuknya. Tangan Damian melingkar di tubuhnya dan memberikan usapan ringan dibagian perutnya.


"Da-Damian," Ainsley menahan tangan Damian dan berusaha menahan geli di lehernya karena bibir Damian bermain di sana.


"Hm," Damian tidak berhenti, tangannya bahkan masuk ke dalam baju yang dipakai oleh Ainsley. Jantung Ainsley serasa hendak melompat keluar, apalagi tangan Damian bermain di daerah perutnya.


"Dam?" Ainsley menahan tangan Damian dengan napas tertahan.


"Aku ingin kita seperti ini sebentar Ainsley, hanya sebentar."


"Tapi?" Ainsley tampak gugup.


"Aku tidak akan melakukan apa pun, aku berjanji."


Ainsley kembali memutar tubuhnya, menghadap ke arah Damian. Mereka saling pandang dan setelah itu mereka berciuman. Ainsley tidak menahan tangan Damian lagi yang berada di dalam bajunya. Damian mengusap punggung Ainsley dengan lembut dan tangannya merayap sana sini sampai membuat napas Ainsley terasa berat apalagi ciuman yang mereka lakukan semakin dalam dan panas.


Damian menghentikan ciuman mereka lalu dia bertanya, "Bolehkah aku menyentuhnya?" bisiknya tapi Ainsley terlihat ragu, "Aku akan berhenti jika kau tidak suka. Anggap ini latihan untuk kita!" ucapnya lagi.


Ainsley mengangguk, mereka memang butuh latihan agar mereka terbiasa satu sama lain apalagi ini pertama kali mereka menjalin hubungan.


Damian tersenyum dan memberikan ciuman di pipi Ainsley. Bibirnya bermain di sana, memberikan ciuman ringan dan pada akhirnya kembali ke bibir Ainsley. Mereka kembali berciuman dan untuk pertama kalinya, Ainsley membiarkan tubuhnya disentuh oleh laki-laki dan untuk pertama kali pula, Damian menyentuh tubuh wanita.


Jantung Ainsley bagai genderang saat tangan Damian menyusup masuk ke dalam bra yang dia pakai, matanya bahkan melotot tapi setelah itu, Ainsley kembali memejamkan matanya. Damian tampak gugup, sial, dia bagaikan orang bodoh! Tidak memiliki pengalaman membuatnya canggung untuk menggerakkan tangannya, sepertinya dia harus menonton tutorialnya sambil bersembunyi di kamar mandi agar tidak ada yang tahu.


Dengan menggunakan instingnya, Damian memberikan remasan lembut. Sepertinya dia harus belajar pada ahlinya sesuai dengan saran sang adik, sang dewa malam mungkin bisa mengajarinya. Remasan yang dia berikan membuat Ainsley mendesah, hal itu membuat Damian bersemangat.


Bra yang dipakai oleh Ainsley dinaikkan ke atas dan setelah itu, tangannya kembali bermain di dada Ainsley. Wajah Ainsley semakin memerah dan bibir mereka sudah terlepas. Damian mencium wajah Ainsley dan terus ke bawah. Beberapa tanda dia buat di tubuh Ainsley, sedangkan gadis itu tampak gelisah.


Ainsley bahkan menutup mulutnya, dia malu mendengar desahannya sendiri. Damian mengangkat baju yang dipakai oleh Ainsley tanpa ragu. Dia melihat kedua dada Ainsley begitu lama, sedangkan Ainsley menutup wajahnya.


"Apa yang kau lihat?!" tanya Ainsley. Sungguh dia sangat malu.


"Tidak!" Damian menunduk, dan mencium dada Ainsley. Gadis itu terkejut, dia ingin protes tapi enggan dia lakukan. Dia bahkan merasa aneh, sepertinya ada yang salah dengan dirinya.


"Dam?" Ainsley mengusap rambut Damian, dia sangat ingin mereka berhenti melakukan hal itu.


"Bisakah kita berhenti?" pintanya.


"Apa kau tidak suka?" Damian menghentikan ciumannya dan memandangi Ainsley dengan lekat.


"Aku hanya merasa aneh!"


"Baiklah, maaf jika membuatmu tidak nyaman," Damian menurunkan bra dan juga baju Ainsley.


"Bukan begitu. Kita pelan-pelan saja, oke?"


"Yes, maaf aku tidak punya pengalaman!" Damian berbaring di samping Ainsley dan mencium dahinya.


"Aku juga tidak, sebab itu aku merasa aneh. Kita bisa belajar bersama dalam hal ini."


"Kau benar! Bolehkah aku tidur bersama denganmu?" tanya Damian. Jika Ainsley melarang maka dia akan keluar.


"Tentu saja boleh," jawab Ainsley seraya masuk ke dalam pelukannya.


"Thanks, Sweetheart. Sudah malam, sebaiknya kita tidur."


"Hm," jawab Ainsley singkat sambil memejamkan mata.


Damian kembali mencium dahi Ainsley, jujur dia juga merasa aneh. Damian memeluk Ainsley dengan erat, malam ini untuk pertama kali mereka tidur berdua, dan setiap moment yang mereka lewati, sangat berharga untuk mereka. Semoga saja mereka tetap seperti itu tanpa ada yang mengganggu tapi sayangnya, para pengganggu itu tetap ada tanpa mereka sadari dan inginkan.