
Ainsley sedang bersiap-siap karena sebentar lagi dia akan pergi makan malam dengan Damian. Setelah cukup beristirahat, lelah akibat pertarungan sudah tidak ada lagi. Setelah makan malam, Damian akan membawanya pulang ke rumahnya dan mulai sekarang, dia akan tinggal bersama suaminya.
Semua barang-barang yang akan dia bawa sudah siap, seseorang akan membawa barang-barang itu nanti ke rumah Damian. Ainsley memandangi kamarnya, entah kenapa tiba-tiba saja dia merasa berat meninggalkan rumah di mana dia dibesarkan.
Walau dia pergi tidak jauh, tapi tetap saja perasaan berat itu dia rasakan. Sepertinya dia terlalu berlebihan, dia bisa pulang kapan saja saat dia mau. Seseorang mengetuk pintu saat itu, terdengar pula suara Vivian di luar sana.
"Kakak Ipar, apa kau belum siap?" tanya Vivian.
"Tunggu sebentar, Kakak Ipar!" teriak Ainsley tapi tunggu dulu, kenapa mereka saling memanggil kakak ipar?
Ainsley berjalan menuju pintu dan membukanya, "Kak, jangan memanggilku seperti itu!" ucapnya.
"Kenapa? Kau sudah menikah dengan kakakku jadi kau adalah kakak iparku," goda Vivian.
"kau juga menikah dengan kakakku jadi kau kakak iparku," Ainsley tidak mau kalah.
'"Sekarang giliran aku yang memanggilmu kakak ipar!"
"Tidak mau! Kau yang jadi kakak iparku terlebih dahulu jadi kau tetap Kakak ipar dan aku adik ipar!"
Vivian terkekeh, dia hanya ingin menggoda Ainsley saja. Mau bagaimanapun, yang pasti mereka sudah menjadi keluarga.
"Baiklah, aku hanya bercanda. Aku akan tetap menjadi kakak iparmu karena aku duluan yang mendapat gelar itu!"
"Memang sudah seharusnya," ucap Ainsley.
"Baiklah, apa kau sudah selesai?"
"Kenapa?"
"Matthew mencarimu, dia bilang ada yang ingin dia bicarakan."
"Apa ada yang penting?" pintu ditutup, sedangkan Vivian mengangkat bahu.
Ainsley mengikuti langkah kakak iparnya menuju ruangan di mana Matthew dan Michael berada. Mereka sudah menunggu adiknya karena ada yang hendak mereka bicarakan.
"Ada apa Kakak mencariku?" tanya Ainsley seraya menghampiri kedua kakaknya.
"Kami ingin tahu, apa yang akan kau lakukan pada mereka bertiga?" tanya Matthew.
"Terserah kalian saja," jawab Ainsley.
"Kau tidak mau mengambil bagian?"
"Tidak mau! Aku mau menikmati pernikahanku yang tertunda!"
"Baiklah, memang sebaiknya kau menikmati pernikahanmu dengan Damian."
"Jika begitu aku mau pergi, aku serahkan mereka pada kalian!" ucap Ainsley seraya melangkah keluar karena sudah waktunya dia pergi.
"Apa yang ingin kalian lakukan pada mereka?" tanya Vivian ingin tahu.
"Mengajak mereka bermain teka teki, Kakak Ipar," jawab Michael.
Vivian menggeleng, tiga pecundang yang tidak sayang nyawa. Dia masih ingat bagaimana permainan yang dimainkan oleh Vanesa dan kedua rekannya saat itu dan dia rasa, kejadian itu akan terulang kembali.
Di luar sana, Damian sudah menunggu istrinya. Tidak saja akan membawa Ainsley makan malam, dia juga sedang berbicara dengan Kate dan Albert juga Jacob dan Alice. Tentu dia meminta ijin untuk membawa Ainsley pulang malam ini.
Tidak ada yang mencegah dan melarang karena semua tahu, Ainsley akan mengikuti suaminya setelah dia menikah.
Ainsley sudah siap, dia mencari suaminya yang masih berbincang dengan keluarganya saat itu.
"Aku sudah siap," ucapnya seraya menghampiri mereka.
"Jika begitu kita segera berangkat," ucap Damian.
"Mom, aku akan langsung pulang ke rumah Damian."
"Kami tahu Sayang, di mana suamimu berada maka di sanalah kau berada. Jadi istri yang baik untuk Damian," ucap ibunya.
"Pasti, Mom. Aku akan sering-sering pulang untuk menjenguk kalian."
"Baiklah, sekarang pergilah. Nikmati malam kalian."
Pintu mobil dibuka, Damian memberikan tangannya dan tentunya di sambut Aisnley dengan senyum manis di wajah. Malam ini, mereka akan menebus malam pernikahan mereka yang kacau.
"Apa kau sibuk dari siang untuk menyiapkan hal ini?" tanya Ainsley. Mereka melangkah masuk ke dalam restoran.
"Yes, aku ingin kau senang dan aku ingin menebus malam pernikahan kita yang kacau gara-gara Mayumi."
"Tanpa perlu menyiapkan hal ini pun aku sudah senang, yang penting aku bersama denganmu."
Damian tersenyum, mereka melangkah menuju teras di mana mereka bisa menikmati laut pada malam hari. Sebuah meja tampak sudah disiapkan untuk mereka. Lilin juga sudah menyala di atas meja dan tentunya dengan seikat bunga.
"Aku tahu kau sudah punya segalanya jadi hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu dan aku harap kau suka," ucap Damian.
"Ck, bukankah sudah aku katakan? Yang penting aku bersama denganmu dan itu sudah membuat aku senang!"
Damian mengajak Ainsley untuk duduk, bunga yang ada di atas meja diambil. Ainsley menghirup aromanya dan terlihat senang.
Setelah memesan makanan, mereka berbincang sambil melihat laut malam. Deburan ombak yang menerjang sisi pantai bahkan terdengar. Ainsely tersenyum, ketika Damian merapikan sedikit rambutnya yang tertiup angin. Tidak perlu melakukan hal yang berlebihan, cukup seperti itu saja sudah membuatnya bahagia.
Musik merdu yang melantun, membuat suasana di antara mereka semakin romantis. Mereka menikmati makanan mereka sambil berbincang, saling menyuapi satu sama lain. Mereka juga mengadukan gelas anggur dan kembali saling menyuapi.
Mereka melakukan hal sederhana, tapi mereka berdua tampak bahagia. Damian sudah menyiapkan sesuatu, menyiapkan kejutan untuk istrinya. Bukan emas dan berlian mahal yang dia siapkan, dia tahu Ainsley sudah terbiasa dengan barang-barang mewah itu.
"Apa kau sudah selesai?" tanya Damian.
"Yes, apa kita akan berdansa?" tanya Ainsley seraya meletakkan gelas anggurnya.
"No, apa kau mau berdansa?" Damian balik bertanya.
"Tidak, aku lebih suka mendapat kejutan darimu."
"Jika begitu," Damian beranjak, dan memberikan tangannya.
"Aku akan memberikan kejutan untukmu."
Ainsley meletakkan telapak tangannya di atas tangan Damian sambil tersenyum, dia terlihat tidak sabar. Damian mengajak istrinya menuju sisi pantai, dia bahkan menutup kedua mata Ainsley dengan tangannya. Ainsley semakin penasaran, entah kejutan apa yang hendak suaminya berikan dan hal itu semakin membuatnya tidak sabar.
Mereka melangkah menuju sisi pantai dengan perlahan, Damian bahkan meminta istrinya untuk melangkah dengan hati-hati. Deburan ombak semakin terdengar karena mereka sudah tidak jauh dari sisi pantai. Mereka berdua duduk di atas pasir, tapi Damian masih meminta Ainsley untuk menutup kedua matanya.
Rasanya ingin mengintip, sungguh. Dia benar-benar penasaran tapi dia tidak mau merusak kejutan yang sudah suaminya berikan untuknya.
"Apa aku sudah boleh membuka mataku?" tanya Ainsley.
"Hm, ya!"
Ainsley membuka mata, dia melihat sekelilingnya dan terlihat heran karena mereka duduk di dalam sebuah lingkaran lilin. Ainsley bahkan beranjak, melihat lilin berupa hati yang mengelilingi mereka.
"kau yang menyiapkan ini?" tanyanya.
"Bukan, para pelayan restoran."
Ainsley tertawa dan duduk kembali, "Jadi? Apa kita akan duduk di sini sampai pagi?"
"No, kita akan kembali setelah ini dan melewatkan malam pernikahan kita tapi sebelum itu?" Damian menunjuk ke atas langit, mata Ainsley mengikutinya dan pada saat itu sebuah cahaya naik ke atas.
Sebuah ledakan terjadi, cahaya api yang cantik bertaburan di atas langit. Ainsley menutup mulut, karena itu bukan kembang api biasa. Kembang api kembali meledak, membuat tulisan serupa di mana sebuah ungkapan perasaan Damian untuknya.
"Dam-Dam, banyak orang yang melihat," ucap Ainsley.
"Biarkan saja, biarkan mereka tahu jika kau wanita yang paling aku cintai."
Ainsley tersenyum dan memeluk suaminya, dia sangat bahagia karena Damian begitu mencintainya.
"Thanks," ucapnya seraya memberikan kecupan di bibir.
Mereka berdua duduk di sisi pantai sambil menyaksikan kembang api yang masih tidak berhenti meledak. Aisnley bersandar di bahu Damian dengan nyaman, matanya tidak lepas dari langit malam yang indah karena kembang api.
Angin laut yang dingin bertiup, menggoyang cahaya lilin yang mengelilingi mereka. Mereka berdua menikmati malam indah mereka, walau sederhana tapi hal itu membuat Ainsley begitu bahagia.
Btw, besok up malam soalnya anu 🙈