Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Nasehat



Damian terlihat mondar mandir sampai membuat ayahnya heran melihat kelakuannya. Tidak pernah Damian seperti itu sebelumnya apalagi dia sudah terlihat seperti itu semenjak pulang kantor. Seperti yang dia lakukan sebelumnya, Damian berjalan menuju jendela, mengintip keluar lalu masuk lagi ke dalam. Entah apa yang terjadi, Damian tidak mengatakan apa pun bahkan dia tidak melihat Mayumi kembali bersama dengan Damian.


Jager terlihat curiga, apa Damian seperti itu karena mengkhawatirkan si gadis Jepang itu? Dia sangat ingin bertanya tapi dia urungkan karena dia ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi tapi untuk saat ini, biarkan saja putranya seperti pembersih lantai otomatis.


Damian terlihat gelisah dan melihat jam sesekali, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam tapi kenapa Mayumi dan Ainsley belum kembali? Selain khawatir dengan Mayumi karena dia sedang bersembunyi tapi dia juga mengkhawatirkan satu hal. Jangan katakan jika saat ini mereka berdua benar-benar mencari pria tampan.


"Apa kau tidak bisa berhenti? Lantainya sudah licin!" ucap Jager kesal. Dia jadi pusing melihat putranya mondar mandir tidak karuan.


"Apa sih, Dad? Memangnya aku pembersih lantai?"


"Ya, kau sudah seperti mesin pembersih lantai otomatis, apa kau tidak sadar?!"


"Dad, aku khawatir dengan mereka!"


"Siapa?" tanya ayahnya pura-pura.


"Ainsley dan Mayumi, mereka sudah pergi begitu lama tapi ini sudah malam tapi mereka belum juga kembali."


"Kau mengkhawatirkan Mayumi atau Ainsley?" Jager sengaja memancing.


"Tentu saja mereka berdua!" jawab Damian.


"Yang benar?" Jager menyeruput tehnya sambil melirik ke arah putranya sesekali.


"Ck," Damian berjalan menuju jendela dan mengintip keluar. Mumpung mereka belum kembali lebih baik dia menanyakan sesuatu yang selalu dia pikirkan sejak tadi.


"Dad," Damian mendekati ayahnya dengan terburu-buru.


"Ada apa?"


"Boleh aku bertanya sesuatu pada Daddy?" Damian duduk di depan ayahnya dan melihat sana sini.


"Ada apa?" Jager tampak heran melihat gelagat putranya.


"Sewaktu masih muda, sudah berapa banyak gadis yang Daddy kencani?" tanya Damian.


"Wah, ada apa ini?" Jager meletakkan gelas tehnya dan terlihat penasaran.


"Jawab saja Dad, berapa banyak wanita yang sudah berkencan dengan Daddy?"


"Tentu saja banyak," Jager terlihat bangga saat mengatakan hal itu.


"Dengar, sewaktu aku masih muda dan masih berteman baik dengan Marck, tidak ada wanita yang tidak kami kencani jika kami mau."


"Wow?" Damian tambah penasaran.


"Kami ini berandalan, bahkan kami selalu berurusan dengan pihak berwajib tapi masa itu adalah masa paling menyenangkan. Kami melakukan apa yang kami mau, tidur dengan gadis yang kami mau tapi setelah bertemu dengan Cristiana, semuanya berubah. Walau dia sudah tidak ada, cinta tulusku hanya untuknya saja."


"Wah, sepertinya Daddy begitu berpengalaman."


"Tentu saja, kau menanyakan hal ini ada maksud tertentu, bukan?"


"Dad," Damian kembali melihat sana sini.


"Ada apa? cepat katakan pada Daddy!" gelas kembali di ambil, sedangkan mata menatap putranya dengan serius.


"Dad, menurut Daddy, apa aku pria membosankan?" tanya Damian tapi tidak lama kemudian, teh yang ada di mulut ayahnya menyembur keluar dan membasahi wajahnya.


Jager tertawa terbahak-bahak, bahkan dia terbatuk akibat tersedak teh. Kenapa putranya bertanya demikian? Entah kenapa dia curiga jika seseorang telah mengatakan hal itu pada putranya.  Damian terlihat kesal, karena ayahnya masih menertawakan dirinya. Apa aneh jika dia bertanya demikian?


"Dad, please," pinta Damian seraya menyeka wajahnya yang basah.


"Oke ... Oke, Daddy akan berhenti tertawa," ucap Jager tapi sayangnya, tawanya kembali pecah.


Damian diam, menyebalkan. Seharusnya dia tidak menanyakan hal ini tapi ucapan Ainsley benar-benar membuatnya berpikir dengan keras. Apa Ainsley marah dengannya hanya karena dia tidak membalas pesannya? Seharusnya Ainsley tahu jika dia sedang sibuk.


"Boleh Daddy tebak? Apa Ainsley yang mengatakan hal itu padamu?" tanya Jeger setelah berhenti tertawa.


"Yeah, sepertinya dia marah karena aku tidak membalas pesannya."


"Aku sedang sibuk, Dad. Aku tidak tahu jika dia mengirimkan pesan untukku," jawab Damian.


"Baiklah, tidak perlu dipikirkan. Dia hanya menyindirmu tapi Daddy rasa mulai sekarang kau harus memberanikan diri untuk mendekatinya."


Damian memandangi ayahnya, entah kenapa dia ingin tahu satu hal dan ingin tahu apa jawaban yang ayahnya berikan untuknya.


"Dad, aku yang seperti ini, apakah pantas untuknya?"


"Hei, apa maksud ucapanmu?"


"Walaupun Daddy menganggap aku sebagai putra Daddy tapi tidak menutup kemungkinan jika kita tidak memiliki hubungan darah bahkan ibuku hanya seorang wanita penggoda. Aku yang seperti ini, apa pantas untuknya?" Damian mengulangi pertanyaannya.


"Dengarkan aku Damian, walau ibumu seorang wanita penggoda tapi dia tetap ibumu. Kau harus tetap bangga apa pun profesi yang ibumu jalani. Jika ada yang berani menghinamu dan menghina ibumu, katakan padaku, aku yang akan membereskan mereka. Kita tahu keluarga Ainsley bukan orang yang suka menghakimi karena kita sudah dekat dengan mereka, kita juga sudah tahu bagaimana mereka. Mereka tidak akan menghinamu hanya karena profesi yang ibumu jalani dulu. Walaupun kita tidak memiliki hubungan darah tapi kau yang pertama kali aku sayangi sebelum ada adikmu dan kau akan tetap menjadi putraku sampai kapan pun juga!"


"Thanks, Dad," Damian tersenyum, dia benar-benar beruntung.


"Kau bertanya seperti ini, apa kau ragu mendekatinya karena latar belakang ibumu?"


"Terkadang aku merasa jika aku bukan siapa-siapa, Dad."


"Baiklah, aku mengerti karena dulu aku juga pernah merasakan apa yang kau rasakan tapi sekarang, sebaiknya untuk tidak ragu lagi mendekatinya dan mendapatkannya."


Damian mengangguk, dia sangat bersyukur memiliki ayah yang bisa diandalkan. Tidak saja menjadi ayah yang hebat tapi ayahnya juga bisa menjadi sahabat yang bisa diandalkan di saat dia sedang membutuhkan. Sekarang dia tidak akan ragu, dia tidak akan menjadi pria membosankan seperti yang dikatakan oleh Ainsley, jika dia tidak bertindak, bisa-bisa Ainsley membencinya dan menjauhinya.


Mereka kembali berbincang, membicarakan kehidupan ibu Damian dulu tapi tidak satu kali pun Damian menanyakan siapa ayah kandungnya dan di mana ayahnya berada saat ini karena Damian tidak mau tahu mengenai ayah kadungnya apalagi dia sudah punya ayah yang hebat dan luar baisa.


Mereka bahkan membicarakan bisnis mereka dan terlihat serius sampai Damian tidak menyadari jika Ainsley dan Mayumi sudah pulang di luar sana. Karena sudah malam dan tidak mau mengganggu, Ainsley meminta supir pribadinya menghentikan mobilnya di depan gerbang.


"Apa kau tidak mau mampir, Ainsley?" tanya Mayumi.


"Sudah malam Mayumi, aku sudah harus pulang."


"Apa kau tidak mau menemui Damian? Dia pasti memikirkan perkataanmu tadi."


"Tidak, biarkan dia tidak bisa tidur karena perkataanku!"


Mayumi terkekeh dan mengambil barangnya, ternyata Ainsley begitu menyenangkan. Semoga mereka tetap berteman tapi apakah demikian?


Setelah mendapatkan semua barangnya, Mayumi turun dari mobil Ainsley, sedangkan Ainsley berpamitan pulang. Mayumi masuk ke dalam rumah dan terlihat senang karena mereka melakukan banyak hal hari ini. Belanja, jalan-jalan bahkan mereka juga pergi menonton. Lain kali dia akan mengajak Ainsley lagi untuk bersenang-senang.


"Aku pulang," Mayumi masuk ke dalam dan ketika mendengar suaranya Damian segera menghampirinya.


"Mana Ainsley?" tanya Damian sambil melihat keluar.


"Sudah pulang."


"Kenapa kau tidak mengajaknya masuk?" Damian terlihat kesal karena dia sudah menunggu Ainsley sedari tadi.


"Dia bilang sudah malam jadi dia harus pulang," jawab Mayumi.


"Baiklah, apa yang kalian lakukan hari ini?" tanya Damian ingin tahu.


"Kami jalan-jalan, makan dan menonton," jawab Mayumi.


"Pergilah istirahat," ucap Damian seraya menghampiri ayahnya, sedangkan Mayumi masuk ke dalam kamarnya.


"Damian, apa kau mau Daddy ajarkan seribu satu cara membujuk Wanita?" goda ayahnya.


"Tidak usah, sudah malam sebaiknya Daddy tidur saja."


"Hei, mau tidak? Jika kau mau akan Daddy tuliskan caranya."


"Tidak perlu Dad, aku tahu apa yang harus aku lakukan," jawab Damian.


"Bagus jika begitu, Daddy ingin melihat apa yang akan kau lakukan," Jager menyeruput tehnya yang sudah dingin sedangkan Damian mengambil ponsel-nya karena ada yang mau dia lakukan.


Dia tidak akan ragu lagi mengenai hubungan mereka, bukankah dia sudah berkata akan mengejar Ainsley? Dia akan melakukan itu sebelum pria yang bernama Harry itu mengambil Ainsley darinya tapi ketika dia tahu siapa pria yang bernama Harry itu, apa dia akan tetap dengan tekadnya?