Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Kekesalan Dan Rasa Cemburu Yang Mulai Tumbuh



Mayumi terlihat kesal, karena ketika dia kembali dia mendapati Ainsley berada di rumah. Hatinya semakin panas melihat Ainsley dan Damian berada di dalam dapur membuat makanan bersama. Mereka bercanda dan terkadang Damian memberikan ciuman di pipi Ainsley.


Mayumi lebih memilih pergi karena tidak sanggup melihatnya. Entah kenapa akhir-akhir ini dia merasa perasaannya kacau balau. Entah apa yang dia harapkan tapi dia tidak suka meihat Damian bersama dengan Ainsley. Dia seperti takut kehilangan dan ditiggalkan oleh Damian.


Bagaimana jika Damian tidak mempedulikannya lagi? Satu-satunya orang yang peduli dengannya hanya Damian saat ini, dia takut Damian mengabaikannya karena dia sudah punya Ainsley. Kekasihnya yang hilang juga belum ditemukan, dia bahkan sudah berusaha kembali menghubungi tapi sayang, ponsel itu sudah tidak aktif lagi.


Mayumi masuk ke dalam kamar dan terlihat lesu, kenapa dia seperti sedang cemburu? Perasaan takut kehilangan dan ditinggalkan itu muncul ketika kekasihnya hilang. Dia benar-benar takut Damian juga meninggalkannya. Mayumi menutup telinganya, ketika mendengar suara tawa Ainsley.


Sial, kenapa dia semakin kesal? Dia tahu dia dan Damian adalah sahabat baik, tidak seharusnya dia kesal dan marah tapi kenapa sekarang dia merasa kesal? Tangan Mayumi masih menutupi telinganya, dia benar-benar tidak suka mendengar tawa Ainsley, dia bahkan semakin kesal ketika membayangkan kebersamaan mereka berdua.


"Yamero... Yamero!" ucap Mayumi. Rasanya ingin berteriak dan memisahkan mereka berdua tapi dia masih bisa menahan diri untuk tidak melakukan hal itu.


Di dalam dapur, tanpa tahu kekesalan dan rasa cemburu sudah mulai tumbuh di hati Mayumi, Damian dan Ainsley menikmati waktu mereka berdua sambil membuat makanan. Mereka tidak bermaksud membuat siapa pun kesal dengan kebersamaan mereka berdua.


Ainsley tertawa lepas saat telur yang Damian lempar ke atas menempel di atas dinding. Tawa Ainsley semakin terdengar ketika telur itu jatuh dan mendarat tepat di atas dahi Damian. Dia benar-benar tidak bisa menahan tawanya tapi hal itu semakin membuat Mayumi kesal dan dibakar api cemburu. Mayumi bahkan memilih masuk ke dalam bak mandi dan menenggelamkan diri di sana.


Jager terlihat senang, apalagi tidak saja Ainsley yang tertawa, tapi Damian juga tertawa lepas. Setidaknya Damian tidak memikirkan ayahnya yang baj*ngan itu. Untungnya Ainsley menginap sehingga gadis itu bisa menemani Damian dan meredakan emosinya.


Ainsley memegangi perutnya yang sakit akibat tertawa, dia bahkan berjongkok di atas lantai. Dia rasa mereka tidak akan selesai jika mereka tertawa seperti itu. Jangan sampai makanan yang mereka buat tidak jadi sehingga mereka harus memesan makanan di luar.


"Oke, Dam-Dam. Jangan bercanda lagi, jika tidak makanannya tidak akan jadi," ucap Ainsley.


Damian tersenyum dan mendekati Ainsley, "Sini!" ucapnya seraya mengulurkan kedua tangannya untuk membantu Ainsley berdiri.


Ainsley menyambut uluran tangannya, Damian menarik tangan Ainsley sehingga Ainsley masuk ke dalam pelukannya. Satu tangan Damian sudah berada di pinggang Ainsley, sedangkan tangan satunya mengusap wajah Ainsley.


"Ainsley, apa nanti malam kau mau menemani aku?" tanya Damian.


"For what?" Ainsley mengernyitkan dahi. Apa Damian ingin mengajaknya pergi?


"Melihat cctv untuk melihat rupa ayah juga kakekku,"


"Boleh saja, aku tidak keberatan. Tapi, ini hanya alasanmu saja bukan agar kita bisa berduaan nanti malam?"


Damian terkekeh dan mendekatkan wajahnya, "Yes," bisiknya dan setelah itu, Damian mencium pipi  Ainsley.


"Hei, kau semakin berani sekarang!" Ainsley memukul bahu Damian dengan pelan, jujur dia takut ayah Damian tiba-tiba masuk ke dalam dapur.


"Tentu saja, kau pacarku jadi aku tidak akan ragu. Tunggu nanti malam, aku akan semakin berani lagi!" godanya.


"Baiklah, aku sudah tidak sabar menunggu aksimu, Mr. Maxton," Ainsley kembali menggoda.


"Kau menangtangku, Nona?"


"Yes!" Ainsley mengecup bibir Damian dan setelah itu dia melangkah pergi.


Damian hanya melihatnya, apa ini semacam undangan? Tapi dia tahu Ainsley hanya bercanda, lagi pula dia tidak mau terburu-buru.


Ainsley memanggilnya karena mereka harus melanjutkan membuat makanan mereka yang tertunda. Mereka kembali sibuk, sedangkan di dalam kamar, Mayumi melihat wajahnya di cermin dan berusaha tersenyum. Dia tidak boleh terlihat marah dan kesal supaya Damian dan Ainsley tidak curiga.


Mayumi keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur, walau rasa kesal kembali memenuhi hati saat melihat kebersamaan Ainsley dan Damian tapi dia berusaha tersenyum dan menyapa mereka.


"Hai, bolehkah aku membantu?" Mayumi tersenyum dengan manis saat mengatakan hal itu.


"Mayumi, ternyata kau sudah kembali." Ainsley mendekatinya tanpa tahu di balik senyum manis Mayumi, rasa kesal dan  benci memenuhi hati karena Ainsley sudah merebut sahabat baiknya.


"Sudah sedari tadi, kalian terlalu asik sehingga tidak menyadari keberadaanku!" jawab Mayumi.


"Apa yang bisa aku lakukan?" Mayumi juga menghampiri mereka.


"Tolong panggilan Daddy, Mayumi. Kita akan makan bersama," pinta Damian.


"Oke!" Mayumi tersenyum sebelum dia berjalan pergi, dia harap Damian melihatnya tapi sayangnya tidak karena saat itu, Damian menyuapi Ainsley makanan yang dia buat dan menanyakan bagaimana rasanya.


Rasa kesal dan cemburu semakin tumbuh subur. Mayumi memutar langkahnya tapi sebelum dia berjalan pergi, Mayumi melirik Ainsley dengan tatapan penuh kebencian dari balik bahunya. Mayumi berjalan pergi, untuk memanggil Jager Maxton, sedangkan Ainsley dan Damian menghidangkan makanan yang mereka buat ke atas meja.


Mayumi enggan bergabung dengan mereka karena dia tahu hanya kekesalan saja yang dia dapatkan tapi dia tidak bisa menolak. Dia hanya bisa berusaha tersenyum, untuk menyembunyikan kekesalan yang memenuhi hati dengan sempurna.


Semua makanan sudah terhidang, mereka sudah duduk di meja makan untuk menikmati makanan itu. Kali ini Jager maxton tidak ragu menikmati makanan itu karena dia tahu, semua makanan itu dibuat oleh putranya.


"Ainsley, apa kau sudah mengabari keluargamu jika kau akan menginap?" tanya Jager karena jika Ainsley belum mengabari keluarganya maka dia akan menghubungi Albert.


Pertanyaan yang dilontarkan oleh Jager Maxton hampir saja membuat Mayumi tersedak. Menginap? Apa dia tidak salah dengar?


"Sudah Uncle, aku sudah mengabari ibuku," jawab Ainsley.


"Bagus, aku sangat senang kau mau menginap," Jager tersenyum dan menikmati makanannya kembali.


"Aku juga senang, berarti nanti malam aku punya teman," ucap Mayumi pula. Dia harap mereka akan tidur bersama nanti malam.


"Teman apa? Nanti malam Ainsley tidur di kamar Vivian!" ucap Jager.


"Aku hanya ingin punya teman tidur, Uncle. Aku juga ingin mengajak Ainsley berbincang!"


"Tidak bisa! Ranjang yang ada di kamarmu sempit, dan hanya cukup untuk satu orang. Ainsley sudah terbiasa tidur di ranjang yang besar karena sewaktu tidur dia akan berguling ke sana kemari!" ucap Jager asal.


Damian berdeham, Ainsley terkekeh. Sejak kapan ayah Damian tahu gaya tidurnya?


"Dad, jangan asal bicara!" ucap Damian.


"Hm, aku tahu dari adikmu!" ucap ayahnya. Apa pun yang terjadi, Ainsley tidak boleh tidur bersama dengan Mayumi, jika sampai hal itu terjadi, maka Damian tidak bisa berduaan dengan Ainsley.


Mayumi menunduk, kedua tangannya mengepal dengan erat. Rasanya sangat kesal saat membayangkan Damian akan menghabiskan malam bersama dengan Ainsley. Itu memang hal wajar karena mereka pasangan kekasih, tapi kenapa dia merasa tidak rela?


"Aku akan menemanimu, Mayumi," ucap Ainsley. Jujur dia iba dengan Mayumi, apalagi sampai sekarang kekasihnya belum juga ditemukan.


"Tidak apa-apa, maafkan aku. Seharusnya aku tahu kau mau menghabiskan waktu dengan Damian," Mayumi berusaha memperlihatkan senyumnya agar tidak ada yang tahu apa yang saat ini sedang dia rasakan.


"Tidak apa-apa, kau ingin berbincang denganku, bukan? Aku tidak keberatan."


"Tidak perlu, Ainsley. Maafkan aku, aku sudah kenyang, jadi aku mau kembali ke dalam kamarku," Mayumi beranjak dan setelah itu dia melangkah pergi.


Ainsley dan Damian saling pandang, apa Mayumi tersinggung karena ucapan ayah Damian?


"Dad, kau tidak boleh begitu. Mayumi sedang sedih karena kekasihnya belum ditemukan jadi dia pasti butuh teman untuk mencurahkan keluh kesahnya," ucap Damian.


"Apa? Aku mana tahu! Lagi pula aku hanya bercanda saja."


"Tidak apa-apa, aku akan berbicara dengannya," Ainsley meneguk segelas air putih dan setelah itu dia beranjak pergi.


Di dalam kamar, Mayumi mencengkeram kedua tangannya dengan erat. Dia benar-benar tidak mau merasa cemburu karena dia tahu Damian adalah teman paling baiknya tapi perasaan kesal dan cemburu yang dia rasakan, muncul dengan sendirinya dan tumbuh subur dengan cepat.


Mayumi berjalan menuju ranjang, hendak berbaring tapi suara Ainsley di depan pintu menghentikan langkahnya bahkan amarah menguasai hati. Apa sekarang dia menganggap Ainsley sebagai musuhnya?