Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Rencana Berjalan dengan Lancar



Fokus, itu yang dilakukan oleh Ainsley saat dia sedang membuat sushi. Hari ini dia akan pergi piknik bersama dengan Damian dan yang lain. Kali ini sushi yang dia buat tidak boleh gagal karena dia tidak mau menghancurkan suasana.


Sudah beberapa hari dia berada di dapur dan melakukan eksperimen tidak membuat keluarganya heran lagi. Mereka sudah terbiasa dengan suara panci dan wajan yang jatuh di atas lantai karena ulah Ainsley tapi satu hal saja yang keluarganya harapkan, semoga masakan yang dia buat tidak gagal lagi.


Agar Ainsley tidak gagal lagi, guru masaknya mengajari dengan serius kali ini. Semua bumbu yang akan digunakan dan takarannya diawasi dengan baik. Kegagalan yang Ainsley lakukan tidak boleh terulang kembali. Dia bahkan begitu serius menggulung sushi yang dia buat, penampilan cantik dan rasa yang oke, harus dia dapatkan kali ini.


Kate sangat ingin tahu kenapa putrinya begitu sibuk sejak pagi, putrinya bahkan begitu bersemangat dan terlihat serius tidak seperti dua hari belakangan.


"Apa yang sedang kau buat, Ainsley?" tanya ibunya.


"Aku sedang membuat sushi, Mom," jawab Ainsley tapi matanya begitu fokus pada sushi yang sedang dia gulung.


"Sushi lagi?" Kate menghampiri sebuah kursi yang ada di samping putrinya dan duduk di sana.


"Yes, Damian mengajak aku pergi piknik bersama dengan ayahnya dan juga Mayumi. Dia juga meminta aku membuat sushi untuk dinikmati nanti."


"Wow, sepertinya mereka belum kapok!"


"Mom!" protes Ainsley.


"Oke, Mommy hanya bercanda Sayang, tapi Mommy perhatikan akhir-akhir ini hubunganmu dengan Damian semakin dekat."


Ainsley memandangi ibunya sejenak dan setelah itu dia kembali melihat sushi-nya tapi senyumnya tampak mengembang. Dia juga tidak tahu kenapa, tapi dia merasa senang-senang saja berada di dekat pria itu.


"Apakah aneh, Mom?"


"Tentu tidak, jika kalian memiliki hubungan spesial Mommy juga tidak akan keberatan," jawab ibunya.


"Mo-Mommy jangan asal bicara!" ucap Ainsley tapi senyumnya terus mekar.


Hubungan spesial? Apa Damian menyukainya? Entah kenapa dia jadi takut membayangkannya, sebaiknya dia tidak berharap lebih karena dia bisa menghancurkan hubungan kekeluargaan di antara mereka jika dia salah paham dengan perlakuan yang diberikan oleh Damian belakangan ini. Jangan sampai hal itu terjadi karena Damian adalah kakak ipar dari kakaknya.


"Sudah jadi," Ainsley terlihat puas dengan sushi hasil buatannya.


"Coba Mommy lihat."


"Ayo Mommy mau mencobanya?"


"Tentu, jika boleh," jawab ibunya.


Ainsley tersenyum dan memberikan sepotong sushi yang dia buat untuk ibunya, sedangkan Kate mengambil sushi itu tanpa ragu, dia yakin kali ini Ainsley pasti berhasil membuatnya. Sushi di masukkan ke dalam mulut, Ainsley begitu penasaran dengan hasilnya dan dia terlihat tidak sabar.


"Wow, enak. Kau berhasil, Sayang," puji Kate.


"Benarkah?" Ainsley tidak percaya dan memakan sepotong sushi yang dia buat sendiri. Matanya membulat, benar enak.


"Yes, aku berhasil!" teriaknya girang tapi karena teriakan itu membuat keluarganya yang lain jadi penasaran.


"Ada apa?" tanya Albert.


"Dad, aku berhasil membuat sushi!" teriak Ainsley girang.


"Bagus, sini Daddy coba!" ucap ayahnya.


Tidak saja Albert, Alice dan Jacob juga Matthew dan Michael, mencoba sushi buatan Ainsley. Mereka memuji keberhasilannya, sedangkan Ainsley sangat senang karena mendapat pujian sampai dia tidak sadar jika sushi yang dia buat hampir habis. Ainsley terkejut ketika melihat kotak sushi yang sudah hampri kosong.


"Oh No, jangan kalian habiskan?" teriaknya seraya meraih kotak sushi.


"Kenapa?" tanya keluarganya.


"Sushi ini mau aku bawa untuk piknik, oh my God, aku harus buat lagi padahal aku sudah harus pergi!" gerutu Ainsley kesal.


"Sudah, kau bisa buat lagi," ucap neneknya.


"Berjuanglah, Sayang," ucap ibunya.


Ainsley tersenyum dan mengangguk tapi dia menggerutu dalam hati. Padahal dia sudah berhasil dan sekarang dia harus membuat ulang dengan waktu yang tinggal sedikit. Semoga saja dia bisa menyelesaikan sushi itu tepat waktu.


Saat itu, Damian juga menyiapkan keperluan piknik sesuai dengan permintaan ayahnya. Sebotol wine, beberapa cemilan yang dibuat oleh pelayan sudah dia masukkan ke dalam mobil. Mereka akan berangkat saat Ainsley sudah datang tapi entah kenapa dia curiga, jika piknik itu adalah rencana yang sedang dibuat oleh ayahnya apalagi dia tidak melihat Mayumi sejak pagi.


"Dad, di mana Mayumi?" tanya Damian ingin tahu.


"Benarkah?" Damian memandangi ayahnya dengan curiga karena dia tahu, ayahnya tidak pernah meminta siapa pun membeli barang apalagi Mayumi masih asing di kota itu.


"Tidak percaya lihat saja sendiri di kamarnya!" ucap Jager dengan santai.


Damian semakin curiga dengan ayahnya jadi dia melangkah ke kamar Mayumi. Pintu di ketuk tapi tidak ada jawaban, dua kali diketuk lagi-lagi sunyi. Damian memanggil Mayumi tapi tidak juga ada jawaban. Rasa penasarannya semakin tinggi jadi tanpa ragu, Damian membuka pintu kamar Mayumi.


Kamar itu sunyi karena Mayumi tidak ada di dalam kamar. Sepertinya ayahnya memang meminta Mayumi pergi membeli barang. Tapi sangat berbahaya jika Mayumi pergi sendiri karena mereka tidak tahu pergerakan dua yakuza yang mengincar Mayumi. Sebaiknya dia menanyakan hal itu dengan rinci pada ayahnya. Damian menghampiri ayahnya kembali dan pada saat itu, Jager mulai dengan aktingnya yaitu pura-pura sakit kepala.


"Bagaimana? Tidak ada, bukan?" tanya Jager sambil melirik putranya.


"Ya, tapi Daddy tidak membiarkannya pergi sendirian, bukan?"


"Tenang saja, dia pergi dengan beberapa pengawal."


"Baiklah," Damian melihat ke arah ayahnya dan terlihat heran karena sedari tadi, tak henti-hentinya ayahnya memegangi kepalanya.


"Ada apa dengan Daddy?" Damian menghampiri ayahnya dan terlihat khawatir.


"Tiba-tiba kepala Daddy sakit," jawab Jager dan dia  pura-pura meringis sambil memegangi kepalanya.


"Ck, sebaiknya Daddy istirahat, aku akan menghubungi Ainsley untuk membatalkan pikniknya."


"Tidak, jangan!" cegah Jager Maxton.


"Tapi Dad, kau sakit!"


"Hanya sakit kepala saja! Akan segera sembuh setelah beristirahat. Aku tidak mau kau membatalkan pikniknya karena kau akan mengecewakan Ainsley dan usahanya akan sia-sia!"


"Tapi aku mengkhawatirkan dirimu, Dad."


"Sudahlah, hanya sakit kepala saja. Kepalaku akan semakin sakit jika kau tidak pergi!"


"Baiklah, ayo masuk ke dalam kamar," ajak Damian. Dia tahu dia tidak akan menang jika terus berdebat dengan ayahnya.


Diam-Diam Jager tersenyum, semua rencana sudah berjalan sempurna tinggal menunggu Ainsley datang. Damian membawa ayahnya ke kamar dan pada saat itu Ainsley sudah tiba. Gadis itu begitu bersemangat saat menghampiri pintu rumah, suaranya bahkan sudah terdengar dari dalam.


"Uncle, aku sudah datang!"


"Kau dengar itu? Jangan mengecewakannya!" ucap Jager saat mendengar suara Ainsley.


"Oke baiklah, tapi Daddy harus istirahat."


"Tentu!"


Setelah mengantar ayahnya ke kamar, Damian menghampiri Ainsley yang sudah menunggu di ruang tamu. Ainsley tersenyum melihatnya tapi dia terlihat heran karena Damian hanya sendirian.


"Mana yang lain?"


"Ayahku sedang sakit kepala, sedangkan Mayumi pergi membeli barang," jawab Damian.


"Jadi hanya kita berdua?"


"Yes, kau tidak keberatan, bukan?"


"Tentu, tapi bagaimana dengan keadaan ayahmu jika kau tinggalkan?"


"Tidak apa-apa. ada pelayan dan juga Mayumi yang menemaninya nanti."


"Baiklah, siap berangkat?" Ainsley kembali bersemangat.


Damian mengangguk, tentu saja dia sudah siap. Setelah mengambil kunci mobil, mereka berangkat menggunakan mobil Damian. Lagi pula Damian yang membawa mobil itu dan tentunya, sushi buatan Ainsley tidak dilupakan.


Jager berdiri di depan jendela, melihat kepergian mereka, "Nikmati waktu kalian berdua, anak muda," ucapnya.


Akhirnya rencana yang dia buat berjalan lancar, mereka bisa pergi piknik berdua tanpa ada yang mengganggu tapi di mana Mayumi? Apa benar dia sedang pergi membeli barang? Jelas tidak karena saat itu, Mayumi berada di dalam lemari.


Karena tidak mau ada yang mengacaukan rencananya, Jager meminta seorang pelayan memberi obat tidur untuk Mayumi dan setelah itu, Mayumi dimasukkan ke dalam lemari dalam keadaan tidur. Dia tidak akan terbangun sampai nati sore, biarkan dia tidur dulu dan menikmati tempat spesial-nya


Jager terlihat puas, waktunya memberi laporan pada putrinya. Dia sudah membuat kesempatan dan dia harap putranya memanfaatkan kesempatan itu dengan baik.