
Anna tersadar dari pingsannya karena pengaruh obat bius sudah habis. Anna terkejut mendapati dirinya berada di dalam sebuah kamar dan yang membuatnya semakin terkejut adalah, kedua tangan dan kakinya di ikat. itu dilakukan agar dia tidak bisa melarikan diri.
Keterkejutannya tidak sampai di situ saja karena saat itu sebuah pengantin indah sudah melekat di tubuhnya. Anna melihat sekeliling, samar-samar dia dapat mengingat apa yang telah terjadi dan dia sangat yakin jika pelakunya adalah Marco. Dia juga tahu apa yang hendak Marco lakukan, sepertinya Marco hendak memaksanya tapi dia tidak akan mau menikah dengan pria itu walau Marco memaksanya dengan cara apa pun.
"Marco, lepaskan tali ini!" teriak Anna. Dia semakin benci pada Marco karena memperlakukannya seperti itu. Apa Marco tidak memiliki hati nurani?
"Marco!" Anna kembali berteriak dan berusaha melepaskan tali yang mengikat tangan dan kakinya.
Marco berada di ruangan lain, dia sedang mencoba menghubungi orang-orang yang dia bayar untuk melenyapkan Harry tapi sayangnya dia belum bisa menghubungi mereka sampai sekarang. Entah apa yang terjadi tapi dia punya firasat buruk.
Seorang pelayan yang mendengar teriakan Anna segera berlari ke arah ruangannya untuk memberi laporan. Marco berniat langsung menikahi Anna begitu dia sadar tapi sampai sekarang kedua orangtua Anna belum juga datang. Itu karena Brian Cedric sedikit sibuk.
"Tuan, Nona Anna sudah sadarkan diri" ucap sang pelayan.
Marco tersenyum, akhirnya yang dia tunggu. Dia benar-benar sudah tidak sabar menunggu Anna sadar dan sebentar lagi Anna akan menjadi istrinya walau melalui paksaan. Dia tahu Anna pasti marah dan membenci dirinya tapi dia tidak peduli asalkan Anna sudah menjadi miliknya. Soal perasaan dia juga tidak peduli, seiring berjalannya waktu, Anna pasti akan menerima dirinya dan mencintainya.
"Siapkan semangkok sup hangat!" perintah Marco. Anna pasti sudah lapar karena dia belum makan apa pun sejak dia ditangkap oleh orang bayarannya.
Marco melangkah menuju kamar, di mana dia menyekap Anna. Teriakan Anna terdengar dari luar, caci maki dan sumpah serapah dia ucapkan untuk Marco tapi Marco cuek saja.
"Baji*ngan kau, Marco. Aku benci denganmu, aku benci!" teriak Anna, air matanya mulai mengalir. Padahal dia sudah mengatakan jika dia hanya menganggap pria itu sebagai teman tapi kenapa Marco tidak juga mengerti?
Tangisan Anna semakin menjadi, dia rasa ayahnya ikut andil dalam hal ini. Marco tidak mungkin berani melakukan hal ini tanpa seijin ayahnya.
Suara pintu terbuka, Anna melihat ke arah pintu. Kebenciannya semakin memenuhi hati saat melihat Marco masuk ke dalam. Dia muak melihat sahabatnya itu, jika dia sampai menikah dengan Marco maka dia tidak akan membiarkan pria itu menang.
"Lepaskan aku, Marco!" teriak Anna seraya menarik tangannya yang terikat.
"Tidak, Anna. Ikatan itu akan terlepas jika kau patuh padaku!"
"Apa kau sudah gila, Marco?!" Anna menatapnya dengan tatapan kecewa, sungguh dia kecewa dengan Marco.
"Kenapa kau melakukan hal ini padaku, Marco. Kita sudah berteman sejak lama dan tidak sepantasnya kau memperlakukan aku seperti ini!"
"Aku tidak mau hubungan kita hanya sebatas teman saja, Anna. Aku menginginkan dirimu sebagai pendamping hidupku, aku ingin kau jadi istriku bukan sahabatku!" Marco mendekatinya, dia tidak peduli dengan tatapan penuh kebencian yang Anna berikan.
"Sekalipun kau melakukan hal ini dan memaksa aku, aku tidak akan pernah mencintaimu karena cintaku sudah untuk pria lain!"
"Jangan menguji kesabaranku, Anna!" Marco menjambak rambut Anna dengan kasar, dia benar-benar benci dengan Harry yang telah merebut Anna darinya apalagi sampai sekarang belum ada kabar mengenai pria itu dari para orang-orang bayarannya.
"Lihatlah dirimu, Marco," Anna menatapnya tanpa ada rasa takut bahkan dia berusaha menahan rasa sakit di kulit kepalanya. Semoga saja tidak botak, jika sampai hal itu terjadi dia akan mencukur semua rambut yang ada di tubuh Marco sebagai balasannya.
"Diam, Anna. Aku tetaplah Marco yang dulu karena aku sudah menyukaimu sejak lama. Sudah pernah aku katakan aku tidak berubah sama sekali jadi berhentilah bertanya mana Marco yang dulu. Aku tidak peduli kau mau menolak atau tidak yang pasti kita akan menikah setelah kedua orangtuamu sudah datang!" Marco mendorong kepala Anna dengan kasar.
"Aku tidak akan pernah mau menikah denganmu, Marco. Tidak akan pernah! Saat Harry tahu aku tidak ada, dia pasti akan datang untuk menolongku!" teriak Anna dan dia asal bicara saja untuk menggertak Marco.
"Bagus, aku tunggu kedatangannya. Jangan kau kira aku takut padanya, Anna. Aku sudah mencari tahu siapa dia sebenarnya. Dia memiliki seorang kakek, adik perempuan dan masih memiliki kedua orangtua."
"Untuk apa kau mencari tahu tentangnya?" Anna menyela dan berteriak lantang.
"Tentu saja untuk menghabisi mereka. Jika kau tidak mau menikah denganku saat kedua orangtuamu sudah tiba atau kau berani melarikan diri dari tempat ini maka aku tidak akan segan. Aku akan mengutus orang untuk menghabisi keluarganya dan pria itu, akan aku habisi saat akhir!"
"Apa?" Anna terlihat shock.
"Semua tergantung dirimu, Anna," Marco kembali mendekati Anna, "Aku akan melepaskan ikatan ini, bagaimanapun aku tidak tega melihatmu seperti ini tapi jika kau berani melarikan diri dan tidak mematuhi perintahku maka aku tidak akan segan untuk membunuh keluarga Harry. Pria itu akan aku tangkap dan kau akan melihat kematiannya!"
"Jangan lakukan hal itu, Marco. Kenapa kau jadi seperti ini?" tanya Anna sambil berderai air mata.
"Aku seperti ini karena dirimu. Aku tidak mau ada yang memiliki dirimu, aku ingin kau hanya menjadi milikku saja jadi bersikaplah yang baik," ikatan di tangan dan kaki Anna di lepaskan. Anna diam saja saat Marco mengusap wajahnya dengan lembut. Cinta benar-benar bisa merubah seseorang menjadi mengerikan dan tidak menggunakan logika lagi.
"Aku akan meminta seseorang mengantar sup untukmu nanti, setelah makan buatlah dirimu secantik mungkin," ucap Marco dengan lembut tapi Anna muak mendengar suaranya dan rasanya ingin menyingkirkan tangan Marco yang sedang membelai wajahnya.
"Aku benci denganmu, Marco!" ucap Anna sinis, matanya masih menatap Marco dengan penuh kebencian.
"Tidak apa-apa, sekarang kau membenciku tapi tidak lama lagi kau akan mencintai aku."
"kau benar-benar gila! Aku tidak akan pernah mencintaimu sampai kapan pun!"
"Sekarang kau bisa berkata demikian tapi kau tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Segera persiapkan diri, jika kau memang mencintai Harry maka sebaiknya kau tidak melawan karena aku tidak ragu dengan ucapanku. Sekali lagi aku tegaskan, nyawa pria itu dan keluarganya tergantung sikapmu!"
Setelah berkata demikian, Marco meninggalkan Anna dan keluar dari ruangan itu. Dia ingin menghubungi kedua orangtua Anna agar segera datang sehingga pernikahannya dengan Anna bisa segera di laksanakan. Dia tidak peduli mau jam berapa tapi yang pasti malam ini juga Anna harus sudah menjadi istrinya.
Anna menggigit bibir dan menangis setelah Marco pergi, dia tidak menyangka akan menjadi pembawa masalah untuk Harry dan keluarganya. Anna memeluk kedua lututnya dan menangis, rasa bersalah memenuhi hati.
"Maafkan aku, Harry. Gara-Gara aku, kau harus terlibat masalah dan kini keselamatanmu dan keluargamu jadi terancam," ucapnya.
Tangisan Anna semakin pecah, seharusnya dia berhenti saat Harry mendapat pukulan dari kedua pengawal ayahnya. Seharusnya waktu itu dia tidak mengejar Harry lagi dan sekarang, apa yang harus dia lakukan? Apa dia benar-benar harus menikah dengan Marco?
Anna menyembunyikan wajahnya, sepertinya dia tidak punya pilihan karena dia tidak mau keluarga Harry menjadi korban dan dia tidak akan sanggup melihat Marco menghabisi Harry di depan matanya. Sepertinya sampai di sana saja perjalanan cintanya, walau singkat tapi dia tidak akan pernah melupakan waktu menyenangkan yang dia lalui bersama dengan Harry.