
Jager memandangi putranya dengan tatapan heran. Tidak biasanya Damian terlihat tidak bersemangat seperti itu, entah kenapa dia jadi curiga. Apa Damian sedang bertengkar dengan Ainsley?
Tidak, hal itu tidak boleh terjadi. Jangan sampai mereka berdua bertengkar karena dia khawatir mereka akan berpisah. Menantu idaman sudah berada di depan mata, jangan sampai lepas dan jika itu terjadi maka dia akan pukul putranya nanti.
Mata Jager tidak lepas dari putranya, tapi Damian cuek saja. Dia sudah terbiasa karena akhir-akhir ini ayahnya memang selalu seperti itu. Lagi pula dia tahu, ayahnya pasti akan bertanya dan begitulah yang terjadi, ketika Mayumi berlalu pergi untuk mengambil sesuatu karena mereka sedang di meja makan waktu itu, Jager langsung melemparkan pertanyaan pada putranya.
"Damian, ada apa denganmu?"
"Tidak ada, aku baik-baik saja," jawab Damian.
"Jika tidak ada apa-apa kenapa wajahmu seperti itu? Jangan katakan jika kau dan Ainsley sedang bertengkar," Jager memandangi putranya dengan serius, dia harap tebakannya salah.
"Tidak, untuk apa aku bertengkar dengannya. Hubungan kami baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dipertengkarkan di antara kami!" ucap Damian.
"Bagus, awas jika kau terlalu dekat dengan wanita lain dan membuat Ainsley marah."
"Tidak Dad, aku tidak dekat dengan wanita mana pun," jawab Damian. Walau dia dekat dengan Mayumi tapi dia sudah mengingatkan Mayumi waktu itu. Dia juga tidak mau membuat Ainsley marah hanya karena persahabatannya dengan Mayumi.
"Baiklah, kapan kau akan mengajaknya datang?"
"Entahlah, tapi kami sudah memutuskan akan pergi ke Jepang berdua nanti."
"Benarkah?" Jager tampak senang, dia bahkan terlihat lebih bersemangat dari pada Damian.
Mayumi melihat ke arah Damian. Mereka mau ke Jepang? Bolehkah dia ikut kembali ke sana?
Damian melihat ayahnya dengan tatapan curiga, kenapa ayahnya terlihat seperti itu?
"Dad, kau tidak sedang merencanakan sesuatu, bukan?"
"Tentu tidak, memangnya apa yang harus aku rencanakan?" Jager tersenyum lebar, dia sudah tidak sabar putranya pergi ke Jepang bersama dengan Ansley.
"Lalu? Kenapa Daddy terlihat lebih bersemangat dari pada aku?"
"Tentu saja, aku sudah tidak sabar kau pergi. Kapan kalian akan ke sana? Besok? Lusa? Sebaiknya jangan berlama-lama."
"Ck, aku curiga Daddy merencanakan sesuatu!"
"Tidak, sungguh!" Jager kembali makan dan tersenyum lebar, dia sudah sangat menantikan putranya melepaskan keperjakaannya dan menjadikan Ainsley sebagai miliknya. Dengan begitu hubungan mereka akan semakin dekat dan tidak terpisahkan.
Damian hanya menggeleng, entah kenapa ayahnya begitu senang tapi dia yakin ayahnya tidak mungkin mengikuti untuk mengganggu kebersamaannya bersama dengan Ainsley. Semoga saja tidak karena mereka sulit memiliki waktu berdua.
Mayumi menghampiri mereka, meletakkan makanan yang dia ambil ke atas meja lalu duduk di samping Jager.
"Bolehkah aku ikut?" tanyanya.
"Tidak boleh!" cegah Jager dengan cepat.
"Tidak, Mayumi. Jika kau kembali maka kau akan tertangkap dengan mudah. Jika sampai hal itu terjadi maka persembunyian yang kau lakukan akan sia-sia. Kau tahu bukan apa akibatnya jika kau tertangkap? Itu sebabnya ayahmu lebih memilih bunuh diri dari pada tertangkap!" ucap Damian.
Mayumi menunduk, wajahnya terlihat sedih. Dia hanya ingin mencari keberadaan kekasihnya yang hilang dan belum ada kabar sampai sekarang.
"Aku hanya ingin mencari kekasihku," ucap Mayumi. Air matanya mengalir tanpa dia inginkan.
"Aku tahu, tapi kau tidak perlu khawatir. Aku akan mencari anak buahku yang ada di sana dan mencari keberadaannya. Jika dia masih hidup dan disekap, aku rasa tidak akan mudah tapi jika dia mati? Kau tahu jawabannya, bukan?"
Mayumi mengusap air matanya, dia benar-benar ingin kembali ke Jepang tapi apa yang dikatakan oleh Damian sangat benar, jika dia tertangkap oleh Akira dan Katsuo maka dia akan berakhir tragis dan dia tidak mau hal itu terjadi. Dia tidak menyangka masalah yang sedang dia hadapi akan melibatkan kekasihnya tapi sayangnya tidak sang kekasih saja, Damian dan Ainsley juga akan terlibat nantinya. Tentunya akibat campur tangan orang yang tidak suka dengan mereka nanti.
"Sudah, jangan menangis. Temani aku di sini selama Damian pergi dan jangan khawatir, jika kekasihmu masih hidup kami pasti akan menemukan keberadaannya tapi jika sudah mati?" Jager mengangkat bahu. Seperti yang Damian ucapkan, mereka tidak akan bisa menemukan jejak orang yang sudah mati karena entah di mana mereka akan berakhir. Jangan sampai Mayumi meminta mereka mencari mayat kekasihnya di hutan Aokigohara, dia saja tidak berani masuk ke dalam hutan itu dan dia yakin Damian juga tidak pernah menginjakkan kakinya ke sana.
"Aku harap dia masih hidup," ucap Mayumi.
"Aku harap dia sudah mati!" ucap Damian.
"Kenapa kau berkata seperti itu, Damian?" Mayumi memandanginya dengan tatapan tidak percaya.
"Percayalah Mayumi, jika kau sudah jatuh ke tangan Yakuza atau apa pun itu, kau akan lebih memilih cepat mati karena selama kau berada di tangan mereka hanya penderitaan yang akan kau dapatkan sebelum tujuan mereka tercapai. Tapi aku akan tetap berusaha mencarinya."
"Benar apa yang Damian ucapkan," ucap Jager Maxton.
Mayumi menunduk dan kembali menangis, Walau Damian berkata demikian tapi dia tetap berharap kekasihnya saat ini baik-baik saja. Apa yang Damian katakan sangat benar apalagi dia sudah mendengar apa yang dilakukan oleh keluarga Ainsley setelah menangkap musuh mereka. Dia harap Mayumi tidak berharap banyak dan mulai merelakan sang kekasih dan memang tanpa mereka ketahui saat itu, kekasihnya di antara mati dan tidak bahkan dia harus membuat keputusan sulit yang diberikan oleh Akira dan Katsuo.
Entah apa yang harus dia lakukan, dia tidak tahu tapi yang pasti dia tidak memiliki banyak waktu untuk mengambil keputusan yang sangat sulit dia ambil nantinya.
Seharusnya dia tidak kembali ke Jepang, seharusnya dia mengikuti saran Mayumi tapi dia mengabaikan peringatan yang Mayumi berikan dan sekarang, dia hanya punya sedikit waktu untuk mengambil keputusan jika tidak?
Mayumi kembali makan, walau sesungguhnya dia sangat sedih tapi dia tidak bisa melakukan apa pun. Dia hanya berharap, kekasihnya masih bisa diselamatkan.
"Jadi, apa aku harus merelakannya?" tanya Mayumi karena dia tidak rela.
"Aku rasa, kita juga tidak tahu apa yang akan terjadi tapi kau akan aman di sini. Selama aku ke Jepang jangan menemui siapa pun yang tidak kau kenal karena kau tidak akan tahu, dia lawan atau kawan!" jawab Damian.
"Apa kau akan lama?" tanya Mayumi lagi.
"Tidak, hanya beberapa minggu saja."
"Apa? Kenapa tidak satu bulan?" tanya Jager Maxton. Semakin lama mereka di sana, semakin bagus.
"Dad, aku tidak bisa meninggalkan kalian terlalu lama dan jika ada salah satu keluarga Windstond yang datang, usir saja mereka. Aku akan meminta Vivi membawa anak-anaknya pulang untuk menemani kalian selama aku pergi."
Mayumi diam, mendengarkan pembicaraan mereka. Entah kenapa dia jadi penasaran, apa yang sebenarnya terjadi? Keluarga Windston, nama itu juga diucapkan oleh wanita tadi. Apa mereka adalah keluarga kandung Damian?
Dia sangat ingin tahu tapi dia tahu Damian tidak akan mau mengatakan apa pun jika dia bertanya. haruskah dia menanyakan permasalahan ini pada wanita tadi? Jika bertemu lagi dengannya, maka akan dia lakukan agar dia tidak semakin penasaran.