Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Peti-Peti Mencurigakan



Tengah malam waktu Jepang.


Anak buah yang dikirim oleh Damian sedang mengintai bangunan yang mereka yakini jika kekasih Mayumi ada di sana. Mereka mengintai secara bergilir, untuk melihat keadaan. Malam itu, mereka begitu serius mengintai tempat itu karena anak buah Akira dan katsuo sedang bergerak untuk melakukan sesuatu.


Sesuai dengan perintah dari Akira, kekasih Mayumi dimasukkan kedalam peti karena dia akan dibawa menjadi umpan. Agar tidak ada yang tahu, beberapa peti juga dibawa keluar supaya tidak ada yang curiga.


Anak buah Damian melihat apa yang mereka lakukan dari kejauhan menggunakan sebuah teropong. Mereka harus waspada agar tidak diketahui oleh anak buah Akira yang sedang menjaga tempat itu dengan ketat.


"Apa yang sedang mereka lakukan?" tanya salah satu anak buah Damian pada rekannya.


"Entahlah, sepertinya kita harus melaporkan hal ini."


Sang rekan mengangguk, tapi dia masih memantau. Peti-Peti itu dimasukkan ke dalam sebuah mobil box dan peti itu berjumlah puluhan.


Setelah semua sudah siap, mobil yang membawa puluhan peti itu bergerak pergi. Kedua anak buah Damian saling pandang dan setelah itu mereka beranjak dari persembunyian mereka. Mereka akan mengikuti ke mana peti-peti itu dibawa dan setelah itu mereka akan memberi laporan.


Mereka mengikuti secara diam-diam, agar tidak ketahuan. Mereka bergerak dengan sehati-hati mungkin bahkan ketika mobil yang membawa peti itu memasuki pelabuhan, mereka lebih memilih mengintai dari tempat jauh. Sebuah kapal sudah menunggu, kapal itu akan membawa peti itu menuju California.


Selama mereka mengintai, mereka menghubungi Damian untuk memberi laporan. Apa pun isi dari peti itu, mereka tidak tahu. Mereka juga tidak tahu barang-barang itu akan dibawa ke mana.


Ketika anak buahnya menghubungi, Damian sedang menemani Ainsley mencoba gaun pengantin. Damian meninggalkan Ainsley sebentar untuk menjawab telepon dari anak buahnya.


"Bos, mereka membawa beberapa peti mencurigakan dari tempat itu," lapor sang anak buah saat Damian sudah menjawab telepon mereka.


"Apa kalian tahu apa isi dari peti itu?" tanya Damian.


"Tidak, peti itu berjumlah puluhan. Sekarang peti itu sedang dinaikkan ke atas kapal dan entah akan di bawa ke mana."


Damian tampak berpikir, mereka tidak tahu apa isi peti itu tapi mereka juga harus waspada. Bisa saja mereka membawa benda berharga dari peti itu tapi itu bukan urusannya karena yang ingin dia tahu adalah keberadaan kekasih Mayumi.


"Pergi dari sana dan kembali ke markas mereka, pantau kembali apa ada yang menjaga tempat itu atau tidak dan jika tidak, maka geledah. Bisa saja di antara peti-peti itu, mereka menyembunyikan target yang kita cari!" perintah Damian.


"Siap, Bos!"


Kedua anak buahnya pergi dari pelabuhan dan kembali ke lokasi awal. Mereka kembali mengintai, tapi tempat itu sepi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di tempat itu. Mereka berdua bahkan memberanikan diri bergerak mendekat dengan sepucuk pistol di tangan. Jangan-Jangan dugaan bos mereka benar.


Markas yang biasa mereka pantau, tidak pernah sesepi itu bahkan para penjaga yang selalu terlihat kini tidak terlihat lagi. Walau begitu mereka tetap waspada karena bisa saja ada musuh di dalam markas.


Mereka semakin berjalan mendekat, pistol sudah mengarah ke depan. Mereka semakin waspada saat sudah hendak mencapai pintu. Langkah mereka semakin pelan, tidak menimbulkan suara apa pun. Mereka berdua saling pandang saat sudah mencapai pintu, salah satu dari mereka memberi isyarat kepada rekannya, sedangkan yang lain mengangguk.


Telinga di tempelkan di daun pintu, untuk mendengar apakah ada pergerakan di dalam sana. Waspada harus tetap mereka lakukan mengingat musuh mereka adalah dua kubu Yakuza yang tidak boleh diremehkan. Setelah yakin tidak ada suara apa pun di dalam, salah satu dari mereka melangkah mundur dan memberi isyarat.


Tanpa membuang waktu mereka menendang pintu hingga terbuka dan masuk ke dalam ruangan sambil menodongkan senjata api mereka. Di dalam tidak ada siapa pun lagi seperti yang mereka duga, sepertinya tempat itu ditinggalkan begitu saja.


"Berpencar dan cari petunjuk!" salah satu dari mereka memberi perintah.


Mereka berpencar, mencari petunjuk. Beberapa alat penyiksaan mereka temukan, bercak darah juga mereka dapatkan di sebuah kursi. Sepertinya memang seseorang ditawan di tempat itu. Tidak itu saja, beberapa lembar foto yang ditinggalkan anak buah Akira berada di atas meja dan itu adalah foto keluarga kekasih Mayumi.


Tanpa membuang waktu, salah satu dari mereka menghubungi Damian, sedangkan yang lain kembali menggeledah tempat itu untuk mencari petunjuk yang lain.


"Sesuai dugaanmu, tidak ada siapa pun di sini. Tempat ini ditinggalkan begitu saja."


"Apa kalian mendapat petunjuk?"


"Ya, sepertinya memang seseorang ditawan di tempat ini. Kami menemukan bercak darah yang belum lama dan juga beberapa lembar foto."


"Kirimkan foto itu padaku dan segera tinggalkan tempat itu. Aku curiga jika target yang kita cari memang berada di dalam salah satu peti-peti itu."


"Jadi apa yang harus kami lakukan?" tanya sang anak buah.


"Awasi gerak gerik Akira, segera laporkan jika dia terlihat mencurigakan!" perintah Damian tapi sayangnya, Akira sudah berada di dalam kapal bersama dengan Katsuo juga anak buahnya. Mereka akan pergi ke California untuk menemui wanita yang akan memberi mereka informasi mengenai Mayumi.


Setelah mendapat perintah, sang anak buah segera pergi dari tempat itu. Mereka bergerak cepat, menuju rumah Akira tapi mereka tidak akan menemukan apa pun nantinya.


Damian kembali menghampiri Ainsley yang berada di ruang ganti, sepertinya dia harus waspada dan juga meminta Mayumi untuk waspada. Dia akan membahas hal ini pada Mayumi setelah dia kembali nanti.


Damian masuk ke dalam ruang ganti dan mendapati wajah kekasihnya yang cemberut. Dia sudah menunggu sedari tadi dan berusaha memanggil Damian tapi pria itu pergi entah ke mana.


"Dari mana?" tanya Ainsley dengan nada kesal.


"Menjawab telepon dari anak buahku," Damian masih belum sadar jika Ainsley sedang merajuk.


"Apa pekerjaanmu lebih penting dari pada ini?"


"Tidak, bukan begitu."


"Aku mau pulang saja!" Ainsley hendak membuka gaun yang dia gunakan.


"Apa, hei! Apa kau marah?" Damian meraih pinggangnya, dan mendekatkan tubuh mereka berdua.


"Aku sudah memanggilmu dari tadi tapi kau tidak menjawab. Apa yang sedang kau lakukan?"


"Sorry Sweatheart, aku sedang berbicara penting dengan anak buahku yang ada di Jepang jadi jangan marah. Kau terlihat cantik dengan gaun ini," puji Damian seraya memberikan ciuman di pipi.


"Benarkah?"


"Hm, tapi aku lebih suka melihatmu tanpa apa pun."


"Menyebalkan, sekarang kau semakin nakal!"


Damian terkekeh dan mendaratkan ciuman di bibir Ainsley, "Aku hanya bersikap nakal pada dirimu saja."


"Oh ya?" Ainsley mengalungkan kedua lengannya ke leher Damian.


"Yes," jawab Damian dan setelah itu mereka berciuman.


Sepertinya masalah Mayumi sebentar lagi akan datang dan sebagai sahabat dia pasti akan membantu apalagi dia sudah berjanji tapi dia harap, semua itu terjadi setelah dia dan Ainsley menikah tapi tidak ada yang tahu, apa yang akan terjadi selanjutnya.