
Marco sedang menunggu karena ada yang hendak dia sampaikan pada Anna. Hari ini juga Anna harus tahu apa tujuannya dan siapa yang sebenarnya dia sukai. Dia tidak mau menunda karena dia tidak boleh kalah dari pria yang bernama Harry itu.
Mungkin setelah Anna tahu, dia akan mempertimbangkan dirinya dan berhenti mengejar Harry. Dia yakin Anna hanya bermain-main saja pada pria itu.
Marco sudah menunggu sedari tadi, dia sudah tidak sabar tapi Anna belum juga kembali padahal waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Itu karena Harry mengajak Anna makan malam sebelum mengantar gadis itu kembali.
Anna benar-benar senang, sikap Harry sedikit berubah. Hari ini dia mendapatkan banyak kejutan yang tidak terduga, sepertinya usahanya mulai membuahkan hasil. Ciuman tiba-tiba yang diberikan Harry membuat hatinya berbunga, semoga dia bisa mendapatkan ciuman di tempat lain lagi. Dari bibir lalu turun ke bawah, ck, di sensor Anna.
Mereka sudah selesai makan, Anna tersenyum manis dan matanya tidak lepas dari Harry yang sedang mengeluarkan kartunya untuk membayar. Harry cuek saja, rasanya sudah terbiasa mendapat tatapan dari gadis itu.
Setelah memberikan kartunya, Harry melihat ke arah Anna. Senyum gadis itu semakin manis, dia benar-benar senang tapi tidak dengan Harry. Perkataan Marco kembali teringat. Apa benar Anna mengejarnya hanya karena penasaran dan setelah mendapatkannya akan langsung dia tinggalkan karena bosan?
Rasanya tidak terima, jika benar Anna melakukan hal itu maka dia tidak terima Anna mempermainkan dirinya seperti yang sudah pernah dia lakukan. Sepertinya dia harus memberi Anna sedikit pelajaran, mungkin gadis itu akan berhenti.
"Mau melihatku sampai kapan?" tanya Harry karena Anna masih juga memandanginya.
"Melihatmu sampai seumur hidupku," jawab Anna, senyum kembali terukir di bibir.
"Jangan asal bicara!"
"Aku tidak asal bicara, Harry. Aku menyukaimu, kau tahu itu!"
"Apa kau menyukai aku seperti kau menyukai yang lainnya?" tanya Harry, matanya menatap Anna tajam.
Anna mengernyitkan dahi, apa maksud perkataan Harry? Memangnya ada yang lain selain Harry?
"Kau bertanya seperti ini apa kau sedang cemburu?"
Harry masih menatapnya tajam dan tidak menjawab. Cemburu? Untuk apa dia cemburu? Dia tidak cemburu hanya saja dia tidak senang!
"Tidak, jangan asal menebak!" sangkal Harry.
"Kau sudah mencium aku dua kali, apa belum ada perasaan di hatimu untukku, Harry?"
"Itu hanya sebuah ciuman jadi jangan salah mengartikan!" jawab Harry, dia sendiri tidak mengerti kenapa mencium Anna. Dia rasa dia semakin aneh, sepertinya ada yang salah pada dirinya.
"Tapi bagiku itu ciuman spesial karena ciuman itu aku dapatkan darimu."
"Sudah malam, sebaiknya kita pulang!" Harry beranjak, tanpa menghiraukan perkataan Anna. Hanya ciuman saja, apa benar begitu spesial? Apa ciuman yang dia berikan lebih spesial dari pada ciuman dari para pria yang pernah Anna kejar?
Harry mengumpat dalam hati, sepertinya ucapan Marco sudah meracuni pikirannya dan jangan katakan jika Anna dan pria itu sudah pernah berciuman. Rasanya sedikit panas membayangkannya tapi ini bukan cemburu, ini hanya perasaan tidak suka karena tersaingi.
Anna berjalan di sampingnya dan memeluk lengannya, gadis itu tersenyum dan terlihat begitu senang. Dia tidak akan melupakan hari ini. Setidaknya dia memiliki kenangan yang manis seandainya dia tidak bisa mendapatkan Harry dan terpaksa harus mengikuti permintaan ayahnya untuk menikah.
Waktu berharga yang dia lalui bersama Harry akan selalu dia ingat tapi dia berharap dia dan Harry berjodoh. Harry tidak keberatan Anna begitu menempel padanya. Biarlah, jalani saja saat ini dan lihat apa yang akan terjadi nanti.
"Harry, aku ingin mengajakmu makan malam sebagai tanda terima kasihku karena kau mau merepotkan diri mengantar aku hari ini, apa kau mau?" tanya Anna saat mereka sedang di perjalanan pulang.
"Jika hanya berdua aku tidak keberatan tapi jika bersama Marco, maaf saja."
"Apa kau cemburu pada Marco?" Anna melihatnya, dia sungguh ingin tahu dan dia harap demikian.
"Tidak, aku hanya tidak suka dengannya!"
Harry mengangguk, Anna terlihat senang. Dia akan menyiapkan makan malam berkesan, tentunya tanpa diganggu oleh Marco. Mungkin saat makan malam ada yang bisa dia raba, mungkin juga dia bisa mendapatkan lebih dari ciuman. Sedikit berharap tidak masalah, bukan?
Dia tidak akan mengatakan acara makan malam mereka pada Marco agar Marco tidak mengganggu seperti tadi siang tapi sebenarnya dia sangat berterima kasih karena berkat adanya Marco, dia bisa melihat jika Harry mulai sedikit cemburu walau pria itu tidak mengakuinya.
Dia akan mengucapkan terima kasih pada Marco nanti setelah tiba tapi dia tidak menyangka jika Marco sudah menunggunya sedari tadi. Marco berdiri di depan pintu apartemennya, pria itu terlihat gelisah. Sudah begitu larut, tapi kenapa Anna belum juga kembali? Dia jadi ingin tahu, apa yang sebenarnya Anna lakukan bersama Harry?
Di bawah sana, Anna sudah tiba. Hari yang menyenangkan dan tidak akan dia lupakan. Anna mengambil tasnya, dia sudah siap turun.
"Terima kasih, Harry."
"Tidak perlu dipikirkan. Segera naik, sudah malam!"
"Terima kasih," Anna mendekati Harry dan mencium pipinya, "Itu sebagai ucapan terima kasihku," Anna tersenyum sedangkan Harry menatapnya dalam diam. Mata Harry tidak lepas dari gadis itu saat Anna turun dari mobil dan melangkah dengan terburu-buru sambil melihat sana sini karena yang dia khawatirkan adalah pengawal ayahnya.
Sepertinya aman karena mereka tidak terlihat tapi sesungguhnya mereka sedang mengintai bahkan nomor mobil Harry sudah mereka catat karena mereka akan mencegat pria itu dan memberikan pelajaran untuknya.
Harry menjalankan mobilnya, dia tidak tahu jika dua pengawal yang diutus oleh ayah Anna mulai mengikutinya. Anna juga tidak tahu karena dia sudah berada di dalam lift untuk naik ke atas.
Anna terlihat begitu bahagia, benar-benar hari yang tidak akan dia lupakan. Dia bahkan sedikit bernyanyi saat keluar dari lift, tapi keceriaannya hilang ketika melihat Marco sedang berdiri di depan pintu. Anna sangat heran, apa yang sedang di lakukan Marco di sana?
Begitu melihat Anna, Marco segera menghampirinya. Kekesalan memenuhi hati, dia benar-benar tidak suka Anna bersama dengan Harry sampai begitu larut.
"Kenapa kau berdiri di depan pintu, Marco?" tanya Anna tapi Marco menghampirinya dengan cepat dan mencengkeram kedua bahu Anna dengan kuat sampai membuat Anna meringis karena sakit.
"Sakit, Marco! Ada apa denganmu?" Anna terlihat kesal dan berusaha melepaskan bahunya dari cengkeraman tangan Marco.
"katakan padaku, Anna. Kenapa kau pulang semalam ini?" Marco menatapnya tajam. Dia benar-benar tidak senang saat membayangkan kebersamaan Anna dan Harry.
"Aku bekerja dan pergi dengan Harry, kau tahu itu. Kenapa kau terlihat tidak senang?!" Anna semakin kesal, ada yang tidak beres dengan Marco.
"Aku memang tidak senang, aku tidak senang karena kau berduaan saja dengan laki-laki!" ucap Marco tanpa ragu.
"Jangan Konyol, Marco. Kita hanya sahabat saja. Lepaskan bahuku, sakit!" pinta Anna, dia masih berusaha melepaskan bahunya.
"Apa pun alasanmu, Anna. Aku benar-benar tidak suka melihatmu bersama dengan pria lain!"
"Hng, kau sudah seperti seorang suami yang sedang cemburu. Lihat dirimu? Untuk apa kau berada di luar? Jangan katakan kau menunggu aku pulang lalu kau marah karena aku pulang begitu malam. Kau bukan suamiku, Marco. Kau juga bukan kekasihku dan seharusnya kau tidak melakukan hal ini karena kita hanya sahabat saja. Aku mau pergi dengan siapa, itu bukan urusanmu dan sebaiknya tidak perlu menunjukkan sikap seolah-olah kita memiliki hubungan spesial! Bukankah kau sudah tahu? Harry adalah pria yang aku sukai dan untuk menghindari pernikahan yang telah direncanakan oleh ayahku, aku ingin mendapatkan pria yang aku sukai dan menikah dengannya!"
Marco semakin kesal mendengar ucapan Anna apalagi jelas-jelas Anna menolak pernikahan yang dia ajukan. Apa bagusnya pria bernama Harry itu? Dia bahkan tidak lebih baik dari tukang kebun di rumahnya. Cengkeraman Marco semakin kencang, Anna bahkan berteriak karena sakit di bahunya.
"Sakit, Marco. Lepaskan!"
"Tidak!" ucap Marco dengan emosi tinggi.
"Apa maumu sebenarnya?" Anna menatap Marco dengan tajam, dia tidak mengenal Marco yang seperti ini. Marco yang berdiri di hadapannya terasa asing baginya dan dia tidak mengenalnya sama sekali.
"Kau harus tahu, Anna. Aku sudah menyukaimu sejak lama dan pria yang akan menikah denganmu adalah aku karena aku yang mengajukan pernikahan itu pada ayahmu!" ucap Marco tanpa ragu.
Anna terkejut, tas bahkan jatuh dari tangan. Jadi yang akan menikah dengannya adalah Marco? Anna terlihat tidak percaya, lelucon gila macam apa ini? Rasanya ingin tertawa tapi bisa dia lihat jika Marco tidak sedang bercanda.