Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Nasehat



Vivian sedang menunggu Ainsley saat itu karena dia punya misi untuk mewujudkan keinginan ayahnya. Mereka tidak memaksa,  mereka hanya berusaha mendekatkan Damian dan Ainsley. Jika mereka memang memiliki perasaan satu sama lain, mereka pasti akan menyadarinya.


Mungkin saja mereka tidak menyadari perasaan mereka karena selama ini belum ada yang mendekati mereka berdua dengan serius. Dengan adanya saingan, mereka akan menyadari perasaan mereka dan sekarang, tugasnya memanasi hubungan mereka berdua.


Sambil menggendong putrinya, Vivian melihat ke dapur sesekali karena Ainsley sedang makan. Dia akan memanfaatkan situasi selama berada di sana bahkan dia tidak mau pulang walau sudah diajak oleh suaminya. Dia tahu Kakaknya orang yang cuek, apalagi selama ini dia selalu menganggap Ainsley sudah seperti adiknya.


Sepertinya tugas ayahnya lebih berat karena ayahnya harus meyakinkan kakaknya tapi dia percaya, ayahnya bisa melakukan hal itu apalagi ayahnya sangat menginginkan Ainsley sebagai menantunya. Semoga saja rencana mereka berhasil untuk menyatukan kedua orang itu.


Ainsley sudah selesai makan dan setelah membersihkan piring kotor, Ainsley masuk ke dalam kamarnya. Vivian mengikutinya dengan terburu-buru dan tentunya setelah memberikan putrinya kepada Matthew karena dia ingin berbicara berdua tanpa ada yang mengganggu.


Pintu diketuk, suara Ainsley terdengar dari dalam, "Masuk saja!" Vivian menarik napasnya sebentar, oke, demi ayah dan kakaknya.


Vivian masuk ke dalam kamar setelah membuka pintu, "Sorry mengganggu, Ainsley," ucapnya seraya menutup pinta kamar dan menghampiri Ainsley yang sedang berbaring di atas ranjang.


"Tidak apa-apa, kebetulan ada yang ingin aku bicarakan dengan kakak ipar juga," ucap Ainsley.


"Oh ya?" Vivian jadi ingin tahu apa yang ingin dibicarakan oleh Ainsley.


Vivian duduk di sisi ranjang begitu juga dengan Ainsley, mereka berdua terlihat serius dan belum ada yang memulai berbicara apalagi Ainsley terlihat canggung dan malu.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Vivian.


"Kakak ipar dulu," jawab Ainsley.


"Ayolah, kau dulu. Sepertinya pembicaraanmu lebih penting."


"Tapi Kak?"


"Aku di sini untuk mendengarkan, Ainsley."


"Baiklah, aku hanya ingin tahu bagaimana dulu Kakak ipar dan kak Matthew bertemu lalu kenapa kau bisa menyukai kakakku?"


Sebelum menjawab, Vivian terlihat berpikir. Dia tidak akan melupakan bagaimana mereka bertemu dan bagaimana dia memutuskan memilih Matthew dari pada Garry waktu itu.


"Kami bertemu tanpa sengaja waktu itu, walau kakakmu menyebalkan dan suka menipuku tapi aku tahu jika dia tulus mencintai aku dan akhirnya aku memutuskan untuk menjalin hubungan dengannya. Kau bertanya seperti ini, apa kau menyukai seseorang?" Vivian mulai memancing.


"Ti-Tidak!" sangkal Ainsley.


"Oh ya? Jika begitu katakan padaku, seperti apa tipe pria yang kau sukai."


"Aku suka yang pendiam!" jawab Ainsley tanpa ragu.


"Wow, benarkah?"


"Yes, aku tidak suka yang terlalu terosebsi. Pria seperti itu menyebalkan tapi pria pendiam lebih membuatku penasaran!"


"Wah, sepertinya aku tahu siapa yang kau maksud," ucap Vivian sambil tersenyum.


"Siapa?" Ainsley pura-pura tidak mengerti.


"Entahlah," Vivian mengangkat bahunya.


"Ck, Kakak Ipar menyebalkan!" Ainsley terlihat cemberut, sedangkan Vivian terkekeh.


"Oh ya, aku dengar kak Damian membawa pacarnya tinggal di rumah dan mengenalkan pacarnya padamu, apa benar?" ini dia tujuannya.


"Mayumi bukan pacarnya!" sela Ainsley.


"Kau tahu dari mana?" Vivian pura-pura tidak tahu.


"Me-Mereka bilang seperti itu tadi."


"Oh, aku kira Mayumi pacar Kak Damian."


"Ka-Kakak ipar tahu dari mana?" Ainsley jadi penasaran dan ingin tahu.


"Aku hanya asal menebak, jangan dipikirkan. Karena Kak Damian masih sendiri, aku kira gadis Jepang itu pacarnya tapi syukurah jika bukan."


Saat Vivian berkata demikian, Ainsley diam saja. Gadis itu bahkan terlihat menunduk, Ainsley menjatuhkan diri di atas ranjang sambil menghela napas. Kenapa hati laki-laki sulit dipahami? Dia yang tidak paham atau dia tidak punya pengalaman? Sepertinya dia harus mencari tahu akan hal ini nanti.


"Kak, bagaimana perasaan mencintai seseorang?"


Ainsley menggeleng, oke baiklah. Ternyata mereka berdua tidak berpengalaman tentang cinta. Oleh sebab itu hubungan mereka tidak ada kemajuan.


"Ainsley, jika Mayumi adalah pacar kakakku memang kenapa? Kau tidak mungkin cemburu, bukan?"


Ainsley memandangi Vivian dengan serius. Cemburu, apa dia akan cemburu?


Vivian tersenyum, dan setelah itu dia keluar dari kamar Ainsley, tugasnya untuk hari ini selesai, sedangkan Ainsley terlihat berpikir. Apa dia akan cemburu? Entah kenapa dia jadi gelisah.


Di tempat lain, Jager memanggil Damian karena ada yang mau dia bicarakan pada putranya. Seperti biasa, Jager meminta Damian masuk ke dalam kamarnya karena dia tidak mau Mayumi mendengar pembicaraan mereka. Mereka sudah duduk bersama, Damian menatap ayahnya dengan heran, entah kenapa setelah dia membawa Mayumi pulang ayahnya jadi seperti itu padahal dia dan Mayumi hanya teman saja.


"Ada apa, Dad?" tanya Damian.


"Daddy ingin tahu, apa kau sudah punya pacar?" tanya ayahnya.


"Kenapa Daddy jadi menanyakan hal seperti ini belakangan ini?"


"Jawab saja!" pinta ayahnya.


"Tidak, kenapa?"


"Kenapa? Itu pertanyaan Daddy, Damian. Kenapa kau tidak punya pacar, apa tidak ada gadis yang kau sukai?" tanya ayahnya lagi.


"Entahlah," jawab Damian singkat.


"Damian, dengarkan nasehat dariku!" Jager memasang wajah serius begitu juga dengan Damian.


"Daddy tahu kau tidak pernah menjalin hubungan dengan siapa pun selama kau tinggal di Jepang karena kau sibuk bekerja dan kau sibuk merawat ibumu yang sakit selama bertahun-tahun. Kau tidak memikirkan kehidupan pribadimu karena kau ingin memberikan yang terbaik untuk ibumu tapi Nak, ibumu sudah tiada selama beberapa tahun. Kau sudah tidak ada beban lagi lalu kenapa sekarang kau tidak memikirkan masa depanmu?"


Damian diam saja, tidak menjawab. Dia juga tidak tahu kenapa tapi dia selalu merasa jika dia memiliki beban, sebab itu dia takut menjalin hubungan dengan seseorang.


"Kenapa kau hanya diam? Jangan katakan si tua bangka ini menjadi bebanmu setelah ibumu!"


"Tidak Dad, bukan begitu!" jawab Damian.


"Lalu?"


"Entahlah, mungkin sudah terbiasa karena dari dulu aku selalu merasa memiliki tanggung jawab yang besar dan aku takut tidak bisa membahagiakan gadis yang aku pilih nanti."


"Pikiran macam apa itu?!" protes ayahnya.


"Dad, selama di Jepang aku menyukai beberapa gadis tapi ketika mereka melihat keadaan Mommy, mereka pergi, enggan mengenal aku lagi dan entah kenapa hal itu membuat aku malas menjalin hubungan dengan siapa pun karena bagiku, Mommy lebih penting dari apa pun."


"Damian, Sayuri sudah pergi lama lalu kenapa kau masih merasa memiliki tanggung jawab? Apa karena aku sehingga kau merasa memiliki tanggung jawab lain?"


"Dad, kau memang tanggung jawabku."


"Baiklah dan dengarkan aku baik-baik! Sayuri tidak akan senang melihat keadaanmu yang seperti ini Damian, percayalah. Sebelum kematiannya, dia pernah berkata padaku jika dia ingin kau bahagia. Dia sudah begitu lama menyusahkan hidupmu dan dia harap setelah dia pergi, kau memikirkan masa depanmu dan hidup bahagia. Apa dia tidak mengatakan hal ini padamu?"


Damian menggeleng, ibunya memang tidak mengatakan hal itu karena saat ibunya meninggal, dia sedang berada di kantor.


"Sayuri ingin kau bahagia Damian, begitu juga denganku. Jangan sampai kau menjadikan aku sebagai bebanmu berikutnya setelah kepergian ibumu karena aku tidak suka! Aku membawamu tinggal di sini agar kau menikmati hidupmu, bukan menjadikan aku sebagai beban baru!"


"Tidak, Dad!" jawab Damian.


"Jika begitu, mulailah mencari pacar dan dengarkan nasehatku yang lain!" Jager kembali terlihat serius, dia harap kali ini putranya mengerti dengan maksudnya.


"Terkadang orang spesial yang ada di depan mata tidak kita sadari tapi ketika seseorang sudah membawanya pergi, kita akan merasa kehilangan dan pada saat itu terjadi, penyesalan yang akan kau dapatkan dan semua usahamu untuk membawanya kembali akan sia-sia karena dia sudah menemukan orang yang lebih baik darimu, orang yang memberinya kebahagiaan dan rasa aman. Jangan sampai hal itu terjadi padamu karena penyesalan yang akan kau dapatkan!"


Damian memandangi ayahnya dengan serius, kenapa ayahnya berkata demikian?


"Pikirkanlah perkataanku baik-baik, aku tidak mau kau menyesal di kemudian hari."


"Terima kasih atas nasehat Daddy," ucap Damian.


"Bagus, pikirkan perkataanku baik-baik. Aku ingin kau mulai memikirkan masa depanmu dan ingat, jangan menjadikan aku bebanmu untuk bahagia!"


Damian mengangguk, benar yang ayahnya katakan. Selama ini dia terlalu banyak berpikir, sepertinya sudah saatnya dia memikirkan masa depannya mulai sekarang. Setelah berbicara dengan ayahnya, Damian kembali ke dalam kamar, dia akan memikirkan setiap ucapan ayahnya dengan baik karena dia tidak mau salah mengambil keputusan dan tidak mau menyesal seperti apa yang ayahnya ucapkan.