Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Beautiful Night



Ainsley sedang bersiap-siap saat itu karena malan ini, untuk pertama kalinya dia dan Damian akan makan malam berdua. Dia sangat berharap mereka bisa melewati makan malam romantis tanpa gangguan, semoga saja Harry tidak muncul tiba-tiba dan mengacaukannya karena pria itu bisa muncul di mana saja dia berada.


Tidak Ainsley saja yang sangat menantikan makan malam itu, Damian juga sangat menantikannya. Ini pertama kalinya dia mengajak gadis yang dia sukai untuk makan malam dan dia merasa gugup. Malam ini dia akan mengajak Ainsley makan malam di sebuah restoran yang ada di atas gedung sebuah hotel.


Dari ketinggian ribuan kaki, mereka bisa melihat pemandangan kota yang indah pada malam hari. Dia mencari tempat itu sejak pagi karena dia ingin menyenangkan Ainsley. Semoga saja Ainsley akan suka nantinya. Bukan tanpa alasan dia memilih tempat itu, dia melakukannya karena dia ingin mengajak Ainsley bersantai, menikmati makanan dengan santai dan menikmati malam romantis mereka berdua tanpa gangguan karena restoran itu tidak bisa dimasuki sembarangan orang.


Restoran itu bahkan hanya menerima beberapa tamu saja karena restoran itu tidak hanya menyajikan makanan lezat bagi para tamu, tapi juga menyajikan pemandangan dan suasana romantis yang diinginkan oleh para tamunya. Soal harga sudah pasti mahal, tapi tempat itu akan memberi kepuasan bagi pasangan yang membutuhkan suasana tenang dan romantis.


Jager melihat putranya dengan heran ketika Damian keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur. Dia heran karena putranya sudah terlihat rapi bahkan dia terlihat sibuk sedari tadi. Sepertinya putranya ingin pergi dan dia harap Damian akan pergi kencan.


"Kau sudah terlihat rapi mau pergi ke mana?" tanya Jager ketika Damian melewatinya dan ingin masuk ke dalam kamarnya lagi.


"Aku mau mengajak Ainsley makan malam, Dad."


"Benarkah?" Jager terlihat senang.


"Yes, jangan bilang Daddy mau ikut!" goda Damian.


"Tidak, Daddy tidak akan mengganggu. Daddy berjanji! Selama Daddy tidak bisa menjadi cicak maka Daddy tidak akan mengintip kalian!" ucap Jager seraya mengangkat kedua jarinya ke atas.


Damian tertawa, ayahnya pasti akan penasaran dan dia tebak, dia akan mendapat pertanyaan yang sama lagi ketika dia kembali nanti.


"Damian, kali ini kau tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan!" ucap ayahnya.


"I know, Dad."


"Bagus, cium bibirnya. Awas jika kau gagal!" ancam ayahnya.


"Memangnya kenapa jika aku gagal?" tanya Damian ingin tahu.


"Jika kau gagal maka aku akan mengirim kau kembali ke Jepang dan menjadi biksu!"


Damian terkekeh dan setelah itu dia berkata, "Dad, yang seharusnya menjadi biksu adalah dirimu, bukan aku!"


"Hm, kau benar tapi aku tidak berminat! Sudah sana pergi, jangan membuatnya menunggu!"


"Yakin Daddy tidak akan ikut dan mengintip?" Damian masih menggoda ayahnya.


"Tidak! Sana pergi, awas jika kau gagal!" ancam ayahnya.


Damian kembali terkekeh dan melangkah menuju kamarnya. Apa dia akan gagal? Tentu tidak tapi entah kenapa dia jadi berdebar dan gugup, itu pasti karena dia belum pernah mencium bibir wanita sebelumnya. Seharusnya dia benar-benar menonton tutorial cara berciuman seperti yang ayahnya sarankan, mungkin demikian dia tidak akan gugup.


Saat itu, Ainsley sudah siap. Kate membantu putrinya merapikan rambutnya. Sebuah penjepit rambut yang terbuat dari emas putih dan ditaburi berlian sudah terjepit di rambutnya menambah cantik penampilannya malam ini. Gaun berwarna hitam sudah melekat di tubuhnya, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah. Ainsley terlihat puas, semoga saja dia tidak gugup dan mengacaukan malam mereka berdua.


"Bagaimana, Mom?" tanya Ainsley seraya memutar tubuhnya di depan cermin.


"Kau tampak cantik, Sayang," puji ibunya.


"Gaunku tidak terlalu berlebihan, bukan?" tanya Ainsley lagi karena dia tidak terlalu suka gaun yang terlalu terbuka.


"Tentu tidak, kau terlihat luar biasa. Nikmati malam kalian berdua, Sayang," ucap ibunya.


"Thanks, Mom. Kalian tidak keberatan bukan aku menjalin hubungan dengannya?"


"Tentu tidak, selama pria itu baik, mencintaimu dan menyayangimu dengan tulus maka kami tidak akan keberatan."


"Thanks, Mom," Ainsley berjalan mendekati ibunya dan memeluknya.


Ainsley kembali melihat penampilannya, dia benar-benar sudah siap pergi. Tidak perlu menunggu lama karena Damian sudah datang. Pria itu terlihat tampan dengan tuxedo berwarna putihnya, Ainsley terlihat gugup apalagi mata Damian tidak berpaling darinya. Rasanya ingin memberikan pujian untuk penampilan luar biasa Ainsley tapi dia harus menahan pujiannya karena ada keluarga Ainsley.


Mereka berpamitan pergi menuju sebuah hotel mewah di mana mereka akan menikmati malam mereka berdua. Mereka bergandengan tangan selama memasuki hotel dan menuju restoran yang ada di atas gedung. Sebuah meja sudah disiapkan di mana seikat bunga mawar sudah tersedia di atas meja.


Ainsley tersenyum dengan manis ketika seorang pelayan menarik sebuah kursi untuknya. Senyumnya semakin manis saat Damian memberikan bunga yang ada di atas meja untuknya.


"Untuk gadis paling cantik malam ini," ucap Damian.


"Thanks," Ainsley mengambil bunga itu sambil tersipu dan mencium aroma wanginya.


"Setelah makan, apa yang akan kita lakukan?" tanya Ainsley ingin tahu seraya meletakkan buket bunganya.


"Menikmati malam kita berdua."


"Aku tahu, tapi apa yang akan kita lakukan?"


"Ainsley," Damian meraih tangan Ainsley dan menggenggamnya.


"Baiklah, kedengarannya lebih baik dari pada kita harus mengikuti rencana."


Damian tersenyum dan mengecup punggung tangan Ainsley. dia ingin mereka rileks tanpa harus memikirkan rencana apa yang harus mereka lakukan, biarkan mengalir begitu saja agar mereka tidak canggung.


"Siap memesan makanan, Nona?"


"Tentu," jawab Ainsley.


Damian memanggil seorang pelayan restoran, sebelum melakukan hal lain, mereka akan menikmati makanan yang disajikan oleh restoran itu terlebih dahulu. Dua porsi steak sudah dipesan dan tentunya dengan sebotol anggur untuk menemani malam mereka berdua.


Mereka menikmati makanan mereka sambil berbincang dan terkadang mereka saling pandang. Suara gelas yang berdenting dan musik merdu yang melantun membuat suasana semakin terasa romantis dan tentunya mereka sangat menikmati makan malam itu. Benar, tidak perlu rencana, semua mengalir begitu saja dan lebih terasa menyenangkan.


Makanan pencuci mulut sudah dikeluarkan, Ainsley terlihat tidak begitu menikmatinya karena dia memang tidak terlalu suka makanan manis.


"Kenapa, apa kau tidak suka?" tanya Damian.


"No, aku tidak terlalu suka makanan manis," jawab Ainsley sambil menggeleng.


"Baiklah, Nona," Damian meneguk air putihnya dan meletakkan serbet ke atas meja.


Ainsley juga meneguk air putihnya, dia tersenyum ketika Damian beranjak dari tempat duduk dan menghampirinya. Damian sedikit membungkuk di depan Ainsley sambil mengulurkan tangan ke arahnya.


"Mau berdansa denganku, Nona Smith?"


Senyum Ainsley semakin mekar, "Of course," jawabnya seraya meletakkan telapak tangannya ke atas telapak tangan Damian.


Mereka berjalan menuju lantai dansa, di mana beberapa pengunjung sudah berada di sana menikmati lantunan musik yang merdu. Damian dan Ainsley bergabung dengan mereka dan bergerak menikmati irama musik. Kedua tangan mereka saling berpegangan, satu tangan Damian berada di pinggang Ainsley, sedangkan satu tangan Ainsley berada di bahu Damian.


"Apa kau menikmati malam ini, Ainsley?" tanya Damian ingin tahu.


"Tentu saja Dam-Dam, thanks," jawab Ainsley sambil tersenyum.


Mata mereka berdua saling beradu, mereka tidak berkata apa-apa lagi. Damian melepaskan tangan Ainsley dan merangkul pinggang Ainsley menggunakan kedua tangannya, sedangkan Ainsley memeluk lehernya. Tubuh mereka berdua semakin merapat, dahi mereka sudah menempel sehingga mereka bisa merasakan hembusan napas satu sama lain.


Mereka masih bergerak mengikuti musik yang masih melantun. Jantung Ainsley berdebar ketika Damian mengusap wajahnya dan mendaratkan sebuah ciuman di dahi.


"Kau terlihat luar biasa, Ainsley," pujinya.


"Benarkah?"


"Yes, aku jadi merasa tidak pantas untukmu."


"Hei, aku tidak suka mendengarnya. Jika kau tidak pantas, lalu siapa yang pantas?"


"Mungkin?"


"Stop!" Ainsley menyela ucapan Damian dengan cepat.


"Kau tahu bukan kenapa kita ada di sini? Aku tidak mau mendengar ucapan seperti tadi lagi dan aku tahu kau tidak percaya diri karena latar belakangmu. Mayumi sudah mengatakan hal itu padaku tapi aku hanya mau denganmu dan aku tidak akan mempermasalahkan apa pun latar belakangmu."


"Bukan, bukan itu yang membuat aku merasa tidak pantas."


"Lalu?"


Damian tersenyum dan mengusap wajah Ainsley kembali, "Aku hanya takut kau bosan denganku karena aku pria membosankan!" ucapnya.


Ainsley terkekeh, ternyata Damian masih saja mengingat perkataannya waktu itu. Langkah mereka terhenti, mereka berdua saling pandang. Pelukan Damian pun semakin erat hingga tubuh mereka semakin merapat, tidak memiliki jarak.


"Ayahmu tidak mengikutimu dan mengintip kita, bukan?" tanya Ainsley dengan pelan.


"Tidak karena dia tidak bisa menjadi cicak!"


Ainsley tertawa, apa maksudnya? Tawanya terhenti saat Damian mengangkat dagunya. Mereka berdua kembali saling pandang, jantung Ainsley pun kembali berdebar. Ainsley memejamkan mata saat Damian mencium pipinya dengan lembut.


"Ainsley," Damian memanggil namanya dan mereka kembali saling pandang untuk sesaat.


"I love you," ucap Damian dan setelah itu, dia mendekatkan bibir mereka dan mencium bibir Ainsley dengan mesra.


Ainsley memeluk leher Damian dengan erat dan membalas ciumannya, ciuman pertama mereka dilakukan di tengah-tengah lantai dansa dan dikelilingi para tamu restoran yang sedang berdansa mengikuti irama musik merdu.


Ciuman mereka terlepas, mereka mengambil oksigen sebentar dan setelah itu mereka kembali berciuman di bawah hamparan bintang yang bertabur indah. Mereka akan menikmati malam indah itu apalagi malam masih panjang.