Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Party



Para tamu undangan memberi mereka ucapan selamat atas pernikahan mereka. Ainsley benar-benar bahagia karena pernikahan mereka berjalan dengan lancar tanpa ada yang mengganggu.


Tempat itu dijaga dengan begitu baik, tidak ada yang boleh masuk jika tidak menunjukkan kartu undangan. Para tamu yang hendak pergi juga diperiksa saat mereka ingin mengambil souvenir pernikahan yang sudah disiapkan.


Pesta itu bahkan berjalan dengan meriah, para tamu menikmati setiap hidangan yang ada tapi saat malam nanti, pesta itu akan menjadi pesta private yang diperuntukkan untuk keluarga saja.


Saat itu, Ainsley dan Damian masih sibuk menerima ucapan selamat dari tamu undangan. Hari ini Ainsley merasa pipinya sedikit kaku akibat terlalu banyak tersenyum. Setelah selesai dia mau mengajak Damian senam pipi, tentu senam yang lain juga.


Entah sudah berapa lama mereka seperti itu yang pasti dia sudah merasa lelah dan ingin beristirahat. Ainsley menarik tangan Damian dengan pelan, dia bahkan sedikit berjinjit untuk membisikkan sesuatu di telinga Damian.


"Dam-Dam, aku mau pergi beristirahat sebentar," bisik Ainsley.


"Kau lelah?" tanya Damian, sedangkan Ainsley mengangguk.


"Jika begitu ayo beristirahat di dalam kamar."


Mereka berpamitan pada tamu undangan, mereka juga mengatakan pada yang lain jika Ainsley akan beristirahat di kamar. Lagi pula pesta itu sudah berjalan cukup lama, beberapa tamu undangan pun sudah terlihat pergi. Sebelum pesta keluarga di mulai, memang sebaiknya Ainsley beristirahat karena setelah ini mereka akan berdansa.


Mereka menuju sebuah kamar yang dipersiapkan khusus untuk mereka. Kelopak bunga mawar bertabur di atas ranjang dan tentunya mereka akan melewatkan malam pernikahan mereka di tempat itu. Damian menggendong Ainsley menuju kamar karena kakinya sudah pegal, bagaimanapun dia ingin memanjakan istrinya.


Damian mendudukkan Ainsley di atas sofa sesuai dengan permintaan Ainsley. Dia hanya butuh istirahat sebentar sebelum bergabung dengan keluarganya nanti untuk melanjutkan pesta mereka. Lagi pula dia harus mengganti gaun pengantinnya dengan gaun malam juga melepaskan perhiasan yang melekat di tubuhnya.


"Bagaimana kakimu?" Damian berkjongkok dan melepaskan high heel yang istrinya gunakan.


"Tidak apa-apa, aku hanya butuh istirahat sebentar."


"Baiklah, kita di sini saja sampai pesta keluarga di mulai," ucap Damian seraya memijit kaki istrinya dengan pelan.


"Tidak perlu, Damian. Kau harus menemani para tamu undangan. Apa jadinya pesta tanpa kehadiran pengantinnya? Kita tidak boleh berlaku tidak sopan dan meninggalkan tamu begitu saja, bukan?"


"Tapi ada yang lain," ucap Damian.


"Hei, ini pesta pernikahan kita. Jangan sampai kita dikira pengantin yang tidak sabar!"


Damian terkekeh dan duduk di samping istrinya. Sesungguhnya dia sudah tidak sabar apalagi mereka tidak pernah melakukan hal itu lagi semenjak kembali ke Jepang jadi malam ini, dia tidak akan melepaskan Ainsley.


"Baiklah, aku akan meminta seseorang menemanimu nanti," ucap Damian seraya mendaratkan ciuman di bibir.


Mereka berdua saling pandang dan tersenyum. Tangan Damian mengusap wajah Ainsley dengan lembut. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan Ainsley dan menikah dengannya, padahal dia memutuskan tinggal di California untuk berbakti pada orang yang sudah dia anggap sebagai ayahnya.


"I love you," ucapnya sambil mencium wajah istrinya.


Ainsley memejamkan mata, menikmati kecupan-kecupan yang diberikan oleh suaminya. Dia bahagia, dan tentunya dia juga tidak menyangka akan menjalin hubungan dengan Damian dan menikah dengannya.


Mereka masih berada di kamar cukup lama karena Damian kembali memijitkan kaki istrinya. Ainsley tampak berbaring, rasanya sudah tidak sabar melepas gaun pengantin dan juga perhiasan yang dia kenakan. Akan dia lakukan nanti setelah Damian keluar.


"Jika begitu aku keluar sebentar untuk menemani tamu," ucap Damian.


"Pergilah, aku juga mau ganti baju," ucap Ainsley.


"Hei, kenapa tidak ganti sedari tadi agar aku bisa membantu!" goda Damian.


Damian terkekeh dan mendaratkan ciuman di bibir istrinya, "Istirahatlah, aku akan kembali saat pesta keluarga dimulai," ucapnya.


Ainsley mengangguk, sebelum keluar dari kamar, Damian kembali mencium bibir istrinya. Dia akan meminta seseorang membawakan makanan dan minuman untuk Ainsley nanti. Setelah Damian pergi, Ainsley melepaskan perhiasannya satu persatu dan setelah itu dia masuk ke dalam kamar mandi.


Di luar sana, Damian menghampiri ayahnya dan kembali sibuk karena para tamu undangan kembali menyapa dan memberikan ucapan selamat.


Di ujung ruangan, tiga pria terlihat sedang serius. Mereka melarikan diri dari para tamu, itu karena rasa penasaran luar biasa yang dirasakan oleh Albert. Apalagi jika bukan mengenai jawaban teka teki yang dilontarkan oleh kedua putranya? Selama pesta itu berlangsung, Albert mencari jawaban dari teka teki itu tapi dia tidak menemukan jawaban yang tepat. Entah senjata apa yang digunakan ketiga babi itu, sungguh dia sangat ingin tahu.


"Ada apa, Dad?" tanya Matthew pura-pura.


"Ayolah, beritahu Daddy apa jawaban dari teka teki yang kalian berikan!" jawab ayahnya.


Matthew dan Michel terkekeh, ternyata ayahnya memikirkan hal itu sedari tadi.


"Apa Daddy tidak mendapatkan jawabannya sama sekali?" tanya Michael.


"Mana Daddy tahu!" jawab sang ayah lagi.


"Baiklah, seharusnya Daddy simak baik-baik isi ceritanya. Ketiga babi itu hidup di hutan yang mengerikan dan tidak ada babi yang mau tinggal di hutan yang mengerikan," ucap Matthew.


"Jadi?" Albert semakin penasaran.


"Dad, ketiga babi itu adalah jelmaan penyihir jadi senjata yang mereka ambil adalah tongkat sihir. Mereka berubah menjadi babi untuk memancing serigala yang akan menjadi makan malam mereka!" jelas Michael pula.


"Ohh\, Sh*i*t!" Albert mengusap dahi\, dia tidak menyangka jawabannya akan seperti itu.


"Mudah. bukan?" tanya kedua putranya.


"Tidak!" jawab Albert.


"Sebab itu Dad, perbanyak makan ayam goreng supaya pintar seperti kami," ucap Matthew dan Michael.


"Ck, ayam goreng mana bisa membuat orang pintar!" ucap Albert.


Matthew dan Michael kembali terkekeh, padahal itu pertanyaan mudah saja. Setelah mengetahui jawabannya, Albert kembali mengajak kedua putranya untuk bergabung dengan Damian dan ayahnya.


Pesta itu berjalan tanpa gangguan, apa yang dikhawatirkan oleh Damian dan Ainsley tidak terjadi. Para tamu undangan juga mulai berpamitan pergi sehingga menyisakan keluarga besar saja. Mereka sedang berkumpul di dalam sebuah ruangan, tentu mereka akan menonton pertunjukkan perdana Jacob yang akan menari solo karena tidak ada yang mau menemaninya.


Lewis pura-pura pusing, Albert pura-pura sakit perut. Edward juga tidak bisa karena dia di kursi roda, sedangkan William putra Silvia menyembunyikan diri. Sebab itu Jacob harus menari seorang diri, dia bahkan terlihat pasrah saat para wanita muda yang ada di keluarga mereka mendandani dirinya. Sepertinya keadaannya akan terlihat lebih kacau dibandingkan Maria versi Michael yang membuat Patrik melarikan diri.


Suara sorakan bahkan sudah terdengar ramai. Mereka bahkan bertepuk tangan, sebagian sudah terbiasa dengan kelakuan aneh keluarga itu tapi bagi yang belum? Kedua orangtua Marline dan adiknya saling pandang, ya, mereka anggota baru yang belum tahu tingkah konyol keluarga itu. Crish Hedley kakak dari Kate sudah terbiasa karena dia menikah dengan Anatasya putri dari Olivia dan Lewis.


Musik sudah terdengar, begitu juga dengan sorakan yang ramai. Jager benar-benar senang melihatnya, akhirnya si tua Smith kalah total. Jacob mulai menikmatinya, kapan lagi bisa melakukan hal itu karena mungkin sebentar lagi dia akan pergi jadi dia akan menikmati waktu kebersamaan mereka sebelum dia sudah tidak bisa melakukan hal konyol lagi.


Tawa semuanya terdengar saat Jacob berdiri di tengah ruangan dengan gayanya yang aneh. Rambut palsu yang di kepang dua sudah terpakai, dia bahkan menggunakan pakaian yang hanya menutupi bagian dada saja dengan dua buah balon sebagai dada palsu. Sebuah kain terikat di pinggang, gayanya bak seorang penari perut tapi gayanya kacau balau. Semua itu hasil kreasi para wanita yang kreatif,  untung saja tidak ada Patrik, jika ada mungkin dia akan pingsan.


Semua bertepuk tangan dan tidak lama kemudian, tawa mereka meledak karena kain yang melilit di pinggang Jacob terlepas ketika Jacob mulai menari. Tidak hanya itu saja, salah satu balon yang Jacob gunakan sebagai dada palsu meledak sehingga semua tertawa terbahak-bahak. Semua bergembira di pesta itu apalagi Jacob menarik Jager, Lewis dan William di tengah ruangan. Semua bersorak dan akhirnya ke empat kakek tua itu harus berjoget.


Edward mengelus dada, baru kali ini dia bersyukur duduk di kursi roda. Pria tua yang lain, berdiri agak jauh agar mereka tidak ikut kegilaan keluarga itu.