
Ainsley termenung saat di perjalanan kembali setelah menemui Harry. Dia benar-benar sudah menolak Harry sedemikian rupa tapi Harry tidak juga mau menyerah. Ainsley benar-benar tidak tahu harus berbuat apalagi selain mempertemukan Damian pada Harry.
Mungkin setelah melihat Damian, Harry akan berhenti mengejarnya. Ini bukan ide yang buruk, sebaiknya dia menemui Damian dan meminta bantuannya. Semakin cepat semakin baik karena dia tidak mau Harry membuang waktunya dengan mengejarnya karena dia tidak akan pernah menerima cinta Harry.
"Nona, apa kita akan kembali ke kantor?" tanya sang supir.
"Tidak, putar balik!" perintah Ainsley karena dia ingin mencari Damian. Entah kenapa tiba-tiba dia butuh teman curhat, untuk menumpahkan kegelisahan hatinya saat ini.
Mobil berputar arah dan sesuai perintah, mobil menuju kantor Damian. Sebelum tiba, Ainsley mengirimkan pesan untuk Damian terlebih dahulu karena dia ingin tahu pria itu ada di kantor atau tidak. Tentunya Damian tidak keberatan saat Ainsley berkata jika dia sedang menuju ke kantornya dan ingin berbicara dengannya, dia bahkan sudah menunggu di bawah, menunggu kedatangan Ainsley.
Wajah Ainsley terlihat kusut, tidak bersemangat ketika dia tiba. Damian sangat heran saat melihatnya, apa pria bernama Harry itu mengganggu Ainsley lagi? Karena ingin tahu, Damian menghampiri Ainsley yang saat itu sedang melangkah menuju pintu lobi.
Ainsley tersenyum ketika melihat Damian tapi senyum itu tidak seperti biasanya karena senyumnya seperti senyum yang dipaksakan, itu karena suasana hati Ainsley yang sedang buruk. Sudah masakan yang dia buat gagal semua, lalu Harry masih saja tidak menyerah. Rasanya ingin melampiaskan kekesalan hatinya tapi dia masih berusaha menahannya, mungkin setelah berbicara dengan Damian perasaannya akan membaik.
"Ada apa denganmu, Ainsley?" tanya Damian.
"Dam-Dam," Ainsley mendekati Damian dan memeluknya.
Damian sedikit terkejut tapi tidak lama kemudian, tangannya mengusap punggung Ainsley dengan lembut sehingga membuat Ainsley merasa tenang.
"Ada apa? Apa Harry mengejarmu lagi?"
Ainsley mengangguk, rasanya nyaman dipeluk seperti itu tapi mereka sedang berada di lobi dan jadi pusat perhatian karyawan Damian. Ainsley melepaskan pelukannya dan tersipu, sedangkan Damian tersenyum dan meraih tangannya.
"Ayo ikut aku," ajaknya.
Ainsley menjawab dengan anggukan dan mengikuti langkah Damian masuk ke dalam, ini bukan pertama kali Damian memegangi tangannya seperti itu tapi entah kenapa dia jadi berdebar. Mungkin selama ini mereka tidak pernah sedekat itu dan entah kenapa, akhir-akhir ini mereka menjadi semakin dekat.
Damian membawa Ainsley masuk ke dalam ruangannya dan meminta seseorang membuatkan minuman hangat untuk Ainsley. Dia juga mengajak Ainsley duduk bersama, dia bahkan terlihat siap mendengarkan apa yang telah terjadi dengan Ainsley hari ini.
"Sekarang katakan padaku, ada apa?"
Ainsley melihatnya sejenak dan setelah itu, dia menunduk dan terlihat canggung.
"Hei," Damian menggeser duduknya, mendekati Ainsley. Tangannya sudah berada di dagu Ainsley dan matanya menatap gadis itu dengan lekat. Senyum menawannya mengembang, sedangkan Ainsley terlihat gugup.
"Bukankah kau bilang ingin berbicara denganku? Itu sebabnya kau datang ke sini, bukan?" ucap Damian.
Ainsley menjawab dengan anggukan, dia mencari Damian karena dia memang membutuhkan teman curhat.
"Jika begitu jangan ragu, katakan padaku apa yang ingin kau bicarakan."
"Ma-Masakanku gagal," ucap Ainsley dengan wajah memerah.
"Oh ya? Lalu?" Damian melepaskan dagu Ainsley dan menatapnya dengan lekat.
"Padahal kau sudah memberi aku semangat dan aku sudah berusaha tapi lagi-lagi gagal," ucap Ainsley dengan nada putus asa.
"Apa kau sudah mempelajari jenis bumbu masakan, Ainsley?" tanya Damian ingin tahu.
"Tentu saja," jawab Ainsley.
"Jika begitu jangan menyerah, teruslah belajar. Aku yakin kau pasti bisa," ucap Damian.
"Benarkah?"
"Yes, aku yakin kau pasti bisa jika kau terus berusaha."
"Baiklah, aku akan kembali mencobanya," Ainsley tersenyum, sekarang dia kembali bersemangat untuk belajar memasak.
"Bagus," mereka diam sejenak saat karyawan Damian masuk ke dalam dan membawakan minuman hangat yang Damian minta. Damian memberikan minuman hangat itu untuk Ainsley dan setelah Ainsley meminumnya, dia kembali bertanya kenapa Ainsley terlihat murung.
"Kau seperti ini bukan karena masakanmu gagal saja, bukan?"
"Yeah, seperti yang kau tahu, aku baru saja bertemu dengan Harry."
Damian terlihat tidak senang ketika mendengar nama Harry lagi. Sepertinya pria itu begitu gigih untuk mendapatkan Ainsley, entah kenapa dia jadi penasaran dengan rupa pria yang bernama Harry ini.
"Kau bertemu dengannya untuk apa?" Damian berusaha bersikap tenang.
"Menolaknya, apa lagi? Aku benar-benar muak dengannya, aku sudah berusaha menolaknya karena aku tidak mau calon tunangannya salah paham denganku tapi dia tetap saja tidak mau menyerah. Apa yang harus aku lakukan, Dam-Dam?" Ainsley menatap Damian dengan serius karena dia ingin tahu bagaimana dengan reaksi Damian.
"Wah, dia sudah punya calon tunangan?"
"Yes, sebab itu aku tidak mau dengannya!"
"Jadi?" Damian meraih kedua tangan Ainsley dan menggenggamnya.
"Jika dia tidak punya calon tunangan apa kau mau menerimanya?" tanya Damian sambil menatap Ainsley dengan tajam.
Ainsley jadi gugup, bahkan dia mulai menggeser duduknya karena Damian semakin mendekat tapi Damian juga menggeser duduknya hingga membuat Ainsley terpojok di ujung sofa.
"Da-Damian?" Ainsley semakin gugup.
"Te-Tentu saja tidak karena dia bukan tipe pria idamanku!"
"Katakan padaku, seperti apa pria idamanmu?"
"Da-Damian?"
"Hm?" Damian semakin mendekatkan wajah mereka dan hal itu semakin membuat Ainsley gugup. Ainsley menahan napas karena wajah Damian semakin dekat dan dekat, matanya melotot bahkan debaran jantungnya dapat dia rasakan.
"Ainsley," Damian berbisik di telinganya.
Ainsley menggigit bibir, dia bagaikan ikan kekurangan air karena ini pertama kalinya Damian seperti tiu.
"Ja-Jangan menggoda aku!" pinta Ainsley gugup.
"Apa kau tidak suka, Ainsley?"
"Bu-Bukan begitu, astaga!" Ainsley mendorong Damian dengan cepat.
"Apa kau ingin membuat aku mati karena gagal jantung?!" protes Ainsley sambil memegangi dadanya di mana jantungnya berdebar dengan cepat. Dia bahkan mengambil napas panjang sebab dia membutuhkannya.
Damian terkekeh, dia hanya ingin menggoda Ainlsey tanpa maksud apa-apa tapi sepertinya dia terlalu berlebihan.
"Aku mau pulang saja," ucap Ainsley.
"Kenapa buru-buru? Kau tidak marah, bukan?"
"Tidak, aku mau pulang dan belajar masak lagi!" jawab Ainsley.
"Berusahalah, aku yakin kau pasti bisa."
"Terima kasih untuk semangatnya dan terima kasih sudah mau menemani aku."
"Tidak masalah, datanglah padaku. Aku akan selalu ada untukmu."
"Thanks Dam-Dam," Ainsley tersenyum dan menyambar tasnya, sekarang perasaannya sudah lebih baik.
Ainsley berpamitan karena dia tidak ingin mengganggu Damian terlalu lama, dia bahkan menolak saat Damian ingin mengantarnya ke bawah. Walau hanya sebentar tapi dia terlihat senang begitu juga dengan Damian. Dia juga terlihat senang apalagi akhir-akhir ini hubungan mereka sudah semakin dekat.
Damian kembali mengerjakan pekerjaannya ketika Ainsley sudah pergi, sebenarnya dia sedang sibuk tapi demi gadis itu dia rela meninggalkan pekerjaannya. Selagi dia sibuk, ponsel-nya berbunyi dan itu dari ayahnya. Entah kenapa Jager jadi penasaran dan ingin tahu, sudah sejauh mana hubungan putranya dengan Ainsley?
"Ada apa, Dad?" tanya Damian.
"Apa kau sibuk?"
"Yeah, ada apa?"
"Aku hanya ingin tahu, bagaimana hubunganmu dengan Ainsley."
Damian belum menjawab, tapi dia tersenyum saat mengingat ekspresi gugup Ainsley ketika dia menggodanya. Jika dia mencium bibir Ainsley tadi, apa Ainsley akan menolaknya dan marah? Dia jadi pensaran akan hal itu.
"Seperti biasa," jawabnya.
"Ck!" Jager berdecak, seperti biasa berarti tidak ada kemajuan. Sepertinya dia harus kembali turun tangan untuk mendekatkan mereka.
"Aku rindu dengan Cristiana dan aku ingin kita pergi piknik di bawah pohon meadow."
"Jika begitu aku akan menghubungi Vivi dan mengajaknya pergi bersama," ucap Damian.
"Ajak Ainsley juga dan minta dia bawa sushi untuk kita nikmati di sana."
"What?" Damian terkejut. Apa ayahnya benar-benar menyukai sushi yang dibuat oleh Ainsley waktu itu? Tapi sayangnya dia tidak tahu jika sushi itu tidak akan dimakan oleh ayahnya nanti.
"Sudah, turuti saja perkataanku!" ucap Jager.
"Baiklah, Dad. Aku akan menghubunginya."
"Bagus!" Jager mematikan teleponnya dengan terburu-buru karena dia ingin menghubungi putrinya.
Damian menghubungi Ainsley terlebih dahulu dan mengajaknya piknik, tentu Ainsley senang dan berjanji akan membuat sushi yang enak kali ini. Selama Damian berbicara dengan Ainsley, persekongkolan ayah dan anak pun terjadi.
"Vivi, jika kakakmu mengajak pergi piknik kau harus menolaknya!" pinta Jager pada putrinya.
"Sepertinya Daddy punya rencana," ucap Vivian.
"Tentu, mau dengar?"
"Yes," jawab Vivian. Dia mendengarkan ide dari ayahnya dan sangat setuju, semoga dengan demikian hubungan mereka berdua bisa semakin dekat lagi dan setelah berbicara dengan ayahnya, tidak lama kemudian kakaknya menghubungi dan sesuai dengan kesepakatan, Vivian menolak dan berpura-pura sibuk.
Damian tidak curiga, dia tahu adiknya sangat repot membawa keenam anaknya. Lagi pula ada Mayumi dan Ainsley, piknik mereka kali ini akan sedikit ramai tapi sayangnya, piknik itu hanya untuknya dan Ainsley nanti.